My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 12



"Berisik Btari! Uhuk... Uhuk... Uhuk..." Ujar Ervin.


"K-kenapa kau melepas baju-mu?" cicit Batari, dengan masih memejamkan kedua bola matanya.


"Aku memang seperti ini tiap kali tidur." Ujar Ervin. Dengan santainya menjawab pertanyaan, Batari.


"T-tapi tidak di kamarku juga. K-kau melepas bajumu." Ucap Batari.


"Memangnya kenapa? Bukankan kau sudah pernah melihat dari setengah tubuhku. Ah, ralat semua tubuhku." Ujar Ervin. Menatap Batari, masih memejamkan kedua matanya.


"I-itu membuat-ku tidak nyaman..." Cicit Batari, dengan terbata-bata.


Drap... Drap... Drap...


"Deg... Deg... Deg...!" Degub jantung Batari, begitu kencang. Ketika langkah kaki Ervin, yang kini sudah berada di depannya.


"Bukalah matamu!" Ujar Ervin.


"Apa-apaan dia..." Batin Batari. Yang semakin merapatkan kedua matanya.


"Kuhitung sampai tiga, jika kau tidak membuka kedua matamu sekarang."


"Aku akan menciummu." Tutur Ervin, dengan membisikkan kata-kata terakhirnya di telinga Batari. Membuat Batari, menelan langsung salivanya.


"Sa-tu..."


"Pasti dia hanya menggertakku saja seperti kemarin." Batin Batari, yang masih dengan pendiriannya yaitu merapatkan erat kedua matanya.


"D-dua..."


"Rupanya kau ingin bermain-main denganku, Batari." Batin Ervin, dengan seringai di wajah tampannya.


"Ti-ga." Ucap Ervin, yang memajukan wajahnya. Detik berikutnya Ervin, mencium sekilas bibir ranum milik Batari, yang sudah menjadi candunya.


Dheg!


Kedua bola mata Batari, pun langsung terbuka seketika. Lalu meraba bibirnya sendiri dengan menatap wajah Ervin, yang tengah menyeringai.


"Kau!" Tunjuk Batari, dengan sebelah tangannya.


Glekkk!


Batari, yang terpana dengan roti sobek milik Ervin. Membuatnya sangat susah untuk menelan air liurnya kembali.


"Kau tidak boleh terpana, Tari. Dengan pemandangan yang ada di depanmu itu." Batinnya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ervin, yang melihat tingkah Batari. Membuatnya menjadi bingung.


"Ahh! Aku tidak bisa untuk tidak terpana dengan roti sobeknya. Sungguh semua wanita yang melihatnya pasti akan sama denganku." Batin Batari, dengan kembali menelan salivanya.


"Halo, Batari." Ujar Ervin, yang melambaikan tangannya di depan wajah Batari.


"Sadar Batari. Ayo bangun dari halusinasimu!" Batinnya lagi dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Batari!!!" Sambung Ervin, dengan menggoyang-goyangkan tubuh Batari.


"Aaaaaaaa!!!" Jerit batari, yang reflek mendorong tubuh Ervin. Hingga bokongnya mencium lantai.


Brukkkkk!


"K-kau selalu melanggar kesepakatan kita." Tutur Batari, dengan masih menunjuk wajah Ervin yang tengah kesakitan.


"Kau sendiri yang tidak membuka kedua kelopak matamu."


"Dari awal aku sudah berucap jika dalam hitungan ketiga kau tidak membuka kedua kelopak matamu. Aku akan menciummu."


"Lalu salahnya di mana...?" Ujar Ervin, yang berhasil berdiri kembali dengan mengelus-ngelus bokongnya yang masih terasa sakit.


"Sial! Benar juga yang dia ucapkan." Batin Batari, seraya menurunkan tangannya perlahan-lahan.


"Bagaimana-pun juga kau telah melewati batas untuk bersentuhan fisik denganku. Dua hari ini berturut-turut." Tutur Batari.


"Hanya sekedar ciuman sekilas. Bukankah kita sudah melakukan lebih dari itu."


"Sehingga menghasilkan sebuah kecebong yang ada di dalam perutmu." Ujar Ervin, dengan menunjuk perut rata Batari.


"B-bagiku itu bukan hanya ciuman sekilas. Tetapi tetap saja kau telah melewati batas."


"Bersentuhan secara fisik. Setelah kita membuat kesepakatan untuk tidak bersentuhan fisik sampai melewati batas.


"Setelah tumbuhnya kecebong ini di dalam rahimku." Ucap Batari, dengan menunjuk ke arah perutnya sendiri.


Drap... Drap...


"Inilah contohnya jika aku melewati batas." Ujar Ervin, yang meremas gunung kembarnya.


Batari, yang menahan suaranya dengan meremas bajunya begitu kuat. Agar tidak mengeluarkan suara dari mulutnya.


"Dan perlu diingat."


"Jadi mulai sekarang aku bebas menyentuhmu sesukaku." Sambungnya kembali.


"Tidak! Aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk menyentuhku seenakmu."


"Aku memiliki hak atas tubuhku sendiri." Ucap Batari.


"Hahaha... Kau sangat lucu, Batari."


"Kau sekarang itu milikku. Bahkan tubuhmu sepenuhnya milikku. Jadi aku tidak perlu meminta izinmu." Ujar Ervin.


"Dalam mimpimu!" Ucap Batari, begitu telak.


"Ya dalam mimpiku."


"Aku bisa membelai wajah ini semauku."


"Kening ini aku bebas menciumnya kapanpun yang aku inginkan."


"Begitupun dengan kedua mata indahmu, hidungmu, pipimu dan bibirmu yang membuatku begitu candu."


"Lalu leher jenjangmu selalu membuat daya tariknya begitu besar."


"Untuk menarik diriku agar menyentuh leher ini untuk menstempel bahwa kau adalah milikku." Ujar Ervin, dengan menyentuh seluruh wajah hingga leher Batari begitu sensual.


"Akan aku pastikan. Aku adalah candu untukmu, Batari." Sambungnya kembali dengan mengangkat tubuh, Batari.


...***...


~Kantor JE Corp~


"Apa ini?" tanya Ervin, yang menerima berkas dari Delvin.


"Kita kalah tender, Bos." Jawab Delvin, dengan menelan salivanya susah.


"Lantas siapa yang memenagkan tender itu?" tanyanya kembali dengan membuka berkas yang berada di tangannya.


"J Group." Jawab Delvin. Membuat Ervin, terdiam sejenak.


"Kenapa tender itu bisa jatuh di tangan J Group?" tanya Ervin.


"Maaf, Bos. Pengajuan kita lebih rendah dari J Group." Jawab Delvin.


"Tidak masalah kita kalah tender. Yang terpenting kau urus investor dari Italia untuk datang terlebih dahulu ke perusahaanku." Tutur Ervin, yang menutup berkas-berkasnya kembali.


"Apa kau akan mempersunting Disha terlebih dahulu? sebagai syarat dari investor Italia agar tertarik dengan perusahaanmu untuk menanamkan sahamnya." Ujar Delvin.


"Hanya seorang istrikan. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Aku akan memenuhi persyaratan itu." Ujar Ervin, yang beranjak dari kursi kebesarannya.


"Ini seorang istri, Vin."


"Bukan seorang bitchh yang bisa kau beli di setiap club." Tutur Delvin, yang tidak mengerti dengan jalan pikiran dari Ervin.


...***...


Hari yang ditunggu-tunggu oleh Bellona Chalondra Evano dan Attar Bakhtiar, yang sore nanti acara pertunagannya berlangsung.


"Kau sangat cantik, Mba." Puji Batari, ketika melihat Ellona menggunakan kebaya yang melekat di tubuhnya.


"Terimakasih Tari. Kau pun sangat cantik." Ucap Ellona, dengan menyunggingkan senyumnya.


"Ayo Mba! Sebentar lagi acaranya di mulai."


"Aku sungguh penasaran ingin melihat sosok yang telah berhasil menaklukkan hati Mba Ellona, yang sekeras baja." Ujar Batari.


"Kau pasti akan sangat terkagum padanya." Tutur Ellona, dengan wajah yang sudah bersemu merah.


"Ah Mba, kau membuatku semakin begitu penasaran." Ucap Batari, yang kini sudah melangkahkan kakinya tepat berada di samping Ellona.


"Lihat Tari! Ervin, sangat tampan ya." Bisik Ellona, seraya menggoda Batari.


Glekkk!


Batari, yang melihat ke arah Ervin. Membuatnya mengingat dengan roti sobek miliknya yang begitu mempesona.


"Ada yang terpesona nih..." Bisik Ellona, dengan menyunggingkan senyumnya.


"Tidak! Aku tidak terpesona, Mba." Ucap Batari, yang cepat-cepat mengalihkan arah pandangnya.


"Walaupun iya, Mba akan mendukungmu, Tari." Bisik Ellona, kembali.


"Apaan si Mba..." Ucap Batari, yang kembali melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. Dengan rombongan dari keluarga tunangan laki-laki sudah masuk ke dalam rumah.


"Deg! Bryan." Batin Batari.


...----------------...