
Setelah kejadian itu Vivi dinyatakan bersalah dan harus mendekam di balik jeruji untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. sidang perceraiannya juga berjalan lancar tanpa hambatan. Hanya saja pihak keluarga Zaky masih berupaya untuk memberikan santunan pada anak-anak Vivi yang masih kecil dan membutuhkan biaya hidup. Apalagi mantan suaminya sudah hilang tanpa kabar setelah putusan sidang perceraiannya.
***
Sekarang ini Zaky bekerja tanpa didampingi oleh sekretaris lagi. dia juga masih enggan untuk membuka lowongan sebagai sekretaris. Mungkin masih ada rasa trauma akibat ulah Vivi dulu. Apalagi istrinya juga sangat posesif. Tapi Naya juga tidak tinggal diam. wanita itu yang memang basic’nya sudah terbiasa di dunia perkantoran, sesekali ia akan membantu pekerjaan suaminya. walau sebenarnya Zaky sudah melarangnya.
Sudah satu bulan Naya menjalani hari-harinya sebagai seorang istri. Dia benar-benar sangat menikmti perannya itu. apalagi Zaky sangat mencintainya dan selalu memperlakukan istimewa. Tidak hanya itu saja. Naya sangat sangat bersyukur karena memiliki mertua yang menganggapnya bukan layaknya anak menantu, melainkan seperti anak kandungnya sendiri.
Saat ini Naya sedang duduk santai di balkon kamarnya. Sedangkan sang suami baru saja berangkat ke kantor. tadinya Naya ingin ikut pergi ke kantor, tapi sayangnya Zaky melarangnya, karena ada meeting di luar.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar. Ternyata bundanya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu sengaja mendatangi Naya karena mau diajak untuk pergi berbelanja. Kebetulan persediaan bahan makanan di dapur juga sudah menipis.
“Baiklah, Bun. Naya ganti baju dulu.” Pamit Naya setelah menyetujui ajakan bundanya.
“Tapi kita nanti belanjanya tidak ke mall. Kita ke pasar tradisional. Apa kamu nggak apa-apa, Sayang?” tanya Bunda Rosma memastikan.
“Nggak apa-apa lah, Bun. Naya justru sangat senang.” Jawab Naya kemudian berlalu masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
Setelah Naya siap, kedua wanita itu pergi ke pasar tradisional dengan diantar oleh sopir. Tak lama kemudian Naya dan Bunda Rosma sampai di pasar yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. Suasana pasar yang sangat ramai membuat mereka sedikit berdesak-desakan. Tapi Naya sama sekali tidak keberatan.
Naya tampak antusias sekali memilih beberapa sayuran segar yang baru saja dipetik. Bunda Rosma ikut senang melihat Naya bersemangat seperti itu.
Usai berbelanja, mereka langsung pulang dan segera mengeksekusi beberapa bahan untuk dijadikan menu makan siang nanti.
“Kalau kamu capek istirahat saja dulu, Sayang. Biar sayurannya ditata sama Bibi.” Ucap Bunda Rosma.
Naya hanya mengangguk tersenyum sebagai jawaban. Karena jujur saja badannya sangat lelah. Mungkin tadi saking semangatnya berkeliling pasar tradisional, hingga membuatnya lupa diri.
Siang harinya Naya dan Bunda Rosma sudah siap untuk pergi kantor. tentunya mereka berdua datang untuk bertemu suami masing-masing sekaligus makan siang bersama.
Dalam perjalanan ke kantor Naya masih tampak lemas dan tidak bersemangat. Entah kenapa dengan tubuhnya, Naya juga tidak tahu.
“Kapan kalian berdua akan pergi berbulan madu?” tanya Bunda Rosma saat mereka masih di mobil.
“Naya ikut Mas Zaky saja, Bun. Sepertinya akhir-akhir ini dia sangat sibuk. Tidak pakai acara berbulan madu juga nggak masalah kok buat Naya.” Jawab Naya jujur.
“Bunda juga tahu kalau suami kamu memang akhir-akhir ini sangat sibuk. Ya sudah, asal kalian tetap mempunyai waktu berdua meskipun Zaky sibuk. Bunda juga sebenarnya ingin segera menimang cucu dari kalian.” ujar Bunda Rosma.
“Bunda doakan saja.” jawab Naya singkat dengan seulas senyum.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai. Naya masuk ke ruangan suaminya terlebih dulu, karena jam makan siang masih lima belas menit lagi.
Zaky yang sedang fokus dengan pekerjaannya sampai tidak menyadari keberadaan istrinya di sana. Naya sendiri sengaja tidak mau mengganggu suaminya. lantas ia duduk begitu saja di sofa.
Lima menit berlalu. Zaky masih belum juga menyadari kebaradaan istrinya. Sedangkan Naya sendiri tiba-tiba merasa kepalanya sangat pusing. mencoba untuk ditahan tapi rasanya semakin berdenyut dan berkunang-kunang.
“Mas….!” Panggilnya dengan lirih.
Sontak saja Zaky terkejut saat mendengar suara istrinya memanggil. Pria itu menoleh ke sumber suara dimana saat ini Naya sedang duduk bersandar pada sofa.
“Sayang, kamu sudah di sini? sejak kapan? Kenapa nggak bilang-bilang?” tanya Zaky menghampiri istrinya.
Zaky benar-benar merutuki kebodohannya, karena pekerjaan yang menyita banyak tenaga dan pikiran hingga membuatnya mengabaikan sekitar. Bahkan dia juga mengabaikan raut wajah istrinya yang saat ini terlihat sangat pucat.
“Sejak lima menit yang lalu. Mas, kepalaku pusing sekali.” Jawabnya sekaligus mengeluhkan sakit kepalanya.
Zaky kini sudah duduk mendekati Naya. Melihat wajah istrinya yang berbeda dari biasanya, Zaky semakin panik. Apalagi di detik berikutnya Naya sudah menutup mata dan hilang kesadarannya.
“Sayang! Bangun!” Zaky menepuk pipi istrinya berulang kali. Dia sangat panik saat Naya tak menunjukkan reaksi apapun.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️