
"Papa, ke kamar dulu. Lebih baik kau menginap di sini saja malam ini!" Ujar David, yang beranjak dari tempat duduknya.
"Aku akan pulang saja." Tutur Ervin, yang beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkahkan kakinya keluar rumah.
"Huh! Kau sungguh keras kepala vin." Batin David.
~Club~
Dentingan musik yang begitu gemerlap dengan penari striptiss yang begitu erotis. Membuat Ervin, hanya meneguk sampanyenya tanpa menghiraukan para wanita tunasusila yang mengelilingi dirinya penuh sensual.
"Come on, Baby!" Ucap salah satu perempuan penghibur yang mulai mencumbui leher Ervin, begitu sensual.
"Enyahlah!" Ujar Ervin, yang meneguk kembali sampanye yang ada di depannya.
"Tidak sayang, aku akan memuaskanmu malam ini untuk menenangkan pikiranmu yang tengah kalut." Sambungnya kembali yang mendekatkan bibirnya untuk mencium bibir, Ervin.
Brukkk!!
"Akhhhh!" Ringisnya ketika pantatnya mencium lantai.
"Sudah aku katakan enyahlah dari hadapanku, dasar bitchh!" Ujar Ervin, dengan sempoyongan menunjuk perempuan tuna susila yang didorong olehnya.
"Vin, ada apa ini?" tanya Joe, yang menghampiri Ervin tengah memarahi wanita penghibur di club miliknya.
"Inikan yang kau inginkan!" Ujar Ervin, yang melemparkan lembaran uang di atas kepala wanita tunasusila yang berada di depannya dengan berjalan sempoyongan.
"Ambilah, setelah itu enyahlah!" Tutur Joe.
"Ikut aku Vin!" Ujar Joe. Menarik Ervin, menuju ruangan kamar yang berada di club.
...***...
~Keesokan harinya~
Tap... Tap...! Tap... Tap...!
"Apa kak Ervin, semalam tidak pulang!" Batin Batari, ketika melihat ke jendela tidak ada mobil milik Ervin yang terparkir.
Dret... Dret... Dret...
"Mama is calling"
"Ya, Mah." Ucap Batari.
"Kau sedang apa, Sayang?" tanya Ranti, di sebrang sana.
"Aku sedang mengoles roti mah." Jawab Batari.
"Cepatlah makan, kasian janin yang berada di dalam perutmu..." Ujar Ranti.
"Kalau begitu aku tutup teleponnya, Mah." Ucap Batari.
"Tunggu sebentar Sayang."
"Jangan kau tutup dulu, ada hal yang ingin Mama sampaikan kepadamu." Ujar Ranti.
"Hal apa ya, Mah?" tanya Batari.
"Jika hari ini kau memiliki waktu luang, bisakah kau ke rumah Mama." Tutur Ranti.
"Sure. Apakah ada problem, Mah?" tanya Batari.
"Pokoknya Mama, tunggu kau di rumah." Ujar Ranti.
~1 jam kemudian~
"Suprice!" Ujar Ellona, yang menyambut ke datangan Batari.
"M-mba Ellona..." Cicit Batari, yang langsung memeluk tubuh Ellona dengan eratnya.
"Hiks... Apa Mba, baru ingat pulang?"
"Bahkan disaat Mba, di luar negri. Mba, sama sekali tidak membalas chatku..." Ujar Batari, diiringi isak tangisnya.
"Aku sangat sibuk Tari, maaf!" Ujar Ellona, membelai lembut punggung Batari.
"Ya aku tahu. Mba, manusia super sibuk sama seperti yang lainnya." Ucap Batari, melepaskan pelukannya.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Ellona, mengelus perut Batari.
"Dheg! Mba, me-ngetahui-nya!" Dengan wajah yang begitu terkejut.
"Sure." Ujar Ellona.
"B-bagaimana bisa, Mba Ellona mengetahuinya?" tanya Batari, menatap wajah Ellona serius.
"Awalnya Mba, sangat marah setelah mengetahui komdisimu saat ini."
"Tetapi setelah mendengar semua penjelasan Mama, papa dan Ervin."
"Mba, jadi mengerti." Ujar Ellona.
"Ternyata semalam kak Ervin, tidak pulang sedang diintrogasi oleh Mba Ellona." Batin Batari.
"Maaf." Cicit Batari.
"It's oke, Tari."
"Mba, ngerti atas insiden itu. Dan Mba, tidak bisa membayangkan bagaimana jika itu terjadi pada diri Mba."
"Mungkin Mba, akan lebih memilih mengakhiri hidup." Ucap Ellona, dengan memelankan ucapannya diakhir.
"Sebenarnya bukan hanya hal ini Mama menyuruhmu ke sini." sarkas Ranti, membelai lembut rambut Batari.
"Ada hal apa lagi, Mah?" tanya Batari, mengikuti langkah Ranti dan Ellona menuju ruang tamu.
"Selamat, Mba." Cicit Batari. Memeluk Ellona, yang duduk di sampingnya.
"Dan dua hari lagi acara pertunangannya."
"Jadi kau dan Ervin, menginaplah di sini sampai acara pernikahan, Ellona." Ujar Ranti, yang ikut di angguki Ellona. Membuat Batari, terdiam dengan melepaskan perlahan-lahan pelukannya.
...***...
~Rumah~
Drap... Drap... Drap...
Langkah kaki Ervin, yang memasuki rumah dan menghampiri Batari, yang tengah berada di meja makan dengan tatapan kosong.
"Ekhmm!" Deheman Ervin. Membuat Batari, tersadar dari lamunannya.
"Makanan itu untuk dimakan, bukan untuk diaduk-aduk." Ujar Ervin, yang melepaskan dasinya. Dan Batari, yang beranjak dari tempat duduknya untuk membawa piringnya menuju wastafel karena ia tidak berselera makan.
Ervin, yang melihat Batari mengabaikan ucapannya, membuat dirinya langsung naik pitam.
Kriettt... Drap... Drap...!
Grepp!
"Kenapa kau membuang makanan itu?" ujar Ervin, yang sudah memegang tangan, Batari.
"Lepas...!" Ucap Batari, dengan setengah berteriak.
"Jawab! Aku tidak suka jika pertanyaanku diabaikan." Sambungnya kembali dengan memegang pergelangan tangan Batari, begitu erat.
"Akhhhh! S-sakit..." Cicit Batari, dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan Ervin, yang menghentakkan pergelangan tangan Batari.
"Kau..." Ujar Ervin, yang menggantungkan ucapannya. Ketika melihat kedua mata Batari, meluruhkan air mata.
"Bughhh!" Ervin, yang melampiaskan kekesalannya meninju tembok hingga tangannya pun mengeluarkan darah.
Membuat Batari, merasa semakin ketakutan dan air matanya pun terus berlinang semakin deras.
"Grepp!" Ervin, pun menarik kasar lengan Batari, menuju kamarnya.
Brukkk!
"Akhhh!" Rintih Batari, ketika tubuhnya didorong kasar ke ranjang.
"Kenapa kau mendiamiku, hah!" Ujar Ervin, yang menindih tubuh Batari. Dengan air mata Batari, yang terus berlinang.
"Kau marah kepadaku, jawab Batari!" Sambungnya kembali. Dengan Batari, yang terus geleng-geleng kepala tanpa bisa menjawab karena mulutnya yang terasa kelu.
"Cup!" Detik berikutnya Ervin, menempelkan bibirnya dengan bibir Batari.
Deru nafas keduanya begitu saling memburu satu sama lain.
Dag... Dig... Dug...
Gairah yang tiba-tiba menguasai dirinya. Ervin, pun menggigit kecil bibir Batari dan menciumnya begitu kasar. Hingga Batari, pun begitu kewalahan.
"Manis," Gumam Ervin, dengan melepaskan kancing kemejanya sendiri satu persatu.
Menatap lapar tubuh Batari, yang begitu menggiurkan.
Seolah-olah daya tariknya begitu kuat membuat Ervin, sangat menginginkan Batari, berada di bawah kungkungannya.
"Jangan! Ku-mohon..." Lirihnya, dengan menggelengkan kepalanya pelan dan menatap Ervin, sudah dalam keadaan naked setengah badan.
Ervin, pun mencondongkan tubuhnya untuk kembali mencium bibir Batari.
Plakkk!
"Kau..." Geram Ervin, dengan tatapan tajamnya.
"A-aku tidak sudi disentuh oleh laki-laki sepertimu yang telah menghabiskan malam bersama wanita lain."
"Lalu menginginkan tidur dengan wanita yang lainnya." Ujar Batari, entah mendapatkan kekuatan dari mana memiliki keberanian.
"Kau jangan mengada-ada untuk bisa lepas dari jeratanku, Batari." Tutur Ervin, dengan masih memegangi pipinya yang terasa kebas.
"Cih! Bahkan kau melupakan malam indah bersama kekasihmu, yang sangat jelas meninggalkan jejak dibagaian tubuhmu." Ucap Batari. Dengan Ervin, yang langsung beranjak dari tubuh Batari.
Dan melihat ke arah cermin. Betapa syoknya Ervin, yang melihat ada satu tanda di lehernya.
~Flashback on~
~Kediaman Disha~
"Siapa yang bertamu malam-malam begini!" Gumam Ervin, melihat sebuah mobil yang terparkir di depan rumah Disha.
Dret... Dret... Dret... "Ervin is calling"
Disha, yang tak melihat layar ponselnya. Ia pun langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelponnya terlebih dahulu, karena aktivitas panasnya.
"H-halo... Ahhhhhh!" Ucap Disha, diiringi suara seperti orang yang tengah bercinta.
"Brengsek!" Batin Ervin, yang sudah mengepalkan tanganya.
"Faster baby! Ahhhhh..." Lirihnya, yang masih terhubung dengan sambungan panggilan dari Ervin.
Brakkk!
Ervin, yang langsung melempar ponselnya dengan memukul kasar setir mobil.
Membuatnya kebakaran jenggot mendengar suara des*han Disha, yang tengah tidur dengan laki-laki lain. Tanpa ba bi bu lagi Ervin, langsung melajukan mobilnya menuju club.
...----------------...