My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 52



"Terimakasih, untuk hari ini." Ucap Batari, yang tengah membuka seat belt.


"Untuk yang kesekian kalinya kau terus mengucapkan terimakasih."


"Oh... Rasanya aku mendadak menjadi malaikat di hidupmu." Ujar Ethan, menyunggingkan senyumnya.


"Ya." Angguk Batari, dengan senyum di wajah cantiknya.


...***...


"Baru pulang?" tanya Ervin, memeluk Batari dari belakang.


"Mm-hmm..." Cicit Batari, membalikkan tubuhnya dengan saling berhadapan.


"Kau pun baru pulang?" tanya balik Batari.


"Ya." Jawab Ervin, dengan mengecup sekilas bibir Batari.


"Aku rindu padamu." Ujarnya, dengan kening saling bersentuhan dan deru nafas yang sudah berat.


"Umm... Aku lelah." Ucap Batari.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu."


"Tetapi kau tidak bisa menolakku untuk membersihkan diri bersama-sama." Ujar Ervin, langsung menggendong tubuh Batari menuju toilet.


"Kak..." Protes Batari.


Ervin pun menurunkan tubuh Batari, lalu menyalakan air shower untuk membasahi tubuh Batari yang masih menggunakan pakaian lengkap.


Dan menanggalkan pakaian atas Batari, hingga tersisa kain yang menutupi bagian gunung kembarnya.


"Tubuhmu selalu membuatku ingin menyentuhmu." Dengan membelai kedua tangan Batari.


Membuat Batari, memejamkan kedua matanya karena terbuai akan sentuhan darinya.


"Umm..." Batari, yang meremas rok pendeknya, di kala sentuhan Ervin semakin liar.


"Hahh..." Deru nafasnya semakin memburu.


"Sentuh aku, please." Ucap Batari dengan deru nafas yang sudah naik turun, ketika Ervin menyudahi sentuhan di setiap inci tubuhnya.


"Oke..." Ujar Ervin, ketika mendapatkan lampu hijau dan langsung menyambar bibir ranumnya.


Membuat keduanya saling bercumbu liar dan bertukar saliva.


Hingga Batari pun menanggalkan satu persatu kancing kemeja Ervin dengan bibir yang masih saling berpagutan.


"Ahhhhh..." Suara erotis yang keluar dari mulut Batari ketika Ervin melakukan penyatuannya.


"Kita memerlukan ranjang." Ujar Ervin, membawa Batari tanpa melepaskan penyatuannya dari tubuh Batari.


"Ahhhh... Batari." Ujar Ervin, di tengah aktivitasnya.


"Batari..." Ucapnya yang semakin bergelora, ketika akan mencapai pelepasannya.


"Ahhhh... Ba-tari..." Ketika mendapatkan pelepasannya dan menjatuhkan tubuhnya di samping Batari.


"Terimakasih." Beo Ervin, dengan mengecup kening Batari.


"Seharian ini kau habis dari mana saja?" tanya Ervin, dengan mengelus rambut Batari seperti biasanya.


"Pergi ke arena permainan." Jawab Batari, memeluk tubuh Ervin.


"Dengan Ara." Ujar Ervin.


"Tidak." Geleng Batari.


"Lalu?" sambungnya kembali.


"Kak Ethan." Cicit Batari.


"What?" beo Ervin, dengan melepaskan pelukannya.


"Why?" tanya Batari, melihat respon Ervin yang tiba-tiba mendorong tubuhnya.


"Kau berselingkuh dengan Ethan." Tutur Ervin, yang beranjak dari tempat tidurnya.


"Tidak, kak Ethan hanya menghiburku semata." Ucap Batari, menatap wajah Ervin yang terlihat kesal.


"Kenapa kau tidak memintaku untuk menemanimu. Kau memiliki suami, Batari." Ujar Ervin, dengan wajah yang sudah memerah.


"Bagaimana aku bisa memintamu yang tengah asik berduaan dengan calon maduku." Ucap Batari, yang beranjak dari tempat tidurnya dengan wajah Ervin yang terlihat kaget.


"K-kau melihatnya?" tanya Ervin.


"Ya, bahkan aku membawakan lunch box untukmu mencoba masakan pertamaku." Jawab Batari, dengan air matanya yang sudah luruh.


"Tetapi kau tengah asik berduaan, sehingga aku tidak mampu untuk mengganggumu dan menaruh lunch box di mejanya kak Delvin." Sambungnya lagi, dengan air mata yang semakin deras. Dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


"Shitt!" Umpat Ervin.


"Batari... Kau mau ke mana?" ujar Ervin, yang mengekor di belakangnya.


Tap... Tap...! Drap... Drap...! Grep!


"Don't touch me!" Ucap Batari, menghentakkan lengannya dan berjalan cepat menuruni anak tangga.


"Batari!" Ujar Ervin, yang kembali menyusul langkah Batari yang menuju pintu utama.


"Jangan mengikutiku." Ucap Batari, dengan air mata yang terus berlinang.


"Kembali, Batari." Ujar Ervin, yang tetap mengekor di belakangnya.


"Batari!" Ujar Ervin, mengetuk-ngetuk pintu taksi hingga berlari mengejarnya.


"Shitt!" Umpat Ervin.


...***...


"Batari..." Beo Ara, ketika melihat Batari yang datang ke rumahnya larut malam.


"Ra... Hiks..." Cicit Batari, langsung memeluk Ara dan menumpahkan tangisannya.


"Ada apa, Tari? dan kenapa penampilanmu seperti ini?" tanya Ara, yang melihat Batari hanya melilitkan selimut di tubuhnya.


Hiks... Hiks... Hiks...


"Ayo masuk, Tari." Ujar Ara, membawa Batari masuk.


"Coba ceritakan apa yang terjadi pada dirimu." Ucap Ara, yang melihat Batari hanya terus menangis.


"Apa kau telah di perkosa?" sambungnya kembali.


"T-tidak." Cicit Batari, dengan menggelengkan kepalanya.


"Apa kau melarikan diri setelah bercinta dengan, kak Ervin?" tanyanya kembali yang langsung di angguki oleh Batari.


"Oh my god." Ucap Ara.


"What happened?" tanya Ara kembali.


"Saat ini aku ingin istirahat, Ra." Ucap Batari.


"Baiklah, ayo ke kamarku." Tutur Ara, memapah tubuh Batari.


...***...


~Kantor~


"Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa Batari datang ke kantor." Ujar Ervin.


"Maaf, Bos. Kemarin aku berusaha memberitahumu tetapi karena keadaan meeting sehingga aku melupakan hal itu." Ucap Delvin.


"Seharusnya kau memberitahuku untuk kedatangannya." Ujarnya lagi.


"Maaf, Bos. Kedatangan Batari begitu mendadak, sehingga untuk menahannya pun rasanya tak mungkin ketika melihat raut bahagianya yang begitu terpancar." Ucap Delvin.


"Apa terjadi sesuatu antara kau dan Batari?" tanya Delvin.


"Sure, semalam kami bertengkar dan Batari melarikan diri dari rumah."


"Sehingga aku tidak tahu keberadaannya sekarang." Ujar Ervin, dengan mengetuk-ngetukkan bolpoin di atas mejanya.


"Umm... Mungkin aku juga jika menjadi Batari, akan merasa sakit ketika melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain." Tutur Delvin.


"Disha, calon istriku dan Batari mengetahui itu." Ujar Ervin, menatap wajah Delvin.


"What?" syok Delvin.


"K-kau akan berpoligami. Why?" sambungnya kembali, menuntut penjelasan dari Ervin.


"Disha, hamil." Jawab Ervin.


"Astaga, Vin. Kenapa kau selalu menghamili wanita?" tanya Delvin, begitu syok.


"Insiden yang terulang kembali disaat aku mabuk." Tuturnya.


"Kau begitu buruk disaat mabuk, sehingga menanamkan benih-benihmu tanpa sadar." Ujar Delvin.


"Dan aku sangat menyesalinya." Ujarnya dengan bersungguh-sungguh.


"Hmm... Masalah yang begitu rumit." Ucap Delvin, menghela nafasnya dalam-dalam.


"Ya, aku merasa tuhan tidak merestui pernikahanku dengan Batari untuk semakin membaik." Keluhnya.


"Umm... Apa kau sudah mencari keberadaan Batari kepada teman-temannya?" tanya Delvin.


"Sure, mereka mengatakan hal yang sama setelah aku meneleponnya satu persatu." Jawab Ervin.


Di sisi lain.


"What?" syok Ara, mendengar penuturan Batari yang menjelaskan secara singkat.


"Hiks... Hiks... Dalam kemanusiawian aku merasa iba terhadapnya." Ucap Batari, yang kembali terisak dengan tisu yang berserakan di lantai.


"Kenapa kau begitu baik, Tari. Pada akhirnya hatimu yang terluka."


"Apa itu hanya jalan satu-satunya?" tanya Ara.


"Ya, karena tidak ada pilihan." Jawab Batari.


"Lebih baik kau pikirkan kembali..." Tutur Ara.


Dret... Dret... Dret...


"Iya, Mba..." Jawab Batari.


(....)


Batari pun menjatuhkan ponselnya dengan air mata yang kembali luruh.


"Why, Tari?" tanya Ara, melihat Batari yang kembali menangis.


...----------------...