
Pekerjaan Naya hari ini benar-benar padat. ditambah lagi dengan menghilangnya Zaky tanpa jejak, semakin membuat lengkap saja penderitaan Naya.
Naya meregangkan otot-ototnya saat waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam. Tapi pekerjaannya belum selesai.
Meskipun kesal dengan Zaky yang belum ada kabar sampai saat ini, namun Naya tetap saja melirik ponselnya untuk mengecek apakah pesan yang dikirim tadi sudah masuk apa belum. Ternyata belum.
“Kemana saja sih, ngeselin banget!” gerutunya lalu kembali menatap layar laptopnya.
Karena moodnya benar-benar buruk, Naya memilih untuk tidak melanjutkan pekerjaannya. Daripada dilanjutkan tapi dengan hati yang dongkol, percuma. Justru tidak akan selesai.
Pukul enam Naya sudah selesai membereskan semua pekerjaanya. Ia bergegas keluar dan langsung pulang. dia juga enggan membuka ponselnya lagi. Zaky pasti akan menghubungi jika pesannya sudah masuk.
Beberapa ssat kemudian mobil Naya sudah memasuki halaman rumahnya. Di sana terparkir sebuah mobil mewah yang entah itu mobil siapa, karena Naya sama sekali tidak pernah melihatnya sebelumnya. Tapi tunggu dulu, Naya menghentikan langkahnya sejenak di depan mobil itu. dia melihat seri plat nomor mobil yang tidak asing. Karena sama dengan mobil milik Zaky.
“Mungkin mobil ini milik rekan bisnis Papa.” Gumam Naya. Setelah itu masuk ke rumahnya, namun tentunya dengan perasaan yang tak menentu.
Benar saja, setibanya di ruang tamu. Naya terdiam memaku saat melihat banyak orang di sana. Kedua orang tuanya juga ada. Naya tidak mengenal sepasang suami istri yang seusia Mama dan Papanya. Namun seorang laki-laki dan perempuan itu, Naya sangat mengenalnya. Yaitu Zaky dan Shanum. Naya menggelengkan kepalanya. Dia baru sadar ternyata sejak tadi pagi dikerjai oleh Zaky.
“Naya? Kenapa diam di situ?” tanya Senja yang lebih dulu menyadari keberadaan putrinya.
Lalu tatapan smeua orang tertuju pada Naya. Tak terkecuali Zaky yang sedang tersenyum menatap kekasihnya. Kemudian pria itu beranjak dan menghampiri Naya.
“Baru pulang?” tanya Zaky dengan seulas senyum, lalu tanpa rasa sungkan ia merentangkan tangannya untuk Naya.
Naya pun seakan lupa dengan keadaan sekitarnya. Hatinya yang sejak tadi dirundung kegelisahan akhirnya terbayar sudah dengan kemunculan Zaky di hadapannya. Dia pun langsung berhambur ke pelukan Zaky dan melampiaskan kekesalan dan kerinduannya.
“Kak Zaky jahat!!! Kamu sengaja ngerjain aku dengan tidak mengaktifkan ponsel kamu seharian?” ucap Naya bercampur emosi dan tangisan kecil.
Zaky hanya tersenyum mendengarnya. Dia juga membalas pelukan Naya namun hanya beberapa detik saja sebelum ia membisikkan sesuatu pada kekasihnya itu.
“Nay, kamu sadar nggak yang kamu lakukan ini dilihat Mama dan Papa?” bisiknya, seolah memperingatkan Naya akan kemarahan sang Mama dan Papanya.
Sontak Naya langsung mengurai pelukannya. Dia mengusap sudut matanya yang basah, lalu tersenyum kaku pada orang-orang yang sejak tadi melihatnya dengan seksama.
Akhirnya Naya menghampiri Mama dan Papanya, lebih tepatnya pada sepasang suami istri yang dikenal Naya.
“Ma, Pa, maaf!” ucap Naya dengan lirih. Namun dia tidak berani menatap mata Papanya lebih lama lagi, karena sadar akan kesalahannya baru saja.
“Nay, kenalkan Ayah dan Bundaku!” Ucap Zaky kemudian.
Naya terkejut mendengarnya. Jadi sejak tadi Zaky seperti sengaja menghilang karena hal ini. dia membawa keluarganya datang ke rumah. tapi entah kenapa perasaan Naya tiba-tiba tidak enak. Apalagi melihat reaksi Mama dan Papanya saat ini.
“Oh, ini adik angkat kamu Rendra? Sangat cantik.” Puji Nyonya Rosma. Sedangkan Naya menanggapinya dengan senyuman.
“Naya, lebih baik kamu membersihkan diri dulu, bukankah kamu baru saja pulang.” titah Senja seolah membuat Naya tidak nyaman.
“Baik, Ma.” Jawab Naya dengan patuh.
“Tunggu dulu! Aku boleh ikut ke kamar kamu, Nay?” cegah Shanum dan diangguki oleh Naya.
Setibanya di kamar, Naya mempersilakan Shanum duduk. Sedangkan ia langsung masuk ke kamar mandi.
“Kamu tunggu dulu di sini ya, Num! aku nggak akan lama kok.” Ucap Naya.
Sembari menunggu Naya mandi, Shanum melihat-lihat isi kamar Naya. Di sana ada beberapa foto Naya masa kecilnya yang tepajang di beberapa pigora. Ada yang di atas meja, ada yang menggantung pada dinding.
Shanum senyum-senyum sendiri saat melihat Naya foto berempat. Salah satunya adalah Zaky. lalu dua orang lagi laki-laki dan perempuan yang memiliki wajah sama, Shanum tidak mengenalinya. Namun saat dia semakin melihat foto itu dengan detail, ternyata itu adalah foto Nabil.
“Dia sangat tampan sedari kecil.” Gumam Shanum.
“Siapa yang tampan, Num?” tanya Naya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan tak sengaja mendengar ucapan Shanum sedang memuji seseorang.
“Oh, itu. itu Kak Zaky bukan? Ya, dia sangat tampan sejak kecil sampai sekarang. seperti aku yang sejak dulu cantik.” Jawab Shanum berbohong.
Sedangkan Naya yang mendengarnya hanya memutar bola matanya dengan malas. Ternyata Shanum orangnya sangat narsis.
“Ehm, yang mau bertemu calon mertua nih dandannya cantik banget.” Goda Shanum saat melihat Naya memoles make up tipis di wajahnya.
“Apaan sih, Num? aku nggak ngerti maksud ucapan kamu.” Jawab Naya masih sibuk memberikan sentuhan pada wajahnya.
“Apa kamu sudah siap menerima lamaran Kak Zaky?” bisik Shanum seketika membuat wajah Naya memerah.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️