Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 97



Pak Basir beserta istri dan anaknya kembali mendatangi Arselo, Safira dan anak-anaknya di dekat parkiran mobil. Saat itu acara yang digelar oleh sekolahan anak-anaknya sudah selesai, dan hanya tinggal beberapa orang tua murid beserta guru saja yang masih ada di sana.


"Permisi, tuan" ucap pak Basir menghentikan Arselo yang akan membukakan pintu mobil untuk Safira.


"Ya?"


"Saya sekeluarga ingin meminta maaf atas kejadian hari ini, termasuk ucapan menyakitkan dari istri dan anak saya" ucap pak Basir.


Istri pak Basir yang berada di belakang suaminya pun melangkah untuk menghampiri Safira.


"Bu, saya minta maaf atas perkataan menyakitkan saya tadi. Tidak seharusnya saya berkata buruk tentang ibu dan keluarga, juga merendahkan ibu dengan mengatakan wanita mur*h*n. Saya mohon tolong maafkan saya, bu Fira" ucap istri pak Basir.


"Kalo ini saya maafkan, bu. Saya harap kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Dan juga, tolong jangan berkata buruk di depan anak-anak. Mereka sangat pandai menirukan perilaku orang di sekitarnya, termasuk kebiasaan-kebiasaan ibu sehari-hari" jawab Safira.


"Iya bu, Saya janji kejadian seperti ini tidak akan pernah terulang kembali" ucap ibu itu.


"Terimakasih tuan Arselo, karena anda masih mempekerjakan suami saya dan tidak memecatnya" sambung ibu itu pada Arselo, Arselo sendiri tidak menjawab ucapan ibu itu dan hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Baiklah tuan, nyonya. Saya ucapkan terimakasih banyak karena anda sudah memaafkan kesalahan dan ketidak sopanan yang sudah istri dan anak saya lakukan terhadap kalian. Kami pamit undur diri, maaf sudah membuat kalian merasa terganggu" ucap pak Basir pada Arselo dan Safira.


"Iya sama-sama pak. Kami juga permisi" jawab Arselo.


Setelah ia melihat keluarga pak Basir pergi, barulah Safira dan Arselo pun masuk kedalam mobilnya menyusul anak-anak.


Sebenarnya Safira merasa penasaran dengan apa yang diucapkan Arselo pada pak Basir, sehingga istrinya mau langsung meminta maaf, padahal terakhir kali di kantor kepala sekolah, istri pak Basir itu masih berbicara dengan kata-kata kasar padanya.


"El, apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Safira saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Tentu saja" jawab Arselo seraya menganggukkan kepalanya.


"Sebenarnya apa yang kamu katakan pada pak Basir itu? Sehingga membuat sikap istrinya berubah?" tanya Safira lagi dengan penasaran.


Mendengar pertanyaan Safira, Arselo tersenyum tipis, entah apa yang dia pikirkan saat ini.


"Sebenarnya..."


Flashback on


Pak Basir mengikuti langkah Arselo yang meminta untuk berbicara empat mata dengannya. Setelah menemukan tempat yang cocok untuk mereka berbicara, Arselo pun memulai percakapan.


"Pak, saya tidak tahu cara anda untuk mendidik istri. Tapi yang saya tangkap dari perkataan dan perilakunya, dia tidak mencerminkan orang baik-baik. Saya sangat tidak menyukai hal itu, apalagi ketika anak anda juga mengatakan hal yang menyakitkan untuk anak saya–" ucapan Arselo terputus.


"Kenapa saya harus memikirkan tentang perawatan anak anda? Sedangkan istri anda sendiri tidak tidak memikirkan bagaimana perasaan anak saya yang sudah dikatai oleh anak kalian. Apalagi istri anda berkata bahwa kami adalah pasangan h*r*m di depan banyak orang?" tanya Arselo dengan dingin.


Pak Basir makin menundukkan kepalanya dalam, ia tahu jika istrinya sudah keterlaluan. Tapi ia tidak bisa membiarkan jika dirinya dipecat oleh Arselo, karena hal itu bisa membuatnya kesulitan untuk membiayai putri kecil mereka yang sedang berjuang untuk hidup.


"Saya mohon dengan sangat, tuan Arselo. Tolong jangan pecat saya, saya benar-benar membutuhkan pekerjaan ini untuk membiayai pengobatan putri kecil kami dan juga biaya hidup keluarga" mohon pak Basir.


Setelah terdiam cukup lama untuk mempertimbangkannya, Arselo pun tidak memecatnya. Hanya saja ia akan dipindah tugaskan ke daerah yang sangat terpelosok.


"Baiklah saya tidak akan memecat, bapak. Hanya saja, mulai minggu depan anda harus bekerja di daerah pelosok. Bawa semua keluarga anda, sisakan saja putri kecil kalian yang sedang sakit. Saya akan menanggung semua biaya pengobatannya, anda hanya tinggal fokus pada keluarga yang anda bawa, serta proyek yang akan anda tangani" terang Arselo.


Mendengar perkataan tuannya itu, pak Basir merasa lega, lantas ia pun bangun dari posisi bersimpuh dan langsung menghampiri Arselo untuk mengucapkan terima kasih padanya.


"Terimakasih, terimakasih banyak, tuan. saya sangat bersyukur karena anda tidak memecat saya" ucap pak Basir.


"Saya melakukan ini semua karena saya peduli pada anak perempuan anda, dan karena saya pun memiliki anak perempuan" jawab Arselo.


Ya, Arselo memilih untuk memindahkan pak Basir beserta keluarganya, tanpa memecatnya. Ia berfikir bagaimana jika ia dan Qirani yang sedang berada di posisi itu. Maka dari itu Arselo pun mengalah dan tidak mengikuti keinginannya.


Jika mengikuti keinginannya, tentu saja Arselo ingin melihat keluarga itu menderita.


Flashback off


Setelah mendengar cerita Arselo, Safira tersenyum kecil.


"Aku tidak menyangka jika dia akan membela kami di hadapan orang lain" batin Safira.


Arselo menatap Safira heran karena wanita hamil itu tidak berhenti tersenyum, setelah Arselo menceritakan kejadian tadi.


"Apa ada hal yang lucu, Fira?" tanya Arselo penasaran.


Senyum Safira perlahan memudar, ia sadar mungkin Arselo sedang menertawakannya karena ia tidak berhenti tersenyum.


"Tidak ada" jawab Safira ketus.


Arselo kembali mengerutkan keningnya.


"Apa aku salah berbicara lagi? Kenapa Safira menjawab pertanyaanku dengan ketus?" batin Arselo.


Sepanjang perjalanan ke rumah Safira, tidak ada lagi pembicaraan, Arselo yang sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya. Sedangkan Safira dengan prasangka buruknya pada Arselo.