
Disitulah Ervin, meminum banyak sampanye. Karena permasalahan hidupnya yang begitu pelik.
Dengan dentuman musik yang begitu gemerlap, banyak wanita tunasusila yang menghampirinya untuk berlomba-lomba demi bisa tidur dengan Ervin.
karena jika dalam keadaan sadar Ervin, langsung menolak mentah-mentah tawaran dari perempuan penghibur, yang menurutnya sangat menjijikan.
"Enyahlah!" Usir Ervin, tetapi ada satu wanita tunasusila yang berhasil mencumbui lehernya. Hingga ketika ucapannya diabaikan Ervin, langsung mendorong tubuh wanita itu ke lantai...
~Flashback off~
"Bitchh sialan!" Batin Ervin, begitu geram melihat tanda yang berada di lehernya.
Drap... Drap...
Brakkkkk!
...***...
~Kantor JE Corp~
"Bos!" Panggil Delvin, untuk ketiga kalinya.
"Pelankan suaramu Delvin, atau kau kupecat." Tutur Ervin, dengan tatapan tajam.
"Maaf, Bos." Ucap Delvin, dengan menelan salivanya kasar.
"Katakan!" Ujar Ervin.
"Ada pertemuan penting dengan investor dari Italia, Bos." Ucap Delvin.
"Kapan?" tanya Ervin, to the point.
"Satu bulan yang akan mendatang, dan mereka memilih untuk datang ke perusahaan kita terlebih dahulu.
Tetapi ada permasalahan dengan J Group, yang sedang berusaha agar investor dari Italia memilih perusahaannya terlebih dahulu untuk dikunjungi." Ujar Delvin. Dengan menyodorkan berkas kepada, Ervin.
"Lalu, masih adakah permasalahan yang lainnya?" tanya Ervin, yang menandatangani berkas dari Delvin.
"Kau harus membawa pasanganmu. Itulah syarat dari mereka."
"Karena ibu Andrea, istri dari pak Michelle. Sangat tertarik dengan kehidupanmu Bos, yang terlihat sempurna." Tutur Delvin.
"Baiklah." Jawab Ervin, dengan memberikan kembali berkas kepada Delvin.
"M-masalahnya bukan pasangan kekasih, t-tapi pasangan sebagai suami istri." Ujar Delvin, dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Dheg!" Mimik wajah Ervin, langsung berubah seketika.
Dret... Dret... Dret...
Disha is calling
"Baiklah, aku akan ke sana." Ujar Ervin, yang menutup panggilannya. Lalu beranjak dari tempat duduknya dengan mengambil kunci mobil dan jas untuk keluar dari kantor.
"Bos...!" Panggil Delvin, yang tidak dihiraukan oleh Ervin, yang terus melangkahkan kakinya.
...***...
~Restoran~
"Sayang..." Peluk Disha, yang disambut baik oleh Ervin.
"Sudah menunggu lama?" tanya Disha, yang melepaskan pelukannya dan duduk dengan saling berhadapan.
"Tidak, baru sampai." Jawab Ervin.
"Mau makan apa, Sayang?" tanya Disha, dengan sikap sweet-nya ketika akan memesan menu makanan.
"Samain aja denganmu." Jawab Ervin, yang fokus dengan ponselnya.
"Disha!" Ujar pria yang sudah berumur. Membuat raut wajah Disha, terkejut seketika.
"Siapa dia Sayang?" tanya Ervin, dengan menekan kata sayang.
"D-dia Om-ku, Vin." Jawab Disha, dengan berkilah.
"Disha!!" Bentak pria itu.
"Sebentar, Vin." Pamit Disha, yang menarik pria berumur itu keluar dari restoran.
"Lepas Disha! Apa-apaan ini, kau sudah mempermainkanku!" Ujar pria itu, dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Tidak Om, m-maksudku Sayang, dia hanya temanku!" Ujar Disha, dengan berdalih.
"Tidak ada seorang teman yang memanggilmu sayang, aku tidak sebodoh itu, Disha."
"P-percayalah Sayang, lingkaran dalam pertemanan kami memang seperti itu, aku tidak memiliki hubungan special dengannya..." Tutur Disha, yang terus beralibi.
"Baiklah jika kau masih tidak mengakuinya, aku akan tanyakan langsung pada laki-laki itu." Ujar pria itu, yang melangkahkan kakinya menuju restoran kembali.
"Grep! Oke, sekarang juga aku akan menyudahi hubunganku dengannya, karena hanya kau yang aku inginkan." Ucap Disha, agar mendapatkan kembali kepercayaannya.
"Baiklah, aku tunggu kau di mobil, setelah urusanmu selesai dengan laki-laki itu datanglah kepadaku!" Ujar pria itu. Dengan mencium kening Disha, lalu melangkahkan kakinya menuju basement.
Prok... Prok... Prok...!
"Ternyata selama ini kau menjadi simpanan om-om berperut buncit, dan kau terus membodohiku untuk kedua kalinya. Kau sungguh hebat Disha!" Ujar Ervin, yang tengah menahan geramnya agar tidak meledak-ledak.
"Aku seperti itu karena kau yang tidak memiliki kepastian untuk menikahiku!" Ucap Disha.
"Omong kosong!"
"Aku sangat bersyukur kepada tuhan yang telah membuka mataku yang selama ini buta akan kepercayaan terhadap wanita murahan sepertimu, ayudisha devira!" Ujar Ervin, penuh rasa jijik melihat perempuan yang ada di depannya itu.
"Plakkk!" Disha, yang menampar wajah Ervin. Dengan air mata yang menetes di wajahnya.
"Cukup, Vin! Kau sungguh keterlaluan. Aku mau kita selesai." Tutur Disha, dengan air matanya yang semakin berlinang.
"Ck! Seharusnya aku yang bilang seperti itu. Bukan kau!" Ujar Ervin, dengan seringai. Lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Disha, seorang diri.
"Aaaaaaaargh!!! Sial! Kenapa bisa seperti ini!" Kesal Disha, dengan mengepalkan kedua tangannya.
...***...
Ting... Notif whatsapp dari grup
~Gibah Cantik~
Rissa : Anjir... Nyesek banget lihat kak Ervin, dipeluk mesra oleh wanita itu.(Rissa, dengan emot sedihnya).
Ara : Sial banget hidupmu sa-sa... (Ara, dengan emot ketawanya).
Rissa : Lebih sial hidupmu Ra, sampai saat ini kau masih jones! (Rissa, yang kembali meledek Ara).
Ara : Kau pikir hanya diriku yang jones, kau juga Rissa... (Ara, dengan emot ketawannya kembali).
Rissa : Tari, tolong bantu aku agar kak Ervin, bisa berpaling dari kekasihnya. (Rissa, dengan mentag nama Batari).
Batari, yang hanya membaca, hanya bisa menghela nafasnya kasar dan lebih memilih untuk tidur siang.
Di sisi lain.
"Kau sudah pulang, Vin?" tanya Ranti, yang melihat Ervin dengan suasana raut wajah yang terlihat kacau.
"Iya Mah." Jawab Ervin, begitu singkat, lalu melangkahkan kembali kakinya menaiki anak tangga.
"Vin..." Panggil Ranti, kembali.
"Hmm, kenapa lagi, mah?" Jawab Ervin, dengan menolehkan kembali wajahnya.
"Kau tidur di kamar Batari, saja. Kamarmu sedang ada perbaikan." Tutur Ranti. Dengan gontai Ervin, pun berjalan kembali menuju kamar Batari.
Ceklekkkk...
Ervin, yang merasa suasana hatinya begitu kacau, memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di kasur, tanpa melihat seseorang yang tengah tertidur lelap.
~30 menit kemudian~
Batari dan Ervin, tidur dengan saling berpelukan dengan rasa nyaman antara satu sama lain.
"Kenapa bantal gulingnya terasa empuk dan begitu hangat sekali, membuat aku mager ingin kembali terlelap." Batin Batari, dengan memeluk eratnya tanpa membuka mata sedikit pun.
"Seperti seseorang yang memeluk tubuhku begitu erat." Batin Ervin, yang menyadari kehadiran seseorang.
"Ekhmmm!" Deheman Ervin, yang merasa sesak tubuhnya di kala di peluk begitu erat.
"Suara." Batin Batari, membuat perasaannya was-was, tetapi sangat berat untuk membuka kedua kelopak matanya yang masih mengantuk.
"Aku tidak bisa bernafas, jika kau terus peluk tubuhku dengan erat." Ujar Ervin, dengan suara terputus-putus.
"Deg! K-kak Ervin!" Beo Batari, yang langsung melepaskan pelukannya dan terbangun untuk segera menyalakan saklar lampu kamarnya.
"Huuuk! Ohok... Ohok... Ohok...!" Ervin yang terbatuk-batuk.
"Aaaaaaaaaaaa!!!" Teriak Batari, yang langsung menutup kedua matanya.
...----------------...