My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 41



~Taman~


"Pilihan yang sangat sulit untuk aku pilih diantara keduanya." Batin Batari. Dengan menatap ke arah danau.


"Aku tidak akan pernah tahu. Apa yang akan dilakukan oleh kak Disha, ke depannya." Batinnya lagi dengan tatapan kosong.


"Tidak baik gadis cantik sepertimu duduk seorang diri dengan keadaan melamun." Ujar seseorang. Membuat Batari, melirik ke arah sampingnya.


"Kau..." Beo Batari.


"Ethan, itu namaku." Ujarnya. Mendudukkan bokongnya di samping, Batari.


"Ahh... Kau yang dipukul oleh kak Ervin, kan?" tanya Batari.


"Tepat sekali."


"Ternyata memori ingatanmu cukup bagus juga." Jawab Ethan, menyunggingkan senyumnya.


"Apa kalian tidak memiliki hubungan baik antara satu sama lain?" tanya Batari, penuh penasaran.


"Hanya ada permasalahan kecil di masa lalu yang belum terselesaikan."


"Hingga dampaknya sampai saat ini." Jawab Ethan.


"Ahh... Rupanya seperti itu." Cicit Batari.


Di sisi lain.


"Apa selama ini kalian pisah kamar?" tanya Delvin, yang tengah membereskan barang-barang, Batari.


"Uh-huh..." Jawab Ervin.


"Why?" sambungnya kembali.


"Seperti yang pernah aku ceritakan sebelumnya."


"Kami berdua tidak bisa menerima pernikahan ini." Jawab Ervin.


"Lalu artinya saat ini kau telah menerima Batari, sebagai istrimu." Ujar Delvin.


"Perlahan-lahan, semua itu butuh proses."


"Dan aku sangat berterimakasih padamu yang sedikit membuka mataku." Tutur Ervin.


"Setelah terjadinya baku hantam terlebih dahulu. Baru kau akan tersadar." Ujar Delvin, yang menaruh buku-buku Batari, ke dalam kranjang.


"I'm sorry." Ucap Ervin.


"Setelah aku melihat perlakuan Batari, yang masih peduli terhadapku."


"Dan perkataanmu yang benar adanya."


"Aku merasa bersalah terhadap Batari, dengan perlakuanku yang selama ini terhadapnya." sambungnya.


"Apa kau melakukan KDRT?" tanya Delvin, penuh selidik.


"Tentu saja tidak, aku masih waras." Jawab Ervin.


"Syukurlah. Lalu perbuatan apa, sampai kau menyesalinya?" tanya Delvin.


"Aku selalu memaksa Batari, untuk melakukan tugasnya sebagai istri. Untuk melayani nafsuku yang begitu besar." Jawab Ervin.


"Astaga, Vin."


"Batari, lagi hamil."


"Kenapa kau memperlakukannya seperti itu?" ujar Delvin.


"Karena rasa kecewaku terhadap seorang wanita hingga aku gelap mata memperlakukan Batari, seperti bitchh." Tutur Ervin.


...***...


~Kampus~


"Tar, are you oke?" bisik Ara.


"Ya." Jawab Batari, dengan tidak bersemangat.


"Apa kau sangat khawatir dengan foto yang beredar dan menjadi topik perbincangan anak-anak kampus." sambungnya lagi.


"Ayara, Batari, Keluar dari kelas Bapak." Tutur Irgi.


"B-baik, Pak." Ucap Ara. Dengan Batari, yang menghela nafasnya kasar.


Beberapa menit kemudian.


"Maaf, Tar." Beo Ara. Mengikuti langkah kaki Batari, menuju ruang kesehatan.


"Tidak apa, Ra."


"Lagian aku juga tidak fokus mengikuti kelas, pak Irgi." Ucap Batari, yang membuka pintu ruangan kesehatan yang terlihat kosong.


"Apa kau sudah mengetahui dalang di balik ini semua?" tanya Ara.


"Sure." Jawab Batari, diiringi anggukkan kepalanya.


"Siapa Tar, orangnya?" tanya Ara, yang sangat penasaran.


"Kak Disha." Jawab Batari, yang merebahkan tubuhnya.


"Kenapa dia selalu berbuat ulah." Geram Ara.


"Karena dia menginginkan kak Ervin, untuk menjadi miliknya yang seutuhnya." Ucap Batari.


"Itu kan sudah tidak mungkin." Ujar Ara.


"Lalu pilihanmu?" tanya Ara.


"Sampai saat ini aku masih dilema, belum bisa menentukan salah satu pilihan diantara keduanya." Jawab Batari.


...***...


~Rumah~


"Apa kau ada masalah?" tanya Ervin. Melihat Batari, hanya mengaduk-aduk makanannya.


"Hanya masalah kuliah." Jawab Batari, dengan alibinya.


"Aku tidak pernah melihat seseorang karena permasalahan di perkuliahannya sampai tidak nafsu makan."


"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Ervin kembali.


"Aku akan naik ke kamar terlebih dahulu." Jawab Batari. Beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya langsung.


Tap... Tap...! Drap... Drap...


"Tunggu, Batari!" Ucap Ervin, yang mendorong pintu kamarnya. Disaat Batari, menutup pintunya.


"Apa kau tidak nyaman karena harus tidur satu kamar denganku?" tanya Ervin. Dengan menatap dalam manik coklat milik, Batari.


"Haruskah aku mengatakan yang sejujurnya." Batin Batari, dengan berkaca-kaca.


"Apa kau merasa tertekan?" sambungnya kembali.


"Sure." Batinnya kembali dengan air mata yang sudah luruh.


"Aku mengerti Batari, air matamu yang menjawab semua akan pertanyaan dariku." Ujar Ervin.


"Dan aku memperbolehkanmu untuk kembali ke kamarmu." sambungnya kembali. Dengan Batari, yang tetap tidak beranjak dari kamar Ervin.


"Tunggu apa lagi." Ujar Ervin. Membuat Batari, melangkahkan kakinya dengan menatap wajah, Ervin.


Tap... Tap... Tap...


Batari, pun membalikkan tubuhnya dan berlari ke arah Ervin. Dengan memeluk tubuhnya begitu erat.


Hiks... Hiks... Hiks...


Tangisnya pun semakin pecah dipelukan, Ervin. Saat ini yang Batari, butuhkan hanyalah sandaran seseorang.


"Apa yang terjadi denganmu, Batari. Kau tidak biasanya seperti ini." Batin Ervin, yang mengelus punggung, Batari.


...***...


~Beberapa hari kemudian~


"Batari!" Panggil Ara, yang tengah berlari ke arahnya.


"Ada apa, Ra?" tanya Batari.


"Kau..." Ucap Ara, yang menggantungkan ucapannya.


"Tarik nafas dulu, Ra. Baru kau ceritakan pelan-pelan." Ujar Batari. Ara, pun mengikuti ucapannya dengan menarik dalam-dalam nafasnya.


"Hufftt! Batari, kau dipanggil ke ruang dekan." Ucap Ara. Dengan menghela nafasnya kasar.


"Baiklah." Ujar Batari, yang langsung melangkahkan kakinya.


"Kenapa semua mahasiswa melihatku seperti itu." Batin Batari, yang cepat-cepat melangkahkan kakinya.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!"


Ceklekkk...


"Duduklah, Batari!" Ujar Dekan.


"Ada apa ya, Bapak memanggil saya?" tanya Batari, ketika sudah mendudukkan bokongnya.


"Mulai hari ini, kau di drop out (DO) dari kampus ini." Ujar Dekan. Dengan to the point.


"K-kenapa, Pak. Alasanya apa, saya di drop out dari kampus?"


"Selama ini saya selalu mengerjakan tugas dengan baik dan nilai-nilaiku pun tidak begitu anjlok." Ucap Batari, dengan segala pertanyaannya.


"Kau sudah tahukan tentang foto yang tersebar beberapa hari ini dan menjadi perbincangan topik hangat di kampus." Ujarnya.


"Sure, Pak. Lalu apa hubungannya foto itu dengan saya?" tanya Batari, kembali.


"Lihatlah video ini baik-baik." Ujar Dekan kepada Batari, yang memperlihatkan sebuah video di layar laptopnya.


Batari, yang melihat video tersebut begitu syok. Dengan membekap langsung mulutnya sendiri diiringi air mata yang luruh membasahi wajahnya.


"Karena itu saya mengeluarkanmu dari kampus ini." Ujarnya kembali.


"Tapi Pak..." Cicit Batari, seraya memohon untuk memberinya kesempatan.


"Mohon maaf, Batari."


"Saya tidak bisa melakukan hal apapun lagi selain kau harus di drop out." sambungnya kembali. Dengan Batari, yang beranjak dari tempat duduknya. Dengan perasaan yang begitu hancur keluar dari ruangan Dekan.


Karena kondisi kehamilannya yang sudah tersebar sebagai alasannya di drop out.


"Sungguh tidak menyangka, ternyata foto yang selama ini telah tersebar adalah foto dirinya." Bisik-bisik para mahasiswi. Ketika Batari, melangkahkan kakinya.


...----------------...