My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 19



"Baru pulang, Kak?" tanya Batari, ketika berpapasan di anak tangga.


"Hmm..." Beo Ervin, yang melanjutkan kembali langkah kakinya.


"Dia mengabaikanku." Batin Batari, dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Tap... Tap... Tap..." Batari, berjalan gontai menuju dapur.


Hingga lima belas menit kemudian. Ervin, turun kembali dan menghampiri Batari, yang tengah terduduk lesu di meja mekan.


"Kenapa belum sarapan?" tanya Ervin, yang berjalan menuju kulkas.


"Hmm..." Jawab Batari, malas dengan menopang dagu di atas meja menggunakan kedua tangannya.


"Sial! Tidak ada bahan makanan." Batin Ervin, yang melihat isi kulkasnya kosong hanya ada air mineral.


"Hmm... Karena tidak ada bahan makanan, aku akan mencarikan bubur untukmu." Ujar Ervin, dengan menarik longgar dasinya.


"Tidak perlu, aku akan sarapan di kampus saja." Tutur Batari, yang mengambil tasnya lalu melangkahkan kakinya.


"Kenapa sikapmu selalu berubah-ubah?" ujar Ervin, yang mengekor di belakang Batari.


"Aku bisa menahannya, kau tidak perlu khawatir." Ucap Batari.


"Yang aku khwatirkan bukan dirimu, tetapi bayi yang ada di dalam kandunganmu." Ujar Ervin.


Dheg!!


Batari, yang langsung terhenti langkah kakinya.


"Setidaknya kau peduli dengan bayi yang ada di perutmu."


"Apa susahnya kau menuruti perkataanku untuk menunggu sebentar!" Sambungnya kembali.


"Aku sudah terlambat." Ucap Batari. Mengabaikan perkataan Ervin, dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan melangkahkan kembali langkah kakinya.


"Batari!" Kesal Ervin, yang melangkahkan kakinya cepat untuk meraih tangan, Batari.


Grep!!


"Ikut aku!" Ujar Ervin, menarik kasar pergelangan tangan Batari, untuk masuk ke dalam mobilnya.


Brakkkkk!


...***...


~Kampus~


"Aku akan menjemputmu kembali, hubungi aku jika kau akan pulang." Ujar Ervin.


"Aku tidak yakin kau memiliki waktu." Ucap Batari, yang melepas seat belt.


"Akan aku usahakan untuk menjemputmu." Tutur Ervin, menatap wajah Batari. Dengan Batari, yang memalingkan wajahnya dari tatapan Ervin.


"Baiklah, jika telat lebih dari sepuluh menit aku akan pulang lebih dahulu." Ucap Batari, yang membuka pintu mobil.


Ceklekk...


"Batari!" Panggil Ervin, kembali.


"Kenapa lagi?" ucap Batari, dengan menolehkan kembali wajahnya malas.


"Buburmu." Ujar Ervin, dengan mengulurkan tangannya.


"Thanks." Ucap Batari, yang mengambil buburnya. Dengan Ervin, yang sudah melajukan mobilnya kembali.


Drettt... Notif whatsapp.


Mama : Sayang kau jangan sampai lupa untuk cek kandunganmu hari ini, mama sudah membuat janji dengan dr. Rita, siang nanti. Oh ya, satu hal lagi mama tidak bisa mengantarmu. Mintalah antar pada, Ervin.


Batari, yang membaca pesan singat dari Ranti, hanya bisa menghela nafasnya kasar.


Dor!


"Astaga!" Kaget Batari, hingga menjatuhkan ponselnya.


"Maaf, Tari." Ucap Ara, yang akan menggambil ponsel, Batari.


"Tunggu, Ara!!!" Teriak Batari, yang cepat-cepat mengambil ponselnya. Bisa gawat jika Ara, membaca pesan dari mamanya.


"Kau ini membuatku kaget saja." Ucap Ara.


"Untung ponselnya tidak kenapa-kenapa." Cicit Batari, dengan melebarkan senyumnya.


"Kau ini aneh sekali! Tidak biasanya kau mempedulikan ponselmu." Ujar Ara.


"K-kali ini, ponsel ini begitu penting." cicitnya kembali dengan senyum lebarnya.


...***...


~Poli Kandungan~


"Kenapa, Dok?" tanya Batari. Menatap dr. Rita, yang tetap bungkam dari hasil priksanya.


"Saya tidak bisa memberitahu hal ini kepadamu, sebaiknya kau telepon suamimu untuk segera datang ke rumah sakit." Jawab dr. Rita.


Dheg!!


"A-ada a-apa dengan k-kondisi b-bayi s-saya?" ucap Batari, yang terbata-bata dengan kebungkaman dr. Rita.


"S-saya m-mohon Dok, beritahu kepada saya?"


"Hufft! Baiklah dengan berat hati saya menyampaikan ini kepada anda." Tutur dr. Rita, membuat jantung Batari berdegub kencang.


"Kondisi janin anda saat ini begitu lemah, apa lagi usia kehamilan di trimester pertama sangat rawan akan keguguran." Sambung dr. Rita. Membuat Batari, tidak sanggup untuk menahan air matanya.


"A-apa masih bisa t-terselamatkan, Dok?" tanya Batari, dengan air mata yang berlinang di wajahnya.


"Sure, anda harus bedrest selama kandungan anda belum kuat."


"Terutama anda jangan terlalu banyak beban pikiran yang akan mempengaruhi kondisi janin anda." Ujar dr. Rita.


"B-bedrest..." Cicit Batari.


"Ya, dan saya akan meresepkan obat penguat kandungannya." Sambungnya kembali.


"Saya harap anda segera memberitahu suami dan keluarga anda secepatnya."


"Jika terjadi keluhan terhadap anda, suami dan keluarga anda akan lebih sigap untuk membawa anda ke rumah sakit untuk penanganan lebih awal." Sambungnya lagi dengan menulis resep obat.


"D-dok" Cicit Batari, dengan menyeka air matanya yang tetap berlinang.


"Ya, kenapa Bu" Ucap dr. Rita.


"B-bisakah anda merahasiakan tentang kondisi bayi saya saat ini kepada mama saya." Ujar Batari.


"Why?" tanya dr. Rita.


"B-biar saya yang akan memberitahunya sendiri." Jawab Batari.


"Anda yakin akan memberitahunya dan tidak menutup-nutupinya." Ujar dr. Rita.


"S-sure." Angguk Batari.


"Baiklah, saya harap anda secepatnya memberitahu tentang kondisi bayi anda kepada mereka." Ujar dr. Rita, yang memberi resep obatnya untuk ditebus di apotek.


"T-terimakasih, Dok." Ucap Batari, lalu keluar dari ruang poli kandungan dengan air mata yang tidak mau berhenti.


Ceklekk...


Brakk!


"Maafkan aku yang tidak bisa memperhatikan kondisimu." Batin Batari, dengan mengelus lembut perutnya.


"Tari!" Panggil Ara.


Dheg!!


Cepat-cepat Batari, menghapus air matanya.


"A-ara..." Cicit Batari, dengan menyunggingkan senyumnya.


"Kenapa kau keluar dari poli kandungan?" tanya Ara.


"A-aku mengambil resep obat untuk, mba Ellona." Alibi Batari, dengan masih menyunggingkan senyumnya.


"Tidak ada yang sedang kau sembunyikan dariku kan, Batari." Ujar Ara. Membuat Batari, memelototkan kedua bola matanya.


"S-sure, a-aku t-tidak berbohong kepadamu." Jawab Batari.


"Kau tidak pandai untuk berdalih di depanku, Batari."


Dheg!!


Batari, semakin memelototkan matanya lebar.


"Karena sorot matamu tidak bisa berbohong, Tari." Tuturnya kembali.


"Apa kau tengah hamil?" tanya Ara, yang menatap dalam kedua bola mata, Batari.


"Ny. Evano" Tutur petugas farmasi rumah sakit.


"A-aku kesana sebentar." Ucap Batari.


Grep!


"Aku harap kau menjelaskannya padaku, Batari." Ujar Ara, yang menarik pergelangan tangan, Batari.


"Bagaimana aku menjelaskannya Ra, kisahku begitu rumit hingga aku tidak tahu harus menceritakan dari mana takdirku yang tidak pernah terprediksi olehku sendiri." Batin Batari, dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


"Tunggulah sebentar, aku akan menjelaskannya setelah aku mengambil obatku." Ucap Batari. Dengan melepas tangan Ara, dari pergelangan tangannya.


Tap... Tap... Tap...


"Hiks! Kenapa secepat ini orang disekitarku mengetahuinya? bagaimana aku bisa menjelaskannya tuhan, aku sungguh bingung." Batinnya, dengan air mata yang membasahi kembali wajahnya di setiap langkah kakinya.


~15 menit kemudian~


"Ikut aku, Ra." Tutur Batari. setelah selesai menebus obatnya.


"Baik." Ujar Ara, yang mengikuti langkah kaki Batari, menuju taman belakang rumah sakit.


"Duduk, Ra!" Ucap Batari, yang menepuk samping tempat duduknya.


"Jadi apakah kau benar-benar hamil?" tanya Ara, ketika sudah duduk di samping Batari.


"Apa!! Aku tidak salah dengar jika Batari, tengah hamil." Batin seseorang.


...----------------...