
Kini Zaky sudah tiba di restaurant bersama Naya dan juga Shanum. Ketiganya duduk, setelah itu datang seorang pelayan restaurant untuk mencatat menu pilihan mereka.
“Shanum, kenalkan dia Naya. Yang pernah aku ceritakan sebelumnya.” Ucap Zaky pada adiknya.
“Nay, kenalkan dia Shanum, adikku.”
Kedua perempuan itu saling berjabat tangan karena memang sebelumnya belum sempat berkenalan. Shanum tersenyum meyambut uluran tangan Naya. Begitu juga dengan Naya.
“Kak Zaky sudah bercerita banyak tentang kamu. Ehm, Kak…”
“Panggil Naya saja.” sahut Naya dengan cepat.
“Baiklah. Aku ikut senang akhirnya Kak Zaky bisa bertemu dengan kamu kembali, Naya. Cinta sejatinya.” Lanjut Shanum sambil melirik kakaknya yang tengah asyik dengan ponselnya.
Sedangkan Naya menanggapi ucapan Shanum dengan senyuman. Lalu melirik Zaky yang masih cuek padanya. Apakah dia masih marah gara-gara pertemuannya dengan Daniel tadi. Naya sungguh tidak menyangka kalau ternyata Zaky memiliki sifat pencemburu akut. Tapi dia tidak ingin membahasnya sekarang, terlebih sedang ada Shanum bersamanya.
Akhirnya Naya memilih untuk mengobrol dengan Shanum saja daripada dengan Zaky yang terlihat sedang sibuk. Shanum juga orangnya sangat enak untuk diajak ngobrol. Kedua perempuan itu cepat akrab walau baru saja kenal.
Tak lama kemudian pesanan makanan mereka datang. Naya menghentikan obrolannya dengan Shanum, lalu menikmati makanan yang telah disajikan.
Zaky menikmati makanannya sambil sesekali melirik Naya. Jujur saja dia masih kesal saat mengingat Naya bertemu dengan rekan bisnisnya yang bernama Daniel tadi. tapi dia juga merasa bersalah, karena sempat melupakan keberadaan Naya saat hatinya sedang dilanda kesal.
Usai makan, mereka bertiga langsung pulang. di sini Naya kembali bingung. Apa sebaiknya pulang sendiri naik taksi, karena melihat sikap Zaky masih diam saja sejak tadi.
“Shanum, aku antar kamu ke hotel dulu. Setelah itu aku mengantar Naya.” Ucap Zky tiba-tiba. Karena memang jarak restaurant dengan hotel tempatnya menginap lebih dekat daripada harus mengantar Naya dulu.
“Baiklah, Kak.” Jawab Shanum.
Sedangkan Naya sedikit takut kalau sebentar lagi berduaan dengan Zaky. terlebih sikap Zaky yang masih dingin seperti itu.
Beberapa menit berkendara, akhirnya mobil Zaky sudah sampai di depan hotel tempatnya menginap. Shanum bergegas turun dan Zaky kembali melajukan mobilnya untuk mengantar Naya.
Dalam perjalanan ke rumah, keduanya sama-sama diam. Naya yang takut kalau Zaky masih marah dengannya, memilih untuk membuang pandangannya ke samping jendela. Sedangkan Zaky juga masih fokus dengan kemudianya. Namun, Naya tiba-tiba ingat sesuatu.
“Kak, lebih baik turunkan aku di sini saja. biar aku naik taksi.” Ucap Naya.
“Kenapa? Apa kamu ingin bertemu pria tadi?” tanya Zaky dengan tatapan lurus ke depan.
“Aku berani bersumpah Kak, kalau antara aku dan Tuan Daniel hanya rekan bisnis saja. tidak lebih dari itu. tolong percayalah!”
Zaky menepikan mobilnya sejenak.
“Nay, wajar kalau aku bersikap seperti tadi. kita ini sudah lama berpisah. Jelas aku sangat cemburu setelah melihat ada seorang pria yang menatapmu dengan tatapan yang berbeda. Kamu juga kenapa memperkenalkan aku dengan rekan bisnismu sebagai kakak kamu? Bukan kekasih kamu? Apa kamu masih belum yakin dengan hubungan ini ke depannya?” Zaky bukan ingin memarahi Naya. Tapi lebih ke arah pengakuan perasaannya yang sedang kesal.
“Maafkan aku, Kak.” Hanya itu yang mampu Naya ucapkan, karena memang yang diucapkan Zaky baru saja benar semua.
“Ya sudah, lupakan yang tadi. lalu kenapa kamu meminta turun di sini?” tanyanya dengan mode suara kembali ke setelan awal.
“Bagaimana kalau Mama dan Papa tahu aku diantar Kak Zaky pulang. aku belum siap melihat kesedihan Mama dengan mengetahui kita jalan berdua.”
“Kamu jangan khawatir. Serahkan semuanya padaku.” jawab Zaky sambil mengusap pelan pucuk kepala Naya untuk menenangkan perempuan itu.
Setelah itu Zaky kembali melajukan mobilnya. Dan beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di rumah. Naya bergegas turun dan memasuki rumah dengan diikuti oleh Zaky.
Tepat saat sampai di ruang keluarga, Naya melihat Mama dan Papanya sedang bersantai di sana. Naya seketika menjadi gugup. Apalagi sekarang tatapan mata Mama dan Papanya tertuju padanya dan juga Zaky.
“Selamat sore, Ma, Pa!” ucap Zaky berjalan mendahuli Naya.
Zaky segera menghampiri Mama dan Papanya dan ikut duduk bergabung di sana. Sedangkan Naya masih diam di tempatnya.
“Tadi Zaky habis jalan sama Naya dan juga Shanum, Ma, Pa. jadi aku suruh sopir untuk mengambil mobil Naya.” Ucap Zaky dengan tenang.
“Iya. nggak apa-apa. Kalian juga baru bertemu, pasti butuh waktu untuk melepas rindu.” Jawab Senja dengan tersenyum.
Naya dan Zaky benar-benar merasa ambigu dengan ucapan Mamanya. Apa maksudnya. Namun setidaknya hal itu membuat Naya cukup lega, karean di luar ekspektasinya kalau Mamanya pasti akan marah.
Sedangkan Senja sendiri menjawab seperti itu karena ingin memberikan kesempatan pada Naya dan Zaky untuk mengetahui perasaan masing-masing yang masih sama atau tidak setelah tepisah dalam waktu yang cukup lama.
“Ma, Pa, Naya masuk ke kamar dulu!” Pamit Naya kemudian dan diangguki oleh Mama dan Papanya.
Kini hanya ada Zaky dan kedua orang tua angkatnya di sana. Zaky yang sudah tidak canggung lagi, dia sudah tidak sungkan-sungkan lagi dudu diantara Mama dan Papanya. Dia sangat merindukan momen dimana dulu pernah dimanja oleh kedua orang tuanya, walau bukan orang tua kandung.
“Ma, Pa, Ayah dan Bunda ingin bertemu dengan Mama dan Papa, nanti kalau sudah ada waktu luang, Zaky akan mengajak mereka ke sini. apa boleh?” tanya Zaky.
“Kenapa tidak boleh, Sayang. Papa dan Mama justru ingin kenal dengan orang tua kandung kamu. Mama ingin memastikan sendiri apakah kedua orang tua kandung kamu memperlakukan kamu dengan baik?” seloroh Senja sengaja menggoda Zaky.
“Kalau Zaky tidak diperlakukan dengan baik, mungkin Zaky tidak seperti sekarang ini.” jawabnya lalu ia merebahkan kepalanya di atas pangkuan Mamanya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️