My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 40



"Ahh... Sudah pagi." Ucap Batari, yang melihat cahaya memasuki kamarnya.


"Syukurlah." Batin Batari, yang melihat tubuhnya masih mengenakan pakaian lengkap.


Kriett! Tap... Tap... Tap...


~Setengah jam kemudian~


"Harum sekali. Siapa yang masak?" batinnya. Dengan terus melangkahkan kakinya ke arah dapur.


"Kau sudah bangun?" tanya Ervin, yang tengah menyiapkan hidangan sarapan paginya.


"Aku tidak salah lihatkan. Yang di depanku itu, Kak Ervin." Batari membatin.


Ehemm!


"Ahh! Iya... Kenapa Kak Ervin, masih ada di rumah?" tanya Batari, yang menarik kursinya.


"Aku akan bekerja di rumah." Jawab Ervin.


"Rupanya begitu." Cicit Batari, yang akan mengambil telornya.


"Aku senang melihatmu tertidur nyenyak. Tandanya kau mulai terbiasa tidur denganku." Ujar Ervin, yang memberikan telor untuk Batari.


"Terimakasih." Beo Batari, yang merasa tidak nyaman dengan obrolan Ervin.


"Dan aku akan memindahkan barang-barangmu ke kamarku."


"Agar kau tidak bolak balik ke kamarmu terus menerus." sambungnya kembali.


Uhuk... Uhuk... Uhuk...


"Minumlah." Ujar Ervin, yang memberikan segelas air putih. Dengan Batari, yang langsung menerimanya dan meminumnya.


"A-aku rasa K-kak Ervin, tidak perlu memindahkan semua barangku ke kamar, Kak Ervin." Ucap Batari.


"Aku sudah memutuskan dan kau pun seperti biasanya jangan membantah perintahku." Ujar Ervin. Dengan Batari, yang hanya bisa menghela nafasnya dalam.


...***...


~Kampus~


"Aku sangat penasaran? kira-kira dari fakultas mana ya." Ujar Tasya. Kepada Rara, mahasiswi yang satu universitas dengan Batari.


"Benar, Sya. Kenapa wajahnya harus di blur bikin penasaran saja." Ucap Rara.


"Tetapi perawakan tubuhnya begitu familiar." Ujar Tasya.


"Eh... Sya, bukannya perempuan ini mirip sekali dengan perempuan yang selalu bersama, Bryan." Ucap Rara, dengan menerka-nerka.


"Yang mana, Ra? perempuan yang nempel dengan Bryan, tuh banyak." Ujar Tasya.


"Itu loh, mahasiswi dari fakultas Akuntansi." Ucap Rara.


"Batari, maksudmu?" tanya Tasya.


"Ahh... Iya. Itu dia namanya Batari, yang kau sebut barusan." Jawab Rara.


"Aku rasa tidak mungkin, Batari. Dia itu gadis baik-baik, Ra. Jangan menyebarkan rumor yang belum valid." Ujar Tasya.


"Tapi, bentuk tubuhnya seperti Batari, Sya. Aku sangat yakin itu." Ucap Rara, yang mengezoom foto yang berada di ponselnya.


"Kebetulan sekali itu dia anaknya." Ujar Tasya. Menunjuk ke arah Batari, yang memasuki lingkungan kampus.


"Kita tegur saja bagaimana, Sya?" tanya Rara, dengan idenya.


"Aku tidak setuju, Ra."


"Kita jangan suudzon dulu, yang memiliki tubuh sepertinya bukan hanya Batari, semata di dunia ini." Jawab Tasya.


"Lebih baik aku bertanya. Dari pada bikin diriku bertanya-tanya." Ujar Rara, yang melangkahkan kakinya ke arah Batari.


"Rara tu--" Ucap Tasya, yang menggantungkan perkataannya.


Tap... Tap...


"Benar-benar keras kepala." Gumam Tasya. Mengejar Rara, yang sudah berada di depan, Batari.


"Apakah yang di foto ini kau, Batari?" tanya Rara, to the point.


Batari, yang melihat ke ponsel milik Rara, begitu syoknya.


"B-bukan." Jawab Batari, dengan gugupnya.


"Coba kau lihat baik-baik! Wanita yang berada di foto sangat sekali mirip denganmu." Ujar Rara, kembali yang terus memojokkan Batari.


"Sudah aku katakan, itu bukan diriku." Jawab Batari, dengan tangan yang mulai bergetar.


"Maafkan sahabatku, Batari." Ujar Tasya.


"Sya!" Ucap Rara, yang melihat sahabatnya meminta maaf atas bukan kesalahannya sendiri.


"Sudah Ra, ayo kita pergi. Jelas-jelas Batari, tidak mengakuinya." Bisik Tasya.


"Kami pamit, Batari."


"Mohon maaf sekali lagi." Ujar Tasya. Dengan senyum manisnya serta menarik pergelangan lengan Rara, untuk pergi mengikutinya.


"Batari." Ujar Ara, yang menepuk pundaknya.


"Ada apa, Batari?" tanya Ara. Melihat Batari, terus terdiam dengan badan yang gemetar.


"Foto apaan, aku tidak mengerti?" tanya Ara, kembali.


"Hiks... Fo-to..." Cicit Batari.


"Coba kau pelan-pelan ceritakan apa yang terjadi." sambungnya kembali.


"Aku harus menemui seseorang." Tutur Batari, yang menghapus sisa air matanya. Dengan kembali melangkahkan kakinya keluar dari kampus.


"Batari, kau mau ke mana!!!" Teriak Ara, yang tidak digubris olehnya.


...***...


Ceklekkk!


"Tidak menduga, ternyata ada tamu terhormat yang datang ke rumahku." Ujar Disha.


"Bukannya kau sendiri yang membuatku mendatangi rumahmu." Ucap Batari.


"Duduklah." Ujar Disha. Mempersilahkan Batari, untuk duduk di depan teras rumahnya.


Batari, pun mendudukkan bokongnya di kursi.


"Ada apa kau datang ke rumahku?" tanya Disha.


"Kau tidak perlu untuk berpura-pura apa yang tengah terjadi." Jawab Batari.


"Oh, rupanya kau sudah melihat berita yang tersebar di kampusmu." Ujar Disha.


"Ini semua ulahmu-kan, Kak." Tutur Batari, yang berusaha meredamkan amarahnya agar tidak meledak-ledak.


"Kenapa kau menuduhku?" tanya Disha.


"Hanya kau satu-satunya yang mengetahui tentang ini." Ucap Batari.


"Kau benar, kemungkinan besar itu adalah diriku." Ujar Disha. Dengan menyunggingkan senyumnya.


Dengan Batari, yang hanya bisa mengepalkan tangannya.


"Demi kak Ervin, kau menjatuhkan lawanmu seperti ini." Tutur Batari, yang benar-benar menahan amarahnya.


"Sure." Jawab Disha. Dengan anggukkan kepalanya.


"Kembalikan Ervin, padaku. Masalahmu selesai." sambungnya kembali menatap wajah Batari, yang mulai berkaca-kaca.


"Itu tidak akan mungkin." Ucap Batari.


"Maka kau nikmatilah akibatnya." Ujar Disha. Membuat Batari, semakin dilema.


"Dan jangan memohon kepadaku." sambungnya kembali. Dengan menatap wajah Batari, yang tengah begitu dilema.


"Kau sungguh wanita yang tidak berperasaan. Aku tidak mungkin memilih salah satu dari keduanya." Ucap Batari. Dengan air mata yang membasahi wajahnya.


"Di dunia ini hanya ada satu pilihan."


"Dan kau harus memilih salah satu dari keduanya." Ujar Disha, begitu telak.


"Aku tidak bisa melepaskan kak Ervin begitu saja. Bagaimana nasib anakku?" tanyanya.


"Aku tidak peduli dengan anak haramu bersama Ervin." Jawab Disha.


Plakkk!


Batari, menampar Disha atas penghinaan terhadap bayinya.


"Cihh!" Desis Disha. Dengan menyunggingkan senyumnya.


"Kenapa?"


"Kau tidak terima dengan perkataanku yang memang benar adanya."


"Bahwa bayi yang kau kandung itu adalah anak haram!" Ujarnya lagi.


"Tutup mulutmu!"


"Jangan pernah kau menyebut dia dengan perkataanmu itu."


"Walaupun kehadirannya atas kesalahan." Ucap Batari.


"Sampai kapan pun anak itu anak haramu dengan, Ervin!!!" Teriak Disha.


"Cukup!" Ujar Batari, yang menutup kedua telinganya.


"Itu adalah kenyataan yang harus kau terima, Batari." Ucap Disha. Dengan tersenyum puas.


"Stop..." Cicit Batari. Dengan air mata yang terus berlinang.


"Aku tidak akan pernah berhenti! Sebelum kau benar-benar hancur di tanganku." Ujar Disha.


"Kau benar-benar wanita yang tidak berperasaan." Ucap Batari .


"Semua itu karena kau, Batari!"


"Aku hanya membutuhkan keadilan untuk diriku sendiri atas perlakuanmu yang harus dibayar dengan setimpal." Ujar Disha.


"Baik, tetapi asal kau ingat apapun yang kau lakukan kepada diriku. Itu tidak akan membuat aku goyah." Ucap Batari, yang beranjak dari rumah Disha.


"Kita lihat. Apa kau mampu bertahan!!!" Teriak Disha.


...----------------...