
"Kalian lama sekali." Ujar Ranti. Menghampiri Batari dan Ellona, di bawah anak tangga.
"Aku nervous, Mah..." Cicit Ellona.
"Ayo." Ujar Ranti, menggandeng sebelah lengan Ellona.
"Tari!" Sapa Bryan, yang kini menghampirinya.
"B-bryan..." Cicit Batari.
"Bolehkah kita berbicara sebentar?" ujar Bryan. Dengan Batari, melihat ke arah Ervin, yang tengah menatapnya tajam.
"Su-re." Ucap Batari, menundukkan wajahnya mengikuti langkah kaki Bryan, menuju ke taman belakang rumah.
Drap... Drap...! Tap... Tap...
"Duduklah!" Ujar Bryan, menepuk kursi di sampingnya.
"Umm... Apa kau adik dari calon tunagannya, mba Ellona?" tanya Batari, membuka sebuah obrolan baru untuk menghilangkan kecanggungannya terhadap, Bryan.
"Aku sepupunya, bang Attar." Jawan Bryan.
"Ah, begitu rupanya." Ucap Batari, mengulas senyum kecil di wajahnya.
"Kau sangat cantik Tari, mengenalan kebaya." Tutur Bryan, membuat Batari blush.
"Thanks." Ucap Batari, dengan jantung yang berdegun kencang.
"Ba-tari..." Ujar Bryan, menggenggam kedua tangan Batari.
"Iya, Bry." Ucap Batari. Dengan jantung yang semakin menjadi.
"Apa kau menolakku karena sudah memiliki kekasih?" tanya Bryan.
"Bukan kekasih lagi, tetapi seorang suami, Bry." Batin Batari.
"Ya." Angguk Batari, dengan berat hati. Membuat Bryan, melepaskan genggamannya perlahan-lahan.
"Apa kau bahagia bersamanya?" tanya Bryan, menatap nanar wajah Batari.
"Tidak!" Batin Batari.
"Hah..." Jawab Batari, kembali menganggukkan kepalanya. Membuat Bryan, tersenyum kecut.
"Kenapa, Bry?" tanya Batari. Melihat raut wajah Bryan, sedih.
"Aku hanya ingin tahu alasanmu menolakku."
"Agar aku perlahan-lahan melupakan perasaanku terhadapmu." Jawab Bryan. Membuat Batari, berkaca-kaca.
"Apa lagi dengan hitungan menit yang akan mendatang, kita akan menjadi sebuah keluarga."
"Tidak baik bukan... Jika masih tersisa sebuah perasaan." Tuturnya, hingga Batari meneteskan air mata.
"Hah..." Ucap Batari, seraya menghapus air matanya.
"Maukah kau mengabulkan satu permintaanku, untuk memelukmu. Sebelum aku melupakan perasaanku." Ujar Bryan.
"Sure." Jawab Batari, tanpa ragu.
Bryan, langsung memeluknya erat dan meneteskan air matanya.
"Bocah sialan itu! Mencari kesempatan dalam kesempitan." Batin Ervin, mengepalkan kedua tangannya di balik tembok.
"Begitupun Batari, yang tidak memiliki batas fisik terhadapnya."
"Sungguh semua wanita sama saja, jalangg!" Batin Ervin, melangkahkan kakinya masuk kembali ke dalam rumah.
"Aku tidak tahu harus merasa senang atau sedih, disaat kau memutuskan untuk melupakan perasaanmu terhadapku." Batin Batari. Membalas pelukan, Bryan.
"Aku senang bisa mencintaimu, Tar."
"Walaupun aku tidak bisa memilikimu, untuk menjadi pendamping di masa depanku kelak."
"Tetapi aku merasa lega, telah mengungkapkan perasaanku yang terpendam 2 tahun lamanya." Batin Bryan. Memeluk erat tubuh Batari, hingga membuatnya nyaman dengan menghirup aroma tubuh Batari, yang begitu menenangkan.
"Aku harap kau selalu bahagia, walaupun tidak bersamaku." Tutur Bryan, melepaskan pelukannya.
"Aku juga berharap, kau bahagia dan menemukan seseorang yang pantas untuk berada di sampingmu." Ujar Batari, mengulum senyumnya.
"Sure." Ucap Bryan. Dengan menyunggingkan senyum lebarnya.
"Umm... Kau tetap akan menjadi sahabatkukan dan tidak membenciku." Tutur Batari, menatap wajah Bryan.
"Tentu saja aku akan selamanya menjadi sahabatmu." Ujar Bryan, menyunggingkan kembali senyumnya.
"Dan aku juga tidak akan pernah membencimu, Tari."
"Jangan pernah merasa bersalah dengan keputusanmu, Batari." Ujarnya, seraya menghapus air mata Batari, yang terus menetes.
"Aku merasa menjadi wanita paling bodoh menolak cinta tulusmu, Bry."
"Karena keadaanku yang tidak untuk memungkinkan bersama denganmu."
"Karena itu aku tidak ingin memberi sebuah harapan terhadapmu." Batin Batari.
"Karena aku menghormati keputusanmu." Sambungnya.
"Thanks, Bry." Ucap Batari, mengulas senyum kecil di raut wajahnya.
"Kalau begitu, lebih baik kita masuk ke dalam." Ujar Bryan. Dengan mengajak Batari, untuk melihat acara pertunangan Ellona dan Attar.
"Ayo." Beranjak dari tempat duduknya dan berjalan berdampingan dengan Bryan, yang ada di sampingnya.
"Sekarang calon pria dan calon wanita, untuk saling bertukar cincin." Ujar MC.
Attar yang mengambil cincinnya. "Cinta tidak terdiri dari tatapan satu sama lain, tetapi melihat bersama ke arah yang sama, satu tujuan untuk membangun sebuah hubungan."
Maukah kau hidup dan menua bersamaku?" Tutur Attar, di kala dirinya akan menyematkan cincin di jari manis Ellona. Membuat Ellona tidak bisa membendung air matanya lagi.
"Hah... Aku akan hidup menua denganmu sampai akhir hayatku." Ucap Ellona. Dengan anggukkan kepalanya diiringi air mata dan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
"Aku sungguh terharu." Gumam Batari, dengan air mata yang menetes di wajahnya.
"Kau juga akan mengalaminya nanti." Bisik Bryan, yang berada di sampingnya.
"Tidak akan pernah terjadi di hidupku, Bry." Batin Batari.
Glekk!
Batari, merasa sangat susah menelan salivanya sendiri. Ketika Ervin, terus menatapnya tajam bak elang yang akan memangsanya.
"Vin..." Ucap Ranti, menepuk pundaknya.
"Iya, Mah..." Beo Ervin, melirikkan wajahnya.
"Delvin, mencarimu sayang." Ucap Ranti. Dengan cepat Ervin, melangkahkan kakinya keluar rumah.
"Mau ke mana dia." Batin Batari. Terus menatap punggung Ervin, yang semakin menghilang oleh banyaknya orang.
...***...
~Club Ruang Rahasia~
"Ada apa orang super sibuk sepertimu datang ke tempatku?" ujar Joe. Menyambut kedatangan, Ervin dan Delvin.
"Aku butuh bantuanmu Joe." Jawab Ervin, mendudukkan bokongnya di sofa dengan ruangan yang cukup temaram.
"Bawakan sebotol sampanye untuk tamu pentingku, Honey." Bisik Joe, kepada wanita yang tengah bergelenjot manja di pangkuannya.
"Sure." Ucap wanita berambut ikal itu dengan mengecup sekilas bibir Joe, sebelum keluar dari ruangan.
Tap... Tap... Tap...
"Aku begitu sibuk, jadi aku tidak yakin bisa membantumu." Tutur Joe, yang berpindah tempat untuk duduk saling berhadapan dengan, Ervin.
"Kesibukanmu hanya bercocok tanam dengan para jalangg-mu itu."
"Jadi kau masih bisa membantuku untuk mencari identitas dari pria yang ada di foto ini." Ujar Ervin, menyodorkan selembar foto.
"Itu adalah kesenangan bagi laki-laki sepertiku, tentunya aku memiliki kesibukan lain sebagai seorang dosen."
"Jadi aku menolak mentah-mentah untuk membantumu." Ucap Joe, yang tengah menyalakan rokok.
"Baiklah." Ujar Ervin, mengambil kembali selembar fotonya.
"Kau lebih memilih clubmu hancur di makan si jago merah." Bisik Ervin, dengan melangkahkan kakinya.
"Shitt! Kau hanya bisa mengancam dengan kekuasaanmu." Geram Joe, dengan mematikan rokoknya.
Membuat langkah Ervin, pun terhenti dan membalikkan tubuhnya dengan tersenyum menyeringai di raut wajah tampannya bak iblis.
"Dalam dua hari, aku menginginkanmu sudah mengantongi identitasnya." Ujar Ervin. Menyodorkan kembali selembar foto kepada Joe, yang langsung mengambilnya.
"Beri aku satu pekan, dua hari waktu yang begitu singkat."
"Aku membutuhkan waktu lebih dari target yang sudah aku janjikan." Tutur Joe, dengan bernegoisasi.
"Aku meragukan jika kau adalah hacker handal." Ujar Ervin, dengan melipatkan kedua tangannya.
...----------------...