My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 38



"Kau lama sekali, Baby." Ujar Ethan. Memeluk tubuh Disha, dari belakang.


"Tunggu." Ujarnya kembali yang kini membalikkan tubuh Disha, untuk menatap ke arahnya.


"Kenapa dengan ekspresi wajahmu yang terlihat kesal, hmm..."


"Apa kau berjumpa dengan, Ervin?" tanya Ethan. Dengan penuh selidik.


"Tidak, hanya saja masalah kerjaan yang membuat moodku berubah." Alibi Disha. Memeluk Ethan, agar tidak bertanya lagi.


"Kau sedang tidak membohongikukan?" tanya Ethan.


"Tentu saja." Jawab Disha.


"Tinggalkanlah Ervin, Baby. Dan jadilah kekasihku." Bisik Ethan.


"Diantara kita hanya sama-sama menginginkan kepuasan."


"Dan aku bisa mendapatkan itu darimu tetapi aku tidak bisa untuk meninggalkan Ervin, begitu saja." Ucap Disha, yang melepaskan pelukannya.


"Apa hebatnya dia? hingga kau susah sekali melepaskannya." tanya Ethan. Langsung menyambar bibir, Disha.


"Hahh... Ervin, itu sangat berbeda dari semua laki-laki yang pernah aku temui." Ucap Disha. Dengan deru nafas yang tersenggal-senggal setelah melepaskan pagutan dari bibir, Ethan.


"Tetapi aku lebih hebat darinya."


"Aku lebih bisa menjamin kepuasan dan kebahagian untukmu."


"Walaupun aku tidak bisa menjadi laki-laki seperti, Ervin." Ujar Ethan. Mendorong tubuh Disha, ke ranjang.


"Itulah yang aku takutkan darimu."


"Karena kau tidak bisa hanya untuk dengan satu wanita." Ucap Disha. Membuka satu persatu kancing kemeja milik, Ethan.


"Begitupun dengan dirimu, Disha. Kau pun sama denganku." Ujar Ethan, menyeringai.


"Ada sedikit perbedaan diantara kita."


"Aku hanya butuh pelampiasan untuk sesaat sedangkan kau sudah menjadi hobimu untuk bisa tidur dengan berganti wanita untuk setiap harinya." Ucap Disha. Ethan, yang sudah menurunkan reseleting dress miliknya.


"Rupanya kau mengetahui tentang diriku lebih jauh dari bayanganku." Ujar Ethan. Langsung menyambar kembali bibir seksi milik Disha, begitu lembut.


"Of course."


"Karena kau begitu terkenal dikalangan wanita penghibur." Ucap Disha. Ethan, yang berpindah ke leher jenjang Disha, untuk membuat stempel kepemilikannya.


"Ahhhh... J-jangan membuat tanda di leher-ku." Ucap Disha, yang tidak bisa menahan sentuhan Ethan, yang begitu membara.


"Apa kau bekerja sebagai wanita tunasusila?" tanya Ethan, dengan merapatkan alis tebalnya.


"Tidak... Aku memiliki seorang teman yang bekerja di sebuah club yang sering kau datangi setiap harinya." Jawab Disha.


"Good Girls." Ucap Ethan, yang menyambar kembali bibir Disha.


"Apa Ervin pernah menyentuhmu?" tanya Ethan yang menyentuh seluruh inci dari setiap tubuh Disha.


"T-tidak pernah." Jawab Disha. Dengan deru nafas yang sudah naik turun.


"Benarkah? lalu aku laki-laki yang keberapa yang menidurimu." tanya Ethan. Mengembangkan senyum lebarnya.


"Haruskah aku menjawab di setiap pertanyaanmu." Jawab Disha, memalingkan wajahnya.


Ethan, pun mencium kembali bibir seksi milik Disha. Untuk memulai aktivitas panasnya.


Hingga 2 jam kemudian. Ethan, mendapatkan pelepasannya untuk pertama kalinya. Setelah Disha, yang sudah mendapatkan pelepasannya untuk yang kesekian kalinya.


"Amazing, Disha."


"Kau membuatku berketagihan untuk terus menyentuhmu." Ujar Ethan. Menjatuhkan tubuhnya di samping Disha, dengan deru nafas yang masih memburu.


"Kau laki-laki pertama yang membuatku kecapean seperti ini!" Kesal Disha. Karena semua tubuhnya begitu terasa remuk.


"Kau juga perempuan pertama yang membuatku bermain begitu lama." Ujar Ethan, seraya menutup kelopak matanya.


"Huh... Kalau dilihat-lihat wajahmu begitu tampan persis mirip dengan pahatan wajah Ervin." Batin Disha yang melihat Ethan sudah tertidur lelap dengan deru nafas yang sudah teratur.


...***...


"Batari!" Panggil Ervin. Disaat melihat Batari bersama Ara yang berada di luar hotel.


"Kak Ervin." Cicit Batari.


Drap... Drap... Drap...


"Kenapa kau di sini? angin malam tidak baik untuk kondisi kehamilanmu." ujar Ervin.


"Maaf. Tetapi aku sedang menunggu Kak Ervin, untuk pulang ke rumah." Jawab Batari.


"Jam segini! Kau yakin memilih untuk pulang?" tanya Ervin, yang melihat ke jam tangannya sudah menunjukkan pukul 01.00 malam dini hari.


"Iya." Ucap Batari, diiringi anggukkan kepalanya.


"Baiklah." Tutur Ervin.


"Apa kau ingin ikut pulang bersama kami." Tawar Batari.


"Tidak Tari, karena kita tidak searah." Tutur Ara.


"Benaran tidak usah, Kak. Aku bisa pulang sendiri." Ucap Ara.


"Ini sudah malam. Biar Delvin, yang akan mengantarmu." Ujar Ervin.


"Benar Ra, apa yang Kak Ervin katakan."


"Ini sudah dini hari sangat berbahaya gadis sepertimu pulang seorang diri." Ucap Batari.


"Baiklah, aku akan menerima tawaran dari, Kak Ervin." Ujar Ara, yang menghela nafasnya kasar.


"Kalau begitu kau tunggulah disini! Sebentar lagi Delvin, akan menghampirimu." Ujar Ervin. Membukakan pintu mobil untuk, Batari.


"Aku pulang duluan ya, Ra." Ujar Batari, dengan melambaikan tangannya.


...***...


Diperjalanan yang begitu hening dengan Ervin, yang tetap lurus ke arah jalanan.


Begitu pun Batari, yang menatap terus ke samping jendela.


Dengan ucapan Disha, yang terus terngiang-ngiang di otaknya.


~Flashback On~


"Kau pasti memiliki tujuan." Tutur Batari, yang menatap Disha.


"Sure." Jawab Disha.


"Kak Ervin." Ucap Batari.


"Benar." Ujar Disha.


"Tidak! A-ku tidak akan melakukan hal itu." Ucap Batari.


"Perlu kau ingat Batari. Ervin, sama sekali tidak tertarik padamu."


"Dia tidak lebih hanya memperlakukanmu sebagai pemuas nafsunya saja. Disaat dia menidurimu."


"Rasakanlah baik-baik perlakuan Ervin, terhadapmu Batari." Ujar Disha. Membuat Batari, terdiam sejenak.


"Kembalikanlah apa yang bukan milikmu kepada pemiliknya yang sesungguhnya." Sambungnya kembali.


~Flashback Off~


~Rumah~


Setelah mobil terparkir. Ervin, langsung keluar dari mobilnya dan meninggalkan Batari.


Drap... Drap...! Tap... Tap...!


"Tunggu, Kak!" Ucap Batari. Ketika langkah kaki Ervin, akan menaiki anak tangga.


"Saat ini aku tidak ingin membahas hal apapun, jadi istirahatlah." Ujar Ervin, yang melangkahkan kakinya kembali. Dengan Batari, yang terus mengekor di belakangnya.


Ceklekkk...


"Kau..." Ujar Ervin. Melihat Batari, terus mengikuti dirinya hingga menuju kamar.


"Saat ini aku tidak sedang menginginkanmu, jadi kembalilah ke kamarmu." sambungnya kembali.


"Aku tidak sedang untuk merayumu tetapi--" Ucap Batari, yang menggantungkan perkataannya. Lalu menarik tubuh Ervin, di sofa.


"Tunggulah sebentar!" Ucapnya kembali.


Tap... Tap...


"Akhhh!" Ringis Ervin.


"Maaf. Pasti sangat sakit." Ucap Batari, yang mengobati wajah Ervin.


"Kau sengaja ingin membuatku tambah kesakitan." Ujar Ervin.


"Tidak. Maaf, aku akan lebih pelan-pelan lagi." Ucap Batari, yang begitu lembut. Hingga Ervin, pun tidak meringis kesakitan lagi.


"Selesai."


"Kalau begitu aku kembali ke kamarku." Ucapnya kembali yang beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya.


"Tetaplah di sini." Ujar Ervin.


Dheg!


Dengan raut wajah syoknya.


"A-aku akan ke kamarku saja, kau istirahatlah." Cicit Batari. Dengan terbata-bata dan melangkahkan kakinya kembali.


Grep!


"Apa kau menginginkanku untuk mengulang perkataanku kembali!" Ujar Ervin, yang sudah mengunci tubuh Batari.


"A-aku... ."


...----------------...