
🔥🔥🔥🔥
“Mas, aku tidak tahan!” ucap Naya dengan nafas memburu seolah ada sesuatu dalam dirinya yang minta dikeluarkan.
Zaky tersenyum dalam hati mendengar ucapan Naya. Itu tandanya sang istri sudah benar-benar rileks dan menikmati sentuhannya. Atau bisa dikatakan kalau Naya sudah tidak lagi ketakutan dengan bayang-bayang perbuatan Aksa saat itu.
Zaky tidak menjawab. Dia semakin aktif memainkan lidahnya di sana. Membiarkan Naya menikmati setiap setuhannya. Biarkan saja Naya mengeluarkan cairannya, karena Zaky akan sangat bahagia karena menjadi pria pertama dan satu-satunya yang akan membawa istrinya terbang melayang.
“Mas!!!”
Kaki Naya mengejang saat sesuatu dalam dirinya akan keluar. Dia ingin mendorong kepala Zaky, namun sayangnya tangan Zaky mencengkeram kuat pahanya agar tetap berada di sana.
Naya merasakan gelenyar aneh keluar begitu saja dengan diiringi rasa nikmat yang selama ini belum pernah ia rasakan. Dengan nafas memburu dan tersengal, dia masih belum menyadari kalau kepala Zaky masih betah di bawah sana.
“Mas, maaf!” ucap Naya merasa tak enak saat Zaky baru saja bangkit dan Naya masih merasakan intinya berdenyut.
Zaky mengusap wajahnya yang basah bekas kenikmatan Naya lalu mengulas senyum tipis. Namun sayangnya senyum itu hanya sekejap, karena Zaky juga tidak bisa berlama-lama membiarkan miliknya menganggur. Tatapan mata Zaky sudah dipenuhi oleh kabut gairahh. Pria itu membuka paha Naya lalu memposisikan senjatanya tepat pada inti Naya.
Naya memalingkan muka karena malu saat melihat senjata milik suaminya yang besar dan berurat itu. ternyata seperti bentuk dan ukuran milik Zaky setelah tadi siang dia sempat merasakan pergerakannya.
“Tenanglaah! Aku akan melakukannya dengan pelan dna sangat lembut. Kamu tahan sebentar karena di awal memang rasanya sakit.” Zaky meyakinkan istrinya sebelum siap menghujam inti Naya yang sudah membuatnya sangat penasaran dengan rasanya.
Naya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Tak lama kemudian Zaky mulai menggerakkan miliknya dengan mendorong pelan.
Sshhhh….
Suara Naya tertahan saat merasakan intinya seperti robek saat benda pusaka suaminya berhasil melesak ke dalam intinya. Zaky buru-buru membungkam bibir Naya dan menguulumnya dengan lembut untuk mengurangi rasa sakit Naya.
Zaky mendiamkan miliknya sejenak. Membiarkan Naya agar lebih rileks. Dia juga masih melummat bibir Naya dan sesekali mengecup lembut ujung aset sang istri yang sudah mengeras.
Setelah merasakan Naya lebih rileks, Zaky mulai menggerakkan miliknya maju mundur sesuai ritme. Rasa sakit yang sempat dirasakan Naya kini perlahan hilang berganti dengan rasa nikmat.
Akhirnya malam itu di sebuah cottage yang berada di kawasan puncak, Naya dan Zaky resmi melepas keperawanan dan keperjakaan mereka. Malam pertama yang sempat tertunda beberapa waktu lantaran trauma yang sedang dialami oleh Naya sudah terbayar malam ini. bahkan keduanya sama-sama tidak berencana akan melakukannya di tempat ini. karena niat awal Zaky memang ingin mengajak sang istri jalan-jalan. Namun siapa sangka akan berakhir dengan malam yang penuh kenikmatan.
“I love you, Kanaya!” ucap Zaky sambil mengecup pundak Naya yang masih polos dan hanya tertutup selimut sebatas dada saja.
Naya membalikkan badannya dan tersenyum menatap wajah suaminya. “I love you too.” Balasnya lalu menelusupkan kepalanya pada ceruk leher Zaky.
Zaky tersenyum saat mendengar dengkuran halus dari bibir istrinya. Naya benar-benar kelelahan setelah beberapa saat yang lalu bertempur dalam kenikmatan bersamanya.
***
Keesokan paginya Zaky terjaga lebih dulu, lantaran terdengar suara deringan ponselnya. Pria itu tampak berbicara dengan serius dengan seseorang di balik sambungan teleponnya. Lalu ia meilirik wajah Naya yang masih terlelap damai. Seketika itu ia teringat kalau semalam ia melakukannya lagi saat Naya terjaga dari tidurnya.
“Tolong undur satu jam jadwal meetingnya nanti. saya sedang sibuk hari ini.” pungkas Zaky sebelum menutup panggilannya.
Rupanya yang menelepon adalah sekretarisnya. Memang Zaky sudah beberapa hari cuti dari pekerjaannya. Dan hari ini kebetulan ada meeting dengan beberapa petinggi perusahaan karena Ayahnya sedang meeting dengan kliennya yang dari luar negeri. akhirnya Zaky yang harus menghandle semuanya. Dia harus tetap bekerja secara professional, meskipun saat ini harusnya ia masih menikmati hari bahagianya.
Setelah meletakkan ponselnya, Naya mulai menggeliatkan tubuhnya. Dia membuka matanya perlahan namun ia melihat langit dari celah kaca jendela masih petang.
“Mas, kamu sudah bangun? Jam berapa memangnya sekarang?” tanya Naya dengan tubuh masih berbaring di atas tempat tidur.
“Masih jam lima, Sayang. Apa kamu mau melakukannya lagi?” tanya Zaky dengan nada menggoda.
“Ish… ini saja rasanya masih ngilu.” Jawab Naya dengan mencebikkan bibirnya.
“Ya sudah, kalu gitu kita mandi bersama saja. nanti jam delapan aku harus ke kantor. kamu nggak apa-apa kan?”
“Nggak apa-apa. Aku mengerti kok tentang pekerjaan kamu. Maaf, kalau selama ini sudah membuatmu kehilangan banyak waktu karena-“
“Sttt… jangan katakan apapun. Lebih baik kita mandi sekarang setelah itu kita cari makan. Aku yakin kamu pasti sangat kelaparan, kan setelah semalam kita bertempur?”
Tanpa memberi aba-aba Zaky langsung menggendong Naya memasuki kamar mandi. karena dia yakin kalau istrinya akan kesusahan berjalan akibat ulahnya semalam.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️