
~Johnathan Group~
"Bos..." Ucap Robby sekretarisnya.
"Bagaimana?" tanya Chairi
"Lebih baik anda baca sendiri, Pak." Jawab Robby, memberi sebuah berkas.
Chairi pun menerima berkas itu dan langsung membuka lembar perlembar untuk membacanya.
Betapa syoknya, Chairi mengetahui sebuah fakta bahwa cameron memiliki seorang putra dari pernikahannya bersama Amara.
"Aku harus memastikan ini semua dan bertanya kepada papa." Gumamnya. Melangkahkan kakinya keruangan Cedric.
Tok... Tok... Tok...
Chairi mengetuk pintu ruangan Cedric yang tengah menatap foto seseorang hingga menitihkan air mata.
Buru-buru Cedric menyimpan figura foto ke dalam lacinya kembali dan menyeka sisa air matanya.
"Masuk." Ujar Cedric, yang kembali duduk di kursi kebesarannya dengan membuka berkas-berkasnya kembali.
"Apa Papa sibuk?" tanya Chairi, setelah memasuki ruangan Cedric.
"Ada apa kau keruangan Papa?" tanya balik Cedric, yang menutup berkasnya.
"Ada yang ingin kutanyakan kepada Papa." Ujar Chairi.
"Tetapi sepertinya Papa sangat sibuk dengan berkas-berkas yang sudah menumpuk di meja."
"Kalau begitu, lain kali saja Pah, aku permisi." Ujar Chairi yang membalikkan badannya.
"Ekhmm... Duduklah!" Ucap Cedric.
"Baik." Ujar Chairi yang menarik kursi.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Cedric, menatap wajah Chairi begitu serius.
"Apakah Papa tahu laki-laki yang ada di foto ini?" tanya Chairi, to the poin.
"Bukannya dia berasal dari keluarga Evano Group." Jawab Cedric.
"Apa Papa mengenalinya?" tanya Chairi kembali.
"Tidak, tetapi sewaktu Ethan ulang tahun aku bertemu dengannya untuk pertama kalinya." Jawab Cedric.
"Rupanya begitu." Ucap Chairi.
"Oh ya, satu hal lagi. Apakah Papa mengetahui jika dia bukan anak kandung dari David dan Ranti?" tanya Chairi, dengan menatap kedua bola mata Cedric. Yang masih tidak berubah dengan ekspresi wajahnya.
"Tidak." Jawab singkat Cedric.
"Papa yakin, selama ini tidak pernah menyelidiki tentang Cameron." Ujar Chairi yang tetap tidak membuat Cedric bergeming.
"Tidak sama sekali, karena dia bukan lagi putraku." Jawab Cedric begitu telak membuat Chairi tersenyum kecil.
"Rupanya Papa belum mengetahui jika Cameron memiliki seorang anak." Batinnya.
"Kenapa kau membahas seseorang yang sudah dihapus dari daftar keluarga ini?"
"Lalu apa hubungannya anak angkat dari Evano Group dengan Cameron. Apa kau sedang menyelidiki sesuatu?" tanya Cedric.
"Aku hanya menaruh rasa curiga kepada pria yang berada di foto ini."
"Yang sekilas memiliki wajah begitu mirip dengan mendiang Cameron."
"Dan sangat kebetulan dia juga bukan berasal dari keluarga Evano Group." Ucap Chairi.
"Apakah selama ini keluarga Evano Group telah mempublikasikan dengan menyatakan bahwa dia bukan anak kandung mereka." Ujar Cedric, penuh curiga.
Dheg!
Air muka Chairi, berubah seketika.
"Apa kau menyelidikinya, Chairi?" tanya Cedric.
"Ehmm..."
"Apa tujuanmu?" tanyanya kembali dengan penuh intimidasi.
"P-papa salah paham, aku hanya penasaran saja siapakah dia yang 5 tahun belakangan ini begitu pesat mengembangkan perusahaannya." Alibi Chairi.
"Percayalah Pah, aku tidak memiliki tujuan jahat terhadapnya." Sambungnya.
"Papa pegang ucapanmu." Ucap Cedric.
"Aku hanya kesal, kita selalu kalah tender dengan perusahaannya." Ujar Chairi.
"Bagus, contohlah dia."
"Di usia yang begitu muda telah membangun perusahaannya sendiri.
"Berbanding terbalik dengan Ethan yang hanya bisa menghambur-hamburkan uang hanya demi tidur bersama ******-jalangnya." Sindir keras Cedric.
"Aku akan berusaha keras untuk merubah, Ethan. Papa jangan khawatir." Ujar Chairi.
"Bagaimana perusahaan ini maju, jika memiliki penerus yang seperti itu."
"Tidak memiliki kompeten dalam bidang usaha." Ujar Cedric, yang kembali membuka berkas-berkasnya.
"Ajarkan putramu untuk lebih berguna. Jika menginginkan perusahaan ini." Ujarnya lagi.
"Sure, Pah." Jawab Chairi, mengepalkan tangannya dengan menampilkan senyum di wajahnya.
"Jika tidak ada pertanyaan lagi, keluarlah! Aku masih banyak kerjaan." Ujar Cedric.
"Baik, Pah." Ucap Chairi yang melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Cedric.
...***...
~Apartemen~
"Bos..." Beo Delvin, yang melihat tubuh Ervin semakin kurus ketika terus mengurung diri di dalam kamarnya.
"Keluarlah!" Usir Ervin, yang terus meneguk sampanye-nya. Hingga sudah puluhan botol yang tercecer di dalam kamarnya.
"Jika kau terus begini, perlahan-lahan kau akan mati." Sambung Delvin kembali, yang benar-benar begitu sedih melihat penampilan Ervin yang begitu acak-acakan seperti tidak terurus.
"Biarlah aku mati." Ujar Ervin, yang kembali meneguk sampanye-nya.
"Bagaimana dengan Batari, jika kau meninggalkan dunia ini." Ucap Delvin, membuat Ervin menaruh botol sampanye-nya lalu menatap wajah Delvin.
"Batari..." Tutur Ervin seperti orang linglung.
"Ya, Batari pasti akan sangat sedih." Ucap Delvin, diiringi anggukkan kepalanya.
"Omong kosong!" Ujar Ervin yang kembali mengambil botol sampanye-nya lalu meneguknya kembali.
"Vin..." Beo Delvin, langsung merampas botol sampanye yang berada di genggamannya.
"Kembalikan." Ucap Ervin dengan suara paraunya.
"Tidak, kau harus bangkit dan jangan lari dari masalahmu." Ujar Delvin.
"Cih! Kembalikan atau kau kupecat." Ucapnya kembali dengan berjalan sempoyongan ke arah Delvin.
"Aku tidak peduli, saat ini aku ingin menyadarkanmu, Vin." Ujar Delvin.
"Kembalikan, berengsek!"
Bughhhh...
Ervin, yang langsung menghajar Delvin hingga tersungkur ke lantai.
Dan merampas kembali botol yang berada di genggamannya.
"Enyahlah!" Sambungnya kembali yang berjalan ke arah tempat tidurnya.
Ceklekk...
Tap... Tap...! Tap... Tap...!
"Enyahlah! Berengsek!"
Pranggg...
"Akhhh!" Ringis Batari, yang terkena serpihan beling di punggung kakinya.
"Dheg! Batari..." Beo Ervin yang mendengar suara perempuan seperti Batari.
"Tidak, ini pasti halusinasiku lagi. Batari tidak mungkin ada di sini." Batinnya yang mengambil botol kosong yang berada di depannya.
Pranggg!
"Enyahlah! Kau hanya halusinasiku." Ujar Ervin, yang melempar beberapa botol ke arah Batari yang tengah berjalan ke arahnya.
Prang... Prang... Prang...
"Hiks... Hiks...! Sadar Kak, ini aku Batari." Ucapnya dengan memeluk tubuh Ervin yang terpaku.
"Enyahlah! Kau cuma halusinasiku." Ujar Ervin, dengan mendorong tubuh Batari. Hingga tangannya terkena beling yang tercecer di lantai dan mengeluarkan begitu banyak darah.
"Akhhhh!" Rintihnya kembali.
Glek... Glek... Glek...
Ervin yang meneguk kembali sampanye-nya agar halusinasi tentang Batari menghilang di dalam pikirannya.
Dan mengambil botol kosong yang berada di samping kirinya untuk melemparkan kembali kepada bayang-bayang Batari.
"J-j-jangan... Aku Batari, bukan halusinasi-mu." Cicit Batari, yang terus menarik tubuhnya mundur dengan tangan yang berlumur darah.
"Kelu--" Ucapnya dengan menggantungkan perkataannya dan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya di kala melihat sosok Batari yang tengah menahan rasa sakit.
"Batari..." Ucapnya kembali dengan melempar botolnya ke sembarang arah dan berjalan sempoyongan ke arah Batari.
"Batari, maafkan aku." Ucapnya dengan memeluk Batari.
Hiks... Hiks... Hiks...
"Jangan maafkan aku semudah itu, kau terluka seperti ini karena aku." Ujar Ervin dengan melepaskan pelukannya.
Hiks... Hiks... Hiks...
Tangis Batari yang semakin pecah, membuat Ervin menghapus air matanya yang terus berlinang.
"K-kau mau ke mana?" tanya Batari, melihat Ervin yang beranjak.
"Aku akan mengambil P3K." Ujar Ervin.
Batari yang melihat kondisi apartemen Ervin begitu berantakan dan banyaknya botol sampanye yang berserekan di setiap ruangan apartemennya.
"Kenapa kau mengetahui aku berada di sini?" tanya Ervin yang membersihkan luka di tangan Batari.
"Akhhh!" Rintihnya.
"Maaf, aku akan lebih pelan-pelan lagi." Ucapnya dengan meniup-meniup telapak tangan Batari yang terluka.
"Apa kedatanganmu ke sini ingin memberikan surat cerai?" sambungnya kembali.
...----------------...