
Diperjalanan Batari, selalu memikirkan bagaimana kelanjutan rumah tangganya.
Karena saat ini dirinya belum memahami perasaannya sendiri, apa yang dirinya inginkan Batari, masih bimbang.
Apalagi Batari, masih sangat syok dengan kenyataan Ervin, adalah bukan kakak kandungnya.
"Stop, Pak." Cicit Batari, yang kelabasan dari rumahnya.
Tap... Tap... Tap...
Batari, yang berjalan gontai menuju ke rumahnya. Dengan segala pikiran yang ada di otaknya begitu mumet, hingga tersadar Batari, melihat adegan yang begitu dejavu.
"Kau..." Ujar Ervin, dengan mendorong tubuh Disha.
"Kau selalu melewati batas, Disha!"
"Apa urat malu sudah putus!" Ujar Ervin, seraya menghapus bibir basahnya.
"Karena kau selalu menikmatinya, itulah caraku agar kau selalu mengingat sentuhanku."
"Agar kau tidak bisa berpaling dengan wanita manapun termasuk, Batari." Ujar Disha.
"Batari... Batari... Dan Batari! Kenapa kau selalu merasa bahwa aku tertarik dengan, Batari?"
"Sehingga kau menganggapnya bagaikan musuh, yang akan mengambilku dari dirimu." Tutur Ervin.
Tap... Tap... Tap...
"Karena aku melihat kau menginginkannya."
"Jadi aku merasa ragu jika dia Adik kandungmu." Ujar Disha. Dengan membelai wajah tampan, Ervin.
Dheg!!
Dengan wajah syoknya Batari, yang mendengar penuturan dari Disha.
"Jika kau tidak tertarik dengan Adikmu, katakanlah tidak."
"Aku ingin mendengarnya." sambungnya kembali. Dengan Ervin, yang mengepalkan kedua tangannya.
"Kenapa kau terus diam, honey." Bisiknya. Dengan menekan terus, Ervin.
"Aku tidak akan pernah menjawabnya!" Ujar Ervin, yang melangkahkan kakinya.
"Aku simpulkan kau menyukai Adikmu sendiri." Tutur Disha, dengan meraih lengan Ervin.
"Tidak!" Ujar Ervin, yang terpancing dengan ucapan Disha. Membuatnya membalikkan badannya menatap ke arah Disha, dengan menggertakkan rahangnya.
"Batari...!" Beo Ervin. Melihat Batari, berada di belakang Disha. Dengan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca dengan mengulum senyum sinisnya.
"Ck! Kau tidak perlu begitu syok, honey." Ucap Disha, dengan seringainya.
"Kau sengaja!" Ujar Ervin, dengan menatap tajam wajah Disha.
"Tentu saja tidak, ini sangat kebetulan." Bisik Disha.
Tap... Tap...
"Grep!" Disha, yang menarik pergelangan tangan Batari. Dengan langkah Batari, yang terhenti.
"Kenapa kau berkaca-kaca?"
"Ah, aku tahu kau pasti sangat sedih bukan bahwa Kakakmu tidak tertarik denganmu." Ucap Disha, dengan seringainya.
"Ck! Kau gagal, bitchh." Bisik Disha, dengan menyunggingkan senyum lebarnya.
Plakk!!
Batari, yang menampar wajah Disha. Dengan Disha, yang melepaskan genggaman pergelangan tangan Batari. Membuat Batari, melangkahkan kakinya kembali dengan perasaan yang campur aduk.
"Ck! Jangan menangis adik ipar." Ujarnya, dengan memegangi sebelah pipinya serta menyunggingkan senyum kesalnya.
"Cukup Disha! Kau enyah dari sini!" Ucap Ervin, yang melangkahkan kakinya.
"Ahh... Drama yang sungguh menyenangkan." Gumam Disha, dengan senyum sumringahnya.
"Berhenti, Batari!!!" Teriak Ervin. Dengan Batari, yang terus melangkahkan kakinya.
"Shitt!" Desis Ervin, yang berjalan lebih cepat untuk meraih tangan Batari, yang akan menaiki anak tangga.
Grep!
Ervin, yang berhasil meraih pergelangan tangan Batari.
"Lepas!!" Berontak Batari, dengan deru nafas yang memburu.
"Tidak." Ujar Ervin, yang menatapnya tajam.
"Kenapa kau seperti ini kepadaku?" tanya Batari, yang merasa sakit di pergelangan tangannya.
"Apa kau mendengar semuanya?" tanya Ervin. Dengan mengabaikan pertanyaan dari, Batari.
"Tidak." Ucap Batari, yang masih berusaha melepaskan tangannya.
"Bohong!" Ujar Ervin, yang semakin erat dan semakin membuat Batari, begitu kesakitan dengan pergelangan tangannya.
"Aaaaakh..." Lirih Batari.
"Jawab dengan jujur, Batari!" Ujar Ervin, yang tidak merasa iba terhadap Batari, yang kesakitan.
"Sungguh aku tidak mendengar semuanya, aku hanya mendengar bahwa kau tidak tertarik kepadaku." Ucap Batari, dengan meluruhkan air matanya.
Ervin, pun melepaskan pergelangan tangan Batari, yang sangat memerah.
"Aku sangat senang mendengarmu yang tidak tertarik kepadaku." Tutur Batari, yang kembali menaiki anak tangga.
"Shitt!" Geram Ervin.
...***...
"Whatt!" Syok Ara, mendengar penuturan Batari.
"Kondisikan wajahmu, Ra. Kita sedang jalan kaki, banyak orang yang melihat ke arah kita." Cicit Batari.
"Sudah aku dugakan bahwa kak Ervin, bukan kakak kandungmu."
"Lalu kau akan bagaimana, Tari?" tanya Ara.
"Entahlah, Ra." Tutur Batari, dengan mengangkat kedua bahunya.
"Tunggu-tunggu... Pergelangan tanganmu kenapa, Batari?" sambungnya dengan meraih pergelangan tangan, Batari.
"Ini..." Cicit Batari, yang menggantungkan ucapannya ketika melihat sebuah mobil yang melaju begitu cepat.
Tin... Tin...
"Aaaaaaaaaa!" Teriak Batari.
Cekitttttt!
"Batari!!!" Teriak Ara.
Brukk...
"Kau tidak apa-apa?" tanya seseorang dengan perawakan tinggi yang langsung menghampiri, Batari.
Batari, pun membukakan perlahan-lahan kelopak matanya.
"Apa aku masih hidup?" tanya Batari.
"Sure." Jawab pria itu.
"Tentu saja kau masih hidup, Tari." sarkas Ara, yang melihat tingkah konyol sahabatnya itu.
"Ah, kupikir aku sudah berbeda alam." Cicit Batari, yang kembali berdiri dengan uluran tangan pria yang akan menabraknya itu.
"Apa kau terluka gadis manis?" tanyanya
"Ah tidak, aku baik-baik saja..." Ucap Batari, dengan menyunggingkan senyumnya.
"Ini kartu nam--" Ujar pria itu.
"Ikut aku, Batari!" Tutur Ervin. Menarik lengan Batari, menuju mobilnya.
"Terimakasih, akan aku sampaikan kepada sahabatku." Ucap Ara, yang mengambil kartu namanya dan melangkahkan kakinya juga.
...***...
~Rumah~
"Lepas! Kenapa kau selalu menyakitiku?" ujar Batari, yang masih ditarik menaiki anak tangga.
Drap... Drap... Drap...
Kriett...
Brukkk!
Ervin, yang mendorong tubuh Batari ke ranjangnya.
Membuat Batari, berkeringat dingin serta degup jantungnya pun berdetak begitu kencang dengan menelan salivanya susah.
"K-kau mau apa?" tanya Batari. Ketika melihat Ervin, melepaskan jas dan dasinya. Membuat Batari, semakin bercucuran keringat.
"Kenapa kau selalu berkeluyuran?
"Apa kau tidak pernah mendengar perintahku untuk langsung pulang jika selesai berkuliah!" Ujar Ervin, yang melepas satu persatu kancing kemejanya.
"A-aku..." Cicit Batari, yang terasa kelu. Ketika Ervin, melangkahkan kakinya ke arahnya yang tengah terbaring di atas ranjang.
"Kau selalu membuatku marah, Batari." Tuturnya, dengan deru nafasnya yang begitu memburu. Ketika menyentuh wajah Batari, dan berhenti di area bibirnya.
"Dan kenapa bibir ini selalu tersenyum kepada laki-laki yang bukan milikmu, Batari." sambungnya.
"K-kau... Jaga batasanmu." Cicit Batari. Di kala Ervin, masih menyentuh wajahnya hingga turun ke leher jenjangnya.
"Why? apa kau merasa terbuai dengan sentuhan-sentuhan kecilku." Ujar Ervin.
"Tidak, ini sangat menjijikan!" Tutur Batari. Membuat Ervin, naik pitam.
Cup!
Ervin, yang menciumnya kasar dengan penuh gairah. Membuat Batari, kewalahan dan membuat pasokkan oksigennya terasa berhenti.
"Hah... Hah...!" Deru nafas Batari, yang tersenggal-senggal ketika berhasil menggigit bibir Ervin, untuk terlepas dari pagutannya.
"Rupanya kau menyukai cara kasar." Ujar Ervin, yang akan menciumnya kembali.
"Stop! Jangan lakukan lagi." Lirih Batari, dengan air matanya yang sudah luruh dan menahan dada bidangnya.
"Terlambat." Ujar Ervin, yang kembali menciumnya rakus dan menggigit bibir Batari, hingga mengeluarkan darah.
"Aaaakh!" Ringis Batari. Terasa perih dengan bibirnya yang berdarah dan terasa bengkak akibat ulah, Ervin.
Ervin, yang kembali menciumnya dengan penuh kelembutan.
Agar Batari, merasa nyaman dengan permainanya.
Dan tidak lupa sebelah tangannya membuka satu persatu kancing baju Batari, yang tengah terbuai dengan permainan ciumannya.
...----------------...