Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 55



Siang ini Safira akan mengajak anak-anak untuk mengunjungi Arselo yang masih dirawat di rumah sakit,


Abizar dengan senang hati mengantarkan mereka semua, mereka ke rumah sakit sekalian untuk check up keadaan Safira.


"Apa kalian sudah siap?" tanya Abizar pada ketiga anak yang sedang duduk di sofa ruang tengah sambil menunggu Safira yang masih berada di kamarnya.


"Kita udah siap om, tapi sepertinya mama yang belum siap. Karena mama belum juga keluar dari kamarnya nya" jawab Dayyan.


"Mama belum siap? Tumben?" tanya Abizar


Ketiga anak itu mengangguk bersamaan membenarkan pertanyaan Abizar.


Abizar lantas melangkahkan kakinya untuk pergi ke arah kamar Safira.


"Fir? Apa kamu baik-baik saja di dalam?" tanya Abizar saat ia berada di depan pintu kamar Safira.


"Sebentar bang" jawab Safira dari dalam kamarnya.


Abizar Masih berdiri di depan pintu kamar Safira saat Safira membukakan pintu kamarnya.


"Abang masih di sini?" tanya Safira saat melihat Abizar berdiri di depan kamarnya.


"Kamu lama. Anak-anak sampai khawatir karena kamu tidak keluar dari kamar " jawab Abizar.


"Maaf bang" ucap Safira sambil tertawa cengengesan.


Abizar hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Safira yang seperti itu.


"Sudahlah, ayo kita berangkat sekarang!" ucap Abizar pada Safira .


Perawat Mia pun membantu Safira berjalan.


Anak-anak langsung kembali bersemangat saat melihat Safira yang sudah berjalan ke arah mereka. Terutama Raiyan yang sudah sangat ingin bertemu dengan Arselo, sedangkan dua anak lainnya bersemangat karena Abizar mengatakan jika ia akan membawa mereka untuk jalan-jalan setelah pulang dari rumah sakit.


"Hore...! Ayo kita berangkat sekarang" ucap Raiyan dengan gembiranya.


"Ya, ayo kita jalan-jalan sekarang" Timpal Dayyan dan Qirani.


"Kita ke rumah sakit dulu untuk menjenguk papa Arselo" ucap Abizar pada anak-anak. Dan anak-anak itu hanya mengangguk saja.


Mereka keluar dari rumah bersama-sama, Abizar juga membantu anak-anak duduk di kursi mereka masing-masing dan memasangkan sabuk pengaman untuk mereka.


Sedangkan Safira sendiri sudah dibantu oleh perawat Mia untuk naik ke mobil.


"Terima kasih suster Mia" ucap Safira saat ia sudah duduk di mobil.


"Sama-sama Bu" jawab perawat Mia.


Perawat Mia pun menutup pintu mobil Safira.


"Apa kamu sudah siap Fira?" tanya Abizar saat ia sudah masuk ke dalam mobil dan siap untuk mengemudikannya.


"Iya bang aku sudah siap" jawab Safira tersenyum hangat.


Abizar pun membalas senyuman Safira.


"Anak-anak Apa kalian sudah siap?" tanya Abizar pada anak-anak yang duduk di belakangnya.


"Ya om. kami sudah siap" jawab anak-anak dengan semangat.


Setelah bertanya seperti itu Abizar pun mulai memundurkan mobilnya untuk keluar dari halaman rumah itu, dan mulai menjalankan mobil di jalan raya.


Seisi mobil hanya terdengar suara anak-anak yang sedang bernyanyi, mereka tampak sangat bersemangat dan bahagia.


"Maaf ya bang, karena mereka sangat berisik" ucap Safira tak enak hati pada Abizar.


"Kamu bercanda? Aku sangat bahagia melihat anak-anak seperti itu" jawab Abizar.


"Terimakasih, abang selalu ada buat kami. Semoga abang selalu di limpahkan kesehatan dan kebahagiaan oleh-NYA"


"Amiiin" jawab Abizar.


Tak terasa waktu yang mereka tempuh karena dengan suasana yang ceria di dominasi anak-anak, mereka pun sampai ke rumah sakit. Abizar memapah Safira berjalan dan anak-anak di awasi oleh Anisa yang ikut bersama mereka.


Abizar memutuskan untuk membawa Safira check up terlebih dahulu sebelum mereka menjenguk Arselo di ruangannya. Dan setelah selesai, barulah mereka pergi ke ruang tempat Arselo di rawat.


Sesampai di ruang rawat Arselo ternyata sudah ada keluarganya yang menjenguk Arselo.


"Maaf, apa kami ganggu?" tanya Abizar saat ia hendak masuk, karena sebelum ia membuka pintu, Abizar mendengar suara nyonya Sita seperti sedang mengomeli Arselo.


"Tidak, ayo masuklah. Apa kau bersama anak-anak?" tanya tuan Ardan.


"Iya tuan, kami kemari bermaksud untuk mengantar Safira check up sekaligus menjenguk Arselo disini" jawab Abizar Apa adanya.


"Hai El, bagaimana keadaan mu?" tanya Safira.


Sedangkan anak-anak sudah bersama nenek dan kakek mereka.


"Kabar ku baik, bagaimana kau sendiri?" tanya Arselo.


"Menurut dokter aku sudah tidak apa-apa, tinggal melenturkan persendian bekas bungkusan gips yang masih terasa kaku" jawab Safira yang di angguki Arselo.


"Syukurlah kalai begitu" jawab nyonya Sita dan tuan Ardan yang mendengar perkataan Safira.


Safira bergabung bersama nyonya Sita dan tuan Ardan yang sedang duduk di sofa ruangan itu bersama anak-anak dan meninggalkan Abizar dan Arselo yang saling diam dengan pemikiran mereka masing-masing.


"Bi" panggil Arselo tiba-tiba saat keheningan terjadi di antara keduanya.


"Apa ada yang kamu butuhkan?" tanya Abizar.


"Gak ada" jawab Arselo sambil menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa manggil?" tanya Abizar lagi.


Hening, Arselo tidak menjawab pertanyaan Abizar. Sebenarnya ia cukup gengsi harus meminta maaf dan berterimakasih pada Abizar yang ia anggap sebagai rivalnya.


"Aku... Aku berterima kasih karena kamu sudah menolong ku saat itu" ucap Arselo


Abizar mengangguk dengan samar.


"Tentu, tidak masalah. Aku yakin jika aku yang berada di posisi mu, maka kamu juga akan melakukan hal yang sama pada ku" jawab Abizar dengan tenang.


Arselo sedikit merasa bersalah karena ia sempat mempunyai niat untuk menyingkirkan Abizar.


"Tentu saja aku juga pasti akan melakukan hal yang sama padamu" jawab Arselo akhirnya, karena dia juga tidak mungkin mengatakan jika dia memiliki niat untuk menyingkirkannya.


Waktu hampir dua jam mereka habiskan di ruang rawat Arselo, Abizar dan Safira pamit pulang karena anak-anak sudah menagih janji pada Abizar yang akan membawa mereka ke taman bermain.


Dengan berat hati Arselo mengijinkan anak-anaknya untuk pergi bersama dengan Abizar dan Safira.


Setelah kepergian Abizar, Safira beserta anak-anak, nyonya Sita kembali dengan ceramahnya untuk Arselo.


"Bagaimana perasaanmu saat melihat anak-anak pergi dengan pria yang bukan ayah kandung mereka sendiri?" tanya nyonya Sita dengan sinis.


"Sudahlah ma, jangan membuat Arselo merasa bersalah terus. Lebih baik kita bantu support dia supaya dia bisa semangat untuk mengambil hati ketiga anaknya. Bahkan kalau bisa, papa berharap Safira juga menjadi menantu kita" ujar tuan Ardan menengahi.


"Papa ini selalu saja membela Arselo, Mama juga berharap seperti itu, tapi mama lebih berharap Safira bahagia dengan kehidupannya seperti saat ini. Karena perbuatan yang Arselo lakukan dulu terhadapnya, mama tidak yakin jika Safira akan membuka hatinya untuk Arselo" jawab nyonya Sita.


"Ya, mama benar. Kebahagiaan Safira saat ini sangatlah penting, mengingat hanya Abizarlah yang selalu ia fikirkan, rasanya aku akan menjadi orang jahat untuk ke dua kalinya bagi Safira, jika aku sampai menyingkirkan Abizar dari kehidupan Safira dan anak-anak" batin Arselo.