My Brother My Husband

My Brother My Husband
Eps 60 ~ Oase



Cukup lama Naya dan Zaky menghabiskan waktunya di café. Naya menceritakan tentang kehidupannya selama ditinggal oleh Zaky. begitu juga dengan Zaky. mereka berdua ternyata sama-sama tersiksa karena menahan rindu yang amat sangat menyesakkan dada.


“Maafkan aku, Naya kalau kamu atau bahkan Papa selama ini mencariku tidak bisa menemukan keberadaanku. Selain aku meminta pihak panti asuhan untuk tutup mulut, identitasku juga tekah berubah. Kedua orang tuaku memberi nama Rendra. Karena itu namaku sejak lahir.” Ucap Zaky setelah mendengar curahan hati Naya kalau kesulitan mencari keberadaan dirinya.


“Nggak apa-apa, Kak. Aku sudah bertemu dengan Kak Zaky kembali sudah cukup membuatku senang. Terlebih Mama yang selama ini terus memikirkan Kakak.” Ucap Naya.


Zaky yang sudah tahu kalau penyebab Mamanya sering sakit-sakitan karena kepergiannya. Ada sedikit rasa bimbang dalam hatinya mengenai hubungannya dengan Naya. Apakah akan kesulitan lagi untuk mendapatkan restu dari Mama Papanya? Namun Zaky tidak ingin menunjukkan kebimbangannya itu pada Naya. Dia harus yakin.


Tak lama kemudian terdengar suara deringan ponsel Zaky. ternyata itu dari Shanum yang mengatakan kalau sudah selesai melakukan pemotretan, dan minta untuk dijemput.


“Nay, Shanum sudah selesai pemotretan. Dia minta dijemput. Bagaimana kalau kamu ikut? Sekalian nanti aku kenalkan kamu dengan Shanum?”


“Tapi mobilku bagaimana, Kak?” tanya Naya.


“Kamu bawa mobil sendiri, Nay?” tanya Zaky terkejut. Setahunya sejak dulu Mama dan Papanya melarang Naya membawa mobil sendiri, semenjak Naya menabrak tiang listrik saat pertama kali belajar mengemudi.


“Kenapa memangnya, Kak? Aku juga punya SIM. Mau bergantung pada siapa lagi kalau aku tidak mengemudi sendiri?”


Entah kenapa mendengar penuturan Naya seperti itu membuat hati Zaky sedih. Dia juga melihat penampilan Naya yang lebih dewasa dari sebelumnya. Bahkan sikapnya juga semakin dewasa. Sangat berbeda dengan Naya yang dulu ia kenal. Dan perubahannya itu karena dirinya, yang telah pergi memutuskan untuk pergi.


“Maafkan aku.” hanya itu yang mampu diucapkan Zaky untuk mewakili perasaannya.


“Sudahlah, Kak. Aku juga sudah terbiasa. Baiklah aku akan ikut menjemput Shanum. Biar mobilku nanti diambil sopir.” Pungkas Naya sekaligus mengalihkan pembicaraan.


**


Kini Zaky dan Naya sudah berada di mobil hendak menuju tempat pemotretan Shanum. Setelah kemarin memperagakan pakaian dari brand terkenal saat pembukaan mall baru, hari ini dari Shanum ada pemotretan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kosmetik. Jadi Zaky langsung menuju perusahaan itu.


Dalam perjalanan Zaky sesekali memegang lembut tangan Naya. Betapa bahagianya mereka berdua saat ini setelah terpisah cukup lama dan dipertemukan kembali.


“Apa kamu memiliki kekasih selama aku pergi, Nay?” tanya Zaky tiba-tiba.


“Kak Zaky ini tanya apaan sih? Waktuku selama ini aku isi dengan kesibukan kantor. dan apa Kakak tahu kalau semua itu aku lakukan demi melupakan setiap kenangan yang telah kita ciptakan. Tapi sayangnya aku tetap kesulitan melupakan Kak Zaky.”


Zaky senang mendengar jawaban Naya. Lalu dia mencium punggung tangan Naya, seketika itu membuat wajah Naya memerah.


“Apa mobilnya mogok, Kak?” tanya Naya cemas tanpa melihat raut wajah Zaky yang sedang tersenyum smirk.


“Sepertinya begitu.” Jawab Zaky dengan santai lalu tangannya terulur melepas seatbelt Naya.


Seketika itu Naya terkejut saat melihat Zaky melepas seatbeltnya. Belum sempat Naya protes, dia dibuat terkejut kembali karena dengan sekali gerakan, Zaky sudah berhasil memindahkan posisinya di atas pangkuan Zaky.


“Kak!” Nafas Naya tercekat saat melihat tatapan Zaky yang sangat berbeda.


“Aku sangat merindukanmu, Naya!” ucap Zaky lalu segera mendaratkan bibirnya di bibir Naya. Tentunya ia menarik kepala Naya dulu setelah itu menekannya agar bisa memperdalam ciumannya.


Zaky yang selama ini menahan rindu terhadap Naya, kini ia merasakan seperti mendapat oase di tengah padang pasir. Hilang sudah rasa dahaganya setelah bisa menikmati kembali bibir Naya yang masih sama rasanya seperti dulu.


Naya pun demikian. Awalnya masih terkejut dengan serangan yang diberikan oleh Zaky, bahkan dia lupa bagaimana caranya berciuman. Namun setelah merasakan pergerakan lidah Zaky yang sangat aktif membuat Naya perlahan bisa mengimbangi pertautan lidah itu.


Nafas mereka berdua sama-sama memburu. Mereka melakukannya dengan lembut dan semakin menuntut. Bahkan tangan Zaky kini sudah mulai berani menyentuh anggota tubuh Naya yang paling sensitif, hingga membuat Naya reflek mengeluarkan suara desa-hannya saat bibirnya masih sibuk dilummat oleh Zaky.


Tatapan mata Zaky sudah dipenuh oleh kabut gairahh saat ciumannya terjeda beberapa saat. Lalu dia mendaratkan kepalanya tepat pada dada Naya yang sebagian kancing bajunya sudah berhasil ia buka. Zaky mengusak gemas kepalanya pada dua buah kenyal di hadapannya. Naya pun merasa kegelian namun sangat menikmatinya. Bahkan Zaky juga meninggalkan beberapa taanda merah di sana.


Deringan ponsel Zaky yang terdengar cukup nyaring akhirnya mampu menghentikan kekhilafan mereka berdua. Dengan nafas masih tersengal, Zaky menerima panggilan itu, yang tak lain dari Shanum.


Shanum mengatakan kalau ada meeting sebentar dengan pihak perusahaan. Dia meminta Zaky untuk menunggu sebentar di lobby perusahaan.


“Nay, secepatnya kita harus menikah. aku nggak mau jika setiap kali kita bertemu akan berbuat khilaf begini. Maafkan aku!” ucap Zaky sembari mengancingkan kembali baju Naya, lalu perlahan menurunkan Naya dari pangkuannya.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️