
~Ballroom~
"Apa kalian melihat, Batari?" tanya Ervin, kepada Ara dan Rissa.
"Tari, sedang ke kamar hotelnya Kak, bentar lagi juga kembali." Jawab Ara.
"Baiklah." Ujar Ervin.
"Umm... Kak Disha-nya tidak ikut, Kak?" tanya Rissa, tiba-tiba bergeser di samping Ervin.
"Kebetulan sedang ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditunda." Alibi Ervin. Dengan wajah yang sangat cool, tanpa menimbulkan rasa kecurigaan dalam ucapannya.
"Sangat disayangkan, padahal ini pernikah calon kakak iparnya." Ujar Rissa. Kembali memakan bolunya, dengan wajah yang begitu masam.
"Itu dia, Tari!" Tunjuk Ara, yang langsung membuat Ervin, menolehkan wajahnya mengikuti arah tunjuk tangan Ara.
"Kenapa dia mengganti dressnya?" Batinnya, dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa setiap aku melihat wajahnya, kedua mataku begitu memanas. Rasanya air mataku akan luruh kembali." Batin Batari.
"Beautiful." Puji Ara dan Rissa. Membuat Ervin, menyunggingkan senyumnya walaupun sangat kecil.
Ekhmm...
"Kecantikanmu malam ini mengalahkan mba Ellona, Tar." Cicit Rissa, di angguk setuju oleh Ara.
"Tentu saja tidak, malam ini ratunya tetap, mba Ellona." Ujar Batari, yang mengambil segelas orange juice untuk menghilangkan rasa gugupnya. Karena banyak pasang mata yang memandang ke arahnya.
"Kak!" Beo Ara, yang melambaikan tangannya di depan wajah, Ervin.
"Ekhmm!" Ervin, yang menormalkan kembali ekspresi wajahnya.
"Katanya mencari, Batari? itu orangnya sedang minum." Tunjuk Ara.
Tanpa ba bi bu lagi Ervin, langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah, Batari.
"Jangan kebanyakan minum, nanti kau tidak bisa tidur nyenyak." Bisik Ervin.
Batari pun langsung mendelikan matanya malas
"Kenapa kau di sini?" tanya Batari, dengan nada ketus.
"Aku mencarimu." Jawab Ervin.
"Untuk?" Dengan menatap wajah Ervin.
"Berfoto bersama, mba Ellona dan bang Attar" Ucap Ervin.
"Apa kau tidak ingin berfoto denganku." Bisiknya.
Uhuk... Uhuk... Uhuk...
"Aku tidak memintamu untuk menemaniku olahraga malam." Ujar Ervin. Dengan menepuk pelan tengkuk, Batari.
"Kau benar-benar gila!" Ucap Batari, yang langsung melangkahkan kakinya.
"Puffft!" Ervin, yang ketawa kecil melihat tanggapan, Batari.
"Kenapa aku merasa Batari dan Kak Ervin, begitu intim." Batin Rissa, menatap terus ke arah Batari dan Ervin.
"Happy Wedding, Mba..." Cicit Batari, yang langsung memeluknya.
"Kau dari mana saja, Tari?" tanya Ellona, yang membalas pelukan Batari.
"Tadi aku pergi ke kamar untuk menata riasanku kembali serta mengganti dressku yang ketumpahan oleh juice." Ujar Batari, melepaskan pelukannya.
"Lalu kau habis dari mana?" tanya Ellona, kepada Ervin.
"Ada urusan yang harus aku selesaikan secepatnya, Mba" Ujar Ervin.
"Benar-benar jago berkilah." Batin Batari, mendelikan matanya jengah.
"Kau ini di hari pernikahanku saja masih memikirkan pekerjaan." Tutur Ellona, memicingkan matanya.
"Mba, tahu sendirikan Kak Ervin, itu manusia paling sibuk di antara manusia yang lainnya di keluarga kita." Tutur Batari.
"Ah kau benar, Tari." Ujar Ellona.
"Sayang kau tidak akan sibuk seperti di keluargaku kan." Tutur Ellona, kepada Attar.
"Umm... Kita bahas nanti ya, lebih baik kita berfoto dulu.
Kasian tuh fotografernya nungguin dari tadi." Bisik Attar.
"Ah iya ayo Tari, ervin kita berfoto dulu" Ujar ellona
"Canggung banget, udah nikah juga." Goda Ellona. Kepada Batari, yang menjaga jarak dari Ervin.
"Mba... Fokus lihat ke depan." Bisik Batari, yang masih menyunggingkan senyumnya.
"Kau ini." Gerutu Ellona, yang kembali berfose ke arah kamera.
Setelah acara sesi foto selesai. Batari, langsung melangkahkan kakinya dari atas pelaminan.
"Tunggu, Batari!"
Kau mau ke mana?" ujar Ervin. Berhasil meraih pergelangan tangan, Batari.
"Apaan sih, Kak! Kenapa kau selalu mengikutiku terus?" kesal Batari.
"Kau lupa kita kan belum berfoto berdua." Tutur Ervin, yang masih memegang pergelangan tangan, Batari.
"Aku tidak mau. Lepaskan tanganku!" Ujar Batari, yang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman, Ervin.
"Kak... Semua orang sedang menatap ke arah kita." Bisik Batari, merasa tidak nyaman dilihat orang banyak pasang mata.
Ervin, pun langsung melepaskan pergelangan tangan Batari.
"Lebih baik kita jaga jarak." Bisiknya lagi. Dengan mengelus pergelangan tangannya yang memerah.
"Aku suamimu Tari, kenapa harus jaga jarak?" bisik Ervin.
"Suami apaan yang mesra-mesraan dengan perempuan lain." Batin Batari, yang menatap kesal wajah Ervin.
"Di sini kau Kakakku."
"Kalau di rumah baru kau Suamiku." Bisik Batari. Membuat Ervin, langsung mengerti lalu melangkahkan kakinya.
Drap... Drap... Drap...
"Ada hubungan apa sebenarnya Batari dan Kak Ervin." Batin Rissa. Menatap curiga Batari dan Ervin, yang bertingkah aneh menurutnya.
...***...
~Kamar Hotel~
Tap... Tap... Tap...
"Sial! Kenapa kamarnya jauh sekali, perasaan tadi tidak sejauh ini." Batinnya, menggerutu ketika berjalan dengan menghimpit kedua kakinya yang sudah kebelet pipis.
"Kumohon jangan pipis di sini." Batinnya lagi yang sudah melihat nomer pintu kamarnya.
Ceklekkkk!
"Sudah kuduga kau tidak akan bisa tidur nyenyak untuk malam ini." Batin Ervin, geleng-geleng kepala.
"Akhirnya lega juga." Ujar Batari, yang sudah keluar dari toilet.
Ekhmm!
"Kau..." Tunjuk Batari.
"B-bagaimana kau bisa masuk?" tanya Batari, dengan wajah syoknya.
"Dengan menggunakan keycard" Jawab Ervin, dengan lugasnya.
"Hah!" Syok Batari.
"Bukannya setiap kamar hanya memiliki satu keycard, bagaimana mungkin." Batin Batari.
"Aku bercanda, aku tidak memiliki keycard, karena keycard berada di tanganmu."
"Aku meminta bantuan kepada resepsionis untuk membukakan pintu kamarnya." Ujar Ervin.
"Huh..." Batari, yang menghembuskan nafasnya kasar ketika mendengar penjelasan, Ervin.
"Kenapa kau ke kamar? Bukannya kau sedang asik mengobrol dengan para kolegamu?" tanya Batari. Dengan jarak yang begitu jauh dari, Ervin.
"Sangat membosankan." Tutur Ervin.
"Ekhmm... Bukannya kau bilang jika hanya kita berdua, aku itu suamimu." Tuturnya kembali. Dengan menatap wajah Batari, yang terlihat syok dengan penuturannya.
"Mm-hmm, t-tapi j-jika i-itu di-rumah." Jawab Batari, terbata-bata dengan kegelisahannya yang terus ditatap oleh Ervin.
"Apa di sini juga tidak berlaku! padahal hanya ada kau dan aku." Tutur Ervin, beranjak dari ranjang. Dengan melangkahkan kakinya menuju ke arah, Batari.
Dag... Dig... Dug...
Batari, yang semakin panik. Melihat Ervin, berjalan terus ke arahnya.
"K-kau m-mau a-apa?" cicit Batari, yang semakin terbata-bata dengan degub jantung yang semakin berdebar.
Plakkk!
Batari, yang membuka kedua matanya sangat syok. Melihat Ervin, yang mengambil cargernya tepat berada di belakang tubuhnya. Membuat Batari, menelan salivanya susah.
"K-kau hanya-" Cicit Batari, yang menggantungkan ucapannya.
"Kau pikir aku akan menciummu!" Kesal Ervin, yang terus mengelus pipinya yang terasa kebas.
Glek!
Dengan menelan salivanya membuat Batari, langsung menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kau berpikir aku akan menciummu?"
"Apa kau berharap aku menciummu?" tanya Ervin, to the point.
"Tidak!" Dengan cepat Batari, menggelengkan kepalanya.
Cup!
Tanpa aba-aba Ervin, menempelkan bibirnya dengan bibir Batari. Sehingga kedua matanya melotot, ketika mendapatkan serangan tiba-tiba.
"Reaksimu seperti menginginkan ini dariku." Tutur Ervin, dengan mengulum seringai.
"Apa yang terjadi" Batin Batari, yang masih terdiam syok.
Cup!
Kali ini Ervin, mengigit kecil bibir Batari. Untuk memberi akses kepada lidahnya, untuk menelusuri rongga mulutnya.
Sehingga pada akhirnya Batari, mengikuti permainan Ervin. Hingga membuatnya terbuai ketika Ervin, menguasai mulutnya.
"Dheg! Ini salah" Batin Batari, yang langsung mendorong kuat tubuh Ervin.
"Why?" protes Ervin.
"I-ini salah, aku tidak mau melakukan sejauh ini dalam hubungan kontak fisik denganmu." Tutur Batari, yang menjauh dari Ervin.
"Ini tidak salah Batari, kau istriku aku adalah suamimu, salahnya di mana?" tanya Ervin, yang hampir frustasi karena aktivitasnya terhenti di tengah jalan.
"K-kau itu Kakakku, walaupun kau sekarang suamiku, Tetap itu salah." Cicit Batari, dengan airmata yang luruh membasahi wajah cantiknya.
"Shitt!" Umpat Ervin, yang menjambak rambutnya sendiri.
"Baiklah, aku tidak akan menyentuhmu lagi sebelum kau yang menginginkannya terlebih dahulu." Ujar Ervin, melangkahkan kakinya keluar.
Brakkkk!
Hiks... Hiks... Hiks...
"Aku tidak mengerti dengan perasaanku, di satu sisi aku menikmati sentuhannya tetapi disisi lain aku tidak bisa menerima sentuhannya." Batin Batari, meluruhkan tubuhnya ke lantai.
...***...
~Ballroom~
"Kenapa tuh wajah masam begitu?" tanya Joe.
"Biasa, karena kekasihnya tidak datang jadi tidak akan dapat jatah." Sahut Irvan, yang sudah mabuk berat.
Bughhh!
Ervin, yang tengah tersulut emosi. Langsung menghajar wajah Irvan, yang tengah tak berdaya.
Uhuk... Uhuk... Uhuk...
"Calm, Bro." Lerai Joe dan Delvin.
"Jika kau membutuhkan pelampiasan aku memiliki wanita cantik yang bisa menemanimu malam ini." Ujar Joe, membisikan di telinga Ervin.
"Shitt!" Dengan perasaan masih dongkol. Ervin, memilih mendudukkan bokongnya di bartender dengan meminum koktail.
"Jangan terlalu banyak Vin, kau akan mabuk." Tutur Delvin, yang mengambil gelas yang berisi koktail di tangannya.
"Kembalikan atau kau kupecat." Ancam Ervin. Membuat Delvin, menelan salivanya kasar.
"Pilihan yang tepat." Ujar Ervin, yang berhasil mengambil koktailnya kembali.
~Keesokan Harinya~
"Hoamm." Batari, yang terbangun dari tidurnya dan melihat kesekeliling kamarnya yang tidak menemukan batang hidung Ervin di dalam kamarnya.
"Apa semalam dia tidak kembali ke kamar." Gumam Batari, yang melangkahkan kakinya membuka pintu kamar mandi tetapi tidak menemukan siapa-siapa.
"Atau jangan-jangan dia--" Gumamnya lagi yang langsung membekap mulutnya sendiri.
Di sisi lain.
"Aku di mana?" monolognya. Dengan memegangi kepalanya yang terasa pusing.
Dan langsung refleks melihat tubuhnya yang diselimuti oleh sebuah selimut.
"Syukurlah" Batinnya yang melihat semua bajunya masih terpasang di tubuhnya walaupun sedikit acak-acakan.
"Seingatku semalam setelah aku meninggalkan Batari, aku kembali ke ballroom dan meminum koktail hingga aku tidak sadarkan diri."
"Setelah itu aku tidak bisa mengingatnya apa yang terjadi sehingga aku berada di sebuah kamar." Gumam Ervin, dengan mengingat-ingat detail kejadian semalam.
"Sudah sadar?" Ujar suara laki-laki.
"Kau! Ngapain di sini?" tunjuk Ervin, dengan wajah syoknya.
"Ini kamarku, kau tidak berterimakasih banget sama sahabatmu ini, yang telah membantumu dari santapan para wanita tunasusila." Ujar Delvin, yang mendudukan bokongnya di sofa.
"Kau yakin tidak ngapa-ngapainku kan?" tanya Ervin, dengan penuh selidik.
"Gila ya kau, Vin! Aku masih waras, masih suka sama lubang." Ujar Delvin, dengan bergidik ngeri.
"Thanks Delvin, akan aku naikkan gajimu bulan ini." Tutur Ervin, yang bergegas keluar dari kamar hotel setelah mendengar ucapan Delvin.
"Kau mau ke mana!!!" Teriak Delvin. Melihat Ervin berlari dan menutup pintu kamarnya begitu kencang.
Brakkkkk!!!
Dheg!
Jantung Ervin, yang sudah berdetak kencang ketika sudah berada di depan pintu kamar Batari.
"Masuk tidak, masuk tidak." Gumamnya dengan memaju mundurkan langkah kakinya.
"*Tenangkan dirimu Vin, tarik nafas dalam-dalam kemudian buang perlahan-lahan huufft..."
"Kau tidak boleh terlihat gugup seperti ini, karena kau tidak melakukan kesalahan apa-apa." Batinnya dengan memberi semangat kepada diri sendiri*.
Ceklekk...
Ervin, yang terkejut ketika akan melangkahkan kakinya. Melihat Batari, yang sudah membuka pintu dengan penampilan yang sudah rapi dan cantik seperti biasanya.
"Kau...!" Ujar Batari, dengan sorot mata penuh amarah.
"Ekhmm... Kau akan turun untuk sarapan pagi?" tanya Ervin, dengan basa-basinya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bukan urusanmu!" Jawab Batari, begitu ketus.
"Kenapa dia yang marah? dasar wanita memang tidak bisa aku pahami." Batin Ervin, seraya mengelus dadanya.
"Baiklah." Ujar Ervin, yang akan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
"Etssss! Mau ke mana kau?" tanya Batari, dengan melebarkan kedua tangannya di depan pintu.
"Masuk." Tunjuk Ervin, ke dalam kamar hotelnya.
"Lebih baik kau kembali ke kamar hotelmu yang semalam, aku tidak mengizinkanmu untuk memasuki kamarku." Ujar Batari.
"Hah!" Beo Ervin, dengan mulut yang sudah menganga.
"Kenapa dengan ekspresimu seperti itu?"
"Bukannya semalam kau sudah menghabiskan waktumu dengan kekasihmu?" ujar Batari, dengan melipatkan kedua tangannya.
"Rupanya kau mengetahui kebersamaan kami yang begitu romantis dan penuh erotis." tutur Ervin, dengan sengajanya. Membuat wajah Batari, berubah dengan sangat kesal.
"Ck! Kau benar-benar penjahat kelamin." Ujar Batari.
"Kenapa kau terlihat marah?apa kau cemburu aku menikmati malamku bersama wanita lain bukan denganmu." Bisik Ervin. Dengan melebih-lebihkan.
"Tidak! Aku tidak peduli apa yang kau lakukan." Jawab Batari, dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Yakin?" tanya Ervin, dengan tersenyum menyeringai.
"Sure." Jawab Batari.
"Rupanya begitu" Ujar Ervin, dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Umm... Apa kau mau mendengar sehebat apa dia semalam melayaniku." Tutur Ervin.
"Tidak." Ujar Batari, yang langsung melangkahkan kakinya menuju lift.
"Puffftt! Hahahaha!" Tawa Ervin, dengan memegangi perutnya yang begitu geli.
"Dasar saico, bisa-bisanya hal seperti itu ia ucapkan di depanku." Monolognya dengan memencet tombol lift.
...----------------...