
Dret... Dret...
"Katakan!" Ujar Ervin.
"Waktu kita tinggal dua hari lagi untuk kunjungan investor dari italia dan masalahnya kau belum memiliki pasangan sampai detik ini, Bos." Ucap Delvin.
"Kau tidak perlu khawatir." Ujar Ervin.
"Bagaimana aku tidak khawatir, jawabanmu selalu seperti ini."
"Memangnya mencari seorang istri begitu mudah, seperti mencari jalangg yang di setiap club ada." Tutur Delvin.
Tut... Tut... Tut...
"Aishhh! Untung kau sahabatku..." Gerutu Delvin, di sebrang sana.
Batari, dengan tubuh yang bergetar ketakutan melihat raut wajah Ervin, ketika selesai menerima panggilan telepon.
"Istirahatlah." Ujar Ervin dengan menormalkan mimik wajahnya.
"Hah? Aku tidak salah dengarkan." Batin Batari.
"Kenapa masih belum beranjak?"
"Apa kau tidak dengar ucapanku, atau kau sedang menunggu untukku mengulang perkataan tadi." sambungnya kembali.
"H-hah... A-aku akan ke-kamar." Cicit Batari, yang melangkahkan kakinya.
...***...
~Kantor JE Corp~
"Kau yakin Bos, Batari yang akan berpura-pura menjadi istrimu." Ujar Delvin. Ketika sudah berada diruangan, Ervin.
"Sure." Jawab Ervin. Dengan Batari, yang begitu bingung mendengar obrolan dari dua orang yang ada di depannya itu.
"Ehem... Apa sebaiknya Disha, saja yang memerankan untuk menjadi istri pura-puramu, Bos." Bisik Delvin, dengan memberi saran.
"Kau masih ingin bekerja di sini atau enyah langsung dari kantorku sekarang juga." Tutur Ervin. Dengan Delvin, yang hanya bisa menelan air liurnya kembali.
"B-baiklah aku akan mengikuti keputusanmu, Bos." Beo Delvin.
"Ayo, Batari!" Ujar Delvin. Dengan Batari, yang beranjak dari tempat duduknya.
"Kau ingin membawa Batari, ke mana?" tanya Ervin, dengan aura yang begitu mematikan.
"Keruangan rapat, untuk mengajarinya bahasa italia." Jawab Delvin, dengan menelan salivanya kasar.
"Apa! Aku tidak salah dengar, untuk apa aku belajar bahasa italia." Batin Batari.
"Di sini, masih bisa untuk mengajarinya." Tutur Ervin.
"Tapi... Kau sedang banyak kerjaan, Bos." Tukas Delvin.
"Oh, kau ingin enyah dari kantorku sekarang." Ujar Ervin.
"Ahh, baiklah aku akan mengajarinya di sini." Tutur Delvin. Dengan raut wajah yang sudah begitu pias.
"Tidak di rumah tidak di kantor, kerjaannya selalu mengancam orang, apa itu sebagian dari hobinya." Batin Batari.
"Kak, aku tidak salah dengar jika kau akan mengajariku bahasa italia." Bisik Batari.
"Sure, semoga kau bisa diajak kerja sama dengan baik, Batari." Tutur Delvin, yang mendudukkan bokongnya di samping, Batari.
"Hah! Untuk apa?" cicit Batari.
"Delvin!" Panggil Ervin.
"Iya, Bos." Ucap Delvin.
"Jangan duduk di samping Batari, enyahlah." Ujar Ervin.
"!" Delvin, yang menatap Ervin begitu aneh.
"Kenapa masih diam. Duduklah di depannya!" Tuturnya. Dengan Delvin, yang beranjak dari tempat duduknya semula. Dan berpindah tempat di depan Batari, dengan Ervin yang kembali dengan berkas-berkasnya.
"Baiklah batari, tolong kerja samanya karena memang sangat urgent." Ujar Delvin.
"Hufftt! Baiklah." Ucap Batari.
"Mi chiamo Batari, la moglie di Ervin."(Nama saya Batari istri dari Ervin). Ujar Delvin, yang memulai mengajari Batari.
"Ahh, Kak aku nyerah!" Ucap Batari.
"Please Batari, kerja samanya. Ini menyangkut hidup dan kerjaanku." Tutur Delvin, dengan wajah melasnya.
"Memangnya untuk apa aku belajar bahasa italia?" tanya Batari, dengan suara yang amat kecil.
"Untuk pertemuan dengan investor dari italia." Jawab Delvin.
"Kenapa aku harus ikut andil dengan urusan kantor?" tutur Batari, dengan merapatkan kedua alisnya.
"Karena itu syarat dari mereka."
"Karena istri dari pak Michelle, begitu mengagumi kehidupan Ervin, yang terlihat sempurna."
"Itulah alasannya kau harus belajar bahasa italia dalam kurun waktu dua hari." Ujar Delvin.
"Apa!!! D-dua hari..." Ujar Batari, yang langsung berdiri dengan wajah yang begitu syok.
"Kau ikuti apa yang Delvin, ajarkan untukmu." Tutur Ervin. Dengan Batari, yang kembali terduduk.
"Gila kali ya, memangnya aku robot dalam waktu dua hari harus bisa menguasai bahasa asing." Gerutu Batari.
"Sudah tidak ada pilihan lagi Batari, mau tidak mau kau harus mengikuti ucapan darinya." Bisik Delvin.
"Aku ingin pulang." Ujar Batari, yang beranjak dari tempat duduknya.
Tap... Tap...
"Jika kau sampai keluar dari pintu itu."
"Aku tidak akan menjamin nanti malam kau masih bisa selamat." Tutur Ervin.
Dheg!
Langkah kakinya mendadak menjadi jelly, dengan mengepalkan kedua tangannya begitu geram.
"Duduk atau kau akan tamat, silahkan pilih keputusanmu." sambungnya kembali.
Tap... Tap...
Batari, yang kembali mendudukkan bokongnya di kursi. Dengan Ervin, yang tersenyum menyeringai.
~4 jam kemudian~
Drap... Drap... Drap...
"Makanlah." Ujar Ervin, yang membawakan makanan untuk, Batari.
"Tidak, terimakasih." Tutur Batari, yang masih menghafalkan bahasa yang Delvin, ajarkan tadi selama berjam-jam.
"Baiklah." Ujar Ervin, yang melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.
Kruyukkkk!
"Ahh, kau ini tidak bisa diajak kompromi." Monolognya seraya mengelus perutnya yang minta diisi.
...***...
~Butik~
"Bawakan gaun yang sesuai dengan tubuhnya." Tutur Ervin, kepada pegawai butik.
"Baik pak." Ujar pegawai butik, yang mengambilkan beberapa gaun untuk ukuran tubuh, Batari.
"Silahkan Nona, ikuti saya keruang ganti." Tutur pegawai butik. Dengan Batari, yang mengikuti langkah kakinya.
Tap... Tap... Tap...
"Bagaimana?" tanya Batari, ketika mencoba gaun pertamanya.
"Tidak." Ucap Ervin. Menandakan Batari, harus mengganti gaunnya kembali.
"Bagaimana dengan yang ini...?" ujar Batari, yang memutarkan tubuhnya.
"Tidak." Ervin, yang kembali menggelengkan kepalanya. Membuat Batari, melangkahkan kakinya kembali masuk keruang ganti.
"Yang ini,"
"Tidak."
Tap... Tap...
Langkah kaki Batari, yang berjalan ke arah Ervin, dengan raut wajah yang sudah ditekuk. Karena sudah tujuh kali dirinya mengganti gaun dan inilah gaun yang kedelapan.
"Bagaimana?" tanya Batari, dengan mengepalkan kedua tangannya.
Ervin, hanya menatapnya saja. Tanpa memberi jawaban seperti yang ketujuh gaunnya.
"Aku akan pulang, jika kau masih tetap menyuruhku untuk mengganti dengan gaun yang lainnya." Tutur Batari. Dengan membalikkan tubuhnya untuk mengganti gaunnya dengan pakaian yang tadi ia pakai.
"Tunggu, Batari." Ujar Ervin.
Drap... Drap... Drap...
"Aku tidak akan menyuruhmu untuk menggantinya lagi." sambungnya. Dengan menarik tangan Batari, keluar dari butik.
"K-kau mau membawaku kemana? b-bajuku..." Ucap Batari.
"Rias wajahnya secantik mungkin." Ujar Ervin. Ketika membawa Batari, ke salon.
"Baik, Pak." Ucap pegawai salon.
~Satu jam kemudian~
"Wah, anda sangat cantik! Pasti suami anda akan terpukau melihat penampilan anda." Tutur pegawai salon. Dengan Batari, yang menatap dirinya begitu syok. Tidak percaya melihat pantulan dirinya sendiri yang sangat berbeda, karena hanya sebuah makeup.
"Bagaimana Pak, apa istri anda sekarang terlihat sempurna?" ujar pegawai salon. Dengan Ervin, yang menatapnya sekilas. Dan buru-buru memberi Batari, sepasang high heels untuk mengalihkan pandangannya.
"Pakailah, aku menunggumu di luar." Ujar Ervin, yang melangkahkan kakinya keluar.
"Suami anda begitu dingin, tetapi begitu sweet." Ucap pegawai salon. Batari, yang hanya menyunggingkan senyum kecilnya, lalu memakai high heels di kakinya agar terlihat lebih sempurna untuk menunjang penampilannya.
"Dia kakakku, sekaligus suamiku!" Tutur Batari.
...----------------...