
Naya mengucek matanya berkali-kali berharap apa yang dilihatnya saat ini adalah nyata. Dan ternyata memang benar. Calon suaminya ada di hadapannya. Namun Naya menahan diri untuk tidak memeluk Zaky karena ada kedua orang tuanya.
“Mas, pagi-pagi kok sudah datang?” tanya Naya bingung. Apalagi mendapat tatapan seperti itu dari Zaky. membuat jantungnya berdegup kencang. Apalagi saat ini penampilannya sungguh sangat memalukan.
“Kenapa memangnya? Nggak boleh? Katanya suruh datang ke sini seminggu sekali?” tanya Zaky dengan tersenyum tipis.
“Eh, siapa yang-“
“Gini nih, Pa kalau sudah kecil selalu bersama. Pas pisah sebentar saja jadi seperti ini. kamu ini harusnya mengerti Naya, kalau calon suami kamu itu sibuk dan jarak rumahnya sangat jauh. Jadi, kamu jangan memaksa Zaky untuk datang.” Senja justru mengomel dan menyalahkan Naya. Memang Naya dulu tidak mau ditinggal Zaky, tapi bukan dia yang memaksa Zaky untuk datang seminggu sekali. Tapi Zaky sendirilah yang menawarkan. Kenapa jadi dia yang disalahkan.
“Tapi, bukan Nay-“
“Sudah, sudah! Kalau sedang di meja makan jangan berdebat. Ayo makan dulu!” Sahut Xavier menghentikan perdebatan kecil antar anak dan ibu itu.
Dengan wajah kesal akhirnya Naya langsung makan. Dia melirik Zaky dengan sengit. Entah apa yang akan dilakukan oleh Naya pada calon suaminya setelah ini.
Keempat orang itu akhirnya menikmati sarapan mereka dengan khidmat. Senja merasakan kehangatan saat sedang berkumpul seperti ini. terlebih dia teringat saat status Zaky masih sebagai kakak Naya. Namun, meskipun status itu sudah berubah, Senja tetap merasakan hal yang sama.
Usai sarapan, Naya kembali naik ke kamarnya untuk mandi. Zaky pun tidak tinggal diam. dia mengikuti Naya, karena tahu kalau saat ini calon istrinya itu sedang merajuk.
Naya tidak tahu kalau Zaky mengikutinya. Dia merasakan kalau pintunya sulit ditutup lantaran ada kaki Zaky menghalangi.
“Apaan sih?” kesal Naya.
“Maaf. Aku tidak bermaksud memojokkanmu tadi.”
“Sudah, sana! Aku mau mandi.” kesal Naya tanpa menjawab permintaan maaf Zaky.
“Aku akan masuk atau ikut mandi sekalian jika kamu tidak memaafkanku.” Ancam Zaky membuat Naya semakin geram.
“Iya, iya! ya sudah aku mau mandi dulu. Mas tunggu dulu di sana!” Naya menunjuk ruang santai yang ada di sebelah kamarnya. Zaky pun mengangguk lalu tersenyum jail.
Cup
Setelah berhasil mencuri satu kecupan di bibir Naya, Zaky langsung menuju ke ruang santai tanpa mempedulikan Naya yang masih terlihat bingung dan mematung.
“Dasar mesyuumm!!” gerutunya lalu masuk ke kamar.
**
“Apa perlu menangkap pelaku itu? bukankah kabar itu sudah menghilang, Mas?” tanya Naya yang saat ini sedang duduk santai dengan Zaky.
Zaky sudah memberitahu pada Naya kalau kedatangannya memang untuk menangkap pelaku penyebar berita hoax itu. namun Zaky tidak mengatakan siapa orangnya, agar tidak memberikan beban pada Naya.
“Tidak bisa begitu, Sayang! Meskipun kabar itu sudah tidak terdengar lagi, setidaknya mereka harus dibneri efek jera agar suatu saat kalau bicara bisa dikendalikan. Aku nanti juga minta bantuan Papa untuk mengatasi masalah ini.”
“Terima kasih. Setelah semua masalah ini beres, kita bisa mempersiapkan acara pernikahan.”
Naya hanya menganggukkan kepalanya. Dia sangat percaya dengan Zaky.
Setelah itu keduanya membicarakan tentang rencana pernikahan. Meskipun belum bisa mempersiapkan segala sesuatunya, setidaknya Zaky tahu tentang konsep pernikahan seperti apa yang diinginkan oleh Naya. Dia berusaha mengabulkan permintaan Naya.
“Nanti saja setelah masalah itu selesai, kita bisa langsung mendatangi seseorang yang ahli di bidangnya. Aku juga sudah mendapatkan saran dari teman yang mempunyai kenalan EO terkenal dan pastinya sangat dipercaya.”
“Baiklah. Apapun konsep yang kamu inginkan, aku akan mengabulkannya. Karena pernikahan ini sekali seumur hidup kita.” Ucap Zaky sambil memegang lembut tangan Naya.
Naya benar-benar tersentuh dengan ucapan Zaky. dia sangat bersyukur akhirnya menjadikan Zaky, sesesorang yang dulu sebagai kakaknya, kini akan menjadi suaminya.
Mereka berdua ngobrol santai membicarakan segala hal, hingga sampai akhirnya Senja datang karena Xavier ingin bicara dengan Zaky. tentunya akan membahas pelaku penyebar berita hoax itu.
“Aku pergi dulu, ya!” pamit Zaky.
***
Setelah berbicara sebentar dengan Papanya di ruang kerjanya, hari ini juga Zaky dan Xavier akan menangkap pelaku itu. langkah pertama yang mereka lakukan adalah datang ke kantor polisi untuk membuat laporan, setelah itu meminta bantuan pihak kepolisian untuk menangkap pelaku yang berjumlah enam orang dan satu orang asing sebagai penyebar.
Xavier awalnya terkejut saat diberitahu oleh Zaky kalau pelaku itu adalah karyawannya sendiri. Jadi dia langsung bertindak cepat mengatasi masalah itu.
Dalam waktu beberapa jam saja, pelaku itu sudah berhasil diringkus. Hanya satu pelaku saja yang lolos. Dan polisi masih terus memburunya.
Kelima pelaku dan satu orang penyebar beritanya itu kini sudah digelandang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan apa yang sudah mereka perbuat. Zaky tidak serta merta memberikan bukti yang cukup akurat, karena dia ingin mendengar sendiri pengakuan dari mereka.
Rupanya cukup rumit proses interogasi pada pelaku itu. mereka terus mengelak dan tidak mau mengaku. Namun dari Bahasa tubuh yang mereka tunjukkan polisi sudah tahu kalau mereka semua berbohong. Dan jalan terakhir untuk membungkam mulut mereka adalah menunjukkan bukti yang diperoleh Zaky.
Pelaku yang merupakan karyawan Xavier itu terus berteriak dan memberontak saat akan dimasukkan ke sel tahanan sebelum melakukan sidang. Sedangkan satu peleku penyebarnya sempat meminta maaf pada Xavier.
“Terima kasih banyak, Pak atas bantuannya. Saya harap mereka mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.” Ucap Xavier pada kepala kepolisan setempat sebelum pergi.
.
.
.
*TBC
Maaf, baru bisa up jam segini🙏
Happy Reading‼️