
Cukup lama Naya dan Zaky berada di dalam kamar mandi. mereka tidak melakukannya lagi, hanya saja Zaky sedang memanjakan tubuh istrinya dengan memberikan pijatan lembut pada punggung Naya dan bagian tubuh lainnya yang mungkin sangat lelah akibat pertempuran semalam. Ya, walaupun Zaky menahan kuat juniornya agar tidak bereaksi lagi. karena saat melihat kulit putih nan mulus punggung istrinya, Zaky kesusahan menelan salivanya.
Kini Naya sudah terlihat lebih segar setelah mandi bersama suaminya. hanya saja masih terasa ngilu di bagian intinya jika dipakai untuk berjalan.
“Apa masih sakit?” tanya Zaky yang sudah siap membawa Naya keluar cottage.
“Masih, Mas. Ngilu-ngilu sedap. Buat jalan juga tidak nyaman. Bagaimana ya caranya biar cepat hilang rasa tak nyaman ini?” keluh Naya sekaligus minta solusi.
Zaky tersenyum tipis mendengar keluhan istrinya. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya mendekaati Naya dan membisikkan sesuatu yang diangguki oleh Naya dengan tatapan penasaran.
“Caranya, kita harus sering melakukannya.” Jawab Zaky dengan senyum smirk dan langsung dihadiahi cubitan perut oleh Naya.
“Dasar mesyummm!!!” umpat Naya lalu ia lebih dulu keluar kamar walau jalannya agak lucu menurut Zaky.
Kini mereka berdua sudah keluar cottage dan segera mencari tempat makan yang enak dan nyaman. Pagi hari pemandangan sangat indah ditambah lagi hidangan makanan yang disajikan di warung kecil lereng pegunungan membuat lengkap sudah kebahagiaan Naya.
Naya terlihat sangat lahap menikmati sarapannya. Zaky hanya tersenyum tipis melihatnya. Dia benar-benar bahagia sekaligus bersyukur karena Naya perlahan sudah melupakan kejadian buruk yang menimpanya tempo hari.
Zaky diam-diam emngeluarkan ponselnya dan mencuri satu foto Naya yang sedang menikmati sarapannya. Setelah itu dia mengirimkan foto Naya pada Mamanya untuk memberi kabar bahwa keadaan Naya sudah jauh lebih baik.
Usai sarapan dan menikmati hawa sejuk pegunungan, Zaky segera mengajak Naya pulang. dia juga akan pergi ke kantor karena ada meeting. Sedangkan Naya nanti ia biarkan untuk istirahat di rumah.
Sesampainya di rumah, Naya langsung masuk ke kamar. kedua orang tuaZaky sudah tidak tampak di rumah. jadi Zaky tidak perlu mempersiapkan jawaban pada Bundanya tentang kepergiannya semalam sampai tidak pulang.
Cukup singkat Zaky berganti pakaian dan menyiapkan beberapa berkas penting yang akan dibawa ke kantor. setelah dari ruang kerjanya, ia masuk kembali ke dalam kamar untuk berpamitan pada Naya.
Sedangkan Naya kini sedang berbaring di atas tempat tidur sekedar beristirahat menghilangkan lelah yang tersisa akibat pertempurannya semalam.
“Sayang, aku berangkat dulu ya?” pamit Zaky menaiki ranjang.
Naya meraih tangan suaminya lalu menciumnya dengan takzim dan mendapat balasan kecupan lembut di keningnya.
“Hati-hati ya, Mas!”
Setelah itu Zaky turun dari ranjang dan segera keluar kamar. sebenarnya ia tidak rela meninggalkan istrinya sendirian seperti ini. apalagi setelah keduanya melakukan malam pertama yang sempat tertunda beberapa hari. Tapi Zaky ingat kalau dirinya harus tetap professional. Mungkin nanti akan mencari waktu luang lagi untuk membawa istrinya pergi berbulan madu jika urusan pekerjaanya sudah beres.
Beberapa saat setelah kepergian Zaky ke kantor, rupanya Naya tidak juga menutup mata. Di rumah juga sepi. Mungkin Bundanya sedang ada acara atau entah pergi kemana, ia tidak tahu. Akhirnya Naya meraih ponselnya untuk menghubungi Mamanya.
Naya sangat tahu bagaimana perasaan Mamanya kemarin saat ia memutuskan untuk tinggal bersama Zaky. memang berat buat Naya. Tapi dia tidak ada pilihan lain demi melupakan kenangan buruk yang sempat menimpanya tepat di hari pernikahan.
“Ya sudah, Mama jaga diri bai-baik ya. Salam ke Papa, Ma!” pungkas Naya setelah itu mengakhiri sambungan teleponnya.
Usai bertukar kabar dengan Mamanya, Naya keluar kamar untukn mencari minum. Ternyata di dapur ada Bundanya yang sedang menata beberapa sayuran segar dan memasukkannya ke dalam kulkas.
“Bunda, dari mana?” tanya Naya ikut bergabung membantu Bunda Rosma.
“Bunda baru pulang dari pasar, Sayang. Apa kamu sudah makan?” tanyanya sembari mencuci tangan setelah selesai menata sayurannya.
“Sudah, Bun.” Jawab Naya singkat.
Bunda Rosma juga tidak ingin bertanya atau ingin tahu kemana semalam anak dan menantunya sampai tidak pulang ke rumah setelah berpamitan pergi jalan-jalan malam. wanita paruh baya itu cukup tahu bagaimana rasanya menjadi pasangan pengantin baru. Apalagi Bunda Rosma melihat ada jejak merah di leher jenjang menantunya.
**
Seharian ini Naya sibuk dengan Bundanya di dapur untuk membuat kue sekaligus memasak untuk makan siang. Karena seperti biasa, wanita paruh baya itu akan pergi ke kantor mengantar bekal makan siang suaminya setelah Tuan Bagas selesai meeting nanti. dan Bunda Rosma akan mengajak Naya sekalian.
Kurang setengah jam lagi waktu makan siang tiba. Dan saat itu juga Naya baru saja sampai kantor bersama Bundanya. Ini adalah pertama kalinya Naya datang ke kantor Zaky.
“Bunda masuk ke ruangan Ayah dulu ya, Sayang? Itu ruangan Rendra ada di sebelah ruangan Ayah. Kamu bisa menunggunya di sana kalau Rendra belum selesai meeting.” Ucap Bunda Rosma pada Naya.
“Baiklah, Bunda.”
Naya memasuki ruangan suaminya begitu saja tanpa mengetuk pintu. Dia beranggapan kalau Zaky belum selesai meeting.
Cklek
“Mas!” lirih Naya ternyata melihat suaminya sedang berada di dalam ruangan itu bersama seorang wanita cantik yang tengah duduk di samping suaminya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️