
Hiks... Hiks... Hiks...
"Mah..." Rintihnya.
"Batari."
"Batari..." Samar-samar suara yang memanggil terus namanya, hingga perlahan-lahan semakin jelas.
Batari, yang membukakan kelopak matanya perlahan-lahan dan langsung terbangun dari tidurnya dengan air mata yang masih berlinang di wajahnya.
"Akhirnya kau terbangun juga."
"Kenapa kau menangis hmm...?"
"Apa kau bermimpi buruk?" tanya Ervin, yang berdiri di samping, Batari.
Batari, yang menatap keseluruh kamarnya dengan tatapan bingung dan langsung meraba ke arah perutnya yang masih agak membuncit.
"Hah! Syukurlah dia masih ada di dalam perutku." Batin Batari, yang mengelus perutnya dengan menghela nafasnya lega.
"Tapi kenapa mimpi itu berasa begitu nyata." Batinnya kembali, dengan perasaan cemas.
"Batari!!" Panggil Ervin, kembali. Dengan suara yang agak setengah berteriak.
"Ahh..." Ucap Batari. Mendongakkan wajahnya menatap ke wajah, Ervin.
"Turunlah ke bawah untuk makan malam, kutunggu kau dalam waktu lima belas menit." Ujar Ervin.
"Hah..." Ucap Batari, seraya menghapus sisa air matanya.
Tanpa berlama-lama lagi Ervin, melangkahkan kakinya keluar dari kamar Batari. Dengan hati yang terus berbicara sendiri.
Drap... Drap... Drap...
"Mana Batari-nya, sayang?" tanya Disha, yang tengah menaruh menu makan malam di meja makan.
"Sedang mandi, sebentar lagi dia akan turun untuk ikut gabung makan malam bersama kita." Jawab Ervin, menarik kursinya.
"Baiklah." Ucap Disha, yang masih mengambil menu makan malamnya. Lalu kembali menarunya di meja makan.
"Omong-omong kenapa Batari, sekarang memilih tinggal denganmu?" Sambungnya kembali.
"Karena dekat dengan kampusnya." Jawab Ervin.
"Begitu rupanya." Ucap Disha, dengan menyunggingkan senyumnya.
Di sisi lain.
"Kenapa perasaanku tetap merasa cemas setelah bermimpi buruk." Batin Batari, yang tengah menyisir rambutnya.
"Apa sebaiknya aku jujur saja jika kondisi bayiku begitu lemah, agar semua tidak terjadi seperti dimimpi." Batinnya kembali, dengan menatap wajahnya dicermin.
"Ya, aku harus memberitahunya sekalian aku ingin mengucapkan terimakasih telah mengobati luka di kedua kakiku." Gumamnya lagi dengan memoleskan sedikit liptin agar tidak terlihat pucat.
"Perfect." Monolognya, dengan sedikit menyunggingkan senyum kecilnya dicermin.
Tap... Tap... Tap...
Langkah Batari, yang menuruni anak tangga dengan terus menyunggingkan senyum kecilnya.
"Hahahaha... Kau itu sungguh lucu." Ucap Disha. Dengan Ervin, yang sama-sama tengah tersenyum.
Dheg!
Batari, pun menghentikan langkah kakinya. Dan melihat ke arah Ervin dan Disha, yang tengah tersenyum lepas.
"Apa aku kembali saja ke kamar"
"Rasanya aku hanya akan jadi nyamuk jika bergabung di antara mereka." Batinnya, dengan membalikkan lagi langkah kakinya.
"Batari..." Panggil Disha. Dengan Batari, yang langsung menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa kau kembali lagi menaiki anak tangga?" tanya Disha. Dengan Ervin, yang menatap ke arahnya.
"Ponselku terjatuh." Jawab Batari. Dengan langsung berjongkok, lalu melambaikan sebelah tangannya yang tengah memegangi ponselnya.
"Ah, kukira kau akan kembali lagi ke kamarmu." Ujar Disha.
"Tentu saja tidak." Ucap Batari, yang melangkahkan kakinya pelan menuruni anak tangga.
Tap... Tap... Tap...
"Duduklah." Ujar Disha. Kepada Batari, yang kini menarik kursinya.
"Kau mau makan apa? sekalian aku ambilkan." Ujar Disha.
"Ah tidak perlu, aku bisa mengambilnya sendiri." Jawab Batari, dengan menyunggingkan sedikit senyumnya.
"Biarkan saja jangan memaksanya, dia sudah besar bukan anak kecil lagi. Jadi lebih baik kau, mengambilkan makanan itu untukku saja." Ujar Ervin.
"Kau pun sudah besar, baby. Apa tidak malu dilihat oleh, Adikmu." Ucap Disha, dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya sudah." Ujar Ervin, menampilkan ekspresi raut masamnya.
"Oke-oke, aku ambilkan untukmu my big baby." Tutur Disha. Membuat Ervin, menyunggingkan senyumnya kembali. Sambil melirikan pandangannya ke arah Batari.
"Aku seperti nyamuk saja di sini." Batin Batari, disuapan pertamanya.
Uhuk... Uhuk... Uhuk...
"Pelan-pelan, Batari." Ucap Disha, menyodorkan segelas air. Dengan Batari, yang langsung meminumnya.
"Kau tidak apa-apa, Batari?" tanya Disha. Dengan Ervin, yang masih menikmati makan malamnya. Tanpa peduli Batari, yang terbatuk-batuk.
"A-aku baik-baik saja, hanya tersedak sedikit." Tutur Batari, dengan menyunggingkan senyumnya.
"Ah, baiklah." Ujar Disha, yang kembali melanjutkan makan malamnya.
"Aku merasa tidak nyaman di sini dan nafsu makanku juga sudah hilang." Batin Batari, yang menaruh sendok dan garpuhnya di samping piringnya.
"Umm... A-aku merasa tidak enak badan."
"Aku permisi kembali ke kamar." Ucap Batari, yang beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya pelan menuju anak tangga.
"Ini sudah malam, lebih baik kau pulang." Ujar Ervin, ketika mendengar suara pintu dari kamar Batari yang sudah tertutup.
"T-tapi... aku belum selesai makannya." Ucap Disha, yang menatap piringnya yang masih terisi penuh.
"Aku sedang banyak kerjaan, Disha " Ujar Ervin, yang menatap malas wajahnya.
"Baiklah, aku pulang." Ucap Disha, yang beranjak dari tempat duduknya.
"Apa kau tidak ingin mengantarku?" sambungnya kembali. Dengan berharap Ervin, akan mengantarnya pulang.
"Sudah aku pesankan taksi untukmu." Jawab Ervin.
"Baiklah." Ujar Disha. Dengan berjalan gontai keluar dari rumah Ervin.
"Aku merasa sikap Ervin, kembali dingin." Batin Disha.
~Kamar~
Drap... Drap... Drap...
Kriettt...
Drap... Drap... Drap...
"Makanlah!" Ujar Ervin. Melihat Batari, hanya berpura-pura tertidur.
Batari, pun membukakan kelopak matanya dan menatap wajah Ervin, dengan aura dinginnya.
"Jangan kau berfikir aku peduli padamu!"
"Aku hanya khawatir pada bayi yang ada di dalam perutmu." Ujar Ervin, yang menaruh piringnya di atas nakas.
"Aku tidak lapar, bawalah kembali." Ucap Batari, dengan membelakangi Ervin.
"Kau jangan keras kepala, Batari!"
"Dia butuh asupan makanan." Ujar Ervin.
"Aku sedang tidak berselera, jika aku merasa lapar aku akan makan." Ucap Batari
"Jadi kau akan makan jika kau hanya merasa lapar, tidak pernah memikirkan tentang bayimu yang harus di kasih nutrisi!" Ujar Ervin, yang sudah naik pitam.
"Kau perlahan-lahan ingin membunuhnya!" Sambungnya kembali.
Dheg!
Perkataan Ervin, begitu dejavu bagi Batari.
"Kenapa kau hanya diam! Kau benar-benar ingin membunuhnya?" ujar Ervin.
"Stop! Hentikan! Hiks..." Ucap Batari, seraya menutup kedua telinganya.
"Kau ingin membunuhnya!"
"Stop! Hiks... Hiks..." Teriak Batari.
"Batari, kau kenapa?" tanya Ervin, yang masuk ke kamar Batari.
"Hah!" Batari, yang menatap wajah Ervin, begitu khawatir dengan menaruh piringnya di atas nakas.
"K-kau b-baru masuk ke ka-marku?" tanya Batari. Dengan wajah yang sudah berlinang dengan air mata, dan menurunkan kedua tangannya dari telinganya.
"Ya, disaat aku ingin membawakan makan malammu, aku mendengarmu berteriak." Jawab Ervin.
"Kau kenapa, Batari?" tanya Ervin. Melihat sikap Batari, aneh.
"Aku--" Jawab Batari, yang tidak tahu harus menjawab apa.
"Minumlah." Ujar Ervin, yang memberi segelas air.
"Terimakasih" Ucap Batari, yang memberi gelasnya kembali.
"Istirahatlah." Ujar Ervin, yang menyelimuti tubuh Batari. Dengan perasaan Batari, yang masih kalut memikirkan apa yang tengah terjadi dengan dirinya.
"Apa tadi aku tengah berhalusinasi?" Batinnya.
...----------------...