
Zaky baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Sedangkan Naya tampak berbaring di atas brankar dengan memainkan gadgetnya.
“Apa sudah selesai, Mas?” tanya Naya menahan tawanya.
“Hmm…” Jawab Zaky dengan gumaman, lalu ia memilih keluar dari ruang rawat istrinya sejenak untuk membeli minum.
Zaky masih merasakan kesal sekaligus lelah. Tapi mau marah sama siapa dia juga tidak tahu. Tidak mungkin juga memarahi istrinya. Bukannya dia juga sudah memantapkan hati, jiwa dan raganya untuk memenuhi ngidam istrinya. Meskipun permintaannya tadi sangat absurd bagi Zaky atau bahkan semua suami di dunia ini.
Zaky menghembuskan nafasnya pelan sembari duduk di kursi kantin sambil minum minuman dingin bersoda. Dia masih tidak menyangka dengan permintaan istrinya tadi.
Entah tadi Naya benar-benar ngidam atau sengaja mengerjainya. Bagaimana tidak Zaky tidak percaya saat Naya membisikkan sesuatu tepat di telinganya. Wanita yang tengah hamil muda itu menginginkan untuk menyentuh senjata ampuh milik suaminya. ingat, hanya ingin menyentuh. Bukan yang lainnya.
Zaky awalnya merasa biasa saja. mungkin nanti ia akan melanjutkan aksinya setelah cukup mendapat sentuhan dari sang istri. Namun ternyata Naya benar-benar hanya menyentuhnya. Meskipun hanya dalam durasi lima menit, tetap saja membawa efek kejut yang luar biasa pada Zaky. Akhirnya Zaky tidak kuat untuk tidak melanjutkannya.
Dia segera menghentikan kegiatan Naya yang sedang menyentuh senjatanya, tapi sayangnya Naya menolak saat Zaky akan mencium bibirnya.
“Aku hanya ingin menyentuhnya saja, Mas!” ucap Naya tanpa rasa bersalah.
Seketika itu wajah Zaky tampak pias. Apalagi yang di bawah sana sudah menegang. Dia juga ingat dengan ucapan dokter kalau tidak diperbolehkan dulu berhubungan badan saat usia kandungan Naya masih muda. Dikhawatirkan nanti akan keguguran. Akhirnya jalan terakhir yang ditempuh Zaky adalah bersolo karir di kamar mandi.
***
Sore harinya Naya dibawa ke ruang poli kendungan untuk mendapatkan pemeriksaan USG. Suasana hati Zaky sudah lebih baik daripada sebelumnya. Ia juga sudah kembali bersikap hangat pada Naya.
Di dalam poli kandungan itu, Zaky melihat ssecara langsung saat perut Naya sedang ditempeli alat untuk melihat janin dalam kandungannya.
Meskipun calon janin mereka masih seukuran biji jagung, tetap saja Zaky sangat bahagia melihatnya. Kemudian ia menggenggam lembut tangan istrinya seolah menyalurkan kebahagiaannya saat ini.
Setelah melakukan pemeriksaan USG, Naya kembali ke ruang rawatnya. Dokter masih memnyarankan untuk rawat inap sampai tekanan darah Naya normal. Akhirnya seharian itu Zaky lah yang menunggui istrinya.
Malam harinya Senja dan Xavier sudah tiba di rumah sakit. Kedua orang tua Naya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anak dan menantu mereka.
“Mama, Papa!” panggil Naya.
Senja tidak bisa menyembunyikan lagi kebahagiaannya. Wanita paruh baya itu langsung memeluk haru Naya dan menciumi kepalanya. Senja tidak menyangka kalau kejadian pahit yang menimpa rumah tangga anaknya di awal pernikahannya kala itu, dengan cepat diganti oleh Tuhan dengan kebahagiaan seperti sekarang ini.
“Bagaimana keadaan kamu, Sayang?” Tabya Senja yang kini sudah duduk di tepi brankar Naya. Sedangkan Xavier duduk di kursi depan Naya.
“Naya sudah lumayan baik, Ma. Akhir-akhir ini memang sering merasakan pusing dan lelah. Naya tidak tahu kalau ini memang gejala kehamilan.” Jawab Naya.
“Iya, Ma. Zaky juga tidak mengerti kalau Naya sering mengeluhkan pusing. Zaky pikir hanya pusing biasa, karena Naya sendiri juga menolak untuk periksa ke dokter.” Sahut Zaky menimpali.
“Ya, memang wajar hal itu. karena kalian berdua juga pasangan baru, tentunya masih awam mengenali gejalan itu.” ucap Senja memaklumi.
Tak lama kemudian kedua orang tua Zaky juga datang. mereka berdua juga baru sempat datang kembali ke rumah sakit lantaran Tuan Bagas sejak tadi sibuk dengan pekerjaannya.
Dua pasang orang tua itu saling menyapa setelah beberapa waktu tidak bertemu. Lebih tepatnya setelah hari pernikahan Naya dan Zaky. mereka juga sangat bahagia karena sebentar lagi mereka akan mendapat panggilan baru, yaitu kakek dan nenek.
Tak lama kemudian dokter datang memasuki ruangan Naya bersama seorang perawat untuk mengecek perkembangan kesehatan Naya. Dokter mengatakan kalau hasil pemeriksaan tekanan darah Naya sudah mulai stabil. Kemungkinan besok kalau tekanan darahnya benar-benar stabil, Naya sudah diperbolehkan pulang.
Senja dan Xavier tampak lega mendengarnya. Kemudian ia memberikian nasehat pada Zaky agar mejaga kehamilan Naya dengan baik. Mengingat dirinya yang tinggal jauh dengan Naya, jadi tidak bisa ikut memantau kehamilan Naya.
“Kalian jangan khawatir, kami tentunya juga akan menjaga Naya dengan baik seperti anak kandung kami sendiri.” Sahut Bunda Rosma menimpali.
“Iya, terima kasih. Bukan maksud untuk tidak peercaya dengan kalian. tapi kami hanya mengingatkan Zaky saja untuk lebih menjaga Naya, khususnya hatinya. Wanita hamil bukankah sangat sensitif perasaannya?” ucap Senja.
Zaky menganggukkan kepalanya paham. Ia juga telah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu siap siaga dan juga menjaga kestabilan emosi dan perasaan istrinya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️