My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 34



Dret... Dret... Dret...


"Halo." Cicit Batari, dengan setengah kesadarannya.


"Ambilkan berkas yang berada di atas meja kerjaku."


"Dan ya, antarkan berkas itu sekarang ke kantorku!"


"Aku tunggu kau dalam waktu 30 menit." Ujar Ervin.


"H-halo," Cicit Batari, dengan kesadaran penuh.


Tut... Tut... Tut...


"Ahh! Aku sangat begitu mager masih ingin tidur, setelah semalaman lembur bagaikan kuda." Batin Batari.


"Bahkan aku sudah merencanakan untuk bisa tidur sepanjang hari ini," Batinnya lagi, dengan melemparkan ponselnya.


"Tetapi kau selalu mengganggu waktu istirahatku."


"Kenapa tidak sekretarisnya aja sih yang datang ke rumah, untuk mengambilkan berkasnya." Batinnya kembali. Dengan masih bergerutu mendapatkan perintah dari Ervin, yang tentunya sangat malas untuk beranjak dari kasur dan kembali menuju kamarnya.


Ting!


Kak Ervin : Di mulai dari sekarang, waktumu tersisa 28 menit.


...***...


~Kantor JE Corp~


Kriettt... Tap... Tap... Tap...


"Tugasku sudah selesai." Ucap Batari, yang menaruh berkas di atas meja kerja Ervin. Dan membalikan kembali badannya.


"Kata siapa tugasmu sudah selesai." Ujar Ervin. Menarik pergelangan tangan, Batari.


"Hah! M-maksudmu?" Cicit Batari, dengan raut wajah yang sudah berubah seketika.


"Aku belum memberimu sebuah hukuman." Ujar Ervin, dengan lugasnya.


"What! Aku tidak melakukan kesalahan apapun pagi ini."


"Dan tugas darimu sudah aku lakukan dengan baik, kau jangan mengada-ngada untuk memberiku hukuman." Tutur Batari.


"Kau sudah telat 3 menit." Ujar Ervin, memperlihatkan stopwatch di ponselnya. Membuat Batari, mengangakan mulutnya lebar.


"Kau gila!"


"H-hanya telat 3 menit aku harus menerima hukuman, itu sungguh tidak adil." Ucap Batari.


"Waktu sangat berharga untukku, dan sebagai bentuk keadilannya kau harus menerima konsekuensinya, Batari." Ujar Ervin.


"Apa kau tidak kasian padaku!"


"Semalam aku lembur bagaikan kuda." Tutur Batari, dengan protesnya.


"Itu konsekuensi yang tidak bisa diubah." Ujar Ervin. Menarik tubuh Batari, untuk duduk di atas pangkuannya.


Aaaaaaaa!


"I-ini di kantor...!" Beo Batari, dengan kegelisahannya.


"Lalu kenapa? aku ingin merasakan sensasi yang berbeda." Ujar Ervin, yang mulai mengendus-ngendus leher, Batari.


"Ini kesalahan bagiku, seharusnya aku tidak datang ke sini." Batin Batari, dengan meremas kuat ujung dressnya.


Breeet!


Ervin, yang sudah tidak sabar. Langsung merobek dress Batari, untuk mempermudah kegiatannya.


"D-dress-ku..." Beo Batari, yang melihat bajunya disobek begitu saja.


"Aku akan membelikan yang baru untukmu." Ujar Ervin, yang melahap langsung kedua gunung kembar milik, Batari.


Ceklekkkk...


"Bos..." Beo Delvin, yang menggantungkan ucapannya. Ketika melihat adegan yang tengah Ervin dan Batari, lakukan.


"A-apa yang kalian berdua lakukan?" tanya Delvin, langsung menutup kedua matanya.


"Kak delvin!" Cicit Batari, yang terciduk oleh Delvin.


"Shittt!" Umpat Ervin, dengan menyudahi langsung kegiatannya yang baru setengah jalan.


"Berbaliklah!" Ujar Ervin. Dengan Delvin, yang langsung membalikkan badannya.


"Pakailah jasku dulu." Tutur Ervin. Memakaikan jasnya di tubuh, Batari.


"Berbaliklah." Ujar Ervin. Dengan perlahan-lahan Delvin, membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Ervin dan Batari.


"K-kalian..." Tutur Delvin, yang masih teramat syoknya.


"Ehemm! Tidak perlu aku jelaskan lagi, apa yang kau lihat benar adanya kami berdua memiliki hubungan." Ujar Ervin. Dengan Batari, yang masih berada dipangkuannya.


"Nyebut Vin, dia Adikmu!"


"Dulu dia Adikku, sekarang dia istriku." Jawab Ervin. Dengan begitu lugas, tanpa mengelak dengan statusnya.


Jegerrr!


"Astaga!" Delvin, yang benar-benar merasa disambar petir di pagi hari. Mendengar langsung penuturan dari, Ervin.


"S-sejak kapan kalian menikah?" tanya Delvin, yang masih memegangi dadanya yang teramat syok.


"3 bulan yang lalu." Jawab Ervin. Membuat Delvin, benar-benar meluruhkan tubuhnya ke lantai.


"Tidak perlu berlebihan seperti itu, bangunlah!" Ujar Ervin, yang berjalan ke arah, Delvin.


"Apa om David dan tante Ranti sudah gila sepertimu!


"Menyetujui pernikahan yang sangat dilarang di agama manapun." Ucap Delvin, yang membangunkan kembali tubuhnya.


"Jaga ucapanmu, Delvin!"


"Pernikahan ini adanya atas dasar persetujuan papa dan mama." Ujar Ervin.


"Bagaimana mungkin?" beo Delvin.


"Berawal dari sebuah insiden hingga Batari, hamil. Papa memutuskan untuk kami berdua menikah."


"Awalnya kami berdua sama-sama menolak, tetapi setelah mengetahui sebuah fakta."


"Kami berdua pada akhirnya menikah." Ujar Ervin. Dengan sesingkat mungkin menjelaskan asal muasal hubungannya dengan, Batari.


"Tapi kau waktu itu masih memiliki hubungan dengan Disha, hingga saat ini." Ucap Delvin, yang memelankan ucapan terakhirnya.


"Batari, yang mengizinkan untuk masih menjalin hubungan dengan, Disha." Ujar Ervin.


"What! Kau gila, Batari." Tutur Delvin. Menatap wajah, Batari.


...***...


~Beberapa hari kemudian~


Tinggal menunggu hitungan jam lagi acara ulang tahun perusahaan, Attar.


Tetapi Batari, masih terbengong di depan meja makan.


"Kenapa kau masih belum bersiap-siap?" tanya Ervin, menarik kursinya.


"Aku bingung harus memakai gaun apa?" Jawab Batari.


"Bukannya kau sudah memiliki gaun yang tempo hari aku belikan." Ujar Ervin.


"Iya, sudah kau robek kembali." Gerutu Batari, yang masih di dengar oleh Ervin.


"Aku akan membelikan lagi untukmu, kau tidak perlu khawatir." Tutur Ervin, yang menyeruput kopi panasnya.


"Beli aja terus pada akhirnya bakal dirobek kembali, sampai aku tidak memiliki gaun." Batin Batari, dengan menghela nafasnya kasar.


"Sekarang kau mandilah." Ujar Ervin.


"Baiklah." Ucap Batari, begitu malas beranjak dari tempat duduknya. Dengan berjalan gontai melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


"Delvin, kau bawakan beberapa gaun dari desainer dan Mua ternama, aku tunggu kau dalam waktu 25 menit!" Ujar Ervin.


"Baik, Bos." Jawab Delvin. Dengan menghela nafasnya kasar, ketika mendapatkan perintah gila dari bos atau sahabatnya itu hanya dalam waktu 25 menit.


Pertama-tama Delvin, menelepon pihak Mua satu persatu, setelah mendapatkan Mua. Delvin langsung meluncur ke sebuah butik untuk mencari gaun dengan ukuran tubuh, Batari.


~30 menit kemudian~


"Sekarang kau pilihlah gaunnya." Ujar Ervin. Membawakan beberapa gaun ke kamar, Batari.


"Aku akan mencoba yang ini." Ucap Batari, mengambil gaun berwarna peach dan membawanya ke walk in closet untuk mencobanya.


"Bagaimana?" tanya Batari, ketika gaunnya sudah dipakai di tubuhnya.


"Hmm... Ini terlalu terbuka di area punggungmu." Jawab Ervin, yang mengisyaratkan untuk Batari, mencoba dengan gaun yang lainnya.


"Kenapa aku merasa tidak rela, walaupun itu hanyalah bagian punggungnya, tetapi akan banyak pasang mata yang menikmati bagian dari tubuh, Batari." Batin Ervin.


"Tapi inikan cuma punggung," Cicit Batari.


"Cobalah yang lain." Ujar Ervin. Dengan Batari, yang mengambil gaun berwarna hitam untuk membawanya ke walk in closet.


"Bagaimana dengan gaun yang ini?" tanya Batari, memutarkan tubuhnya bak princess.


"Bagian dadamu terlihat begitu rendah, apa kau sengaja ingin memamerkan dadamu pada laki-laki hidung belang." Ujar Ervin. Dengan Batari, yang mengambil asal gaun selanjutnya.


"Yang ini tidak boleh yang itu tidak boleh, lalu aku harus memakai gaun yang seperti apa?"


"Sedangkan dirinya sendiri yang membawakan gaun seperti itu untukku." Gerutu Batari, ketika kembali menuju ke walk in closet.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Batari, dengan raut wajah yang sudah ditekuk.


"Gaun yang simple dan elegan, tentunya tidak terlalu terbuka seperti dua gaun yang ia coba tadi, membuatnya sangat pas dengan paras wajahnya yang menawan." Batin Ervin. Menatap Batari, penuh kagum.


...----------------...