
Setelah berhasil membuka semua kancing bajunya. Ervin, pun melepaskan pagutannya.
Lalu ciumannya pun turun ke leher jenjang Batari, dengan sebelah tangannya meremas gunung kembarnya yang begitu pas dengan tangannya sendiri.
Setelah merasa puas Ervin, pun menatap takjub tubuh Batari. Walaupun masih ada penghalang, membuat dirinya sangat susah untuk menelan salivanya.
"Sangat indah." Gumam Ervin. Menatap lapar tubuh Batari, yang setengah naked.
Tanpa memikirkan Batari, yang terus berlinang air matanya.
Membuat Batari, merasa dejavu dengan perlakuan Ervin, yang pemaksa entah disaat mabuk maupun dalam keadaan sadar.
"Hiks... Hiks... Hiks... ku-mohon..." Lirih Batari.
"Sudah kukatakan aku tidak akan bisa berhenti lagi. Kau harus kuberi hukuman!" Ujar Ervin, yang kembali mencium kecil leher Batari, dan membuat tanda kepemilikannya.
"Ku-mohon beri aku waktu... Ahhhh..." Ujar Batari, dengan terbata-bata.
"Kau pernah bilang jika tidak akan pernah memaksaku untuk melayanimu sebelum aku yang menginginkannya sendiri." sambungnya kembali. Membuat Ervin, berhenti dari aktivitasnya.
"Shitt!" Desis Ervin.
"Dalam satu minggu." Ujar Ervin.
"Kau harus meminta untuk aku menyentuhmu dan memberi akses sepenuhnya terhadapku, karena aku ingin mengambil hakku sebagai seorang suami." Tutur Ervin, yang melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Dengan menutup pintunya begitu kencang.
Brakkkk!!!
Hiks... Hiks... Hiks...
Dengan berlinangnya air mata Batari, berusaha membangunkan tubuhnya dan mengancingkan kembali pakaiannya.
Untuk kembali ke kamarnya, dengan menatap tubuhnya di cermin yang penuh tanda kepemilikan dibagian leher dan dadanya.
Membuatnya meluruhkan kembali tubuhnya di lantai, dengan isak tangis yang semakin pecah atas perlakuan Ervin terhadap dirinya.
Di sisi lain.
"Aaaaakh!" Teriak Ervin, begitu frustasi.
"Kenapa aku bertindak bodoh seperti itu, yang akan membuat Batari, takut terhadapku." Batin Ervin, yang berada diruang kerjanya.
...***...
Hingga di setiap harinya. Kak Ervin, yang selalu berangkat ngantor di pagi buta sekali dan pulangnya hingga larut malam hanya demi untuk menghindar dariku.
Ketika berpapasan di anak tangga dan aku menyapanya, kak Ervin, selalu terdiam tidak pernah menjawab dari segala pertanyaanku seolah-olah kami berdua bagaikan orang asing yang hidup dalam satu atap yang sama.
Entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan kehidupan seperti ini yang sudah 5 hari aku jalanin terus berulang seperti ini.
Dan waktuku tersisa hanya tinggal 2 hari, aku benar-benar merasa bingung, di sisi lain aku merasa takut dan belum siap tetapi di sisi lain aku merasa bersalah jika melihat statusku yang sudah menjadi seorang istri.
~Taman~
"Kenapa dari tadi aku perhatikan kau terus murung, Batari?" tanya Ara, yang duduk di samping, Batari.
"Huftt!" Dengan menghela nafasnya kasar menatap, Ara.
"Aku bingung, Ra..." Ucap Batari.
"Bingung dalam hal apa Tari, perasaan tidak ada tugas berat dari dosen." Tutur Ara.
"Bukan karena hal itu, Ra..." Ucap Batari, dengan geleng-geleng kepala.
"Lalu?" beo Ara.
"Kak Ervin." Cicit Batari.
"Iya, kenapa dengan kak Ervin, Batari?" ujar Ara, begitu gemas.
"Dia meminta haknya." Ucap Batari.
"Kalian kan sudah suami istri sah di mata hukum dan agama, sudah halal bagi kalian untuk melakukannya." Tutur Ara.
"Tidak semudah itu, Ra." Cicit Batari, yang tidak mendapatkan pencerahan dari sahabatnya itu.
"Why?" ujar Ara.
"Ak--" Dengan menggantungkan ucapannya.
"Lupakanlah sejenak Tari, lebih baik kau ikut denganku." Ujarnya kembali dengan menarik tangan, Batari.
"Kita akan pergi ke mana, Ra?" tanya Batari.
"Makan." Jawab Ara.
~Restoran~
Tap... Tap... Tap...
Langkah kaki Ara dan Batari, yang memasuki restoran.
"Kau yakin?" tanya Ara, kembali.
"Sure." Jawab Batari.
"Masalahnya hanya meja di samping Kak Ervin, yang hanya tersisa." Bisik Ara. Dengan Batari, yang langsung mentap ke arah meja yang dimaksud oleh Ara.
"Jika kau merasa tidak nyaman berada di antara mereka, kita cari restoran lain, aku masih bisa untuk menahan rasa laparku." Beo Ara.
"Tidak apa Ra, kita makan di sini saja."
"Aku tahu kau begitu lapar, jadi jangan merasa tidak enak denganku hingga membohongi perutmu sendiri." Tutur Batari.
"Baiklah." Ujar Ara.
Tap... Tap... Tap...
"Kau seperti anak kecil saja makanya belepotan seperti ini." Ujar Disha. Mengelap saus di sudut bibir Ervin, dengan tangannya.
"Biar aku saja." Tutur Ervin, yang mengelap sendiri bibirnya.
"Ahh... Kau di sini juga rupanya?" ujar Disha, yang melihat Batari dan Ara.
"Tentu saja, inikan tempat umum." sahut Ara. Dengan Ervin, yang melirikkan wajahnya menatap ke arah Batari dan Ara, yang tengah menarik kursinya masing-masing.
"Kenapa Kak Ervin, makan bersama dengan Kak Disha. Memangnya mereka belum putus?" bisik Ara.
"Seperti yang kau lihat." Jawab Batari. Dngan ekor matanya yang melihat Ervin, terus menatap ke arahnya.
"Ck! Ternyata Kak Ervin, begitu rakus ke sana mau ke sini mau." Tutur Ara.
"Huftt! Begitulah laki-laki." Cicit Batari.
"Vin... Ervin!" Ucap Disha. Merasa kesal melihat Ervin, terus menatap ke arah, Batari.
"Lihatlah wajahku Ervin."
"Kau tengah makan bersamaku, semua pengunjung di sini memperhatikan ke arah kita." Bisik Disha. Dengan Ervin, yang menatap wajah Disha, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Drap... Drap... Drap...
"Boleh bergabung di sini?" tanya seseorang dengan Ara dan Batari, mendongakkan wajahnya.
"Bryan!" Ucap Batari dan Ara, dengan kompak.
"Duduklah." Ujar Ara.
"Thanks." Ucap Bryan, dengan menarik kursinya.
"Kenapa bocah sialan itu ada di sini!" Batin Ervin, dengan mengepalkan tangannya.
"Thanks Batari." Ucap Bryan, yang mengalihkan tangan Batari, untuk menyuapi makanan ke mulutnya.
"Shitt!" Umpat Ervin, yang semakin geram.
"Aku akan kembali ke kantor." Ujar Ervin, yang melangkahkan kakinya keluar dari restoran dengan raut wajah begitu kesal.
"Ervin! Tunggu!!" Teriak Disha, yang mengekor di belakang Ervin.
...***...
~Rumah~
Tap... Tap...
"Apa makan bersamanya begitu nikmat, hingga jam segini kau baru pulang." Ujar suara bariton milik, Ervin.
"K-kak Ervin..." Cicit Batari, dengan wajah syoknya. Melihat Ervin, sudah berada di rumah yang biasanya pulang hingga larut malam.
"Kenapa?"
"Kau kaget melihatku sudah berada di rumah." Tutur Ervin. Dengan Batari, yang menelan salivanya susah.
"Kau merasa tidak senang, karena kau ketahuan selalu pulang malam."
"Tanpa pengawasan dariku beberapa hari belakangan ini." Ujar Ervin, yang melangkahkan kakinya.
Dengan Batari, yang meremas kuat roknya ketika langkah Ervin, yang semakin dekat.
"Kenapa kau tetap diam..."
"Jawab, Batari!" Ujar Ervin.
"K-kau salah paham..." Cicit Batari, yang semakin susah menelan salivanya. Dengan keringat yang telah membanjiri pelipis matanya.
"Salah paham." Beo Ervin. Dengan menaikkan sebelah alisnya, untuk menuntut penjelasan dari, Batari.
...----------------...