
"Sayang, tadi aku ke kantormu tetapi kau tidak ada."
"Kata sekretaris, sialanmu itu kau sudah pulang."
"Setelah itu aku langsung datang ke rumahmu, tetapi aku tidak melihat mobilmu yang terparkir di sana."
"Sebenarnya kau dari mana?" ujar Disha.
"Ada urusan mendadak. Aku lupa tidak memberitahu, Delvin." Tutur Ervin.
"Aku rindu, honey." Ucap Disha.
"Simpan rasa rindumu itu Disha."
"Aku sedang sibuk, Kututup teleponmu sekarang." Ujar Ervin, yang melemparkan ponselnya di ranjang dan menjatuhkan tubuhnya dengan memejamkan kedua matanya.
Di sisi lain.
Zras... Zras... Zras...
"Ahhh! Kenapa disaat seperti ini ada pemadaman lampu." Batin Batari, yang kini keluar dari kamar mandi tanpa ada penerangan sama sekali.
"Di mana ponselku." Batinnya, yang meraba di area ranjangnya. Tetapi ia tidak menemukannya, malah mendapatkan lingerie yang berada di atas ranjang.
"Ah, lebih baik aku memakai pakaian dulu setelah itu aku akan mencarinya kembali." Sambungnya.
Tap... Tap... Tap...
Batari, yang menelusuri kamarnya kembali dan mendapatkan apa yang tengah dicarinya.
"Ketemu." Ucapnya, dengan menyalakan senter yang ada di ponselnya.
Krietttt...
"Tidak biasanya ada pemadaman seperti ini." Batin Batari, yang menuruni anak tangga.
Tap... Tap... Tap...
"Kak..." Cicit Batari.
Prang!!!
"Kak... A-apakah itu kau?" cicitnya kembali. Dengan perasaan yang sudah was-was dan terus melangkahkan kakinya menuju kesumber suara.
Pranggg!!!
"Aaaakh!!!" Jerit Batari, yang merasa terkejut akan suara benda jatuh kembali.
Meong... Meong... Meong...
"Ah, rupanya hanya seekor kucing." Beo Batari.
Drap... Drap... Drap...
"Jangan-jangan m-maling." Batin Batari, yang mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.
"A-aku harus bagaimana?" batin Batari, yang melihat bayangan seseorang di dekat jendela rumahnya.
Tap... Tap... Tap...
Batari, memutuskan kembali menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar Ervin.
Tok... Tok... Tok...
"Kak!" Ucap Batari, yang terus mengetuk pintu kamarnya.
"Kak! Kak Ervin!!" Ucapnya kembali yang kini semakin berteriak.
Ceklekkk...
"Ada apa, Batari?" ujar Ervin, dengan setengah kesadarannya.
"D-di luar kak! S-seperti ada seseorang." Ucap Batari.
"Hah? coba ulang perkataanmu." Ujar Ervin.
"Hufttt! Di luar, seperti ada seseorang."
"Tadi aku melihat ada bayangan di dekat jendela." Ucap Batari, yang kembali mengulang perkataannya.
"Baiklah kau ikuti aku, kita akan sama-sama mengeceknya." Ujar Ervin. Dengan Batari, yang mengekor di belakangnya.
"Kak..." Cicit Batari.
"Kenapa lagi, Batari?" ujar Ervin.
"K-kau tidak membawa ponselmu, untuk penerangan jalanmu." Beo Batari.
"Apa aku harus kembali lagi ke kamarku?"
"Ini sudah setengah jalan, Batari." Tutur Ervin.
"Umm... Baiklah, pakai ponselku saja." Ucap Batari.
Krietttt...
Perlahan-lahan Ervin, membuka pintu utama rumahnya.
"Kau tetap berada di belakangku, mengerti." Ujar Ervin. Dengan suara pelannya dan di anggukki langsung oleh, Batari.
Grusuk... Grusuk...
"Hustt...!" Ervin, yang mengkodekan Batari, agar tidak bersuara. Dan tetap melangkahkan kembali kakinya pelan.
Bughhhhh!
"Siapa kau?" ujar Ervin, yang membuat orang tersebut terhuyung dan jatuh ke lantai, ketika sedang mencari celah untuk masuk ke dalam rumahnya.
Uhuk... Uhuk... Uhuk...
"Siapa yang telah menyuruhmu?" ujar Ervin. Dengan menarik kerah bajunya, tanpa bisa melihat wajahnya cukup jelas karena tidak adanya penerangan
Brukkk!
Disaat Ervin, tengah lengah orang tersebut pun langsung mendorongnya. Hingga membuat Ervin, tersungkur ke lantai dan orang tersebut pun lari.
"Kak ervin!!" Ucap Batari, yang berlari ke arah Ervin
"Aaaakh! Sial!" Ujar Ervin.
"Kau tidak apa-apa, Kak?" tanya Batari, yang membantu Ervin untuk berdiri.
"Aku baik-baik saja, Kau tunggulah di dalam rumah, aku akan menyalakan saklarnya kembali." Tutur Ervin.
~Beberapa menit kemudian~
Glekk!
Ervin, yang menatap Batari, dengan melongonya.
Begitupun Batari, merasa tidak nyaman ditatap oleh Ervin. Seperti yang akan menerkamnya saat ini juga.
Jantungnya berdetak begitu kencang bak roller coaster. Ketika Ervin, melangkahkan terus kakinya.
"Ekhmm! Kau sedang tidak sakit kan?" tanya Ervin. Menyentuh jidat Batari, yang cukup dingin menurutnya.
"A-aku baik-baik saja." Jawab Batari. Berjalan mundur dengan memberi jarak kepada, Ervin.
"Kau tidak sedang mencoba menggodakukan!" ujar Ervin, seraya menunjuk lingerie yang tengah dipakai oleh Batari.
"Ahh! A-aku tidak sedang menggodamu." Tutur Batari. Dengan menelan salivanya susah.
"Lalu kenapa kau memakai lingerie milik, mba Ellona?" ujar Ervin.
"I-ini--"
"Ini?" tanya Ervin, dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Umm... M-maksudku, i-ini gara-gara mati lampu."
"Aku hanya menemukan ini disaat tengah mencari ponselku." Tutur Batari, dengan degub jantung yang semakin menggila.
Drap... Drap... Drap...
"Kau sudah membangunkan singa jantanku, jadi kau harus bertanggung jawab, Batari." Bisik Ervin. Dengan menghirup aroma tubuh Batari, yang begitu wangi. Dengan hembusan nafasnya membuat Batari, terbuai.
"E-ervin!"
"Apa yang sedang kau lakukan dengan, Adikmu?" ujar Disha.
"Disha!" Beo Ervin. Dengan Batari, yang langsung mendorong tubuh, Ervin.
"Apa yang kalian lakukan?" sambungnya kembali
"Ini tidak seperti yang kau lihat." Tutur Ervin, dengan ekspresi santainya.
"Bohong!" Ujar Disha.
"Itu adalah penjelasan dariku, tidak ada yang terjadi di antara aku dan Batari." Tutur Ervin.
"Kau bohong Vin, aku melihat dengan mataku sendiri."
"Bahwa kau sedang menggoda, Adikmu!" Ujar Disha.
"Dan tidak ada seorang Kakak, yang mencabuli Adiknya sendiri, Vin."
"Kecuali Adiknya, benar-benar seorang jalangg!" Tunjuk Disha, terhadap Batari.
"Cukup, Disha!" Ujar Ervin, yang sudah mengepalkan kedua tangannya. Dengan menatap Disha, begitu tajam.
"Cih! Lalu kenapa dia memakai gaun tidur seperti itu?"
"Apa kalian berdua main gila di belakangku dan keluargamu sendiri!" Ujar Disha. Menatap sinis Batari, yang sudah berlinang air matanya.
"A-aku bisa jelasin." Cicit Batari, dengan menghapus air matanya.
"Penjelasan apa yang akan kau berikan?"
"Kalian di sini hanya tinggal berdua, laki-laki dan perempuan."
"Kucing mana yang tidak akan tergoda dengan ikan asin seperti ini bentukkannya!" Ujar Disha, dengan segala unek-uneknya.
"Cukup Disha!" Bentak Ervin. Langsung menarik Disha, keluar dari rumahnya.
"Lepas, Vin!" Ujar Disha, dengan keberontakkannya.
"Lebih baik kau pulang!" Usir Ervin. Seraya melepaskan pergelangan tangan Disha, dengan menghentakkannya.
"Aku semakin curiga. Jangan-jangan kau benar-benar bermain gila dengan adikmu sendiri!" Ujar Disha.
"Atas dasar apa kau berujar seperti itu hah!" Tutur Ervin. Dengan menarik rahang, Disha.
"Aku melihatnya sendiri dan melihat jelas di kedua bola matamu bahwa kau menginginkan Batari, untuk menghangatkan ranjangmu." Ucap Disha.
"Tutup mulutmu itu!" Ujar Ervin yang menghentakkan tangannya dari wajah, Disha.
"Bahkan kau menyakitiku seperti ini, hanya demi wanita sepertinya yang tidak berbeda jauh dengan diriku." Ucap Disha.
"Kubilang tutup mulutmu, Disha!"
"Jangan membuat batas kesabaranku hilang." Ujar Ervin. Dengan menatapnya tajam.
"Cih!" Desis Disha, dengan mengulum senyum sinis.
"Jangan pernah sama kan Batari, denganmu Disha." Tutur Ervin, seraya menunjuk wajahnya.
"Kami berdua sama-sama murahan, hanya bedanya dia menjadi jalangg untuk kakaknya sendiri." Tutur Disha.
Plakk!!!
...----------------...