My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 23



~Rumah Sakit~


"B-bagaimana, Dok?" tanya Batari.


"Kau seharusnya bedrest, kondisi bayimu sangat mengkhawatirkan." Jawab dr. Rita.


"Aku tidak bisa, Dok."


"Aku tetap harus kuliah." Ucap Batari.


"Tapi kondisi bayimu sangat mengkhawatirkan, Batari." Ujar dr. Rita.


"Apa dr. Rita, tidak bisa meresepkan obat penguat kandungan lagi." Ucap Batari.


"Itu ga akan menjamin keselamatan bayimu Batari, jika kau tetap beraktivitas." Ujar dr. Rita.


"Karena kau harus benar-benar bedrest jika kau menginginkan bayi ini lahir." Sambungnya kembali.


"T-tapi, Dok." Cicit Batari, dengan raut sedihnya.


"Hah... Baiklah, saya akan memberikanmu obat penguat kandungan kembali." Ujar dr. Rita. Dengan menghela nafasnya kasar.


...***...


~Rumah~


"Mama, Tari, rindu sekali..." Ucap Batari. Langsung memeluk tubuh Ranti, dengan tubuh yang sudah bergetar.


"Kenapa, sayang? kau tidak biasanya seperti ini?" tanya Ranti, yang mengelus lembut punggung, Batari.


"Tidak apa-apa Mah. Tari, hanya rindu sama Mama." Jawab Batari, seraya menghapus sisa air matanya.


"Are you oke honey?" tanya Ranti.


"Yes, Mom." Jawab Batari.


"bagimana dengan your baby?" tanyanya kembali.


Dheg!


Mulut Batari, terasa begitu kelu hanya untuk mengucapkan bahwa bayinya sedang tidak baik-baik saja.


"K-kata d-dr. Rita, aku harus banyak-banyak istirahat Mah."


"Karena aktivitasku yang akhir-akhir ini sedang sibuk." Tutur Batari, yang melepaskan pelukannya.


"Baiklah, lebih baik kau istirahat di kamarmu." Ujar Ranti. Dengan mengelus lembut rambut panjang, Batari.


3 jam kemudian.


~Mall~


"Mba, kenapa kita ke sini?" tanya Batari, yang melihat semua baju tidur yang sangat menerawang. Serta membuat bulu kuduknya berdiri seketika.


"Ya untuk membelinya, Tari." Jawab Ellona, yang mengambil sebuah lingerie.


"Hah!"


"Mba, yakin mau membeli baju seperti itu?" tanya Batari.


"Sure." Angguk Ellona.


"Masa baju seperti ini harus dibeli?" cicit Batari, yang menatap horor pada lingerie.


"Tentu saja Batari, karena ini untuk membuat suami senang yang akan semakin betah di rumah." Ujar Ellona. Dengan menyunggingkan senyumnya.


"Umm... T-tidak seperti ini juga Mba, masa baju kurang bahan harus dibeli."


"Memangnya Mba, tidak malu jika harus memakai baju seperti ini." Tutur Batari.


"Tentu saja tidak. Kan hanya mas Attar, yang akan melihatnya." Ujar Ellona, yang menepuk jidatnya sendiri.


"Apa jangan-jangan selama kau menikah kau tidak pernah berhubungan lagi dengan, Ervin?" Selidik Ellona.


Glek!


"Y-ya kenapa h-harus b-berhubungan lagi, kan aku sudah hamil." Cicit Batari.


"Jangan bilang kalian berdua tidak satu kamar." Tutur Ellona.


"T-tentu saja tidak, Mba." Tutur Batari, dengan berdalih.


"Kau tidak berbohongkan, Batari?" tanya Ellona, dengan menatap dalam wajah Batari.


Glek!!


"S-sure." Ucap Batari, dengan menelan salivanya.


"Baiklah, kau harus membeli lingerie ini!" Putus Ellona, yang membelikan dua stel lingerie untuk, Batari.


"T-tapi..." Cicit Batari.


"Kau akan menyesal jika tidak membeli ini." Tutur Ellona. menarik lengan, Batari.


Setelah melakukan pembayaran Ellona dan Batari, menuju cafe.


"Bentar-bentar!" Ujar Ellona.


"Itu Disha, bukan?" tanya Ellona. Menunjuk ke arah Disha, yang tengah bersama dengan seorang laki-laki.


"Ah ya Mba, benar." Jawab Batari.


"Sebentar akan Mba, fotokan." Ujar Ellona, yang mengarahkan ponselnya ke arah Disha, yang tengah berpegangan tangan.


"Memangnya untuk apa, Mba?" tanya Batari, bingung.


"Untuk di kirim ke, Ervin." Jawab Ellona. Dengan Batari, yang langsung terdiam.


"Apa dia pernah main ke rumah kalian?" tanya Ellona.


"Kenapa kau tidak mengusirnya!" Ujar Ellona. Menatap geram ke arah Disha, yang tengah tersenyum sumringah.


"Untuk apa Mba, aku mengusirnya." Ucap Batari, yang menatap wajah Ellona.


"Dia akan menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga kalian, Batari." Ujar Ellona. Menatap gemas wajah, Batari.


"Bukannya aku ya, yang menjadi orang ketiga dihubungan mereka " Ucap Batari. Membuat Ellona, terdiam sejenak.


"Hmm... Kau bukan orang ketiga, Batari."


"Kau korban dari laki-laki berengsek seperti, Ervin." Tutur Ellona, yang meminum tandas jusnya.


"Pelan-pelan Mba, nanti tersedak." Ucap Batari.


"Lebih baik kita pulang saja, Tari."


"Mba, sudah tidak berselera." Tutur Ellona, yang beranjak dari tempatnya dan menarik lengan Batari, untuk mengikuti langkah kakinya.


"Mba..." Beo Batari.


"Kau akan langsung pulang atau mampir dulu ke rumah mama?" tanya Ellona, ketika akan membuka pintu mobilnya.


"Ke rumah mama saja, Mba." Ucap Batari.


Setengah jam kemudian.


"Kalian belanja apa saja hingga pulang sampai larut malam?" tanya Ranti.


"Biasa Mah..."


"Mama, seperti tidak berpengalaman saja." Tutur Ellona, dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Kau ini jangan mendoktrin Adikmu yang tidak-tidak, El." Ujar Ranti.


"Sekali-sekali tidak apa, Mah." Ucap Ellona, yang melangkahkan kakinya masuk ke dalam menuju ruang makan.


Setengah jam kemudian.


"Ingat Tari, jangan lupa kau pakai." Bisik Ellona, yang berjalan di samping Batari.


"Hah... Mba, tidak usah mengingatkanku terus." Cicit Batari, melangkahkan kakinya. Dengan Ellona, yang terus berjalan di sampingnya.


"Bagaimana Mba, tidak mengingatkanmu Tari. Kau sengaja meninggalkan paperbag ini." Ujar Ellona.


"Shitt! Padahal aku sengaja meninggalkan itu di sini." Batin Batari. Dengan menerima paperbagnya kembali.


...***...


~Rumah~


Glek!


"Apa aku harus memakainya." Monolognya dengan menelan salivanya begitu kasar.


"Tidak... Tidak..."


"Ini sangat mengerikan." Gumamnya, dengan geleng-geleng kepala dan melemparkan paperbagnya.


Krietttt...


"Batar..." Ujar Ervin, yang menggantungkan ucapanya ketika melihat sebuah lingerie tepat di bawah kakinya.


"Hah..." Ucap Batari, yang membalikkan tubuhnya.


Dengan wajah syok melihat Ervin, yang tengah menatap lingerie yang tepat di bawah kakinya.


"Lingerie?" Ujar Ervin, seraya mengambilnya.


"Untuk apa kau membeli ini?" tanya Ervin, yang melangkahkan kakinya ke arah Batari.


Drap... Drap... Drap...


Glek!


"I-itu p-punya, m-mba E-ellona."


"Ya punya m-mba E-ellona, terbawa oleh-ku." Ucap Batari. Dengan menampilkan senyum di raut wajahnya, dengan jantung yang sudah berdegub kencang.


"Are you sure?" ujar Ervin, yang kini sudah berada tepat di depan Batari, yang semakin membuatnya gugup.


"S-sure " Jawab Batari, dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ingat Batari, jangan pernah menggodaku!"


"Aku laki-laki normal." Bisik Ervin.


"Glekk!!" Dengan menelan salivanya susah.


"T-tentu saja tidak." Ucap Batari. Dengan mendorong tubuh Ervin, agar tidak terlalu dekat dengan dirinya.


"Tapi kenapa ukuranya sangat pas sekali dengan tubuhmu?" tanya Ervin.


"Umm..." Batari, yang semakin menggaruk tengkuknya. Karena kebingungan, harus menjawab apa.


"Sial hanya melihat sebuah lingerie, otakku sudah traveling." Batin Ervin.


"Ekhmm!"


"Aku bahkan sampai lupa tujuanku ke kamarnya." Batin Ervin, kembali.


"Nih?"


"Jika ini milik mba Ellona, jangan lupa kau mengembalikannya." Ujar Ervin, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar, Batari.


"Huh! Untung saja aku masih selamat." Batin Batari.


...----------------...