
~Cafe~
Drap... Drap... Drap...
"Duduklah." Ujar Disha, kepada Ethan.
"Ada apa honey, kau memintaku untuk menemuimu?"
"Di tempat yang cukup terbuka seperti ini." Tutur Ethan, melihat ke sekelilingnya begitu ramai pengunjung.
"Kau merasa tidak nyaman." Bisik Disha. Melihat Ethan, yang enggan menurunkan kaca matanya.
"Jika kau sudah tahu, kenapa tetap bertanya." Ujar Ethan.
"Baiklah." Ucap Disha, yang beranjak dari tempat duduknya.
"Duduklah kembali!" Tutur Ethan. Dengan Disha, yang tersenyum puas melihat Ethan mengalah.
"Thanks, Tuan Ethan." Ucap Disha, dengan senyum lebarnya.
"Katakan." Ujar Ethan.
"Aku tidak akan mengatakan apapun jika pengawalmu masih di sini." Ucap Disha, yang menyeruput cappuccinonya.
"Pergilah keluar!" Ujar Ethan, menggusir para pengawalnya.
"Sekarang katakan." sambungnya kembali.
"Calm down, Tuan Ethan." Ucap Disha, dengan menaruh kembali cappuccinonya di meja.
"Apa penawaranmu masih berlaku?" tanya Disha.
"Sure." Jawab Ethan, dengan anggukkan kepalanya.
"Aku ingin mengambilnya." Ucap Disha.
"Kenapa kau mendadak berubah pikiran, honey? Apa kau dicampakan kembali oleh bajingan itu!" Ujar Ethan, dengan mengulum seringai.
...***...
~Kediaman, Ranti dan David~
"Mah... Mama!!!" Teriak Batari.
"Ya Tari, kenapa kau berteriak-teriak." Ucap Ranti, yang keluar dari arah dapur.
"Ada yang ingin Tari, tanyakan kepada Mama..." Ujar Batari, yang sudah duduk di meja makan.
"Katakan! Kau ingin bertanya apa sama Mama, huh?" ujar Ranti, yang menarik kursi.
"Mama, harus jawab jujur." Tutur Batari, menatap serius wajah Ranti.
"Selama ini Mama, selalu jujur apapun yang kau tanyakan sayang." Ujar Ranti.
"Kali ini Mama, harus benar-benar jujur kepada, Tari."
"Tari, tidak menerima berbagai alibi dari Mama." Ucap Batari.
"Ya, katakan dulu apa pertanyaanmu."
"Bagaimana bisa Mama, menjawabnya dengan jujur ataupun beralibi." Ujar Ranti.
"Mah sebenarnya aku dan kak Ervin, memiliki ikatan darah yang sama tidak?" tanya Batari. Dengan menatap dalam kedua mata Ranti, yang terlihat syok.
"Ke-kenapa kau bertanya soal itu..." Ujar Ranti, dengan gugupnya.
"Ya atau tidak, Mah." Ucap Batari.
"Ya." Jawab Ranti, menganggukkan kepalanya.
"Hah!" Syok Batari, yang langsung membekap mulutnya sendiri dengan geleng-geleng kepala.
"Kau dan Ervin, tidak memiliki ikatan darah sama sekali, Batari." Ujar Ranti.
"Ini mimpi kan, Mah?"
"Semuanya bohongkan, Mah..." Tutur Batari, yang beranjak dari tempat duduknya dengan melangkahkan kakinya gontai.
"Ini adalah kenyataannya, Batari."
"Kenapa reaksimu seperti ini?" tanya Ranti. Melihat Batari, begitu terkejut.
"Tolong Mah, katakan jika yang aku dengar hanyalah mimpi semata." Cicit Batari. Dengan mata yang berkaca-kaca ketika membalikan tubuhnya menghadap ke arah, Ranti.
"Tidak Tari, ini adalah kenyataannya." Ujar Ranti, yang melangkahkan kakinya.
"Hiks... Hiks... Mah..." Cicit Batari, yang langsung memeluk tubuh, Ranti.
"Inilah kenapa alasan papa dan Mama menyuruh kalian untuk menikah." Ucap Ranti.
"Kenapa kalian merahasiakan soal ini kepada Tari, hiks..." Lirih Batari, dengan air matanya yang semakin luruh membasahi wajahnya.
"Maafkan kami Tari, kami hanya menunggu waktu untuk memberitahu semuanya kepadamu." Ujar Ranti. Dengan mengelus lembut punggung, Batari.
"Menunggu untuk aku mengetahuinya terlebih dahulu iya, Mah." Ucap Batari, seraya melepaskan pelukannya.
"Ya, sayang." Ranti, dengan anggukkan kepalanya.
"Apa kak Ervin mengetahuinya?" tanya Batari. Dengan air mata yang terus berlinang.
"Ya... Oleh karena itu dia menyetujui untuk menikahimu." Jawab Ranti.
"Hah! Jadi dia juga sudah mengetahuinya." Tutur Batari, dengan senyum sumbangnya.
"Kau mengetahui semua ini dari mana?" tanya Ranti.
"Pantas saja kak Ervin selalu ingin menyentuhku."
"Padahal kami telah membuat kesepakatan untuk tidak bersentuhan fisik secara berlebihan, tetapi dia seenaknya menghapus kesepakatan itu agar bisa menyentuhku semaunya." Jawab Batari.
"Karena Ervin, berhak atas dirimu sayang." Ujar Ranti.
"Tapi aku melihatnya bukan sebagai seorang pria, Mah." Beo Batari.
"Tetapi Ervin, melihatmu sebagai wanita, Batari." Tutur Ranti. Dengan Batari, yang menatap wajah Ranti.
"Tidak mungkin, Mah." Ucap Batari, menggelengkan kepalanya.
"Kak Ervin, sudah memiliki kekasih yaitu kak Disha."
"Bagaimana mungkin kak Ervin, melihatku sebagai seorang wanita." sambungnya kembali.
"Ervin, telah berjanji untuk meninggalkan Disha, Batari percayalah." Tutur Ranti.
"Ada apa ini Mah, Batari?" tanya Ellona yang baru memasuki rumah.
"Ajaklah Adikmu berbicara, El." Ujar Ranti, yang meninggalkan mereka berdua.
"Why, Tari?" tanya Ellona. Melihat Batari, terus mengeluarkan air mata.
"Aku telah mengetahui semuanya tentang aku dan kak Ervin, yang tidak memiliki ikatan darah." Tutur Batari.
"Lalu mama bilang jika kak Ervin, melihatku sebagai seorang wanita." sambungnya.
"Apa yang kau rasakan selama ini, selama kalian telah hidup satu atap?" tanya Ellona. Membuat Batari, terdiam sejenak.
"Hal sederhananya apa Ervin, pernah menyentuhmu dalam ciuman misalnya." sambungnya kembali.
Dheg!
"Kau tidak perlu menjawabnya, Tari."
"Mba, bisa melihat dari tatapan wajahmu." Ujar Ellona.
"Jika dia melakukan hal seperti itu jelas dia melihatmu sebagai seorang wanita bukan sebagai seorang Adik." sambungnya, seraya mendudukkan bokongnya di sofa.
Dengan Batari, yang terus terdiam.
"Sekarang pertanyaannya, bagaimana kau melihat, Ervin?" Ujar Ellona.
"Aku melihatnya bukan seperti seorang pria, melainkan seorang kakak." Jawab Batari, yang mendudukkan bokongnya di samping, Ellona.
"Tanyalah kepada perasaanmu, apa yang kau alami saat ini."
"Jangan terlalu mengambil keputusan begitu cepat, jika kau belum menemukan jawabannya." Tutur Ellona.
~Flashback On~
"Jika dia bukan kakak kandungku, apakah aku harus tetap menjalankan rumah tangga ini, Ra." Jawab Batari.
"Tentu saja, Batari." Ujar Ara.
"Tetapi aku tidak mencintainya." Ucap Batari.
"Belum..."
"Saat ini kau belum mencintainya, dengan seiringnya waktu cinta itu akan hadir dengan sendirinya." Tutur Ara.
"Itu tidak akan pernah terjadi, Ra." Ucap Batari.
"Karena kau masih melihatnya sebagai seorang kakak." Ujar Ara. Dengan di angguki langsung oleh Batari.
"Belajarlah Batari, melihatnya sebagai seorang pria."
"Jika kak Ervin, ternyata hanyalah kakak angkatmu." sambungnya kembali.
~Flashback Off~
"Kenapa kau malah terus melamun?" tanya Ellona.
"Aku hanya sedang berpikir, Mba." Jawab Batari.
"Mba, penasaran bagaimana kau mengetahui ini semua."
"Apa kau merasa curiga dalam tingkah, Ervin?" tanya Ellona.
"Ara, Mba yang mencocok logikan ini semua." Jawab Batari.
"Temanmu hebat, ada untungnya kau berteman dengannya." Tutur Ellona.
"Tentu saja. Jika Ara, sama bodohnya dengan aku bagaimana aku bisa mengetahui ini semua." Ujar Batari.
"Oh ya Mba, aku ingin mengembalikan ini kepada, Mba Ellona." Ujarnya kembali. Memberi Ellona, sebuah paperbag.
"Why?" tanya Ellona, dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Ini membuatku takut." Batin Batari.
"Aku merasa tidak nyaman menggunakan pakaian seperti itu, Mba..." Cicit Batari.
"Tidak nyaman atau kau takut diterkam oleh, Ervin." Tutur Ellona. Dengan Batari, yang menelan salivanya kasar.
"Tap..." Cicit Batari.
"Simpanlah Tari, suatu saat kau akan membutuhkannya." sambungnya kembali.
...----------------...