My Brother My Husband

My Brother My Husband
Eps 56 ~ Kehilangan Pijakan



Ketiga orang yang saling menatap dalam itu masih tidak percaya dengan kenyataan. Mereka sama-sama merasa seperti mimpi. Terutama Senja yang selama ini merindukan Zaky.


“Pa, benarkah itu Zaky, Pa?” tanya Senja dengan bibir bergetar. Air matanya sudah berlinang membasahi pipinya.


Xavier sendiri masih diam. Dia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan Zaky, anaknya yang telah lama pergi.


Sedangkan Zaky yang sudah tersadar lebih dulu kalau itu bukan mimpi, dia segera berjalan menghampiri Senja dan Xavier. air matanya pun luruh begitu saja saat ia terduduk di depan kursi roda Mamanya.


“Mama!” ucap Zaky lalu memeluk kedua kaki Senja.


Tubuh Senja terguncang. Rasa sesak di dadanya kembali datang, namun tidak menimbulkan ras sakit seperti sebelumnya. Tangannya terulur mengusap kepala Zaky yang masih setia memeluk kakinya.


Pemandangan haru itu tak luput dari penghuni rumah sakit yang sejak tadi berseliweran melewati mereka bertiga.


“Zaky, anakku! Mama sangat rindu kamu, Nak!” ucap Senja mengusap kepala Zaky dan meminta Zaky agar berdiri. Setelah itu Senja merentangkan kedua tangannya siap memeluk Zaky.


Anak dan ibu itu berpelukan. Senja semakin terisak saat merasakan hangatnya pelukan Zaky yang sudah lama ia rindukan. Mereka berdua hanyut dalam pikiran masing-masing. Keduanya sama-sama terisak pilu.


“Kemana saja kamu selama ini, Nak? Mama sangat merindukanmu.” Tanya Senja di sela-sela isakannya.


“Maafkan Zaky, Ma.” Hanya kalimat itu yang mampu Zaky ucapkan.


Setelah mengurai pelukannya, tatapan Zaky tertuju pada pria paruh baya yang sejak tadi diam dan berdiri di belakang Senja. Zaky memberanikan diri mendekati Papanya dan memeluk pria itu. jujur saja selain merindukan Mamanya, Zaky juga sangat merindukan Papanya. Dia tidak peduli akan penolakan Papanya seperti dulu.


Dan ternyata dugaan Zaky salah. Papanya justru menerima pelukannya. Bahkan Xavier memeluknya sangat erat. Akhirnya Zaky membalas pelukan itu.


“Maafkan, Papa Zaky!” ucap Xavier.


Zaky mengurai pelukannya setelah mendengar permintaan maaf dari Papanya. Dia menggelengkan kepalanya dan mengusap air matanya yang sejak tadi terus mengalir.


“Papa jangan meminta maaf sama Zaky. justru Zaky yang banyak memiliki salah pada Mama dan Papa.” Ucap Zaky.


“Bagaimana kabar kamu, Nak? kemana saja kamu selama ini?” tanya Senja sambil memegang lembut tangan Zaky.


Zaky yang baru tersadar kalau Mamanya sedang duduk di kursi roda, seketika itu dia tahu kalau keadaan Mamanya tidak baik-baik saja.


Mengingat dimana saat ini mereka berada. Xavier akhirnya memutuskan untuk pulang dan mengajak serta Zaky. Zaky pun setuju. Akhirnya dia ikut pulang ke rumah Mama dan Papanya dengan mengendarai mobilnya sendiri.


Dalam perjalanan Zaky mengirim pesan Shanum kalau masih ada urusan penting. Dia meminta Shanum langsung ke hote saja setelah selesai acara. Mungkin nanti Zaky akan menceritakan semuanya pada adiknya.


Beberapa saat kemudian mobil Zaky sudah tiba di sebuah rumah yang pernah membesarkannya. Rumah itu masih tampak sama seperti terakhir ia tinggalkan.


Zaky bergegas membantu Mamanya turun dari mobil dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. sedangkan Xavier berjalan di belakang sambil membawa baju kotor milik istrinya.


Zaky menahan gejolak di dadanya saat memasuki rumah itu. dia belum siap jika saat ini juga harus bertemu Naya. Namun kenyataannya di rumah itu terlihat sepi. Hanya pembantu saja yang menyambut kepulangan majikannya dari rumah sakit. Bahkan wanita itu terkejut saat melihat kedatangan Zaky. tapi Zaky hanya tersenyum samar pada Bi Siti.


Kini Zaky sudah duduk di ruang tengah bersama Mama dan Papanya. Rasa penasaran yang sejak tadi ingin Zaky tanyakan tentang Mamanya akhirnya terjawab sudah. Dia terkejut sekaligus sedih kalau selama ini Mamanya sering keluar masuk rumah sakit karena penyakit asmanya. Zaky semakin diliputi rasa bersalah karena telah menyebabkan Mamanya seperti ini.


“Tidak, Nak. kamu sama sekali tidak salah. Yang penting saat ini Mama dan Papa sangat senang karena kamu sudah kembali.” Jawab Senja dengan mata berbinar.


Namun Zaky hanya menggelengkan kepala dengan pelan. Akhirnya dia menceritakan pada Mama dan Papanya kalau selama ini tinggal bersama keluarga kandungnya. Banyak sekali yang Zaky ceritakan tentang awal mula pertemuannya dengan orang tua kandungnya. Senja dan Xavier sedih karena Zaky sudah memilih keluarga yang sangat menyayanginya.


“Mama dan Papa jangan bersedih. Sampai kapan pun Mama dan Papa adalah orang tua Zaky juga.” ucap Zaky seolah mengerti apa yang ada dalam benak Senja dan Xavier.


Cukup lama mereka bertiga melepas rindu. Namun dalam pembicaraan mereka sama sekali tidak menyinggung tentang Naya. Zaky sendiri juga tidak berani bertanya.


***


“Nay, terima kasih banyak ya sudah mau menemaniku ke acara tadi.” Ucap Nabil setelah menyelesaikan makan malamnya bersama Naya di sebuah restaurant.


Rupanya setelah acara tadi selesai. Naya tidak langsung pulang, karena Nabil mengajaknya makan dan jalan sebentar. Karena malam ini juga Nabil akan pulang.


“Biasa aja lagi, Kak. Aku siap kok menerima job seperti ini lagi.” seloroh Naya dan seketika itu mendapat toyoran dari Nabil.


“Ya sudah ayo aku antar pulang. satu jam lagi jadwal penerbanganku tiba.” Ajak Nabil kemudian.


Naya mengangguk. Kemudian mereka berdua segera pulang. Naya juga lupa kalau Mamanya sudah pulang. dia sampai tidak menanyakan kabar Mamanya, karena asyik bersama Nabil.


Tak lama kemudian mobil Nabil tiba di depan halaman rumah Naya. Namun pria itu langsung kembali ke hotel karena sangat buru-buru.


“Hati-hati, Kak!” ucap Naya setelah itu bergegas masuk ke rumah.


Naya melihat ada sebuah mobil yang sangat asing. Dia tidak tahu itu mobil siapa. Mungkin tamu Papanya. Jadi dia melenggang masuk begitu saja ke rumahnya.


Langkah Naya terhenti saat mendengar suara ramai di ruang makan. Dia juga merasa tidak asing dengan suara seseorang yang sedang berbicara dengan Mama dan Papanya. Demi menghilangkan rasa penasarannya, akhirnya Naya memasuki ruang makan.


“Ma, Pa!” panggil Naya, namun netranya tertuju pada seseorang yang sedang duduk di samping Mamanya. Pria itu juga menatapnya dalam.


Tubuh Naya seperti kehilangan pijakannya saat melihat kehadiran seseorang yang selama ini sangat dia rindukan.


“Kak Zaky!” panggilnya lirih dengan air mata yang sudah menggenang dan sebentar lagi tumpah.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️