
"Batari..." Ucap Ervin. Dengan menggenggam tangan, Batari.
"Jika kau ingin menangis, ekspresikanlah seperti biasanya jangan bungkam seperti ini." Tutur Ervin, kembali. Dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
"Aku merasa lebih sakit jika kau terus seperti ini tanpa ekspresi apapun."
"Bicaralah, Batari." sambungnya lagi, dengan menundukkan wajahnya.
"Ayo kita bercerai." Cicit Batari, masih dengan ekspresi yang sama.
"Apa yang kau bicarakan, Batari."
"Jangan omong kosong disaat seperti ini." Ujar Ervin. Mendongakkan wajahnya menatap wajah, Batari.
"Aku mau kita bercerai." Ulangnya lagi yang kini menatap, wajah Ervin.
"Tidak."
"Aku tidak akan mengabulkan itu." Ujar Ervin, diiringi gelengan kepalanya.
"Sudah tidak ada yang dipertahankan lagi." Ucap Batari, kembali menatap lurus dengan tatapan kosong.
"Ada!" Ujar Ervin. Membuat Batari, menolehkan wajahnya.
"Pernikahan kita." Ujarnya kembali. Dengan menggenggam kedua tangan, Batari.
"Aku tidak ingin berada dalam ikatan pernikahan yang selalu membuatku tersiksa." Ucap Batari. Melepaskan genggaman Ervin, dari kedua tangannya.
"Aku janji akan memperlakukanmu lebih baik lagi."
"Asal kau tetap berada di sampingku, Tari." Ujar Ervin seraya memohon.
"Keputusanku sudah bulat." Ucap Batari.
"Dulu aku mempertahankan pernikahan ini karena bayi yang ada di dalam rahimku." sambungnya kembali. Dengan air mata yang perlahan-lahan menetes di wajahnya.
"Maafkan aku." Beo Ervin, dengan terus menggelengkan kepalanya.
"Setelah bayi-ku tiada, hidupku terasa benar-benar hancur." sambung Batari, diiringi isak tangis yang terus berlinang.
"Kita masih bisa memiliki bayi yang lainnya lagi, Tari." Ucap Ervin.
"Tidak semudah itu, hiks..."
"Kau tidak mengerti betapa hancurnya hatiku akan kehilangannya." Lirih Batari.
"Aku tahu, hatiku pun sama hancurnya sepertimu."
"Mau bagaimana lagi ini sudah garis Tuhan."
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa." Ujar Ervin. Dengan memeluk tubuh, Batari.
"Ini bukan takdir!" Ucap Batari. Dengan mendorong tubuh Ervin.
"Tari..." Beo Ervin.
"Ayo kita bercerai." Ucap Batari.
"Aku tidak akan menceraikanmu."
"Kau seperti ini karena syok atas kehilangan bayi kita." Ujar Ervin.
"Aku sudah tidak ingin bersamamu, ku-mohon hiks..." Ucap Batari.
"Tidak." Ujar Ervin. Dengan mengepalkan kedua tangannya. Lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Batari, seorang diri.
Brakkkk!
"Apa yang terjadi, Vin?"
"Kenapa kau meninggalkan Batari, yang tengah menangis?" tanya Ranti.
"Maafkan aku Mah."
"kuserahkan Batari, kepada Mama dan Papa."
"Saat ini aku ingin menenangkan diriku sendiri, Mah, Pah." Jawab Ervin, yang melangkahkan kakinya kembali.
"Pah..." Ucap Ranti.
"Mama, juga lebih baik tenangkan diri Mama."
"Jika Mama masuk keruangan Batari, Mama akan sama-sama sakit melihat apa yang tengah menimpa di hidup, Batari." Ujar David. Dengan memeluk Ranti, yang kembali menangis.
"Biar, Ara saja Om yang akan menenangkan Batari." Cicit Ara seraya meminta izin.
"Silahkan." Ujar David.
Tap... Tap... Ceklekkkk...
Hiks... Hiks...! Hiks... Hiks...!
"Tari..." Cicit Ara, yang sudah berada di sampingnya yang terus menangis dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Ra..." Beo Batari. Langsung memeluk, Ara.
"Maafkan aku, Tari."
"Karena tidak bisa menyelamatkan bayimu." Ujar Ara, mengelus punggung Batari.
"Hiks... A-aku kalah, Ra..." Cicit Batari. Dengan tangisnya yang semakin pecah dipelukan, Ara.
"No Tari, ini memang takdir untuk bayimu." Jawab Ara.
"Why?" tanya Ara, menatap kedua manik coklatnya yang terus mengeluarkan air mata.
"Karena kak Ervin, aku kehilangan bayiku."
"Seandainya aku mendengar perkataan kak Disha, mungkin bayiku masih ada di rahimku saat ini." Jawabnya.
"Kau seharusnya tidak seperti ini kepadanya."
"Karena kak Ervin, juga sama-sama begitu kehilangan atas calon bayinya yang keguguran." Ujar Ara.
"Aku melihat kak Ervin, begitu hancur disaat kau berada diruang operasi."
"Dia begitu peduli kepadamu Tari, dan begitu menyayangi bayi kalian."
"Aku bisa melihat dari gestur tubuhnya yang selalu gusar dan raut wajahnya yang begitu panik." sambungnya kembali.
"A-aku..." Cicit Batari.
"Jika kau menyerah, kau memberi ruang kepada dirinya untuk mendapatkan kak Ervin, kembali."
"Apa kau rela melepas kak Ervin, demi perempuan seperti Disha?" tanya Ara. Membuat Batari, terdiam dengan pikirannya yang berkecambuk.
"Aku tahu kau sudah memiliki perasaan terhadapnya." Ujar Ara, kembali.
"Aku tidak mencintai, kak Ervin." Ucapnya. Dengan menatap wajah, Ara berkaca-kaca.
"Bohong." Ujar Ara.
"Aku tidak ingin mencintai laki-laki yang hanya menginginkan tubuhku semata."
"Bahkan memperlakukan seperti wanita tunasusila." Ujar Batari, meluruhkan air matanya.
"Dia tidak pernah memperlakukanku sebagai seorang istri! Dia hanya--" sambungnya kembali, yang tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya.
...***...
~Club~
Aaaaaaargh...!
"Kenapa harus seperti ini tuhan!"
"Kenapa kau mengambil anakku?"
"Kenapa kau tidak mengambil nyawaku saja!!!" Teriaknya.
"Kenapa?" monolognya dengan air mata yang sudah berlinang.
Ervin, yang benar-benar hancur menuangkan kembali sampanyenya dan meminumnya hingga tandas.
Karena dengan itu dirinya merasa lebih tenang walaupun untuk sesaat.
"Maafkan aku, Batari." Gumamnya.
"Vin..." Cicit Disha.
"Batari." Ucap Ervin. Menyunggingkan senyumnya dan meraba wajah Disha, yang ia kira adalah Batari.
"Aku Disha, bukan Batari." Ujar Disha. Melepaskan tangan Ervin, dari wajahnya.
"Kau Batari." Ujar Ervin, begitu sumringah melihat Batari-nya berada didekatnya.
"Kau sudah mabuk, vin."
"Aku Disha, bukan Batari si perempuan jalangg itu." Ucapnya. Dengan memegang wajah, Ervin.
"Batari, maafkan aku."
"Aku tidak mau bercerai." Ujar Ervin. Menggenggam kedua tangan, Disha.
"Kenapa dia hancur seperti ini." Batin Disha. Di kala melihat Ervin, yang begitu hancur di kedua bola matanya.
"Asal kau tahu Batari, aku itu bukan kakak kandungmu." Ujarnya membuat Disha, menganga syok.
"Apa! Ternyata Ervin, bukan kakak kandung Batari." Batinnya. Dengan menggelengkan kepalanya tidak percaya atas penuturan Ervin, yang tengah mabuk.
"Maksudmu, Vin?" tanya Disha. Untuk memastikan penuturan, Ervin.
"Iya Tari, selama ini aku bukan kakak kandungmu. Papa David dan mama Ranti, yang sudah menjelaskan tentang asal usulku." Jawab Ervin.
"J-jadi kau benar-benar bukan anak kandung dari, om David dan tante Ranti." Tutur Disha. Diangguki Ervin, dengan menampilkan senyum di wajahnya.
"Aku bukan kakakmu Tari, kau pikirkan kembali untuk perceraian itu."
"Kita bisa memulainya dari awal dan memiliki bayi kembali, asalkan kau tetap menjadi istriku." Ujarnya. Menatap dalam wajah Disha, dan menggenggam tangannya.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan mereka untuk kembali bersama. Ini adalah tujuanku dan aku menginginkan sebuah hasil. Maafkan aku, Vin." Batinnya.
"Ayo! Aku papah kau untuk menuju kamar di club ini." Ucap Disha, yang menggandeng tangan Ervin, di lehernya tanpa adanya penolakkan dari, Ervin.
"Ya, aku menurutimu asalkan kau tetap berada di sampingku." Gumam Ervin.
Ceklekkk...
Disha, membawa Ervin menuju ranjang untuk membaringkan tubuh Ervin yang sudah mabuk berat.
"Maafkan aku, Vin. Tuhan sedang berpihak kepadaku aku harus melakukan kesempatan ini dengan baik." Ujar Disha, yang membuka satu persatu kancing kemeja Ervin.
...----------------...