My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 32



"Kenapa kau terdiam, apa kau mendapatkan perlakuan tidak baik?" sambungnya kembali. Dengan Batari, yang hanya meluruhkan air mata.


"Ceritalah Tari, apa yang kau rasakan jangan terus memendamnya." Ujar Ellona. Memeluk tubuh, Batari.


"Tidak ada yang Tari, sembunyikan Mba. Itu hanya bunga tidur." Beo Batari. Melepaskan pelukannya dan menghapus sisa air matanya.


"Kau yakin?"


"Mba, melihat igauanmu seperti kau yang mengalaminya sendiri akan rasa takut dan tekanan yang tengah kau rasakan." Tutur Ellona.


"Sure. Tari, baik-baik saja Mba." Jawab Batari, menyunggingkan senyumnya.


"Baiklah," Ucap Ellona, walaupun hatinya terasa begitu mengganjal.


"Batari..." Ucapnya kembali.


"Iya Mba," Beo Batari.


"Tanda merah di lehermu, apa kalian melakukan..." Ujar Ellona. Menyentuh leher Batari, yang terdapat banyak stempel kepemilikan.


"Umm..." Batari, yang merasa gelisah.


"Kau telah menerima Ervin, sebagai suamimu, Tari." sambung Ellona, dengan menyunggingkan senyum sumringahnya.


"Aku..." Cicit Batari.


"Ini kabar baik, mama dan papa harus mengetahui ini." Ujar Ellona, yang langsung beranjak dari tempat tidur, Batari.


"Mba... Ini tidak seperti yang Mba yakini..." Beo Batari. Melihat Ellona, yang sudah menutup rapat pintu kamarnya.


...***...


~Beberapa jam kemudian~


Batari, yang membuka kelopak matanya perlahan-lahan dengan kondisi tubuh yang sudah kembali seperti semula.


"Tunggu! Kenapa aku berada di kamarku." Batin Batari, yang melihat sekeliling kamarnya.


"A-apa mungkin aku masih berada di bawah alam sadarku." Batinnya kembali, menepuk-nepuk kedua pipinya.


"Akhhhh! Sa-kit..." Monolognya ketika rasa sakitnya benar-benar terasa begitu nyata.


Krietttt! Drap... Drap...


"Kau sedang tidak bermimpi, Batari..." Ujar suara bariton milik Ervin, yang tengah melangkahkan kakinya.


"K-kak Ervin..." Beo Batari.


"Pasti kau bertanya-tanya, mengapa kau bisa berada di kamarmu." Ujar Ervin, dengan melipatkan kedua tangannya.


"J-jangan bilang kau yang me-mbawaku dari rumah mama ke rumah ini." Ucap Batari, yang perlahan-lahan turun dari ranjangnya untuk menghindar dari, Ervin.


"Tentu saja, aku harus mengambil milikku kembali yang ingin berusaha melarikan diri." Ujar Ervin. Membuat Batari, untuk menelan salivanya sendiri begitu susah.


"Aku tidak melarikan diri..." Ucapnya, dengan terbata-bata.


"Aku tidak percaya." Ujar Ervin, yang melangkahkan kakinya.


"Aku tahu tujuanmu datang ke rumah mama, untuk melaporkan semua atas perbuatanku padamukan." sambungnya kembali, dengan jarak mereka yang semakin mendekat.


"Tidak... A-aku hanya ingin istirahat di rumah mama." Ucap Batari, dengan menggelengkan kepalanya.


"Omong kosong!"


"Sungguh, aku tidak berbohong." Cicit Batari, yang merasa dirinya benar-benar sangat terancam.


"Memangnya kau tidak memiliki tempat di rumah ini, sehingga kau lebih memilih untuk beristirahat di rumah mama." Ujar Ervin. Dengan mengerucutkan bibir Batari, hingga matanya berkaca-kaca.


"Karena aku tidak yakin, aku bisa memiliki waktu untuk beristirahat, jika kau berada di dekatku." Batin Batari, yang meluruhkan air matanya.


"Aku butuh jawabanmu bukan tangisanmu, Batari." sambungnya kembali. Dengan mendorong tubuh Batari, ke ranjang.


Hiks... Hiks... Hiks...


"Shitttt!" Umpat Ervin, yang semakin naik pitam. Di kala Batari, yang terus menangis.


...***...


~Kantor JE Corp~


"Aku mendapatkan kabar dari sekretarisnya pak Michelle, bahwa mereka telah menentukan tempat untuk makan malam kembali." Ujar Delvin, yang membawa berkas-berkas untuk ditandatangani oleh, Ervin.


"Baiklah, kau beritahu jadwal pastinya." Jawab Ervin, yang membuka satu persatu berkasnya.


"Aku sungguh sangat penasaran dengan akting kalian berdua Bos, sehingga pak Michelle dan istrinya begitu percaya jika kalian adalah pasangan suami istri." Tutur Delvin.


"Tentu saja, karena kami berdua memang suami istri." Ujar Ervin.


Uhuk... Uhuk... Uhuk...


"Apa aku terlihat bercanda." Ujar Ervin. Menatap wajah, Delvin.


"Tidak." Ucap Delvin, dengan raut wajah yang tidak bisa dideskripsikan.


"Apa kau akan percaya jika Batari itu adalah istriku?" tanya Ervin.


"Tidak." Jawab Delvin, begitu lugas.


"Alasannya?" tanyanya kembali.


"Karena dia adikmu." Jawab Delvin.


"Jadi kesimpulannya?" sambung Ervin, kembali.


"Batari, bukan istrimu. Kau hanya tengah mengujiku agar terlihat seperti realita, seperti kau tunjukkan kepada pak Michelle dan istrinya." Tutur Delvin.


"Hmm..." Ucap Ervin, yang kembali menandatangani berkas dari, Delvin.


"Oh ya Bos, aku mendengar juga bahwa J Group mendapatkan undangan makan malam juga dari pak Michelle." Ujar Delvin.


"Kau yakin informasinya valid?" tanya Ervin.


"Sure," Jawab Delvin, dengan anggukkan kepalanya.


"Aku khawatir jika pak Michelle akan memilih menanamkan sahamnya di J Group." sambung Delvin, kembali.


"Itu tidak akan terjadi!" Ujar Ervin. Memberi kembali berkas-berkas yang sudah ditandatanganinya kepada, Delvin.


...***...


~Rumah~


Tok... Tok... Tok...


"Siapa malam-malam begini yang bertamu." Batin Batari, yang melangkahkan kakinya menuju pintu utama.


"Tok... Tok... Tok..." Ketukan pintu yang semakin kencang, membuat batari semakin was-was.


Ceklekkk...


"Kau lama sekali membuka pintu!" Tutur Ellona, yang menerobos masuk ke dalam rumah bersama, Attar.


"Huffft!" Batari, yang menghela nafasnya dalam-dalam.


"Ada apa Mba Ellona dan Bang Attar, malam-malam bertamu, apa ada sesuatu yang terjadi?" ucap Batari, menghampiri Ellona diiringi pertanyaannya.


"Mba dan Mas Attar, ke sini untuk memberi sebuah undangan ulang tahun perusahaan, Mas Attar." Ujar Ellona, memberikan sebuah undangan kepada, Batari.


"Ahh... Dengan senang hati Tari, menerimanya dan sangat berterimakasih juga Mba Ellona dan Bang Attar, meluangkan waktunya hanya demi untuk mengantarkan sebuah undangan secara langsung." Ucap Batari, yang menerima undangan dari Ellona.


"Tentu saja, karena kau bagian dari tamu penting." Ujar Ellona, dengan senyum lebarnya.


"Apa Ervin belum pulang?" tanya Ellona, yang melihat-lihat isi rumah yang tidak menemukan seseorang selain, Batari.


"Iya, Mba." Jawab Batari.


"Inikan sudah pukul 09 malam, apa dia setiap hari selalu seperti ini?" tanya Ellona, yang di angguki Batari.


"Fiks, dia sedang bermain gila bersama kekasihnya." sambungnya kembali.


"Belum tentu sayang, mungkin saja dia sedang banyak kerjaan jadi memilih untuk lembur. Ujar Attar.


"Tidak sayang, kau saja pemilik perusahaan bisa sampai ke rumah jam 06." Tutur Ellona.


"Sedangkan Ervin, selalu setiap hari pulang malam. Apa itu tidak sangat mencurigakan!" sambungnya kembali.


"Kenapa kau selalu negatif thinking terhadapku, Mba?" ujar Ervin, yang baru memasuki rumah.


"Akhirnya kau ingat pulang juga." Sindir Ellona.


"Tentu saja, aku memiliki rumah dan seorang istri, kemana lagi aku harus berlabuh." Jawab Ervin.


"Cihh!" Desis Ellona, dengan mengulum senyum sinis.


"Umm... Aku akan ambilkan minum untuk Mba Ellona dan Bang Attar." Cicit Batari, yang merasa suasananya semakin tegang. Dengan melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Tidak perlu, Tari." Ujar Ellona, yang menarik pergelangan tangan, Batari.


"Kenapa, Mba?" tanya Batari.


"Karena suamimu sudah pulang, Mba dan Mas Attar akan pamit." Tutur Ellona.


"Ayo, Mas!" Ujar Ellona, yang menarik pergelangan tangan Attar.


...----------------...