
Abizar yang pertama menyadari jika Dayyan terlepas dari genggaman tangannya segera mencari anak itu, tapi belum sempat ia menghindarkan Dayyan dari bidikan pistol penjahat itu, pelatuknya sudah di tarik hingga ia sendiri tidak bisa menghindarinya, punggung Abizar menjadi perisai untuk menghalangi peluru itu agar tidak mengenai Dayyan.
"Apa kau baik-baik saja nak?" tanya Abizar sesaat sebelum kesadarannya hilang.
"Papa...!!!"
"Mas...!!!"
"Abizar!!!"
"Abang!!!"
Teriak orang-orang yang ada di sana saat melihat punggung Abizar yang sudah berdarah dengan tiga luka tembak di sana.
Sedangkan penjahat yang tadi menembaki sudah berhasil lolos sebagian, karena yang sebagiannya sudah di lumpuhkan oleh Arselo dan anak buahnya yang lain.
"Ayo cepat kita bawa dia ke rumah sakit terdekat" ujar Arsela yang ikut hadir di sana.
Mereka pun dengan cepat membawa Abizar untuk di larikan ke rumah sakit, ke dua orang tua Abizar dan juga Caca terus menerus menangis sedangkan si kembar sudah di bawa oleh tuan Ardan dan nyonya Sita untuk pulang ke rumahnya.
Safira dan Arselo juga ikut ke rumah sakit, sejak tadi Safira tidak berkata apa-apa. Dia hanya diam dengan pandangan kosong, saat ini tak ada yang bisa mengajaknya berbicara. Bahkan saat di mobil pun ia hanya menatap Abizar yang di baringkan di pangkuannya dengan tatapan yang tidak bisa di tebak.
Semua orang terlihat sedih dan menangis atas kejadian yang menimpa Abizar, hanya Safira saja yang tidak menangis. Air matanya pun tidak keluar sama sekali. Arsela merasa cemas dengan kondisi yang Safira alami sekarang.
Setelah menitipkan Abizar pada dokter yang lain untuk di tangani, ia segera membawa Safira ke ruangan salah satu dokter untuk memeriksanya.
"Dokter Sela, ada apa kemari?" tanya dokter yang bernama Rita itu.
"Dokter Rita, saya mohon bantuannya untuk memeriksa teman saya ini. Sepertinya dia terlalu syok karena suaminya terluka parah. Kami sudah mencoba untuk mengajaknya berbicara, tapi tidak dia hiraukan" jelas Arsela pada dokter itu.
Dokter Rita pun mulai melihat ke arah Safira.
"Lho, bukankah ini nyonya Safira yang tadi pagi datang kemari?" tanya dokter Rita itu pada Arsela.
"Maksud dokter?"
"Nyonya Safira tadi pagi habis dari sini untuk cek kandungan, tadi pagi saya bertemu dengannya yang akan menemui dokter Alisa" jawab dokter Rita.
"Tunggu, apa maksud dokter jika teman saya ini sedang mengandung?" tanya Arsela memastikan.
Dokter Rita menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ya tuhan, Fira sejak kapan kamu sadar jika kamu sedang hamil?" tanya Arsela yang tidak di jawab oleh Safira.
Arsela merasa frustasi, ia sungguh bingung dengan keadaan Safira dan Abizar saat ini.
"Ya sudah dok, kami pamit dulu" ujar Arsela sambil membawa Safira kembali menemui keluarganya yang masih berada di depan pintu UGD.
Bertepatan dengan kedatangan Arsela dan Safira, Dokter yang menangani Abizar keluar dari ruangan itu, semua orang yang tadi ikut mengantar Abizar segera menghampiri dokter itu.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya bu Resti dengan cemas.
"Iya dok bagaimana keadaannya?" tanya Caca.
Dokter itu perlahan membuka masker penutup wajahnya, dan menarik nafas panjang sebelum ia mengeluarkannya perlahan.
"Pasien mengalami luka tembakan yang sangat serius, salah satu pelurunya tembus mengenai jantung. Beliau meninggal saat dalam perjalanan tadi" jawab dokter itu dengan raut yang sedih.
Orang-orang yang ikut mengantar Abizar, seketika langsung menangis histeris begitupun dengan bu Resti dan Caca. Sedangkan Safira langsung jatuh pingsan saat dokter telah menyampaikan kepergian Abizar tadi, beruntung sebelum tubuhnya membentur lantai, Arselo segera menangkapnya dan menggendong Safira untuk du baringkan di salah satu brangkar yang ada di sana.
"Abi...!!! Ini gak mungkin dok. Pasti dokter salah" ucap bu Resti sambil mengguncang-guncang tubuh dokter itu.
Pak Bambang segera menghentikan tindakan bu Resti tadi.
"Bu, sadar bu. Nyebut" ujar pak Bambang pada istrinya itu.
"Pak, Abi... Abi kenapa tinggalin ibu secepat ini nak?" tanya bu Resti dengan suara lirih, Caca berusaha untuk mendekap bu Resti untuk saling menguatkan.
Arsela dan Arselo pun turut prihatin dengan kepergian Abizar, apalagi Arselo yang sadar jika Abizar terluka karena melindungi Dayyan anaknya.
Arsela yang mengerti dengan perasaan Arselo hanya bisa mengusap lengan atas kakak laki-lakinya itu.
"Bukan salah loe, bang" ujar Arsela dengan pelan.
"Lagi-lagi gue gagal buat lindungi anak gue, Sel. Lagi-lagi orang lain yang berkorban terhadap keluarga gue" ucap Arselo menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang sudah basah karena air mata.
mendengar perkataan Arselo, Arsela pun merasa kasihan terhadap saudara kembarnya itu, kejadian tadi membuatnya semakin merasa bersalah dan semakin membuat Arselo merasa jika dirinya benar-benar tidak berguna.
"Stop nyalahin diri loe, bang. Sekarang waktunya kita untuk memikirkan bagaimana caranya menyampaikan hal ini pada Safira dan anak-anak. Kondisi Safira juga sedang lemah dia sedang hamil muda" ucap Arsela yang juga terdengar oleh Caca dan Bu Resti.
"Apa???"
Tanya ke empat orang itu sambil menatap Arsela dengan terkejut.
"Apa benar yang kamu katakan itu sel?" tanya Arselo.
"Iya benar, tadi pagi Safira baru cek kandungannya di sini" jawab Arsela.
Bu Resti semakin tidak bisa lagi menahan dirinya untuk menangis, Dia menjerit histeris.
"Bu, tenang dulu. Kita harus sabar" ucap pak Bambang sambil memeluk Bu Resti.
"Apa Bang Abi sudah mengetahui ini!" tanya Caca.
"Entahlah, sepertinya belum" jawab Arsela.
Caca pun kembali menangis setelah mendengar jawaban Arsela.
"Ya Allah, Abang. Kenapa ninggalin teh Fira saat dia sedang hamil?" tanya Caca yang entah pada siapa.
Semua orang yang ada di sana merasa bingung dan sedih, melihat keadaan Safira yang masih belum sadarkan diri karena pingsan beberapa waktu lalu semakin membuat orang-orang merasa cemas, terutama Bu Resti.
"Semoga saja kandungan Safira kuat, hingga hal ini tidak mempengaruhi perkembangan janin yang ada di perutnya" ucap Bu Resti.
"Iya bu, hanya itu peninggalan dari Abizar saat ini" ucap pak Bambang.
Setelah semua orang yang ada di sana menumpahkan air matanya dan bisa sedikit lebih tenang, mereka pun mulai mengurus kepulangan Abizar yang sudah tiada.
Arselo sudah menghubungi Anisa dan perawat Mia untuk menjaga ke tiga anak-anaknya. Arsela menyarankan untuk memberi mereka sedikit obat tidur agar proses pemakaman papanya nanti tidak terganggu oleh anak-anak.