My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 20



"Hah..." Jawab Batari, dengan menganggukkan kepalanya.


"A-aku t-tidak s-salah d-dengarkan, Tari" Cicit Ara, dengan ekspresi syoknya.


"Tidak Ra, pendengaranmu masih baik." Ucap Batari, dengan menggelengkan kepalanya.


"Bagaiamana mungkin kau bisa hamil, Tari?"


"Bahkan aku tidak bisa membedakanmu yang tengah berbadan dua?" tanya Ara, dengan keterkejutannya.


"Karena sebuah insiden, Ra... Hiks..." Ucap Batari, dengan isak tangisnya.


"Siapa Tari, laki-laki yang telah menghamilimu?" sambungnya kembali.


"K-kak Ervin." Cicit Batari, dengan suara amat kecilnya.


"Apa? aku tidak mendengarnya begitu jelas." Ujar Ara. dengan memegang kedua pundak Batari, yang sudah bergetar.


"K-kak Ervin" Ucap Batari, kembali.


"Apa!!!" Ujar Ara, begitu lebih terkejut lagi.


"Kau jangan bercanda, Tari?" sambungnya kembali, dengan tidak mempercayai ucapan Batari.


"Itu kenyataannya Ra, aku hamil oleh kakakku sendiri hiks..." Beo Batari, dengan isak tangisnya semakin pecah.


"Shitt! Bagaimana kak Ervin melakukan ini kepadamu? aku sungguh tidak menyangka." Ujar Ara.


"P-pelan-kan s-suaramu, Ra." Cicit Batari.


"Sorry." Beo Ara.


"Disaat itu kak Ervin, tengah mabuk berat. Hingga mengira aku adalah kak Disha, kekasihnya yang langsung ditarik kasar menuju kamarnya dan insiden pun terjadi begitu cepat, Ra."


"Sampai aku tidak bisa berontak lagi dengan tenaganya yang begitu kuat." Ucap Batari, dengan menghapus air matanya.


"Lalu bagaimana dengan hidupmu, Batari? tidak mungkinkan kalian berdua menikah dengan secara inses." Ujar Ara, dengan suara yang amat pelan.


"K-kami berdua t-telah m-menikah, Ra." Ucap Batari, yang kembali luruh air matanya.


"Apa!! K-kalian benar-benar menikah!" Ujar Ara, dengan keterkejutannya untuk ketiga kalinya.


"Pelankan suaramu Ra, takut ada orang yang mendengarnya." Ucap Batari.


"Sungguh lama-lama aku bisa jantungan, Tari." Ujar Ara, dengan memelankan kembali suaranya.


"Aku mohon kau jangan memberitahu ini semua kepada orang lain, biarkan ini menjadi sebuah rahasia." Ucap Batari, dengan memohon.


"Sampai kapan Tari, kau akan menyembunyikan kehamilanmu ini?"


"Sedangkan setiap bulannya perutmu akan terus membesar." Ujar Ara.


"Aku tahu Ra..."


"Dan aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menyembunyikan perutku ini, setidaknya aku berusaha untuk tetap bisa menyembunyikan perutku semampu aku." Ucap Batari.


"Aku rasa ucapanmu tidak akan menjamin untuk merahasikan kehamilanmu, lambat laun semua orang akan ngeh jika ada yang berubah dari bentuk fisikmu, Batari." Ujar Ara.


"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi hiks..."


"Pikiranku sudah buntu." Ucap Batari, air matanya yang terus berlinang.


Ara, yang merasa terketuk pintu hatinya. Ia pun tidak terus untuk menekan, Batari.


"Maafkan aku Tari, aku akan berusaha semampu aku untuk membantumu merahasiakan ini semua." Ujar Ara. Memeluk tubuh rapuh Batari, yang sangat bergetar.


Hiks... Hiks... Hiks...


...***...


~Rumah~


"Habis darimana kau baru pulang jam segini?" tanya Ervin, yang tengah duduk di ruang tamu.


"K-kak Erv--" Raut panik Batari. Di kala melihat Ervin, yang sudah berada di rumah.


"Kenapa ponselmu juga tidak aktif?" sambungnya lagi.


"Benar ponselku mati akibat kehabisan batrai." Batin Batari, dengan menelan salivanya.


"Apa ini kelakuanmu setiap hari?"


"Selalu pulang malam?" sambungnya lagi dengan tatapan begitu tajam. Membuat Batari, hanya mampu menundukkan kepalanya.


"Jawab!!"


Brakkk!!!


Ervin, dengan menggebrak meja. Dengan amarahnya yang sudah naik pitam, membuat Batari terlonjak kaget.


"Apa kau bisu sehingga enggan untuk menjawab dari pertanyaanku yang sesimple itu!" Sambungnya lagi seraya menunjuk wajah, Batari.


"A-aku--"


"Jawab dengan jelas! Prangg!!" Ujar Ervin, dengan melemparkan gelas di depan Batari.


"Akhhh!" Ringis Batari, di kala serpihan kaca mengenai kakinya yang sedikit demi sedikit mengeluarkan darah.


"Apa kau tahu, aku menunggumu selama satu jam di depan kampusmu dan mencarimu ke setiap tempat hingga datang ke rumah mama, tetapi tidak menemukanmu sama sekali." Ujar Ervin, dengan menggertakkan rahangnya.


"Kau pergi ke mana hah?!"


"Apa kau berkencan lagi dengan bocah sialan itu." sambungnya kembali dengan menarik dagu Batari, yang sudah meluruhkan air matanya.


"Jawab! Jangan hanya bisa menangis dan menangis!" Ujarnya kembali.


"Hiks... Hiks... Hiks..." Tangis Batari, yang amat kesakitan.


"Kau selalu membuat batas kesabaranku naik." Ujar Ervin dengan memukul tembok begitu kencang.


Bugh... Bugh... Bugh...


Hiks... Hiks... Hiks...


"Akhhhhh!" Ringis Batari, di kala perutnya mulai terasa kram dan penglihatannya pun sedikit demi sedikit terlihat buram.


~Keesokan Harinya~


"Akhhh!" Ringis Batari, dengan memegang sebelah kepalanya yang terasa pening.


"Kenapa aku ada di kamarku." Batin Batari, yang melihat kesekeliling kamarnya.


"Makanlah bubur ini selagi hangat." Tulis note di samping nampan yang berisi semangkuk bubur hangat.


"Ternyata kak Ervin, yang membawaku ke sini." Batin Batari, yang mengambil nampan buburnya.


Beberapa jam kemudian


Tap... Tap... Tap...


Langkah kaki Batari, perlahan menuruni anak tangga dengan kedua kakinya yang telah diperban, membuatnya merasa sakit ketika berjalan.


Tok... Tok... Tok...


Ceklekkk!


"Hai Batari..." Ucap Disha.


"Kenapa dia ke sini? bukannya hubungan mereka sudah berakhir." Batin Batari.


"Umm... Kak Ervin-nya, tidak ada di rumah." Ujar Batari, yang melangkahkan kakinya perlahan menuju sofa.


"Biar aku bantu." Ucap Disha yang memapah tubuh Batari, menuju sofa.


"Thanks." Ucap Batari.


"Kenapa kakimu bisa seperti ini, Batari?" tanya Disha.


"Tidak sengaja terkena serpihan kaca." Jawab Batari.


"Kenapa kau begitu ceroboh, sangat disayangkan gadis manis sepertimu terluka." Ujar Disha. Dengan Batari, yang hanya menyunggingkan senyumnya.


"Sebentar aku ambilkan minum untukmu." Ucap Batari.


"Biar aku saja yang mengambilnya sendiri." Ujar Disha.


"Tidak, kau adalah tamu jadi biar aku yang akan mengambilnya." Ucap Batari.


"Sebentar lagi aku akan menjadi Kakak iparmu Batari, dan begitu pun rumah ini aku akan menempatinya setelah kami berdua menikah." Ujar Disha.


"Ah, jangan-jangan kau belum mengetahui jika rumah ini khusus dibuat untuk diriku." Sambungnya kembali.


"Aku sudah mengetahuinya, tidak perlu kau perjelas lagi." Batin Batari.


"Hah... Aku baru mengetahuinya dari mulutmu langsung." Ucap Batari, yang melangkahkan kakinya.


"Batari, kau duduklah biar aku saja." Ujar Disha, yang menghalangi jalan Batari.


"Aku masih bisa menjamumu, di sini kakiku yang sakit tetapi tanganku masih bisa untuk hanya membawa segelas air." Ucap Batari. Membuat Disha, tidak berkutik lagi.


~Beberapa menit kemudian~


"Jus apaan ini rasanya aneh sekali." Batin Disha.


"Bagaimana rasanya? apa kau suka?" tanya Batari.


"Ya, aku menyukainya kau pandai sekali membuat jus." Jawab Disha, dengan berdalih.


"Jika kau menyukainya habisin dong, Kak." Ucap Batari.


Uhuk... Uhuk... Uhuk...


"Pelan-pelan kak tidak akan ada yang merebut jusmu." Ujar Batari, yang menepuk pelan tengkuk Disha.


"Ekhmm! Ada apa ini?" tanya Ervin.


"Aku hanya tersedak minum jus ini, Honey" Tutur Disha.


Ervin, yang penasaran dengan jus yang ada di tangan Disha. Ia pun langsung meneguk jus itu.


"Puhhhh! Jus apaan ini rasanya asin begini." Ucap Ervin, yang menyemburkan jusnya.


"A-asin..." Cicit Batari.


"Oh jadi kau yang membuatnya!" Ujar Ervin. Dengan Batari, menganggukkan kepalanya.


"Apa kau sungguh tidak bisa membedakan mana gula mana garam." Sambungnya kembali.


"Sudah Vin, jangan memarahinya" Ucap Disha.


"Ayo, lebih baik kita makan di luar." Ujar Ervin, menarik lengan Disha.


Hikss... Hiks... Hiks...


~Kamar~


"Bagaimana kondisi bayimu sayang?" tanya Ranti, lewat panggilan teleponnya.


"Sangat baik, Mah." Jawab Batari, dengan alibinya.


"Syukurlah cucu Mama, baik-baik saja." Ujar Ranti, dengan suara yang begitu bahagianya.


"Apa Ervin, mengantarmu sayang?" tanya Ranti, kembali.


"S-sure." Jawab Batari.


Tiba-tiba perutnya terasa kram dan begitu sangat sakit, tetapi Batari menahannya agar Ranti tidak curiga.


"Jangan lupa obatnya di minum sayang. Kalau begitu Mama, akan tutup teleponnya." Ujar Ranti.


"Akhhhh! S-sakit s-sekali." Rintihnya, dengan tangan yang sudah memegangi selimut begitu erat dan keringat dingin yang sudah bercucuran.


"Obat, ya obat aku harus meminumnya." Gumam Batari, yang mencari obat di dalam tasnya tetapi tidak menemukan sama sekali.


"Aaaakh! Ku-mohon ber-tahanlah di perutku... Aaaakh!" Rintihnya kembali, dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


"D-darah!" Ucap Batari.


...----------------...