My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 21



"R-ra... Hiks..." Ucap Batari.


"Kau kenapa, Batari?" panik Ara. Mendengar isak tangis Batari, seperti kesakitan.


"Aaaaakh! R-ra... T-tolong ak-- Aaaakh!" Ringisnya kembali. Dengan tubuh yang sudah luruh di lantai.


"Halo, Tari! Kau masih bisa mendengar ucapanku." Tutur Ara, yang buru-buru mengambil kunci mobilnya.


"Hah..." Beo Batari.


"Tunggu aku oke. Kau harus tetap tersadar." Tutur Ara, kembali menuruni anak tangga.


"S-sakit b-banget, R-ra. Hiks..." Ucap Batari, tengah menahan rasa sakitnya.


"Aku tengah menuju ke rumahmu. Bertahanlah, Batari." Ujar Ara, melangkahkan kakinya cepat menuju mobil dengan raut wajah khawatir.


~20 menit kemudian~


Tap... Tap... Tap...


"Tari!!!" Teriak Ara. Melihat Batari, sudah terduduk lemas di lantai dengan berlumuran darah yang terus mengalir di area kakinya.


"R-ra" Cicit Batari.


"Kenapa bisa begini, Tari? kemana, kak Ervin?" ujar Ara, dengan segala pertanyaannya.


"R-ra, a-aku t-takut hiks..." Beo Batari. Dengan memegang sebelah tangan Ara, begitu kuat.


"Kau jangan bilang seperti itu, Batari." Ujar Ara, yang sudah berkaca-kaca.


Hiks... Hiks... Hiks...


"A-aku t-takut, aaaakh! D-dia t-tidak s-selamat hiks..." Ucap Batari, dengan sebelah tangannya memegangi perutnya yang teramat sakit.


"Ayo kita ke rumah sakit, Tari!"


"Kau jangan berkecil hati mungkin saja dia masih bisa diselamatkan." Cicit Ara, meluruhkan air matanya. Menatap Batari, yang tengah menahan rasa sakit yang tidak terbayangkan olehnya.


"T-tidak Ra, i-ini s-sudah t-terlambat." Ucap Batari, menggelengkan kepalanya.


"Jangan selalu berucap seperti itu Batari, ayo kita ke rumah sakit!" Tutur Ara.


"Aaaaakh! I-ini s-sangat s-sakit R-ra, akhhhhh! A-aku t-tidak k-kuat l--" Cicit Batari, memejamkan kedua matanya.


"Tidak, Tari... Kumohon, tetap tersadar hiks..." Ucap Ara. Dengan menepuk-nepuk pelan wajah Batari, yang tetap tidak sadarkan diri.


Dengan tekad yang kuat. Ara, menuntun tubuh pingsan Batari.


Menuju mobilnya, karena sudah tidak ada pilihan lagi untuk bisa menolong Batari.


Jika harus menunggu ambulance datang, dan kesalahan terbesar dirinya lupa mengabari pihak rumah sakit terlebih dahulu untuk mendatangkan ambulance ke rumah, Batari.


"Tari, bertahanlah." Gumam Ara, yang melajukan mobilnya kencang.


20 menit kemudian.


~Rumah Sakit~


"Tolong Sus, brangkar pasiennya. Sahabat saya sedang sangat kritis." Tutur Ara. Dengan wajah paniknya ketika menghampiri seorang perawat yang cepat-cepat mendorongkan brangkarnya menuju mobil.


"Tari, hiks..." Tangis Ara. Semakin pecah di kala Batari, di bawa ke ruang UGD.


"Dokter, akan memeriksanya terlebih dahulu."


"Silakan Mba, menunggu di luar dan hubungi pihak keluarganya." Ujar Suster.


"B-baik, S-sus." Ucap Ara. Tanpa pikir panjang Ara, menghubungi Ervin menggunakan ponsel milik Batari.


Dret... Dret... Dret... "Batari is calling"


"Ayo dong kak, angkat!" Batin Ara, yang terus menghubungi Ervin. Dengan tangan yang sudah bergetar.


"Angkat kak, kumohon." Batinnya kembali, hingga melakukan sebanyak 20 panggilan kepada Ervin, tetapi tidak ada satu pun yang diangkatnya.


Di sisi lain.


"Sungguh filmnya sangat seru sampai-sampai aku belum bisa move on." Tutur Disha. Di kala dirinya dan Ervin, keluar dari bioskop.


"Kenapa perasaanku dari tadi tidak enak." Batin Ervin.


"Vin!" Ucap Disha, menggoyangkan tangan Ervin.


"Ya Disha, kenapa?" tanya Ervin.


"Kau dari tadi melamun,"


"Apa ada yang tengah kau pikirkan?" tanya Disha.


"Hanya urusan kantor, lebih baik aku mengantarmu pulang." Alibi Ervin.


"Baiklah." Ucap Disha.


~Rumah Sakit~


"Bagaimana, Dok?" tanya Ara. Ketika melihat dr. Rita, keluar.


"Dengan sangat berat hati saya harus menyampaikan berita duka." Jawab dr. Rita, dengan menghela nafasnya dalam.


"Benar, bayi dari ibu Batari, tidak selamat setelah saya melakukan USG, dan kami akan melakukan kuretase karena janinnya sudah keluar." Ujar dr. Rita.


~Rumah~


Drap... Drap... Drap...


Langkah kaki Ervin, terhenti. Ketika melihat di sepanjang lantai rumahnya terdapat bercak darah.


Dheg!


"Batari..." Gumam Ervin, yang langsung berlari menuju anak tangga.


Drap... Drap... Drap...


"Batari!" Panggil Ervin, disepanjang langkah kakinya.


"Ba--" Panggilnya kembali. Ketika sudah memasuki kamar Batari, yang ternyata tidak menemukan Batari di dalam kamarnya yang terdapat begitu banyak darah di lantai.


Hingga Ervin, pun mengambil ponselnya untuk menghubungi Batari.


"20 panggilan tak terjawab."


"Astaga! Ponselku lupa diaktifkan kembali karena mode silent." Batinnya, yang langsung menghubungi nomer Batari, dengan wajah yang begitu gusar.


"Tari, kau di mana?" tanya Ervin, ketika panggilannya sudah diangkat.


"T-tari, berada di r-rumah s-sakit, Kak. Hiks..." Ucap Ara, diiringi suara tangisnya.


"Baiklah, aku akan ke sana." Ujar Ervin, yang menutup panggilannya. Lalu berjalan cepat untuk kembali menuju mobilnya.


~Rumah Sakit~


Setelah Batari, tersadar dan berada di ruang perawatan. Ervin, pun menghampirinya.


"Kenapa kau selama ini selalu menutupi tentang kondisinya, Batari." Ujar Ervin. Menatap wajah Batari, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kenapa, Batari!" Ujarnya kembali. Membuat Batari, meluruhkan air matanya.


"Jangan buang air mata buayamu untuk menangis di depanku."


"Kau, sungguh kejam! Ini kan yang kau inginkan selama ini ingin melenyapkannya." Ujar Ervin. Dengan Batari, menggeleng-gelengkan kepalanya dan air matanya semakin deras.


"Dan sekarang Tuhan, telah mendengar doa-doamu." Ujar Ervin. Dengan meluruhkan tubuhnya di lantai, dan menundukkan wajahnya karena air matanya begitu deras membasahi wajah tampannya.


"Tidak." Ucap Batari. Dengan terus menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak pernah berdoa seperti itu kepada Tuhan, hiks..." Sambungnya kembali.


"Bohong!!" Ujar Ervin, setengah berteriak.


Hiks... Hiks... Hiks...


"Hah... Aku pernah berucap untuk menggugurkannya, tetapi itu hanya sebuah ucapan yang benar-benar tidak ingin aku lakukan."


"Bahkan sama sekali aku tidak pernah berdoa seperti itu kepada Tuhan, jadi stop menyalahkanku hiks..."


"Di sini bukan hanya kau yang kehilangan dia, tetapi aku juga."


"Bahkan ini lebih menyakitkan, karena aku yang mengandungnya hiks..." Ucap Batari.


"Lantas kenapa kau menyembunyikannya, jika bayi yang kau kandung begitu lemah!" Ujar Ervin.


Brukk!


"M-mama..." Cicit Batari. Melihat Ranti, menjatuhkan keranjang buahnya.


"A-apa yang diucapkan Ervin, itu benar Batari?" tanya Ranti. Dengan Batari, yang hanya terdiam. Tetapi air matanya yang terus berlinang.


"Mama, paham dengan arti keterdiamanmu." Ujar Ranti.


"Kenapa kau harus membohongi, Mama?"


"Disaat Mama, bertanya apakah bayimu baik-baik saja."


"Tetapi kau malah beralibi bayimu baik-baik saja, yang sangat berbeda dengan kenyataannya bahwa kondisi bayimu yang sangat lemah." Ujar lagi, dengan air mata yang tak terbendung.


"M-maafin Tari, Mah." Beo Batari.


"Tari, tidak mau Mama khawatir."


"Tari, pikir semuanya akan baik-baik saja."


"Tetapi takdir tidak berpihak kepada Tari, Mah. Hiks..." Ucap Batari.


"Mama kecewa kepadamu, Batari."


"Hal sebesar ini kau anggap sepele sehingga kau menyembunyikan ini semua dari suami dan keluargamu."


"Kau sudah tidak menganggap kami sebagai orang terdekatmu lagi." Ujar Ranti. Lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan inap, Batari.


"Mah... Mama! Hiks..." Panggil Batari, dengan histerisnya.


...----------------...