
Naya menghembuskan nafasnya pelan saat Zaky masih memeluknya dari belakang. Jujur saja ia merasa sangat bersalah karena belum bisa memberikan haknya untuk sang suami. namun tidak dapat dipungkiri kalau masih ada rasa takut dalam hati Naya dan bayang-bayang perbuatan Aksa dulu.
“Kamu jangan merasa bersalah, Sayang! Aku janji tidak akan memaksa dan sabar menunggu sampai kamu benar-benar mau.” Bisik Zaky tepat di telinga Naya.
Zaky jelas tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya saat ini. dari pergerakan kecil tubuh Naya yang seperti bergetar ketakutan, dia paham kalau istrinya masih teringat kejadian itu. sebenarnya Zaky juga masih sangat marah pada perbuatan Aksa. Namun balas dendam bukanlah solusi yang terbaik. Biar hukum saja yang bertindak.
Setelah intinya kembali tenang, Zaky memeluk Naya dengan leluasa. Ia juga mengusap lembut kepala Naya dan memberikan kecupan kecil di sana. Beberapa saat kemudian terdengar dengkuran halus dari bibir Naya.
Zaky bangun dari tidurnya setelah memastikan Naya benar-benar terlelap. Ia mencari ponselnya untuk menghubungi salah satu temannya untuk dimintai bantuan atau saran mengenai trauma yang dialami oleh Naya.
Cukup lama Zaky berbincang-bincang melalui sambungan telepon bersama temannya yang tentunya ahli di bidang itu. saran paling utama adalah membawa Naya ke psikiater. Tapi Zaky tidak yakin Naya akan mau. Dan saran kedua jika Naya benar-benar tidak mau pergi ke psikiater adalah membawanya pergi jalan-jalan, atau melakukan kegiatan yang menyenangkan.
**
Malam harinya Naya dan Zaky sudah berkumpul di ruang makan bersama Ayah dan Bundanya. Badan Naya sudah lebih segar setelah istirahat beberapa saat yang lalu.
“Apa kamu suka Sayang dengan suasana di rumah ini?” tanya Bunda ingin tahu kesan pertama menantunya.
“Naya sangat suka, Bunda. Hawanya sangat sejuk dan pemandangan di sekitar juga sangat memanjakan mata.” Jawab Naya dengan mengulas senyuman.
Nyonya Rosma dan Tuan Bagas juga tampak bahagia. Apalagi ini adalah pertama kalinya mereka tinggal bersama menantunya. Kedatangan anggota baru dalam keluarga Tuan Bagas membawa kebahagiaan tersendiri bagi sepasang suami istri itu sejak dulu. Terlepas dari kejadian buruk yang sempat menimpa Naya setelah pesta pernikahannya.
Sebenarnya Tuan Bagas tipe orang yang tidak bisa lepas tangan begitu saja kalau ada salah satu anggota keluargnya tersakiti. Meskipun Zaky sudah mengatakan kalau akan mengatasi masalah itu sendiri, tetap saja Tuan Bagas tidak tinggal diam. ia tetap mengawasi jalannya proses hukum pada Aksa.
“Syukurlah, Ayah sangat senang mendengarnya. Dengan begitu Papa dan Mama kamu tidak akan khawatir lagi dengan keadaan kamu Nak Naya.” Sahut Tuan Bagas ikut menimpali.
Mereka berempat kembali melanjutkan makan malamnya dengan khidmat. Masakan Bunda Rosma juga cocok di lidah Naya. Bahkan rasanya hampir sama dengan masakan Mama Senja.
“Mau nambah lagi, Sayang?” tanya Zaky saat melihat piring Naya sudah hampir bersih.
Naya hanya menggeleng pelan. Dia baru sadar kalau makannya sangat lahap dan habis lebih dulu dibandingkan yang lain. Tapi memang sejak bangun tidur tadi perut Naya sudah lapar. Lalu ditambah masakan Bundanya yang sangat enak hingga membuat Naya agak lupa diri.
Usai makan malam, Zaky mengajak Naya keluar rumah untuk jalan-jalan. Dia mungkin akan memilih saran kedua yang diberikan oleh temannya tadi. yaitu membawa Naya pergi jalan-jalan atau melakukan kegiatan yang menyenangkan. Karena menurut Zaky trauma yang dialami istrinya tidak begitu parah dan harus dibawa ke psikiater.
“Kita mau kemana, Mas?” tanya Naya penasaran saat sudah berada di dalam mobil.
Kediaman rumah Zaky yang memang sudah berada di kawasan puncak, jadi tidak membutuhkan waktu lama lagi untuk mereka sampai di tempat yang menurut Zaky sangat indah. Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit mereka sudah sampai di lereng pegunungan dimana tempat itu tidak begitu ramai dan ada beberapa tenda café dengan lampu berkelap-kelip di sana.
Naya keluar mobil lebih dulu. Dia sangat takjub dengan pemandangan malam di lereng pegunungan yang sangat indah. Naya duduk di atas kap mobil sambil menghirup dalam udara sejuk di sekitarnya. Sedangkan Zaky memilih untuk ke café yang tak jauh dari mobilnya terparkir untuk membeli minuman hangat.
“Apa kamu suka dengan pemandangannya?” tanya Zaky dengan membawa dua gelas minuman yang masih mengepulkan asapnya lalu meletakkannya di sebuah meja kecil yang memang tersedia di sana.
“Aku sangat suka, Mas. Terima kasih telah membawaku kesini. Sepertinya tempat ini akan menjadi tempat favoritku selama tinggal di sini.” jawab Naya dengan mata berbinar.
Mobil Zaky yang terparkir menghadap langsung pada lerang pegunungan, dan suasana sekitar yang tidak terlalu ramai membuatnya sangat bebas untuk bisa berduaan dengan sang istri. Lalu ia ikut naik ke atas kap mobil, duduk sejajar dengan Naya.
“Aku tidak akan pernah bosan mengajakmu kesini kalau itu akan membuatmu senang.” Ucap Zaky sambil menangkup kedua pipi Naya.
Jantung Naya mendadak berdegup kencang saat matanya menatap inten mata suaminya. apalagi saat ini Zaky semakin mencondongkan wajahnya pada Naya hendak menciumnya. Tapi Naya segera menahannya karena sadar dimana dirinya sedang berada.
“Mas, nanti ada yang lihat. Jangan di sini.” cegah Naya dengan wajah memerah.
“Jangan di sini?” tanya Zaky sambil menautkan alisnya. Apakah itu tandanya Naya mau melakukannya jika berada di tempat tertutup.
“Ya sudah ayo ikut aku!” Zaky turun dari kap mobil lalu menarik tangan Naya memasuki mobil. Bahkan minuman yang sudah dipesan Zaky lupakan begitu saja.
“Kita mau kemana, Mas?”
“Kamu lihat cottage di atas puncak itu? aku yakin kamu akan sangat sennag jika melihat pemandangan malam dari tempat yang lebih tinggi lagi.” jawab Zaky dengan senyum smirk tanpa diketahui Naya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️