
Keesokan harinya, sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak keluarga, akhirnya malam ini dilaksanakan acara pertunangan Naya dan Zaky. pertunangan yang sangat sederhana, karena hanya dihadiri oleh keluarga inti saja.
Semua orang kini sudah berkumpul di ruang tamu. Kecuali Naya yang masih berada di dalam kamarnya. Sedari tadi perempuan itu masih betah di dalam kamar dengan alasan masih memoles wajahnya. Namun sampai sekarang tak kunjung selesai. akhirnya Senja memutuskan untuk menyusul Naya ke kamarnya. Dia takut terjadi sesuatu dengan anaknya.
Bertepatan dengan Senja membuka pintu, Naya juga sudah berdiri tepat di hadapan Mamanya. Sontak saja keduanya sama-sama memegang dadanya karena terkejut.
“Kamu ini ngagetin Mama saja.” gerutu Senja.
“Mama juga ngagetin Naya. Masuk kamar tidak mengetuk pintu dulu.” Balas Naya.
“Sudah, sudah, lagian kamu kenapa sih lama sekali sejak tadi. apa kamu nggak mau bertunangan dengan Zaky?” goda Senja dengan suara pura-pura kesal. Padahal dia tahu kalau alasan Naya tidak keluar kamar karena sedang gugup.
“Mama kok bilangnya gitu sih?”
Senja tak menimpali lagi ucapan Naya. Wanita paruh baya itu langsung menarik tangan Naya dan menggandengnya menuruni tangga.
Saat Naya dan Mamanya sudah sampai ruang tamu, tatapan semua orang tertuju pada sosok Naya yang saat ini terlihat sangat cantik. Meskipun gaun yang dikenakan cukup simple namun elegan, begitu juga dengan make up-nya yang minimalis.
Tapi tidak dengan Zaky yang saat ini terlihat sedang sibuk berbalas pesan dengan teman bisnisnya, hingga dia masih belum menyadari kehadiran Naya.
“Ayah, sepertinya lusa kita harus ke luar kot-“ ucapan Zaky terpotong saat melihat sosok perempuan pujaan hatinya sudah berada di ruang tamu.
Naya yang duduk di samping Papanya hanya tersenyum simpul saat melihat Zaky. sedangkan Zaky benar-benar terpesona dengan kecantikan calon tunangannya itu.
“Ehm, apa acaranya sudah bisa dimulai? Jaga pandangannya!” suara siapa lagi kalau bukan Shanum.
Perempuan itu juga sangat takjub dengan kecantikan calon iparnya. Dia merasa seperti punya kembaran, yaitu sama-sama cantik. Dan Shanum yang sejak tadi melihat sekitar, dia fokus pada pandangan kakaknya yang tertuju pada Naya. Bahkan Zaky sampai tidak berkedip melihat kecantikan Naya.
“Apaan sih kamu, Num?” kesal Zaky dengan muka memerah karena sangat malu.
Beberapa saat kemudian, mereka pun memulai acaranya. Tuan Bagas tidak perlu lagi mengucapkan kalimat panjang lebar untuk acara pertunangan itu. karena sebelumnya, pria itu sudah menyampaikan maksudnya. Terlebih dari pihak keluarga Xavier juga sudah setuju. Jadi, acara ini hanya peresmian saja.
Kini para ibu berdiri bersama anak-anak mereka, khusunya calon pengantin. Nyonya Rosma menyematkan cincin di jari manis Naya. Lalu bergantian dengan Senja menyematkan cincin di jari manis Zaky.
Acara terakhir yaitu sesi foto calon pengantin dan disusul foto keluarga bersama. Semua orang tampak lega dan bahagia, akhirnya perjalanan cinta Naya dan Zaky yang cukup rumit tinggal selangkah lagi menuju halal.
Setelah acara inti selesai, mereka menuju ruang makan. Di sana mereka juga akan melanjutkan obrolan yang lebih santai untuk membahas tanggal pernikahan.
Xavier melirik ke arah istrinya dan dijawab senyuman dengan Senja. Itu tandanya mereka berdua ikut saja dengan saran dari Tuan Bagas.
“Baiklah. Saya ikut saja dengan saran Tuan Bagas.” Jawab Xavier.
Akhirnya keputusan sudah diambil dan disepakati oleh kedua belah pihak. Dan pernikahan Naya Zaky akan dilangsungkan dua bulan lagi.
Setelah acara makan malam selesai, kedua orang tua Zaky dan Shanum memutuskan kembali ke hotel. Karena besok pagi juga mereka akan pulang.
Namun tidak dengan Zaky, dia masih ingin ngobrol santai Naya. Karena sejak kemarin dia belum mempunyai waktu berduaan dengan calon istrinya.
“Apa kamu bahagia?” tanya Zaky yang saat ini sedang bersama Naya di taman belakang rumah.
Naya hanya mengangguk sebagai jawabannya. Jujur saja dia saat ini speechless, karena masih tidak percaya kalau akan menjadi istri dari seorang pria yang selama ini dipanggil kakak. Tanpa sadar, Naya meneteskan air matanya. bukan air mata kesedihan, melainkan air mata bahagia.
“Kenapa kamu menangis, Nay?” Zaky terkejut saat mendengar isakan Naya.
“Aku menangis karena bahagia, Kak. Aku masih tidak percaya kalau sebentar lagi kita akan menikah. kamu yang sejak dulu aku anggap sebagai kakak, kini akan berubah status menjadi suamiku.” Jawab Naya sambil menghapus air matanya.
“Aku juga sangat bahagia. Ternyata rencana Tuhan itu sangat indah. Lebih dari yang kita harapkan. Aku sangat mencintaimu, Kanaya.”
“Aku juga sangat mencintaimu, Kak.”
Tangan Zaky menangkup pipi Naya. Menatapnya intens. Sedetik kemudian Zaky mendaratkan ciumannya di bibir manis Naya. Ciuman kelembutan penuh perasaan hanya untuk menyalurkan kebahagian mereka berdua malam ini.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️