My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 43



"Batari!!!" Teriak Ara. Melihat Batari, sudah terkapar lemas dengan darah yang membanjiri di area kakinya.


"Batari, hiks...." Ucap Ara. Langsung berlari ke arah, Batari.


"Tari, kau harus bertahan hiks..." Ujar Ara. Berada di samping Batari, dengan air mata yang terus berlinang.


"R-ra t-tolong s-selamatkan bayi-ku... Uhuk... Uhuk..." Ucap Batari. Terbata-bata diiringi batuk-batuk hingga memuntahkan darah dari mulutnya.


"Jangan berucap seperti itu, Tar. Kalian berdua harus selamat." Ujar Ara. Dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya.


"Uhuk... Uhuk... A-aku m-mohon, Ra." Ucapnya lagi dengan menggenggam tangan, Ara.


"Tidak, Tari."


"Kalian berdua harus baik-baik saja hiks..." Cicit Ara, dengan menggelengkan kepalanya.


"S-selamatkan b-bayiku..." Ucap Batari, yang langsung memejamkan kelopak matanya.


"Tidak!!!"


"Batari... Kau harus bertahan hiks..." Ujar Ara. Dengan histerisnya melihat sahabatnya yang sudah tidak sadarkan diri.


"Batari!!!" Teriaknya.


"Batari!" Beo Ethan. Melihat Batari, sudah tidak sadarkan diri. Dengan berlumuran darah yang terus keluar dari ************ kakinya.


...***...


"Keluarganya." Ujar dr. Bima.


"Saya sahabatnya, Dok." Jawab Ara, yang langsung menghampiri dr. Bima.


"Apa anda belum menghubungi keluarga pasien?" tanya dr. Bima.


"Mereka dalam perjalanan, Dok." Jawab Ara.


"Bagaimana kondisi Batari, dan bayinya, Dok?" sambungnya kembali, dengan bertanya yang sangat terlihat jelas begitu panik.


"Saya ikut berdukacita."


"Karena bayi dari ibu Batari, sudah tidak bisa terselamatkan kembali." Ujar dr. Bima.


Dheg!


Raut wajah Ara, langsung berubah pucat seketika mendengar penuturan dari, dr. Bima.


"Dan kami harus melakukan kuretase segera, karena pasien begitu sangat kritis." sambung Dr. Bima.


"Biar saya yang akan menandatanganinya, Dok." Ucap Ethan. Mengambil berkas yang berada di tangan Dr. Bima, dan menandatanganinya langsung.


"Baik, karena sudah menyetujui kami akan melakukan kuretase sekarang." Ujar Dr. Bima, yang kembali masuk ke ruang operasi.


"Kak..." Cicit Ara. Dengan kembali berlinang.


"Tidak apa, kau tidak perlu khawatir." Ujar Ethan. Menenangkan Ara, yang terlihat begitu rapuh.


"Ini semua salahku hiks..."


"Jika saja aku tidak menanggapi ocehan para mahasiswi atas provokator dari, kak Disha."


"Disha." Batin Ethan.


"Mungkin bayi Batari, bisa terselamatkan." Ucapnya. Dengan isak tangis yang kembali pecah di pelukan, Ethan.


"Sudah, jangan selalu menyalahkan dirimu."


"Lebih baik kau berdoa untuk keselamatan, Batari." Ujar Ethan, mengelus lembut punggung Ara.


"Ara, di mana Batari?" tanya Ervin. Dengan raut wajah yang begitu panik.


"B-batari, hiks..." Cicit Ara, yang tidak bisa melanjutkan untuk menjawab pertanyaan dari Ervin. Karena mulutnya yang terasa kelu.


"Batari, sedang berada diruang operasi untuk melakukan kuretasi."


"Karena bayinya tidak bisa terselamatkan lagi atas insiden tabrak lari." sarkas Ethan. Membuat Ervin, mendongakkan wajahnya menatap ke arah Ethan. Dengan kedua bola matanya yang sudah memerah.


"Kau!" Tunjuk Ervin.


"Kenapa selalu mengambil milikku!" Ujar Ervin. Menarik kerah kemeja, Ethan.


"K-kak Ervin, kau salah paham." Beo Ara, yang melerai Ervin.


"Diam Ara."


"Kau jangan ikut campur!" Ujar Ervin, yang masih menatap tajam wajah Ethan.


Bughhh!


...***...


~Kediaman, Disha~


"Ada apa kau datang kemari? aku tidak mengundangmu, Tuan Ethan." Ucap Disha. Dengan mimik wajah yang terlihat biasa saja tanpa adanya rasa bersalah sedikit pun.


"Aku tidak akan membantumu, jika tahu rencana jahatmu terhadap, Batari." Ujar Ethan. Menatap tajam wajah, Disha.


"Aku hanya meminta imbalan darimu Tuan Ethan, yang terhormat." Ucap Disha, mendudukkan bokongnya di kursi.


"Apapun itu seharusnya kau tidak meminta itu padaku!"


"Dan aku sangat menyesal jika saja aku tahu tentang niat jahatmu untuk, Batari."


"Wah... Wah... Aku sangat tidak menyangka, kenapa semua orang begitu peduli terhadap wanita jalangg itu." Ucap Disha. Menatap Ethan, sinis.


"Tutup mulutmu, Disha!"


"Batari, tidak seperti yang kau ucapkan dan jangan samakan dengan dirimu." Ujarnya, dengan wajah yang begitu memerah.


"Maksudmu aku adalah seorang bitchh." Tunjuknya pada dirinya sendiri.


"Ya, tidak jauh berbeda dari itu." Angguk Ethan, dengan melipat kedua tangannya.


"Cih!" Desis Disha, dengan mengulum senyum sinis.


"Why? apa perkataanku salah." tanya Ethan, dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Tidak..."


"Perkataanmu tidak ada yang salah."


"Hanya saja aku merevisi sedikit perkataanmu."


"Aku hanya tidur dengan seorang pria jika ada ikatan kontrak. Jadi itu tidak bisa disebut sebagai tuna susila." Ucap Disha.


"Apapun itu bagiku sama saja. Kau wanita bayaran, Disha." Ujar Ethan.


"Ck! Benar kata Ervin, kau selalu merebut miliknya."


"Walau kenyataannya Batari, itu sebenarnya istri Ervin." Ucapnya dengan menekan kata istri.


"Aku mengetahuinya, tanpa harus kau memberi tahuku." Ujar Ethan, yang ditatap syok oleh Disha.


"Jika kau sudah mengetahuinya."


"Lalu kenapa kau begitu marah kepadaku atas tindakanku itu?"


"Atau jangan-jangan kau ingin merebut Batari, dari Ervin."


"Sama halnya kau merebutku darinya." Ucap Disha.


"Karena tindakanmu salah, Disha!" Ujar Ethan, dengan menggertakkan rahangnya.


"Salah?"


"Come on Ethan,"


"Aku membantumu memberi jalan untuk bisa mendapatkan Batari, setelah bayi itu lenyap."


"Dan aku bisa memiliki Ervin, kembali." Ucap Disha, yang melangkahkan kakinya ke arah Ethan.


"Kau benar-benar wanita yang tidak memiliki perasaan."


"Kau hanya memikirkan kebahagianmu sendiri dan rela mengorbankan kebahagiaan orang lain."


"Bahkan sampai menghilangkan nyawa makhluk yang tidak berdosa!" Ujar Ethan.


"Awalnya aku tidak memiliki niat untuk melenyapkan bayi itu."


"Tetapi Batari, sendiri yang terus berjalan hingga ketengah jalan."


"Tetapi aku sangat bersyukur jika bayi itu tidak bisa terselamatkan lagi."


"Karena sudah tidak ada penghalang untuk hubunganku dengan, Ervin." Ucap Disha.


"Sampai detik ini pun kau masih tidak merasa bersalah sama sekali." Ujar Ethan.


"Kau itu wanita yang suatu saat nanti akan memiliki seorang anak."


"Dan juga kau harus ingat Disha."


"Ervin, tidak akan pernah kembali bersamamu atas perbuatanmu yang sudah melenyapkan calon bayinya." Ujar Ethan.


"Dan satu hal lagi, aku tidak butuh bantuan apapun darimu.


"Karena aku memiliki caraku sendiri, tanpa harus mengorbankan nyawa seorang anak demi tujuanku." Ujarnya kembali. Dengan perkataan yang begitu menohok, lalu melangkahkan kakinya.


"Tunggu!" Ucap Disha, yang menarik lengan Ethan.


"Apa lagi?" tanya Ethan, dengan aura dinginya.


"Sudut bibirmu berdarah. Duduklah sebentar, biar aku yang akan mengobati luka di sudut bibirmu." Ujar Disha.


"Tidak perlu." Ucap Ethan. Menghentakkan tangan Disha, lalu melangkahkan kembali langkahnya menuju mobilnya yang terparkir.


...***...


~Rumah Sakit~


Batari, yang sudah melewati masa kritisnya dan tersadar membuat perubahan yang sangat signifikan.


Membuatnya hanya terdiam dengan pandangan kosong tanpa menjawab pertanyaan satu pun dari keluarganya.


"Biar Ervin, yang akan berbicara dengan Batari. Mah, Pah, Bang, Mba." Ujar Ervin.


"Baiklah, kami semua akan menunggu di luar." Ucap David. Menuntun Ranti, yang terus menangis untuk keluar dari ruang rawat, Batari.


"T-tari..." Beo Ervin.


"Ayo kita bercerai."


...----------------...