
Tap... Tap... Tap...
"Tari, percayalah semua ini terjadi begitu saja dan aku sangat meyakini jika itu bukan benihku." Tutur Ervin, mengejar Batari yang terus menaiki anak tangga.
Brakkk!
"Batari..." Beo Ervin, yang terus menggedor pintu kamarnya.
Hiks... Hiks... Hiks...
Batari, meluruhkan tubuhnya di balik pintu dengan perasaan yang teramat begitu sakit.
~Flashback on~
"Brakk!" Disha, yang membuka pintu ruangan Ervin begitu kasar.
"Maafkan aku, Bos. Aku tidak bisa menahannya untuk masuk keruanganmu." Ujar Delvin.
"Ke luarlah." Ucap Ervin, menyuruh Delvin ke luar dari ruangannya dan meninggalkan dirinya bersama Disha.
"Katakan, ada apa kau ke sini?" tanya Ervin, yang berjalan ke arahnya.
"Kenapa ponselmu tidak aktif?"
"Aku selalu menghubungimu."
"Apa kau memblok nomerku?" ucap Disha, dengan beberapa pertanyaan yang ia lontarkan.
"To the point saja." Ujar Ervin, menatap tajam ke arahnya.
"Oke, dengar baik-baik." Ucap Disha, menghela nafasnya dalam-dalam.
"Aku hamil." Ucapnya lagi dengan ekspresi Ervin yang tetap datar.
"Lalu?" ujar Ervin, mendudukkan bokongnya di sofa.
"Aku mengandung anakmu, kau harus bertanggung jawab, Vin." Jawab Disha.
"Kau yakin, benih yang ada di rahimu adalah anakku?" tanya Ervin.
"Tentu saja, terakhir kalinya aku tidur denganmu." Ucap Disha.
"Aku tidak sebodoh itu, Disha." Ujar Ervin, dengan tubuh yang kembali berdiri saling berhadapan.
"Kau menuduhku, jika bayi ini bukanlah benihmu." Ucap Disha.
"Sure." Angguk Ervin.
~Flashback off~
...***...
"Ada apa kau datang ke rumahku sepagi ini?" tanya Ervin, melihat kedatangan Disha ke rumahnya.
"Aku ingin kau bertanggung jawab atas bayi di dalam perutku." Jawab Disha.
"Sudah aku katakan, aku tidak yakin jika bayi dalam perutmu adalah anakku." Ujar Ervin.
"Apa perlu kita tes DNA agar kau percaya bahwa ini adalah darah dagingmu." Ucap Disha.
"Baiklah, setelah bayi itu lahir aku menginginkan tes DNA." Ujar Ervin."
"Sure, tetapi aku menginginkan kau menikahiku sampai bayi ini lahir." Ucap Disha.
"Kau gila, aku sudah memiliki istri. Itu sangat tidak mungkin."
"Aku rela menjadi istri keduamu, Vin." Ucap Disha, menggenggam kedua tangan Ervin.
Prang!
"Batari..." Beo Ervin, melihat Batari berdiri di belakangnya dengan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Tunggu, Tari." Ujar Ervin, mengejar Batari yang menaiki anak tangga.
Grep!
"Lepas." Cicit Batari, dengan suara paraunya.
"Tidak." Ujar Ervin.
"Kenapa? Kau ingin meminta izin dariku untuk menikah kembali?" tanya Batari, dengan air mata yang membanjiri wajahnya.
"Aku sungguh dilema, Tari."
"Aku tidak ingin memiliki madu." Ucap Batari, diiringi isak tangisnya. Membuat Ervin, terdiam.
"Jika Kak Ervin, ingin bertanggung jawab untuk menikahinya. Lepaskan aku." Lirihnya lagi.
"Tidak." Beo Ervin, menggelengkan kepalanya.
"Kak Ervin, jangan egois. Di dunia ini harus memilih, tidak bisa untuk memiliki keduanya." Ucap Batari.
"Aku tidak ingin berpisah darimu, Tari."
"Kau ingat, kita baru saja menata kembali pernikahan kita setelah insiden itu terjadi." Ujar Ervin.
"Kau yang membuat pernikahan ini kembali diambang perceraian." Tutur Batari, menghentakkan tangannya dan berlari memasuki kamarnya, dengan air mata yang terus berlinang.
"Aaaaaargh!" Dengan meremas rambutnya begitu kasar.
Drap... Drap... Drap....
"Tari..." Ujarnya yang berada di depan pintu kamar Batari.
Dengan Batari, yang membekap mulutnya agar tidak terdengar suara isak tangisnya.
"Jika itu benar bayiku yang ada di rahimnya. Aku tidak ingin kehilangan lagi bayiku yang lainnya." Tutur Ervin, membuat Batari semakin terisak mendengar penuturannya.
"Kumohon, Tari. Tunggulah aku menjadi suamimu yang seutuhnya kembali setelah bayi itu lahir." Sambungnya.
"Tari..." Ujar Ervin.
Hingga beberapa hari kemudian Batari yang terus berdiam diri di dalam kamar dengan Ervin yang terus menantinya di depan pintu kamarnya.
Ceklek...
"Tari..." Beo Ervin, melihat Batari membuka pintu kamarnya.
"Masuklah." Ujar Batari.
"Baik." Ujar Ervin, mengekor di belakangnya dan duduk di sampingnya.
"Aku mengizinkan Kak Ervin untuk bertanggung jawab terhadap bayi yang di kandung oleh kak Disha." Ucap Batari.
"Kau yakin?" tanya Ervin.
"Sure, bagaimanapun bayi itu tidak berdosa, dia harus memiliki orangtua lengkap." Ucap Batari.
"Terimakasih, Tari." Ujar Ervin, memeluk tubuh Batari.
"Aku janji setelah bayi itu lahir aku akan berpisah dari Disha."
"Setelah melakukan tes DNA terhadap bayinya."
"Dan jika bayi itu adalah darah dagingku, bolehkah aku membawanya dengan kau yang menjadi ibu sambungnya." Tutur Ervin, melepaskan pelukannya membuat Batari terdiam sejenak.
"Tari..." Beo Ervin, dengan menggenggam kedua tangan Batari.
"S-sure..." Jawab Batari, dengan mengulas senyum kecil di wajahnya.
"Terimakasih, Tari. Aku akan membicarakan hal ini terhadap Disha." Tutur Ervin, kembali memeluk tubuh Batari dengan Batari yang meluruhkan air matanya.
...***...
~Cafe~
"Lama tidak bertemu denganmu, Disha?" tanya Ethan, menghampiri Disha yang tengah duduk seorang diri.
"Kebetulan kau di sini, duduklah!" Jawab Disha.
Ethan pun menarik kursinya dengan duduk saling berhadapan.
"Rupanya raut wajahmu sangat bahagia?" tanya Ethan kembali.
"Ya kau benar, ada kabar bahagia yang ingin aku sampaikan padamu." Ucap Disha, dengan terus mengembangkan senyum di wajahnya.
"Katakan." Ujar Ethan, memasang pendengarannya baik-baik apa yang ingin Disha sampaikan padanya.
"Pertama-tama aku ingin mengakhiri hubungan kerja sama diantara kita."
"Aku sudah tidak ingin menjadi wanita tunasusila lagi untukmu." Tutur Disha.
"Rupanya kau sudah memiliki pria lain lagi yang bayarannya lebih besar dariku." Ujar Ethan.
"Tidak." Ucap Disha, menggelengkan kepalanya.
"Lalu, alasanmu mengakhiri ini semua?" tanya Ethan.
"Aku akan menikah." Jawab Disha, dengan terus menyunggingkan senyumnya.
"Hahaha... Jangan berhalu di siang bolong."
"Mana ada laki-laki yang ingin menikahi perempuan sepertimu." Ujarnya dengan gelak tawa yang begitu menggelegar.
"Jika kau tidak percaya baca ini." Ucap Disha, menyodorkan sebuah amplop.
"Apa ini?"
"Jangan-jangan kau sakit parah dan mengancam laki-laki itu untuk segera menikahimu." Ujar Ethan, menatap sebuah amplop yang ada di depannya.
"Baca dulu!" Ucap Disha.
Ethan pun mengambil dan membuka amplop tersebut, lalu membaca isi dari selembar kertas itu.
"K-kau hamil?" tanya Ethan, mendogakkan wajahnya.
"Ya, aku hamil." Jawab Disha.
"Apa bayi dalam rahimmu adalah beniku?" tanyanya kembali, dengan berharap itu adalah kebenarannya.
"Tentu saja bukan, aku sedang mengandung anak Ervin." Jawab Disha, begitu lugas.
"Tidak mungkin, selama ini kau tidur selalu denganku saja."
"Bagaimana bisa kau mengandung benih darinya."
"Kau salah atas penafsiranmu itu, Tuan Ethan."
"Aku tidak hanya tidur denganmu saja." Jawab Disha.
"Kau pasti menjebaknya! Bagaimana mungkin Ervin melakukan itu padamu, yang jelas-jelas dia sudah memiliki seorang istri." Tutur Ethan.
Di sisi lain.
"Mah, Pah... Kedatangan aku dan Batari ke sini ingin memberitahukan bahwa aku ingin menikah kembali." Ujar Ervin.
...----------------...