
~Flashback On~
Ceklekk...
"Tari..." Ucap Ellona, melihat adiknya hampir tiga pekan mengurung diri di dalam kamar.
"Mba Ellona." Cicit Batari, dengan langsung menghapus air matanya.
"Sampai kapan kau akan terus berlarut dalam kesedihanmu?" tanya Ellona.
Dengan keterdiamannya yang tidak mampu menjawab pertanyaan Ellona.
"Kalian satu sama lain hanya akan saling menyakiti diri sendiri." Sambungnya kembali.
"Ma-maksud, Mba?" tanya Batari.
"Kau dan Ervin sama-sama mengurung diri di dalam kamar."
"Dan lebih parahnya, Ervin setiap harinya selalu meminum sampanye hingga tubuhnya pun begitu kurus dan tidak terawat.
Dheg!
"Apa kau tidak merasa kasihan terhadap Ervin?" sambungnya lagi, menatap Batari yang kembali terdiam.
"Dia pantas mendapatkannya." Jawab Batari, membaringkan kembali tubuhnya dengan membelakangi Ellona.
"Mba, harap kau tidak menyesalinya suatu hari nanti." Ucap Ellona. Lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Batari.
Hiks... Hiks... Hiks...
~Flashback Off~
Angguk Batari. "Sudah kuduga." Ujar Ervin, tersenyum hambar yang tengah memperban tangan Batari dengan kain kasa.
"Ini..." Ucap Batari, yang memberikan sebuah berkas kepada Ervin.
Ervin pun menatap sejenak wajah Batari, lalu menghela nafasnya kasar dan menerima berkas darinya.
"Aku akan menandatanganinya nanti." Ujar Ervin, beranjak dari tempat duduknya dan berjalan dengan sempoyongan, untuk menghapus air matanya yang tidak terbendung lagi.
Tap... Tap...! Tap... Tap...!
"Kau, boleh pergi. Lukamu sudah aku obati." Ujarnya, mengambil kembali sampanye dan berjalan menuju keluar kamarnya dengan berkas perceraiannya masih berada di genggamannya.
Tap... Tap...
"Kenapa kau sebodoh ini, hah!" Ujar Batari, dengan air matanya yang tak terbendung lagi.
Srek... Srek...! Srek... Srek...!
"Apa yang kau lakukan." Ucap Ervin.
"Sekarang berkas ini sudah tidak berguna lagi." Tutur Batari, yang mensobek-sobek menjadi beberapa bagian.
"Kedatanganku ke sini bukan untuk berpisah darimu."
"Tetapi aku ingin memberimu satu kesempatan lagi." Sambungnya. Membuat Ervin terpaku.
"Kenapa kau terdiam, hiks..." Ucap Batari, memukul kecil dada bidangnya.
Grep! Hiks... Hiks... Hiks...
"Apa kau serius dengan keputusanmu?" tanya Ervin, memeluk tubuh Batari.
"Hiks... Hiks... Tentu saja." Jawab Batari, membuat Ervin tersenyum haru.
~Keesokan Harinya~
"Rupanya sudah pagi." Batin Ervin, mengerjap-ngerjapkan kedua matanya yang terkena cahaya sinar matahari.
"Batari..." Gumamnya, yang beranjak dari tempat tidurnya.
"Batari!" Ucap Ervin, yang membuka pintu toilet. Tetapi tidak menemukan Batari di dalamnya.
"Batari, kau di mana?" ucap Ervin, yang menelusuri di setiap ruangan apartemen-nya, tetapi tidak menemukan sosok yang dicarinya.
Brukkk...
"Apa semalam aku berhalusinasi lagi." Gumamnya, dengan menundukkan kepalanya.
Ceklekkk...
"Batari..." Beo Ervin, menolehkan kepalanya ke arah pintu.
"Bos!" Ucap Delvin, yang menenteng paper bag di tanganya.
"Untuk apa kau datang lagi ke sini." Ujar Ervin.
"Ada titipan dari tante Ranti." Ucap Delvin yang menaruhnya di meja.
"Keluar, jika sudah tidak ada kepentingan lagi." Ujar Ervin.
"Aku harap kau cepat kembali ke kantor, Vin." Ucap Delvin.
"Keluar!" Ujar Ervin, menunjuk ke arah pintu.
Drap... Drap...
Ceklekkk...
"Sudah kukatakan, keluar!"
"Jangan kembali lagi ke sini." Ujar Ervin yang merasa kesal dengan Delvin yang terus mengganggunya.
"Maaf."
Dheg!
Ervin pun menolehkan wajahnya menatap punggung seseorang yang akan kembali keluar.
"Batari..." Ucapnya.
"Aku akan kembali lagi setelah kau merasa baikkan." Ujarnya.
Drap... Drap...
"Jangan pergi!" Ucapnya yang memeluk tubuh Batari dari belakang.
"Se-semalam kau..." Sambungnya dengan membalikkan tubuh Batari.
"Hah, semalam aku nyata bukan halusinasimu." Tutur Batari.
"Kenapa kau meninggalkanku pagi tadi? atau jangan-jangan dari semalam kau meninggalkanku." Ujar Ervin.
"Aku keluar untuk membuatkan sarapan untukmu." Ucap Batari, yang menarik tangan Ervin untuk duduk.
"Walaupun ini bukan hasil masakanku." Ucapnya lagi.
"Tidak masalah, Tari." Ujar Ervin, menyunggingkan senyumnya.
"Badanmu sungguh kurus bahkan penampilanmu begitu tak terawat." Ucap Batari.
"Maaf." Sambungnya dengan menundukkan kepalanya.
"Seharusnya aku yang minta maaf atas semua perlakuanku padamu selama ini."
"Bahkan tamparan keras untukku disaat aku kehilangan calon buah hati kita."
"Dan disaat kau pun memutuskan untuk bercerai dariku, rasanya duniaku hancur seketika."
"Maafkan aku, Batari." Ujar Ervin, dengan menggenggam kedua tangan Batari.
"Aku sudah memaafkanmu." Ucap Batari.
"Kenapa kau berubah pikiran?" tanya Ervin.
"A-aku..."
"Apapun alasanmu, aku akan mempergunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin." Ujar Ervin, yang mengangkat tubuh Batari dalam gendongannya.
"Kak..." Protes Batari.
"Aku sangat merindukanmu. Apa kau tidak merindukanku?" tanya Ervin yang menaruh tubuh Batari di ranjang.
"Ekhmm... K-kak." Cicit Batari dengan menelan salivanya kembali.
"Hmm..."
"Lebih baik kau mandi dulu." Beo Batari.
...***...
~Cafe~
"Aku senang melihatmu sudah membaik dan bangkit kembali dari keterpurukanmu." Ujar Ara.
"Iya Ra, aku sudah mengiklaskannya walaupun aku masih trauma akan insiden itu." Ucap Batari dengan menyunggingkan senyumnya.
"Semua akan ada balasannya dan para mahasiswi yang telah melakukan perundungan terhadapmu, mereka semua telah di keluarkan dari kampus." Ujar Ara, membuat Batari syok.
"Bagaimana bisa?" tanya Batari.
"Semuanya berkat pria yang bernama Ethan, yang mengusut kasus ini." Jawab Ara, membuat Batari terdiam.
"Pasti kau bertanya-tanya kenapa dia bisa mengusut semua ini." Ucap Ara, diangguki Batari.
"Ternyata dia adalah donatur utama dari kampus kita." Sambungnya.
"Hah?"
"Dan ada kabar baik untukmu, kau bisa kembali berkuliah, Tari." Ucap Ara, membuat Batari terdiam kembali.
"Kenapa, Tar?" tanya Ara
"Ara, Batari." Ucap Rissa.
"Rissa." Cicit Batari.
"Maafkan aku, Tari." Ucap Rissa, yang langsung memeluk tubuh Batari.
"Maafkan aku juga Ris, aku yang bersalah di sini." Ujar Batari.
"Tidak Tari, di sini aku juga egois."
"Andai saja dulu aku mendengar penjelasanmu, pasti semuanya akan baik-baik saja." Ucap Rissa, melepaskan pelukannya.
"Yang berlalu biarlah berlalu." Ujar Batari.
...***...
~Rumah~
"K-kenapa Kak Ervin membawaku ke kamar ini?" tanya Batari, yang sedang dalam gendongan Ervin.
"Apa kau lupa, bukannya kita sudah satu kamar." Jawab Ervin, membuat wajah Batari memerah.
"Maaf..." Ucap Batari yang menyembunyikan wajahnya dengan jantung yang sudah berdebar-debar.
Kriettt...
"Sekarang bolehkan aku meminta hakku?" tanya Ervin yang merebahkan tubuh Batari perlahan-lahan di atas kasur.
"J-jangan menatapku seperti itu..." Ucap Batari, memalingkan wajahnya yang sudah memerah.
"Why?" tanya Ervin.
"A-aku malu..." Jawab Batari.
"Apa aku tidak salah dengar." Ucap Ervin dengan tertawa.
"Tentu saja kau tidak salah dengar." Tutur Batari, dengan pura-pura marah.
Cup!
Ervin mencium keningnya cukup lama. Membuat Batari menyunggingkan kecil senyumnya.
"Jika kau tidak merasa nyaman, kau boleh menolakku."
"Aku tidak akan memaksamu seperti dulu untuk melayaniku." Ujar Ervin, menatap wajah Batari yang berkaca-kaca.
"Aku menginginkan kau untuk menyentuhku." Ucap Batari.
...----------------...