
~Rumah Sakit~
"Di mana dia?" tanya Vano terhadap Batari.
"Maksud, Bang Vano?" tanya balik Batari.
"Suami sialanmu itu." Ujar Vano.
"Oh, aku tidak tahu." Ucap Batari, menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong.
"Suami macam apa yang meninggalkan istrinya pasca keguguran."
"Akan kuhajar setelah bertemu dengannya." Ujar Vano, dengan amarah yang sudah ke ubun-ubun.
"Aku yang memintanya untuk meninggalkanku." Ucap Batari, menatap wajah Vano.
"Maksudmu, Tari?" tanya Vano dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Sudah kuputuskan, aku akan berpisah darinya." Jawab Batari dengan membuang nafasnya kasar.
"Baguslah." Ujar Vano, seraya mendukung keputusan Batari.
"Kenapa Bang Vano setuju dengan keputusanku?" tanya Batari.
"Abang hanya ingin melihatmu bahagia dan akan selalu mendukung apapun keputusanmu." Jawab Vano.
"Aku tidak setuju." sarkas Ellona, yang menarik telinga Vano.
"Apa-apaan kau, El!" Ujar Vano di kala telinganya yang sudah memerah dan terasa sakit.
"Kau jangan dengerin dia, Tari." Ucap Ellona dengan memicingkan sebelah matanya ke arah Vano.
"Aku tidak setuju dengan keputusanmu itu." Sambungnya kembali menatap wajah Batari.
"Apa alasanmu ingin berpisah darinya?" tanya Ellona.
"Karena kak Ervin, aku kehilangan bayiku hiks..." Jawab Batari yang meluruhkan air matanya.
"Itu sudah takdir, Tari."
"Kau jangan menyalahkan Ervin begitu saja."
"Ervin juga merasa begitu terguncang disaat mengetahui bayi yang kau kandung keguguran pasca insiden tabrak lari itu." Ujar Ellona.
"Kau tidak bisa memaksa Batari, El." sarkas Vano.
"Diam kau, Vano!" Ujar Ellona, membuat Vano bungkam seketika.
"Itu bukan takdir, Mba." Beo Batari, dengan dipeluk oleh Ellona.
"Kau tidak boleh mengatakan seperti itu, Tari." Ucap Ellona.
"Kenapa tuhan tidak bisa menyelamatkan bayiku."
"Sehingga aku begitu terguncang akan kehilangannya yang selama ini aku perjuangan agar dia tetap berada di rahimku hiks..."
"Kenapa, Mba? tanya Batari yang menangis dipelukan Ellona.
Di sisi lain.
"Pah coba lihat foto ini!" Ujar Ethan yang memberi selembar foto kepada Chairi.
"Kenapa dia mirip sekali dengan Cameron." Batin Chairi menatap syok wajah seseorang yang berada diselembar foto yang sedang dirinya pegang.
"Siapa dia?" tanya Chairi menatap wajah Ethan.
"Griffin Ervin Johnathan." Jawab Ethan.
"Deg! Jangan-jangan Dia..." Batin Chairi.
"Kenapa dengan reaksi Papa seperti itu?"
"Atau jangan-jangan dia anak haram Papa dari wanita lain?" tanya Ethan dengan segala kecurigaannya.
"Jaga mulutmu Ethan!" Bentak Chairi.
"Apa Papa kenal dengan Ervin?" tanya Ethan dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Ternyata kau memiliki seorang putra Cameron." Batin Chairi yang masih fokus dengan menatap wajah putra dari Cameron.
...***...
~Kampus~
"Rissa!" Panggil Ara, melihat Rissa baru turun dari mobilnya.
Rissa pun mengacuhkan panggilan dari Ara dan terus berjalan tanpa berniat menolehkan kepalanya.
"Rissa, tunggu!!!" Teriak Ara, mengejar Rissa yang berjalan begitu cepat.
"Kau mau apa lagi?" tanya Rissa, yang sudah membalikkan badannya menatap ke arah Ara yang terlihat ngos-ngosan.
"Kau tidak ingin menjenguk Batari di rumah sakit." Jawab Ara yang menarik nafasnya dalam-dalam.
"Ris, aku tahu kau kecewa kepada kami berdua. Aku minta maaf untuk semua itu." Ucap Ara bersungguh-sungguh.
"Aku sangat sakit mengetahui kebenaran itu."
"Apa lagi Batari sudah menikah dengan kak Ervin seseorang yang selama ini aku sukai." Ucapnya.
"Jika insiden itu tidak terjadi, mungkin alurnya tidak akan seperti ini."
"Please Ris, aku mewakilkan maaf dari Batari untukmu." Ujar Ara, seraya memohon.
"Tidak semudah itu." Ucap Rissa, melangkahkan kakinya kembali.
"Batari keguguran! Apa kau masih tetap akan membencinya." Ujar Ara.
...***...
"Dimana aku." Gumam Ervin, dengan memegang kepalanya yang terasa pening.
"D-disha!" Syok Ervin yang melihat Disha masih tertidur di sampingnya.
"Ini tidak mungkin." Batin Ervin yang melihat dirinya dalam keadaan naked di balik selimutnya.
"Pagi..." Ucap Disha, yang menyunggingkan senyumnya.
"Apa yang kau lakukan kepadaku?" tanya Ervin.
"Apa kau tidak mengingatnya apa yang semalam kita lakukan." Jawab Disha.
"Kau pasti menjebakku!" Ujar Ervin, seraya menunjuk tangannya di depan wajah Disha.
Plakkk!
"Kau sungguh laki-laki bajingan!"
"Pantas saja kau menghamili adikmu, rupanya kau pelupa disaat mabuk." Ucap Disha.
"Omong kosong! Kau pasti menjebakku." Ujar Ervin yang memunguti pakaiannya.
"Ya, awalnya aku ingin menjebakmu hanya untuk sekedar berfoto saja disaat kau sudah tidak sadarkan diri."
"Tetapi tiba-tiba kau menarikku di bawah kungkunganmu dan menganggapku sebagai Batari."
"Sehingga terjadilah malam panas ini." Ucap Disha dengan mata yang berkaca-kaca.
"Shittt!" Umpat Ervin yang menarik rambutnya begitu frustasi.
"Kau..." Ucap Ervin yang langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Disha.
~Rumah Sakit~
"Aku akan membantumu ke kursi roda." Ujar Ervin dengan penampilan yang masih acak-acakkan datang ke rumah sakit.
Batari pun hanya terdiam dan menatap Ervin yang tengah menggendong tubuhnya untuk duduk di kursi roda.
"Aku akan membereskan barang-barangmu sebentar." Ujar Ervin yang akan melangkahkan kakinya.
"Tidak perlu." Membuat Ervin menghentikan langkah kakinya.
"Semua barangku sudah dibereskan oleh bang Vano." Ucap Batari.
"Baiklah kalau begitu." Ujar Ervin, yang kini mendorong kursi roda Batari menuju mobil untuk segera pulang ke rumahnya.
"Antarkan aku ke mobil, bang Vano." Cicit Batari, membuat Ervin mendadak berhenti mendorong kursi rodanya.
"Maksudmu?" tanya Ervin yang kini menatap wajah Batari.
"Aku akan pulang ke rumah mama dan papa." Jawab Batari, memalingkan wajahnya dari tatapan Ervin yang tengah menatapnya.
"Why? Kita masih suami istri, kenpa kau ingin pulang ke rumah mama dan papa?" tanya Ervin yang benar-benar frustasi dibuatnya.
"Aku ingin menenangkan diri." Jawab Batari, dengan menahan air matanya agar tidak keluar.
"Untuk memikirkan dengan matang, berpisah dariku iya."
"Apa sebegitunya kau ingin berpisah dariku?" tanya Ervin membuat Batari menganggukkan kecil kepalanya.
"Baik, jika itu sudah keputusanmu aku tidak bisa menahanmu lagi tetap berada di sampingku." Ujar Ervin yang mendorong kembali kursi rodanya menuju mobil Vano yang sudah menunggunya. Dengan air mata Batari yang sudah keluar membasahi tangannya tanpa diiringi suara isak tangis.
"Aku titip Batari, Bang." Ujar Ervin kepada Vano, membuat Vano menatap iba terhadap Ervin yang terlihat begitu frustasi.
"Tenang saja, aku akan menjaga Adikku dengan baik." Ucap Vano yang mengambil alih Batari.
"Kalau begitu aku pamit, Bang." Ujar Ervin, melangkahkan kakinya menuju mobilnya dengan perasaan hampa.
"Kenapa kau menangis?" tanya Vano yang melihat air mata Batari terus membasahi wajahnya.
"Aku hanya kelilipan, Bang." Jawab Batari, yang menyeka air matanya dengan mengedip-ngedipkan kedua matanya.
"Aku tahu kau tengah berbohong untuk menutupi rasa sedihmu." Batin Vano.
...----------------...