My Brother My Husband

My Brother My Husband
Eps 58 ~ Tidak Ikut Campur



Setelah kepergian Zaky, Naya langsung masuk ke kamarnya. Entah kenapa ada perasaan lega setelah mendengar ungkapan perasaan Zaky tadi. meskipun masih ada yang mengganjal hatinya, terutama dengn sosok Shanum.


Naya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia ingat jelas dengan sosok perempuan yang bernama Shanum. Perempuan yang menjadi model pakaian brand terkenal saat peresmian pembukaan mall tadi. Jadi saat tiba-tiba dirinya seperti sedang melihat Zaky di mall tadi benar adanya. Zaky ada di sana. Lalu bagaimana ceritanya Zaky bisa bertemu dengan Mama dan Papanya. Ingin sekali Naya bertanya langsung pada Mamanya, namun dia tidak ingin dikira macam-macam oleh Mamanya.


Ting


Naya yang sedang melamun tiba-tiba dibuat terkejut dengan suara vibrasi ponselnya yang diletakkan di atas nakas. Dia mengerutkan kening, siapa yang malam-malam begini mengirim pesan. Namun saat melihat si pengirim pesan tidak tersimpan nomornya dan Naya membaca pesan itu, seketika senyuman Naya terbit. Ternaya itu adaah Zaky.


“Apa kamu sudah tidur, Nay?”


Naya senyum-senyum sendiri membaca pesan dari Zaky. setelah itu ia segera membalas pesannya.


**


Sementara itu di kamar yang berbeda tampak sepasang suami istri yang sedang berbaring di atas tempat tidur. Pasangan sudah menikah hampir dua puluh sembilan tahun itu masih tampak mesra. Karena patokan usia sebuah pernikahan tidak menjamin tingkat kemesraan pasangan suami istri.


Senja berbaring tepat di samping Xavier. pria itu menggenggam lembut tangan istrinya. Dan sesekali mencium punggung tangannya.


“Pa, apa kamu senang dengan kehadiran Zaky kembali?” tanya Senja tiba-tiba.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu, Sayang? Tidak ada di dunia ini ada orang tua yang senang ditinggal pergi oleh anaknya. sekalipun Zaky bukan darah daging kita.” Jawab Xavier.


Senja bernafas lega mendengar jawaban suaminya. namun ada rasa sedikit tidak rela setelah tahu kalau Zaky sudah menemukan keluarga kandungnya. Tapi bagaimanapun juga dia tidak boleh egois dengan meminta Zaky kembali ke pelukannya.


“Lalu bagaimana dengan Naya. Pa?” Tanya Senja.


“Kita juga tidak tahu apakah mereka masih menyimpan perasaan itu. kita biarkan saja mereka menjalaninya seperti apa. Kita sebagai orang tua hanya mendoakan saja yang terbaik buat mereka. Cukup dulu saja, kita bersikap egois. Karena sekarang kenyataannya berbeda.” Jawab Xavier cukup bijaksana.


Xavier tentu saja ingat betapa egoisnya dia saat menentang mentah-mentah hubungan antara Zaky dan Naya yang menurutnya terlarang. Namun semua itu ada alasannya. Dia tidak ingin kehilangan ikatan keluarga antara Zaky dan Naya. Dia sangat bahagia melihat Zaky sangat menyayangi Naya sejak kecil sebagai adik. Dan selama satu tahun ini dia merenungkan semua sikap egoisnya. Dia juga ingat kejadian masa lalunya yang sangat egois dengan memaksakan kehendak sendiri. Dimana dulu ia memaksa wanita yang dicintainya agar mau menikah dengannya. Padahal saat itu mantan kekasihnya itu sudah memiliki suami. dan Xavier mencari cara licik agar bisa menikahi mantan kekasihnya. (Kisah Xavier ada di novel Suami Yang (Tak) Dianggap ya guys! silakan mampir!)


“Aku senang mendengarnya. Aku juga sadar kalau dulu sangat egois dan tidak menerima hubungan mereka. Padahal sah-sah saja karena Zaky dan Naya sama sekali tidak ada ikatan darah.” Lanjut Senja.


“Ya sudah, lebih baik kita tidak usah ikut campur terlalu dalam dengan masalah perasaan mereka berdua. Zaky dan Naya sudah cukup dewasa.” Pungkas Xavier lalu merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


Keesokan harinya, setelah bangun tidur dan mencuci mukanya, Naya menuruni tangga menuju dapur. Bau masakan yang sangat sedap tiba-tiba membuat perutnya langsung lapar.


“Ma, kenapa Mama memasak? Bukankah Mama baru saja pulang dari rumah sakit kemarin?” protes Naya saat melihat Mama sibuk mengolah masakan.


“Kamu jangan berlebihan, Nay! Mama sudah sehat dan baik-baik saja. Mama bosan seminggu lebih rebahan terus. Sekarang Mama ingin memasak kembali.” Jawab Senja dengan tangan sibuk dengan penggorengan.


Naya membenarkan ucapan Mamanya. Memang selama seminggu lebih dirawat di rumah sakit Mamanya hanya rebahan saja dan tidak bisa melakukan kegiatan apapun. Kemudian Naya ikut membantu Senja dengan menyiapkan piring untuk menyajikan masakan Mamanya.


Naya bisa melihat jelas binar bahagia di mata Mamanya. Dan itu semua karena kedatangan Zaky kemarin.


“Ma, apa Mama senang setelah bertemu kembali dengan Kak Zaky?” tanya Naya tiba-tiba.


Senja menoleh pada Naya setelah mematikan kompornya. “Tentu saja Mama sangat senang, Sayang.” Jawab Senja.


“Syukurlah. Naya senang melihat Mama bahagia seperti ini. mulai sekarang Mama tidak boleh sakit lagi, karena Kak Zaky, orang yang Mama rindukan sudah kembali.” Ucap Naya dengan menahan rasa sakit di hatinya. Matanya juga berkaca-kaca.


“Sayang, tapi-“


“Naya tata di meja makan ya Ma masakannya. Naya sudah kelaparan nih.” Potong Naya dan langsung menuju meja makan.


Senja tahu kalau Naya mencoba tegar saat membahas masalah Zaky. dia ingin menjelaskan sekaligus bertanya pada Naya tentang perasaannya terhadap Zaky. namun sepertinya momennya tidak tepat. Lagipula ia juga sudah berbicara dengan suaminya untuk tidak ikut campur dengan masalah perasaan Naya dan Zaky.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️