My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 9



Bughhhh!!!


"Kak, kau apa-apaan memukul, Bryan!!!" Teriak Batari, melihat Ervin yang langsung menghajar Bryan.


"Masuk Batari!" Ujar Ervin, dengan deru nafas masih memburu.


"Bry, kau tidak apa-apa?" tanya Batari, yang melihat sudut bibir Bryan, mengeluarkan darah.


"Masuk Batari! Jangan sampai aku mengulangi kata-kataku untuk ketiga kalinya." Ujar Ervin, begitu geram dengan menatap tajam ke arah, Batari dan Bryan.


"Aku tidak apa-apa Tari, hanya luka kecil lebih baik kau masuk ke dalam." Tutur Bryan, dengan menyunggingkan senyumnya.


"Tidak Bry, aku harus mengobatimu dulu." Ucap Batari, dengan menggelengkan kepalanya.


"Batari!!!" Teriak Ervin, yang benar-benar begitu geram.


"Aku akan mengobati sendiri, ini hanya luka kecil." Ujar Bryan.


"Tap..." Ucap Batari.


"Masuklah, Tari! Aku tidak ingin melihatmu dimarahi oleh, Kak Ervin." Bisik Bryan. Seraya membujuk Batari, untuk tidak mempedulikan dirinya.


"Ayo!" Ujar Ervin, yang menarik kasar lengan Batari, masuk ke dalam rumah.


"Lepas...!" Ucap Batari, dengan menghentakkan lengannya, di kala telah masuk ke dalam rumah.


"Batari!!!" Teriak Ervin. Membuat Batari, langsung terdiam dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Apa ini kelakuanmu yang sesungguhnya. Selalu keluyuran setelah selesai kuliah!" Ujar Ervin, dengan tatapan tajamnya.


"Apapun yang aku lakukan di luar rumah ini, kau tidak perlu ikut campur dengan kehidupanku." Ucap Batari.


"Shittt!" Umpat Ervin. Dengan mendorong tubuh Batari, ke arah sofa.


"Akhh!" Rintih, Batari. Ketika Ervin, menindih tubuhnya.


"Dengar baik-baik, Batari! Kau sekarang tinggal denganku bukan dengan, mama papa."


"Jadi kau harus mengikuti peraturan di rumah ini." Ujar Ervin, menggertakkan rahangnya. Dengan sebelah tangannya menahan kepala Batari, sebagai penopang kepalanya.


...***...


~Kediaman, Ranti dan David~


"Kau, kenapa menghamili adikku?"


"Dasar bajingan!" Ujar Ellona, yang sudah memukul kecil punggung, Ervin.


"Ampun, Mba..." Ucap Ervin, yang sudah lari dari amukan, Ellona.


"Dasar buaya rawa-rawa!" Ujar Ellona, yang masih mengejar Ervin.


"Kau itu memiliki kekasih! Kenapa harus merusak hidup adikku yang sungguh malang itu." Sambungnya kembali dengan terus mengejar Ervin, yang terus mengelilingi meja makan.


"Namanya juga orang mabuk, hilap mba. Setan pada datang." Ucap Ervin, dengan suara yang terpatah-patah akibat terus berlari.


"Dasar laki-laki bajingan! Setan mulu yang disalahin." Ujar Ellona, yang kini berhenti di belakang kursi yang sedang di duduki Ranti.


"Sudah El, apa kau tidak cape? Kasian tuh Ervin, pulang kerja langsung lari-lari begitu." Ucap Ranti. Memberi Ellona, segelas air.


"Awas ya Vin, urusan kita belum selesai!" Tunjuk Ellona, dengan menghabiskan airnya begitu tandas.


"Akhirnya! Hosh... Hosh..." Ujar Ervin, dengan dada yang sudah naik turun.


"Jadi apa benar Pah, bajingan itu bukan anak kandung Mama dan Papa?" tanya Ellona.


"Benar, apa Mamamu sudah memberitahumu el..." Jawab David, yang diangguki Ellona.


~Flashback on~


"Mah..." Cicit Ellona, yang sudah memeluk pinggang Ranti, dari belakang.


"Ellona!" Syok Ranti, yang melihat putri keduanya sudah berada di rumah.


"Ihh! Mama, kok kaya gitu sambutanya." Ujar Ellona, dengan wajah yang sudah ditekuk.


"Kau hampir membuat Mama jantungan, El."


"Dan kau selalu kebiasaan El, tiap pulang tidak selalu mengabari, Mama dan papa." Ucap Ranti, dengan memegangi dadanya.


"Sorry, Mah." Cicit Ellona, dengan senyum lebarnya.


"Kau sama sekali tidak berubah!" Ujar Ranti, dengan geleng-geleng kepala.


"Tari mana, Mah? Tumben jam segini rumah terlihat sepi?" tanya Ellona.


"Batari sekarang tinggal bersama Ervin." Jawab Ranti.


"Ko bisa, Mah! Bukannya mereka berdua tidak begitu akrab." Ucap Ellona, dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Tentu saja bisa, karena mereka berdua tinggal bukan sebagai adik dan kakak." Jawab Ranti.


"M-maksud Mama?" tanya Ellona, dengan kebingungannya.


"Mereka berdua sudah menikah, maaf El Mama baru memberitahumu." Tutur Ranti, dengan memegangi kedua tangan Ellona.


"Hah!" Syok Ellona, yang mendengar penuturan Ranti.


"Aku tidak salah dengarkan mah!" Ujar Ellona, dengan menepuk-nepuk pipinya sendiri.


"Tidak El, kau mendengarnya dengan jelas." Ucap Ranti.


"Oh my god!" Cicit Ellona, dengan membekap mulutnya langsung.


"Karena sebuah insiden yang membuat mereka harus menikah." Sambung Ranti, kembali.


"Sungguh adikku yang malang, kenapa nasibmu sangat buruk yang harus menikah dengan kakak kandungnya sendiri." Ujar Ellona.


"Ervin, bukan kakak kandungnya Batari, jadi mereka berdua sah-sah aja jika menikah." Ucap Ranti, dengan santainya sambil menyeruput teh anget yang berada di tangannya.


"What!!" Syok Ellona, untuk yang kedua kalinya.


"Kondisikan wajahmu, El!" Tutur Ranti, yang melihat ekspresi Ellona, seperti anak anjing.


"Ekhmm! Ma-ma membuatku hampir jantungan untuk yang kedua kalinya." Ujar Ellona, dengan menghela nafasnya kasar.


"Maaf El, Mama baru bisa memberitahumu." Ucap Ranti, yang menaruh teh angetnya di meja.


"Apa Batari, sudah mengetahui jika Ervin, bukanlah kakaknya?" tanya Ellona.


"Tidak. Biarlah Batari, mengetahuinya sendiri setelah dia menyadari dengan memiliki perasaan terhadap Ervin, sebagai suami yang sesungguhnya." Jawab Ranti.


"Apa Mama, tidak kasihan terhadap Batari? mungkin someday akan lebih sakit jika mengetahui yang sebenarnya." Ujar Ellona, dengan menyenderkan badanya di sofa.


"Biarlah waktu yang akan berbicara." Ucap Ranti.


~Flashback off~


"Disha! Bagaimana dengan dia?" tanya Ellona, dengan menatap tajam wajah Ervin.


"Kau tidak perlu khawatir El. Ervin, sudah berjanji untuk meninggalkan Disha." Ujar David.


"Pah, jangan mudah percaya sama buaya rawa-rawa seperti dia!" Tunjuk Ellona, ke arah Ervin.


"Papa, sudah memberi waktu untuk Ervin. Kita hanya menunggu hasilnya saja." Ujar David.


"Apa yang diucapkan Papa benar, aku perlu waktu, Mba." Ucap Ervin.


"Sampai kapan batas waktu yang kau inginkan?"


"Bahkan aku tidak yakin kau akan menepati janjimu untuk meninggalkan Disha, kekasih yang sangat kau cintai itu!" Ujar Ellona.


"Sudah El, jangan terus mendesak Ervin. Kita kasih kepercayaan untuk, Ervin." Ucap Ranti, yang menenangkan Putrinya.


"Aku tidak akan terima jika suatu saat kau menyakiti perasaan adikku!" Ujar Ellona, begitu telak dengan tatapan begitu tajam ke arah Ervin, yang tetap terdiam.


"Aku naik ke atas Mah, Pah dan jangan lupa hubungi Batari besok untuk datang ke rumah." Ucap Ellona, yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya meninggalkan anggota keluarganya.


"Mama, juga akan ke kamar Pah, Vin..." Ucap Ranti, yang melangkahkan kakinya.


"Vin..." Panggil David.


"Hmmm." Sahut Ervin.


"Kau masih marah sama, Papa?" tanya David, yang melihat aura Ervin, begitu dingin di kala hanya mereka berdua. Dengan Ervin, yang hanya terdiam.


"Lebih baik kau jangan mencari tahu, akan sangat berbahaya untuk hidupmu." Tutur David, dengan menghela nafasnya dalam.


"Aku tetap akan mencari tahu!" Ujar Ervin, dengan keputusannya.


...----------------...