
"Alasanmu menikah lagi?" tanya David, dengan sorot mata tajamnya.
"Karena dia tengah mengandung anakku, Pah." Jawab Ervin.
"Kalau begitu, kau kembalikan Putri Papa kepada orangtuanya." Tutur David, dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Tidak, Pah." Ujar Ervin, menggenggam erat tangan Batari.
"Di dunia ini kau harus memilih, Ervin." Tutur David.
"Andai aku bisa memilihnya, Pah." Ucap Ervin.
"Batari, bagiku sangatlah penting." Ucapnya, melirik wajah Batari dengan menyungingkan senyumnya.
"Dan aku tidak ingin kehilangan bayiku kembali." Sambungnya kembali menatap wajah David.
"Apa kau rela memiliki madu, sayang?" tanya David, menatap Batari yang tengah menahan air matanya.
Angguk Batari, dengan menghapus air matanya yang sudah luruh dari pertahanannya.
"Air matamu menunjukkan kebenarannya..." Ujar David.
"Tidak, Pah." Geleng Batari.
"A-aku sudah memutuskan untuk menyetujui Kak Ervin menikah kembali." Ucap Batari, dengan air matanya yang kembali luruh membasahi wajahnya.
"Walau kau yang terluka." Tutur David, membuat Batari terdiam dalam lamunannya.
"Percayalah sayang, memiliki madu tidak semudah apa yang kau pikirkan saat ini." Sambungnya.
"Benar sayang." sarkas Ranti.
"A-aku sudah memikirkan konsekuensinya, Pah, Mah." Ucap Batari.
"Baiklah, jika itu sudah keputusanmu. Papa dan Mama tidak bisa berbuat apa-apa." Ujar David, dengan raut kecewanya.
"Tetapi jika kau sudah merasa lelah, pintu rumah kami akan selalu terbuka untukmu sayang." Sambungnya kembali, dengan Batari yang semakin meluruhkan air matanya.
...***...
"Katakan." Ujar Chairi, kepada sekretarisnya.
"Begini Pak, saya melihat pak Ethan memasuki sebuah cafe dan menghampiri seorang wanita." Jawab Robby, dengan menyodorkan ponselnya.
"Lalu? apa kau mendengar perbincangan Ethan dengan wanita itu?" tanya Chairi.
"Saya mendengar bahwa wanita itu tengah mengandung." Jawab Robby.
"What?" beo Chairi, menjatuhkan ponsel yang berada di tangannya.
"Ekhmm... Saya belum selesai Pak." Tutur Robby.
"Lanjutkan." Ujar Chairi, yang memasang kembali pendengarannya.
"Pak Ethan, mengira jika wanita itu tengah mengandung anaknya." Sambungnya kembali.
"Lalu?"
"Tetapi wanita itu sedang mengandung anak dari pak Ervin." Ucap Robby.
"Bukankah dari penyelidikanmu bahwa Ervin tinggal bersama dengan seorang wanita, dengan kata lain istrinya." Ujar Chairi.
"Right." Ucap Robby, diiringi anggukkan kepalanya.
"Tetapi wanita yang bersama Ethan mengaku tengah mengandung anak dari Ervin."
"Ini ada yang aneh, coba kau selidiki kembali." Ujar Chairi.
"Baik, Pak." Ucap Robby.
...***...
"Akhirnya dapat ju--" Ucap Ara, menggantungkan ucapannya. Karena novel yang hanya tersisa satu-satunya diambil oleh seseorang yang berada tepat di sampingnya.
"Saya yang mengambil duluan, jadi novel ini milik saya." Ujar Laki-laki dengan perawakan tinggi itu.
"Apa katamu?"
"Kau yang duluan?"
"Hey-hey..." Ucap Ara, menatap syok.
"Kau!" Tunjuk Ara dan Vano saling bersamaan.
"Kembalikan novel itu padaku, Bang." Ujar Ara.
"Tidak, saya yang mengambil duluan novel ini." Tutur Vano, yang tidak mau mengalah sama sekali.
"Fyuh! Jika saja kau bukan Kakak dari sahabatku sudah kulempar menggunakan sepatuku." Batin Ara.
"Bang Vano, kan seorang pria dewasa. Sangat tidak cocok membaca novel bergenre romence remaja."
"Hmm... Mending novel itu berikan saja padaku." Ucap Ara.
"Memangnya di novel ini tertulis larangan pria dewasa tidak boleh membacanya, tidakkan." Ujar Vano, lalu melangkahkan kakinya.
"Dasar pria keras kepala." Gerutu Ara, yang mengikuti langkah kaki Vano di belakangnya.
"Dug! Awwww..." Ringis Ara, yang menabrak tubuh kekar milik Vano.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Vano, dengan mengeryitkan keningnya.
"Hahaha... Kau sangat kegeeran sekali."
"Aku akan keluar dari toko buku ini, tetapi Bang Vano yang dari tadi selalu menghalangi jalanku." Jawab Ara.
"Pintu keluarnya di sana." Tunjuk Vano.
"Glek." Ara, pun menatap dengan syok dan melihat ke arah depan Vano yang ternyata tempat pembayaran.
"Umm.. A-aku lupa, karena kau yang begitu tinggi aku sampai tidak bisa melihat ke mana arah keluarnya." Tutur Ara.
"Kau selalu beralibi." Ujar Vano, membalikkan badannya dan kembali melangkahkan kakinya.
"Kenapa kau menjadi bodoh sekali ayara." Batinnya dengan menepuk jidatnya sendiri.
...***...
~Kantor JE Corp~
"Hai sayang..." Ucap Disha.
"Ada apa kau ke sini?" tanya Ervin, yang tidak mengalihkan pandangannya dari komputernya.
"Bayimu yang ingin bertemu denganmu, jangan menyalahkanku." Ujarnya, menunjuk ke arah perutnya.
"To the point saja, kau ingin apa?" tanya Ervin, yang kini menatap wajahnya.
"Aku ingin mengajakmu makan siang." Jawab Disha, melangkahkan kakinya ke arah Ervin.
"Kau makan sendiri saja, aku sedang sibuk." Ujar Ervin, yang kembali ke layar komputernya.
"Ini permintaan bayimu, apa kau tidak ingin menurutinya." Ucap Disha, dengan raut wajah sedih dan mengelus perutnya yang masih rata.
"Baiklah, katakan kau ingin makan apa biar Delvin yang akan menyiapkan semuanya." Ujar Ervin.
"Aku ingin makan di luar." Rengek Disha.
"Jika kau tidak mau, aku akan melanjutkan kembali pekerjaanku." Ancan Ervin.
"Jangan! Oke, kita makan di sini." Putus Disha.
"Bicaralah, kau ingin apa." Ujar Ervin, yang memberikan ponselnya kepada Disha yang sudah tersambung dengan Delvin.
~Setengah jam kemudian~
"Kau ngidam apa memang sedang kelaparan." Ujar Ervin, melihat Disha memakan makanannya begitu rakus.
"Bayimu yang sedang ngidam tetapi diriku yang sangat kelaparan."
"Sekarang ini aku sedang hamil jadi harus makan dengan porsi yang berbeda dari biasanya."
"Apa kau ilfil melihatku seperti ini?" tanya Disha, dengan mulutnya yang sudah penuh dengan makanan.
"Tidak, aku senang melihat kau menjaga calon bayimu dengan memperhatikan asupan makanannya." Jawab Ervin.
"Aaaaa sweet..."
"Apa boleh aku memakan punyamu juga?" tanya Disha dengan mata yang berbinar.
"Sure." Jawab Ervin, menyodorkan piringnya.
"Terimakasih, kau sungguh perhatian." Ucap Disha, dengan senyum sumringahnya.
"Aku jadi teringat dulu disaat Batari yang memakan sup buatanku begitu rakus." Batinnya dengan senyum lebarnya.
"Kenapa kau tersenyum?"
"Kau makan begitu belepotan seperti anak kecil." Ujar Ervin, yang mengelap ujung bibir Disha menggunakan tisu.
"Maaf." Ucap Disha, mengambil alih tisunya dengan mengelap mulutnya sendiri.
"Apa kau sudah selesai?" tanya Ervin.
"Ya, aku sangat kenyang... Eeeeee..." Ucap Disha, dengan bersendawa.
"Maaf." Cicitnya dengan langsung membekap mulutnya.
"It's nothing! Kalau begitu pulanglah, aku sedang banyak kerjaan." Ujar Ervin, yang kembali menuju kursi kebesarannya.
"Tetapi kau belum makan siang."
"Bahkan jatah makananmu aku yang makan." Ujar Disha, dengan menundukkan wajahnya.
"Kau tidak perlu khawatir, sebentar lagi akan ada meeting di luar kantor jadi sekalian makan." Ucap Ervin.
"Baiklah." Ujar Disha, yang berjalan ke arah Ervin. Lalu mencium pipinya.
"Apa Kak Ervin ada diruangannya?" tanya Batari, terhadap Delvin.
"Hmm..."
"Kak..." Beo Batari.
"A-ada..." Dengan wajah pucatnya.
"Baiklah." Ucap Batari.
Tap... Tap...! Kriettt...
Dheg!
"Ini buat Kak Delvin saja." Ucap Batari, dengan berderai air mata.
...----------------...