
Akhirnya dengan sedikit memaksa, Nabil berhasil mengajak Naya untuk menemaninya pergi ke sebuah acara peresmian pembukaan mall baru itu. dan selama itu Nabil memilih tinggal di hotel tak jauh dari mall itu berada. Pria itu juga sering meluangkan waktunya untuk menjenguk tantenya yang masih dirawat di rumah sakit.
*
Keadaan Senja hari ini sudah lebih baik. Dokter masih menunggu sampai satu hari lagi kalau tekanan darah Senja sudah stabil dan tidak merasakan sesak lagi, lusa akan diperbolehkan pulang.
Saat ini Senja sedang mencari udara segar di luar ruang rawatnya. Lebih tepatnya di taman rumah sakit yang memang sengaja diperuntukkan pasien yang ingin menghirup udara segar.
Xavier sejak kemarin setia menjaga dan menemani sang istri. Kebetulan juga pekerjaan kantor bisa dihandle Naya dan Alvaro.
“Apa kamu butuh sesuatu, Sayang?” tanya Xavier yang duduk di kursi tak jauh dari istrinya.
Senja yang sejak tadi diam menikmati hawa segar udara di taman rumah sakit sambil melihat beberapa pasien yang juga ada di sana, melirik sekilas pada sang suami. lalu memggelengkan pelan kepalanya. Namun setelah itu mengangguk.
“Apa? Katakan saja, apa yang kamu inginkan?”
“Aku ingin Zaky kembali.” Jawabnya singkat dan kembali melihat keindahan taman di hadapannya.
Xavier hanya menghela nafas mendengar permintaan sang istri yang entah ke berapa kalinya. Namun sampai saat ini dia belum bisa mewujudkannya. Padahal bukan hanya Senja saja yang ingin Zaky kembali. Tapi dirinya juga.
“Maafkan aku. mungkin karena ucapanku dulu yang membuat Zaky menghilangkan jejak dari kita dan tidak ingin bertemu kembali dengan kita.” Ucap Xavier dengan penuh rasa penyesalan.
Senja tidak bisa berkata-kata lagi. dia juga tidak ingin menyalahkan suaminya. akhirnya wanita paruh baya itu meminta sang suami untuk membawanya masuk ke kamar.
***
Saat ini Zaky sedang menyelesaikan beberapa pekerjaannya, agar nanti jika ditinggal pergi ke luar kota beberapa hari, dia tidak terlalu kerepotan memikirkan pekerjaan.
Rencananya nanti sore Zaky dan Shanum akan berangkat ke kota B. sedangkan untuk persiapannya, pria itu tidak perlu repot-repot membawa banyak pakaian. Mungkin Shanum lah yang bawaannya banyak.
Zaky menghembuskan nafasnya pelan. Sejenak ia berisitirahat sambil menyandarkan punggungnya pada kursi. Ada rasa yang sangat sulit dijelaskan bahwa sebentar lagi ia akan pergi ke kota dimana dirinya dulu dibesarakan. Dimana dirinya dulu mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orang tua angkatnya. Dan dimana dirinya pertama kali menemukan cinta sejatinya. Sekaligus cinta yang salah.
Zaky memang sudah menceritakan semua masa lalunya kepada keluarga kandungnya. Namun tidak mengatakan dimana dulu dirinya tinggal. Jadi, baik Shanum maupun kedua orang tuanya tidak tahu apa yang sedang Zaky rasakan saat ini.
**
Sore ini Zaky sudah bersiap pergi ke luar kota bersama Shanum. Perjalanan dari tempat tinggalnya ke kota B membutuhkan waktu kurang lebih selama empat jam. Dan Zaky memutuskan untuk membawa mobil sendiri, daripada ikut rombongan dari agency dimana Shanum bekerja.
“Jangan sampai ada yang terlewatkan, Num!” ucap Zaky mengingatkan adiknya.
Shanum hanya diam. perempuan itu menelisik semua barang bawaannya, barangkai ada yang ketinggalan. Dan setelah sudah lengkap, barulah ia memasukkan kopernya ke dalam mobil dengan dibantu oleh kakaknya.
**
Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan sekaligus menyenangkan, akhirnya Zaky dan Shanum tiba di tempat tujuan. Mereka berdua langsung mencari hotel yng dekat dengan tempat mall dimana Shanum akan menjadi model brand pakaian di sana.
“Taruh di mobil saja koper kamu, biar nanti kakak yang ambil. Kamu bawa barang kamu yang lain yang ringan saja.” ujar Zaky saat baru saja sampai hotel.
“Baiklah, Kak.”
Setelah itu Zaky dan Shanum memesan dua kamar untuknya menginap selama beberapa hari. Setelah mendapatkan kamar dan diberi kartu akses, Shanum lebih dulu masuk ke kamar yang bersebelahan dengan kakaknya. Sedangkan Zaky kembali ke mobil untuk mengambil koper Shanum.
Bruk
Aww…
Shanum meringis setelah tubuhnya hampir saja terhuyung. Untung saja ia reflek berpegangan pada dinding.
“Maaf, Nona!” ucap pria yang tak sengaja menabrak Shanum.
Kedua pasang mata itu saling menatap. Sedangkan si pria yang menabrak Shanum yak tak lain adalah Nabil, justru mengulas senyum manis pada Shanum. Sontak saja Shanum yang ingin memarahi Nabil, kini berubah salah tingkah saat ditatap Nabil seperti itu. apalagi senyumnya sangat menawan.
“Anda baik-baik saja, Nona?” tanya Nabil saat melihat Shanum justru diam dan senyum-senyum sendiri. Bahkan Nabil sampai melambaikan tangannya tepat di depan wajah Shanum.
“Ehm.. saya nggak apa-apa.” Jawab Shanum berusaha menetralkan degupan jantungnya.
Nabil hanya mengangguk samar. Setelah itu dia pergi begitu saja meninggalkan Shanum yang masih bengong.
“Kenapa masih di sini?” tanya Zaky yang baru saja sampai di depan kamarnya namun masih melihat Shanum berdiri di luar.
“Ah, nggak apa-apa, Kak. Ya sudah biar aku dorong sendiri kopernya. Selamat beristirahat, Kak!” ujar Shanum dan segera masuk ke kamarnya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️