
"Why?" tanya Ara.
"D-dia..." Cicit Batari. Langsung memeluk tubuh, Ara.
"Maksudmu, aku tidak mengerti?" tanya Ara.
"Kak Ervin, hiks..." Beo Batari, dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Iya, kenapa dengan kak Ervin, Tari?"
"Jangan membuatku takut, dengan kau yang menangis seperti ini." Ucap Ara.
"Pekan depan dia akan menikah dengan, kak Disha." Cicit Batari.
"Apa kau menyesali memberinya izin untuk menikah kembali?" tanya Ara, melepaskan pelukannya. Dengan menatap wajah Batari, yang terus berlinang air mata.
"Aku..."
"Kau masih memiliki waktu, Batari."
"Untuk menggagalkan pernikahan kak Ervin, bersama wanita jalangg itu." Tutur Ara.
"Aku tidak bisa, Ra..." Beo Batari.
"Kau harus yakin, Tari." Ujar Ara, memegang kedua pundak Batari.
...***...
~Butik~
"Bagaimana, gaun yang ini? Tanya Disha.
"Bagus, tetapi itu terlalu glamor." Jawab Ervin.
"Kalau kau tidak menyukainya, aku akan mengganti dengan gaun yang lebih simple lagi." Tutur Disha. Melangkahkan kakinya menuju ruang ganti, untuk mencoba gaun yang berikutnya.
"Bagaimana, dengan yang ini?" tanya Disha, di kala sudah memakai gaun yang lebih simple.
"Bagus." Jawab Ervin. Menatapnya sekilas, lalu mengalihkan kembali ke layar ponselnya.
"Baiklah, aku akan memilih gaun ini untuk acara resepsi kita." Ujar Disha. Dengan senyum sumringahnya.
"Resepsi?" beo Ervin.
"Ya, apa aku salah berbicara." Tutur Disha.
"Kau rupanya salah kaprah."
"Kita hanya menikah sederhana dan tidak ada resepsi sama sekali." Putus Ervin, yang beranjak dari tempat duduknya. Lalu melangkahkan kakinya.
"Apa maksudmu Vin, tidak ada resepsi?" tutur Disha, mengekor di belakangnya.
"Pernikahan ini hanya demi bayi yang kau kandung."
"Jadi jangan berlebihan, Disha." Ujar Ervin.
"Apa karena aku menjadi istri keduamu, sehingga pernikahannya begitu sederhana dan tertutup." Ucap Disha, yang sukses menghentikan langkah kaki, Ervin.
"Saat aku menikah dengan Batari, sama halnya dengan dirimu sekarang." Ujar Ervin melangkahkan kakinya keluar dari butik.
~30 menit kemudian~
"Dua hari lagi aku ada jadwal periksa kandungan."
"Umm... Maukah kau meluangkan waktumu untuk mengantarku." Ucap Disha. Dengan raut wajah Ervin, yang masih dingin terhadapnya selama perjalanan.
"Akan aku usahakan." Jawab Ervin, tanpa menatap wajah Disha.
"Baiklah." Ucap Disha, keluar dari mobil Ervin. Dengan Ervin, yang langsung melajukan mobilnya.
"Seperti ada yang tengah mengawasiku." Batin Disha.
...***...
~Kediaman, Ranti dan David~
"Apa! Menikah kembali?" ujar Vano, yang baru sampai dari tugas luar kotanya.
"V-vano..." Ucap Ranti, David, Ellona dan Ervin.
"Apa aku tidak salah dengar." Tutur Vano. Melangkahkan kakinya tepat di hadapan, Ervin.
"Mau Mama, ambilkan minum sayang. Pasti kau sangat lelah dalam perjalanan." Tutur Ranti. Melihat tatapan Vano, begitu tajam menatap wajah, Ervin.
"Aku sedang tidak haus, Mah." Ujar Vano, yang sudah mengepalkan kedua tangannya.
"Wanita mana yang ingin kau nikahi?" tanya Vano.
"Disha, Bang." Jawab Ervin, dengan lugas.
"Alasannya?" tanya Vano, tengah menahan geramnya.
"Disha, sedang hamil Bang." Jawab Ervin, kembali tanpa mengelak.
Cih!
Bughhh!
"Apa menghamili setiap wanita itu adalah hobimu!" Ujar Vano, menarik kerah kemeja Ervin, yang sudah tersungkur.
"Vano! Hentikan." Ujar David.
"Aku ingin kau bercerai secepatnya dari, Batari." Ujar Vano. Menghempaskan tubuh Ervin, ke lantai.
"Tidak, Bang... Uhuk... Uhuk..." Tutur Ervin. Membuat Vano, bertambah geram.
"Hey pria bajingan! Kau tidak layak untuk menjadi pendamping hidup, Batari." Ujar Vano, kembali membalikkan tubuhnya.
"Batari, yang mengizinkanku untuk menikahi, Disha." Tutur Ervin.
Dengan raut syoknya. Vano, menatap ke arah David, Ranti dan Ellona.
"Apa yang diucapkan Ervin, benar adanya, Van." Ujar David.
"Kenapa adikku begitu bodoh." Batin Vano.
"Sekarang Batari, di mana?" tanya Vano.
"Aku tidak tahu keberadaannya di mana, setelah kemarin malam kami bertengkar." Ujar Ervin.
"Shitt! Kau menjadi seorang suami begitu tidak berguna." Ucap Vano, melangkahkan kakinya.
"Kau mau ke mana, Van?" tanya Ellona.
"Mencari Batari." Jawab Vano, melangkahkan kembali kakinya.
...***...
~Keesokan Harinya~
"Kita sudah menunggu dua jam Ra, tetapi dia belum keluar dari rumah juga." Ujar Batari.
"Sebentar lagi, aku yakin dia akan keluar." Ucap Ara.
~Tiga jam kemudian~
"Batari, kita harus mengikuti dia." Ujar Ara, yang sudah menyalakan mesin mobilnya. Dengan Batari, yang baru terbangun akibat terlalu lelah menunggu.
"Bukannya ini rute, menuju kantornya kak Ervin." Beo Batari.
"Benar, jangan-jangan mereka sudah membuat janji." Tutur Ara. Menolehkan wajahnya sekilas ke arah, Batari.
"Pantas saja dia begitu mudah menyerah ketika tidak menemukan keberadaanku, ternyata dia senang aku kabur dari rumah." Batin Batari.
Beberapa menit kemudian. Ara dan Batari, melihat Ervin memasuki mobil milik Disha.
"Sepertinya mereka menuju ke suatu tempat lagi." Ujar Ara."
"Ikuti saja Ra, jangan sampai tertinggal." Ucap Batari, yang terus menggigit ujung kukunya.
~15 menit kemudian~
"Rumah sakit." Ucap kompak Ara dan Batari.
"Jangan-jangan mereka mau cek kandungan." Tutur Ara.
"Aku sungguh iri padanya." Batin Batari, menatap Disha dan Ervin memasuki gedung rumah sakit.
"Ayo, Tar." Ucap Ara. Dengan kaca mata yang sudah bertengger di hidungnya.
~Poli Kandungan~
"Perkembangan bayinya sangat bagus."
"Bagaimana Anda bisa melihat jika perkembangan bayinya sangat bagus, sedangkan di layar monitor hanya menampilkan sebiji kacang dan saya tidak melihat bayinya di mana." Tutur Ervin. Membuat dr. Tasya menyunggingkan senyumnya.
"Ini adalah bayi anda, walaupun dia sekarang sebesar biji kacang." Ujar dr. Tasya.
"Ehem... Maaf saya baru mengetahui jika biji kacang itu adalah janinnya.
"Tidak masalah, hal sangat wajah untuk pasangan yang baru memiliki momongan." Ujar dr. Tasya.
"Apa ada pertanyaan lain, Pak?" tanya dr. Tasya, kembali.
"Apakah kandungannya lemah atau tidak, Dok?" tanya Ervin.
"Kandungannya sangat kuat."
"Tetapi saya hanya memberi saran agar Ibu Disha, tidak terlalu banyak pikiran. Karena itu akan mempengaruhi pada perkembangan janinnya yang masih di trimester pertama." Ucap dr. Tasya.
"Baik, Dok." Ujar Ervin.
"Sepertinya Kak Ervin, terlihat bahagia atas kehadiran bayi yang tengah Disha, kandung." Bisik Ara.
"Ya, aku bisa mendengarnya dengan jelas." Ucap Batari.
"Kalau begitu, terimakasih Dok." Ujar Ervin, menjaba tangan dr. Tasya.
"Sama-sama, Pak." Ujar dr. Tasya.
Drap... Drap...! Tap... Tap...
"Naikkan kacamatanya, Ara." Bisik Batari. Melihat Ervin dan Disha keluar dari ruangan dr. Tasya.
Deg!
"Seperti suara, Batari." Batin Ervin, langsung berhenti dan menatap kesekelilingnya. Hanya ada dua orang wanita yang memakai kaca mata hitam dengan memakai masker.
"Mungkin perasaanku saja." Batinnya lagi, melangkahkan kakinya kembali.
"Hampir aja ketahuan." Gumam Batari.
"Maaf, Tari." Cicit Ara. Menatap punggung tegap Ervin dan Disha. Tengah berjalan dengan bergandengan tangan.
"Kau duluan saja, kembali ke kantor." Ujar Disha.
"Memangnya kau mau ke mana?" tanya Ervin, memakai kembali kacamatanya.
"A-aku ada urusan sebentar dengan temanku, kebetulan disekitaran sini." Ucap Disha.
"Baiklah." Ujar Ervin, masuk ke dalam mobilnya. Dengan Disha, yang melambaikan tangannya. Ketika mobil Ervin, sudah melaju keluar dari gerbang rumah sakit.
Tap... Tap... Tap...
"Kenapa dia kembali lagi keruangan dr. Tasya."
...----------------...