My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 18



Drap... Drap... Drap...


"Wanitamu sangat menarik, tapi sangat disayangkan aku harus mengembalikannya kepadamu." Bisik Ethan, di telinga Ervin.


"Rupanya kau berhasil membuatnya terpikat olehmu." Ujar Ervin.


"Ya, aku tahu aku adalah pujaan bagi para kaum betina."


"Hanya bermodalkan good looking dan kata-kata manisku, mereka semua begitu mudah aku taklukkan." Tutur Ethan.


"Ck! Kau terlalu percaya diri sekali. Disha, itu sangat berbeda dengan wanita lain." Bisik Ervin. Dengan menepuk pundak Ethan.


"Jika kau tidak percaya, aku akan membuktikannya padamu." sambungnya kembali. Membuat Ethan, mengepalkan kedua tangannya geram.


"Aku akan melihatnya apa yang akan kau lakukan." Ujar Ethan.


"Baiklah." Tutur Ervin, seraya merapikan jas milik Ethan dengan mengulum senyum seringainya.


"Abercio." Ucap seseorang yang tengah melangkahkan kakinya.


"Kakek." Ujar Ethan, dengan senyum lebarnya, lalu memeluk tubuh kakeknya.


"Happy birthday honey." Dengan menyambut hangat pelukan dari cucu satu-satunya.


"Siapa dia, Cio?" tanya kakeknya, kepada Ethan menggunakan panggilan kesayangannya.


"Ah... Dia teman lamaku sewaktu kuliah Kek, namanya Ervin CEO dari JE Corp." Tutur Ethan, kepada Kakeknya.


"Cedric Hafuza, presdir J Group." Ujar Cedric, dengan mengulurkan tangannya.


"Kenapa namanya tidak begitu asing di telingaku." Batin Ervin.


"Griffin Ervin." Jawab Ervin.


"Baiklah, lanjutkan obrolan kalian." Tutur Cedric, dengan melangkahkan kakinya.


"Jangan melihatnya seperti itu, kau akan tertarik untuk menjadi cucunya." Ujar Ethan. Dengan Ervin, yang melirikan kembali wajah Ethan, yang ada di sampingnya.


"Tidak perlu khawatir, aku bukan dirimu yang selalu mengambil milik orang lain." Tutur Ervin, seraya menyindir.


"Ck! Kau begitu naif." Ujar Ethan.


"Kesempatan begitu banyak untuk aku bisa mengambil apa yang kau miliki, tetapi tidak ada gunanya untuk aku melakukan apa yang kau lakukan " Tutur Ervin, dengan perkataan menohoknya.


"Bodoh!" Tutur Ethan, hanya disambut senyuman oleh Ervin.


"Artian dari kata bodoh dan tidak ingin memiliki arti yang sangat berbeda, lebih baik kau pelajari arti dari kedua perkataan itu." Ujar Ervin, dengan melangkahkan kakinya.


"Cih! Lihatlah aku akan menghancurkanmu dan kau tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk bahagia di hidupmu!!" Teriak Ethan.


"Aku menantikan itu, kehancuran untukmu atau untukku." sahut Ervin, yang tetap melangkahkan kakinya dengan melambaikan tanganya. Membuat Ethan, bertambah geram.


...***...


~Kediaman, Disha~


"Apa ada yang menyinggungmu?" tanya Disha. Ketika mobil Ervin, sudah terparkir di depan rumahnya.


"Kau mudah sekali menebak pikiranku." Jawab Ervin, dengan melirik wajah, Disha.


"Karena aku sudah mengenalmu, Vin" Ucap Disha, dengan menggenggam tangan Ervin.


"Kau salah." Ujar Ervin, melepaskan tangannya dari genggaman Disha.


"Kau masih marah terhadapku, Vin?" tanya Disha. Dengan ekspresi wajah berubah karena mendapatkan penolakan dari, Ervin.


"Tidak." Jawab Ervin, yang membuka seat belt di tubuh, Disha.


"Lalu kenapa kau masih dingin terhadapku? apa artinya semua ini kau membawaku ke acara pesta ulang tahun penerus, J Group." Ucap Disha.


"Karena sifat inilah yang sesungguhnya, kau sama sekali tidak mengenalku dengan baik, Disha." Ujar Ervin, yang berhasil membuka seat belt.


"Dan semua ini tidak ada artinya Disha, bukannya kau sudah tertarik dengan penerus J Group." Ujarnya kembali.


"A-aku--" Cicit Disha, seraya berfikir.


"Turunlah!" Ujar Ervin, membuka pintu mobil.


"Vin..." Beo Disha.


"Apa lagi, Disha?" ujar Ervin.


"Kau tidak akan mampir dulu." Ucap Disha.


"Tidak." Tolak Ervin, yang menahan rasa pusingnya akibat sampanye yang ia minum.


"Kau yakin?" tanya Disha, kembali melihat ekspresi Ervin yang sudah gusar.


"Baiklah, aku akan mampir ke rumahmu sebentar." Ujar Ervin, yang langsung disambut baik oleh Disha. Dengan senyum lebarnya.


"Duduklah, aku akan mengambilkan air lemon untukmu." Ucap Disha, di kala memasuki rumah.


"Thanks." Ujar Ervin, yang menyandarkan tubuhnya di sofa dengan memejamkan kedua matanya yang terasa berat.


~Beberapa menit kemudian~


"Vin, minumlah airnya." Ucap Disha, yang sudah berada di samping Ervin. Dengan membawakan segelas air lemon yang dicampur sedikit madu.


"Apa kau butuh kamar?" tanya Disha, dengan memberi sebuah tawaran.


"Tidak perlu, sebentar lagi aku akan merasa baikkan." Tolak Ervin, yang kembali memejamkan matanya.


"Baiklah, aku akan pergi ke kamarku sebentar." Ujar Disha, yang beranjak dari tempat duduknya.


"Disha..." Beo Ervin, yang berhasil meraih lengannya. Sehingga membuat Disha, menolehkan pelan wajahnya.


"Why?" tanya Disha, yang menatap wajah Ervin. Dengan Ervin, masih memejamkan rapat kedua matanya.


"Jangan pergi." Ujar Ervin, yang kini sudah membuka kedua matanya sempurna.


"M-maksudmu?" cicit Disha.


"Duduklah, ada yang ingin aku tanyakan!" Ervin, yang sudah menepuk sofa untuk Disha duduk di sampingnya.


"Apa kau memutuskan untuk berpaling dariku?" tanya Ervin, dengan menatap dalam wajah Disha.


"Glek!" Membuat Disha, bingung.


"Jawablah aku ingin mendengar jawabanmu." Ujar Evin.


"Bukannya barusan kau bilang jika semua ini tidak ada artinya lagi, lalu kenapa aku harus memberitahumu." Ucap Disha.


"Ini penting untukku."


"Kau hanya jawab ya atau tidak." Ujar Ervin.


"Jika aku menjawab, apa yang akan aku dapatkan darimu?" ucap Disha.


"Tentu saja yang kau inginkan." Ujar Ervin.


"Dheg! Kenapa semudah itu dia berubah pikiran, apa yang dia rencanakan." Batin Disha.


"Aku tahu kau tidak sebodoh wanita di luaran sana." Ujar Ervin, yang membaca pikiran Disha.


"Jika aku menjawab tidak, apa kau akan membuka hatimu kembali untukku dan memaafkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan terhadapmu." Ucap Disha.


"Hah..." Angguk Ervin.


"Baiklah." Jawab Disha.


"Perjelas perkataanmu." Ujar Ervin.


"Baiklah aku tidak akan berpaling darimu, Ervin." Ucap Disha. Membuat Ervin, menyunggingkan senyum seringainya.


"Thanks Disha." Ujar Ervin.


"Jadi kita sepasang kekasih kembali?" tanya Disha.


"Baiklah, karena ini sudah larut malam aku memutuskan untuk pulang." Ujar Ervin, yang beranjak dari tempat duduknya.


"Kau belum menjawabnya, Vin." Protes Disha.


"Tanpa aku jawab pun, kau sudah memahaminya bukan." Ujar Ervin.


Angguk Disha. "Good night, Cup!" Ujar Ervin, kembali lalu mengecup sekilas bibir Disha. Dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah, Disha.


"Good night too honey." Gumam Disha, dengan senyum sumringahnya.


...***...


~Apartement~


"Kau di mana?" tanya Ervin, lewat panggilan telponnya.


"Aku sedang berada di alam bawah sadarku, kau siapa?" Jawab Delvin, yang belum tersadar sepenuhnya.


"Ck! Buka pintumu sekarang juga Delvin!!" Ujar Ervin, setengah berteriak membuat Delvin, tersadar dan melemparkan ponselnya.


Ting nong... Ting nong...


"Aishh, siapa yang bertamu malam-malam seperti ini." Gerutu Delvin.


Drap... Drap... Drap...


Ceklekk!


"Kau lama sekali!" Ketus Ervin, yang masuk begitu saja. Membuat Delvin, syok dengan memegangi dadanya


"Sahabat lacnut! Brakkk!" Ujar Delvin. Dengan menutup pintunya kencang dan mengekor di belakang tubuh, Ervin.


"Kenapa kau larut malam datang ke sini?" tanya Delvin.


"Kau berisik sekali." Ujar Ervin, yang menutup kedua telinganya.


"Di sini tidak menyewakan tempat, lebih baik kau pulang ke rumahmu yang super besar itu." Tutur Delvin. Membuat Ervin, membalikkan tubuhnya.


"Aku akan membayarnya oke, jadi kau stop bertanya. Aku sungguh lelah." Ujar Ervin.


"Baiklah, semoga kau nyaman tidur di sini." Ucap Delvin, dengan senyum lebarnya.


"Dasar mata duitan, brakk!" Ujar Ervin.


...----------------...