My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 36



"Aku begitu gemas terhadap kak Ervin, kenapa tidak bilang saja jika kau itu adalah istrinya."


"Jika dirinya tidak menyukai pria yang bernama Ethan, itu mendekatimu."


"Cemburu, kok setengah-setengah." Gerutu Ara. Melihat Ervin, pergi begitu saja.


"Aku juga tidak mengerti Ra, beberapa hari yang lalu dia mulai mengakuiku sebagai istrinya tetapi di sisi lainnya dia seolah-olah tidak mau mengakui hubungan ini." Batin Batari.


"Sangat mustahil dia cemburu, Ra." Cicit Batari.


"Sangat mustahil bagaimana?"


"Aku bisa melihat kemarahan, kak Ervin. Di kala pria yang bernama Ethan, mengajakmu untuk berdansa."


"Jika bukan cemburu, apa namanya?" tanya Ara.


"Dia hanya takut mainannya berpaling darinya." Tutur Batari. Melirik wajah, Ara.


"Astagfirullah! Nyebut Tar, kau itu istrinya bukan seorang Bitchh." Ucap Ara.


"Dia itu tidak pernah menganggap aku sebagai seorang istri, Ra..."


"Melainkan sebagai alat untuk pemuas nafsunya."


"Jadi bisa dibilang aku sama saja seperti wanita tunasusila."


"Setelah dinikmati ditinggal begitu saja." Ujar Batari. Dengan tatapan syok di wajah, Ara.


Di sisi lain.


"Kenapa kau tidak bisa menahan sikapmu, Vin."


"Tindakkanmu itu sangat childes. Sebagai seorang CEO." Tutur Delvin, yang kini tengah berada di rooftop.


"Aku tidak suka melihat Ethan, yang berusaha mendekati Batari." Ujar Ervin, dengan amarah yang masih menguasai dirinya.


"Apa kau mencintai, Batari?" tanya Delvin.


"Aku tidak mencintainya." Ujar Ervin. Menatap sorot mata Delvin, dengan tatapan tajam.


"Belum, tetapi masih proses." Ucap Delvin.


"Shitt!" Ujar Ervin. Menarik kerah kemeja, Delvin.


"Aku benar bukan. Bahkan tindakanmu dan perasaanmu tidak begitu singkron." Ucap Delvin. Membuat Ervin, melepaskan kerah kemejanya perlahan-lahan.


"Omong kosong!"


"Wanita itu pada dasarnya sama. Sama-sama murahan!" Ujar Ervin, dengan wajah yang sangat begitu memerah.


"Aku tahu kau masih begitu kecewa."


"Tetapi harus kau ingat Batari, sangat berbeda dari, Disha." Ucap Delvin.


"Cih! Pada dasarnya wanita itu munafik. Pura-pura lugu, tetapi jika sudah merasakannya mereka tidak begitu jauh dengan wanita tunasusila." Ujar Ervin.


"Jangan bilang kau hanya memanfaatkan tubuh, Batari." Ucap Delvin, yang merasa geram mendengar penuturan, Ervin.


"Itu bukan urusanmu." Ujar Ervin.


"Sadarlah, Vin. Batari, itu sudah kuanggap seperti adikku sendiri."


"Jika kau ingin bermain-main silahkan."


"Tetapi tidak dengan, Batari." Ujar Delvin, memperingati Ervin.


"Kau tidak berhak melarangku!"


"Batari, sudah menjadi istriku. Aku bebas melakukan apapun terhadapnya." Tutur Ervin.


"Ya... Aku tahu Batari, istrimu."


"Tetapi dia hanya seorang gadis kecil, yang hanya diperlakukan olehmu seperti pekerja wanita tunasusila."


"Untuk memuaskan nafsu bejatmu yang begitu besar." Ujar Delvin, begitu menohok.


Bughhh!


"Sudah kuperingatkan jangan ikut campur urusan personalku." Ujar Ervin.


...***...


~Ballroom~


"Hai Batari." Ucap Disha, yang menghampiri Batari dan Ara.


"Kau di undang?" tanya Ara, yang menjawab ucapan Disha.


"Of course." Jawab Disha, dengan bangganya.


"Kalau begitu silahkan nikmati pestanya, kami permisi." Ujar Ara, yang langsung menarik lengan Batari, untuk menjauh darinya.


"Aku akan meminjam kakakmu sekaligus suamimu untuk menemaniku di pesta ini." Bisik Disha, di telinga Batari. Dengan seringai dan membuat Batari, sontak memelototkan kedua matanya seketika.


"Ayo, Tar!" Ajak Ara, yang menarik lengan Batari. Tetapi Batari, tetap jalan di tempat tidak melangkahkan kakinya sama sekali dengan ekspresi wajahnya yang terlihat begitu syok.


"Kau kenapa, Tari?" tanya Ara, melihat raut wajah sahabatnya berubah seketika.


"Kalau begitu aku permisi dulu. Mau menemui seseorang yang sedang kucari." Ujar Disha. Dengan menyunggingkan senyum sinisnya.


"R-ra kenapa d-dia mengetahuinya." Lirih Batari.


"Maksudmu?" tanya Ara, yang tidak mengerti ucapan dari, Batari.


"Hai, sayang!" Ucap Disha. Langsung memeluk tubuh Ervin, di depan wajah, Batari.


"Hmm..." Jawab Ervin, yang menatap ke arah Batari. Dengan kedua mata Batari, yang berkaca-kaca.


"Aku mencarimu dari tadi. Kenapa kau tidak menjemputku untuk datang ke pesta ini?" tanya Disha, dengan bergelenjot manja di sebelah lengan Ervin.


"Aku habis mencari udara segar."


"Dan aku tidak menjemputmu karena berangkat bersama keluarga besarku." Ucap Ervin. Dengan alibinya dan pandangan matanya pun terus menatap ke arah, Batari.


"Ra..." Cicit Batari. Memegang kuat lengan, Ara.


"Jika kau tidak merasa baik-baik saja, kita bisa keluar sekarang juga." Ujar Ara. Dengan membisikkan di telinga, Batari.


"B-bawa aku k-keluar dari s-sini, Ra." Ucap Batari, yang masih meremas kuat tangan Ara. Dengan sebelah tangannya meremas gaunnya, dengan air mata yang sebentar lagi akan luruh dari pertahanannya.


"Baik." Ujar Ara. Menarik tangan Batari, untuk keluar dari ballroom. Yang di tatap sinis oleh Disha, dengan senyum kemenangannya.


"Sayang, dansa yuk." Ajak Disha. Menolehkan wajah Ervin, untuk menatap ke wajahnya.


"Acaranya belum dimulai, Disha." Jawab Ervin, yang mengalihkan tatapannya menuju pintu ballroom dengan punggung Batari, yang sudah tak terlihat lagi.


"Sebentar lagi, sayang." Ucap Disha, melihat semua tamu undangan menuju lantai dansa.


...***...


~Rooftop~


Hiks... Hiks...! Hiks... Hiks...!


Tangis Batari, yang tiada henti ketika sudah keluar dari ballroom.


"Menangislah terus, Tari."


"Ketika kau merasa lebih baikkan." Ujar Ara. Mengusap pelan punggung, Batari.


"A-aku tidak tahu kenapa air mataku terus berlinang..." Ucap Batari.


"Karena hatimu terluka, Tari." Ujar Ara.


"Tidak, Ra." Cicit Batari, dengan menggelengkan kepalanya pelan.


"Alasanku menangis karena kak Disha, mengetahui jika aku adalah istrinya, kak Ervin."


"Aku takut." sambungnya kembali yang kini memeluk tubuh, Ara.


"Bagaimana bisa dia mengetahuinya?" ujar Ara. Dengan raut wajah syoknya apa yang Batari, katakan.


"Aku tidak tahu hiks..." Ucap Batari, yang semakin pecah isak tangisnya.


"Jangan-jangan kak Ervin, yang memberitahukannya." Ujar Ara.


"Tidak mungkin kak Ervin, yang memberitahunya."


"Selama ini dirinya sendirilah yang ingin merahasiakan pernikahan ini dari orang-orang termasuk kak Disha, salah satunya." Ucap Batari, melepaskan pelukannya.


"Benar juga." Ucap Ara, yang tengah berpikir.


"Lalu bagaimana dia mengetahuinya?" tanya Ara. Dengan Ara dan Batari, yang saling tatap satu sama lain.


"Jangan-jangan selama ini dia mengintaiku. Karena merasa curiga dengan aku yang tinggal serumah hanya berdua dengan, kak Ervin." Jawab Batari.


"Masuk akal juga, selama ini kan dia selalu datang ke rumah kalian." Ujar Ara.


"Aku sangat takut, Ra..."


"Bagaimana jika semua orang tahu, bahwa aku menikahi kakakku sendiri." Ucap Batari, dengan wajah paniknya.


"Ralat... Bukan kakak kandung." Ujar Ara. Mengoreksi perkataan, Batari.


"Bagaimanpun juga dia sudah hidup denganku sejak aku orok."


"Semua orang tidak tahu bahwa dia itu bukanlah kakak kandungku." Ucap Batari. Dengan menghela nafasnya berat.


"Iya, juga sih." Ujar Ara, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


...----------------...