
Hari ini Safira dibuat kerepotan oleh Dayyan, karena sejak semalam Abizar tidak bisa dihubungi oleh Safira membuat Dayyan terus-menerus merengek dan menangis meminta untuk bertemu dengan Abizar.
"Ma, Abang Day kenapa?" tanya Qirani saat melihat Dayyan masih menangis di pangkuan mamanya.
"Abang lagi kangen sama om Abi, De. Tapi mama gak bisa hubungin om, nanti ade sama abang Rai ke sekolah bareng mbak Nisa ya? Mama mau ke tempat om Abi dulu. Gak apa-apakan kalau mama sama abang Day pergi?" tanya Safira pada ke dua anaknya yang lain.
"Kami mau ikut mama, boleh? Karena kami juga kangen om Abi" tanya Raiyan.
"Sayang, kalian kan harus sekolah. Mama janji, pulang kalian sekolah nanti om Abi sudah ada di sini ya?" bujuk Safira.
Raiyan mengangguk meskipun dengan bibir yang cemberut.
"Pintarnya anak-anak mama" ucap Safira sambil memeluk ke tiga anak itu.
"Nisa, tolong kamu jagain Raiyan dan Qirani ya. saya dan Dayyan akan pergi ke tempat bang Abizar dulu. Saya gak tega lihat Dayyan yang seperti ini" ucap Safira pada Anisa sambil terus memeluk Dayyan.
"Baik bu" jawab Anisa.
Setelah Raiyan dan Qirani beserta Anisa berangkat ke sekolah mereka, Safira dan Dayan bersiap-siap untuk pergi ke rumah Abizar.
Mobil taksi yang Safira pesan sudah terparkir di luar pagarnya, Safira pun pamit pada simbo yang kerja di sana. Dayyan sudah mulai kembali ceria saat Safira mengajaknya untuk langsung bertemu dengan Abizar.
"Abang senang?" tanya Safira pada Dayyan yang mulai ceria kembali. saat ini mereka sudah berada di dalam mobil taksi yang akan membawanya ke tempat Abizar dan Caca.
"Iya Mama. Abang sangat senang karena akan bertemu dengan Om Abi, Abang sudah kangen banget" jawab Dayyan dengan menggebu-gebu.
"Ya Tuhan, anakku sampai sesenang itu karena akan bertemu dengan Abizar, semoga Bang Abi sendiri akan senang bertemu dengan anakku ini" gumam Safira sambil terus memperhatikan Dayyan.
Jarak yang mereka tempuh cukup lama, di perjalanan Dayan sampai tertidur pulas karena tadi malam dia tidak tidur dengan nyenyak. Hampir dua jam berlalu, kini Safira dan Dayyan sudah sampai di depan Apartemen yang Abizar tinggali.
"Sayang ayo bangun nak, kita sudah sampai" seru Safira saat membangunkan Dayyan.
Dayyan pun mulai terbangun dan membuka matanya perlahan, karena Dayyan masih setengah sadar, akhirnya Safira menggendongnya keluar dari mobil taksi yang tadi ia tumpangi. setelah membayar ongkos taksi itu, Safira pun mulai memasuki lobby apartemen dan langsung menuju lift yang akan membawanya ke lantai unit milik Abizar.
Ting...
Safira segera keluar dari lift itu bersama Dayyan di pangkuannya, saat ini mereka sudah sampai di lantai unit milik Abizar.
Safira menurunkan Dayan saat mereka sudah sampai di depan pintu apartemen Abizar dan segera memencet bel yang tersedia di sana.
Abizar yang kala itu belum berangkat ke restoran segera membuka pintu apartemennya karena ia mendengar adalah seseorang yang menekan bel pintunya.
Ceklek
Pintu apartemen itu pun terbuka, tanpa salam dan menunggu lama Dayyan segera menghampiri Abizar dan memeluknya erat.
Abizar sendiri yang tiba-tiba dipeluk Dayyan ia hampir saja oleng ke belakang karena saking terkejutnya.
"Assalamualaikum, Abang. Maaf kalau kami ganggu, apa Abang sedang sibuk?" tanya Safira.
"Waalaikum salam, Fira. Tumben kalian ke sini, ada apa?" tanya Abizar kala melihat hanya Safira dan Dayan yang datang menemuinya.
"Aku kangen sama Om, kenapa tadi malam om gak ke rumah kami?" tanya Dayyan saat ia sudah berada di pangkuan Abizar.
"Maafkan Om sayang, karena Om terlalu sibuk kemarin dan terlalu lelah, jadi Om tidak sempat datang ke rumah kalian" ucap Abizar dengan rasa bersalah.
"Apa sekarang Om masih sibuk?" tanya Dayyan.
"Tidak sayang, Om sudah mengerjakan semua pekerjaan yang sempat tertunda kemarin" jawab Abizar sedikit berbohong.
"Kalau gitu, apa sekarang kami boleh masuk ke dalam?" tanya Dayyan lagi, karena dari semenjak datang tadi mereka masih berada di depan pintu apartemennya.
"Maafkan Om sayang, Om sampai melupakan hal itu" jawab Abizar sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Safira yang melihat itu hanya mengulum senyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayo masuklah, kalian pasti lelah karena perjalanan yang lumayan jauh" ucap Abizar sambil mempersilahkan Safira untuk masuk ke dalam apartemennya.
"Apa Caca sudah berangkat kuliah?" tanya Safira saat ia tidak melihat Caca di ruangan itu.
"Iya, dia sudah berangkat tadi pagi. Karena hari ini ada kelas pagi" jawab Abizar.
Safira tidak membalas perkataan Abizar, dia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Kenapa Abang belum berangkat ke restoran?" tanya Safira.
"Entahlah, aku merasa sedang tidak enak hati dan mood-ku sedang buruk" jawab Abizar.
Dayyan sama sekali tidak lepas dari pelukan Abizar, bahkan duduk pun ia hanya mau di atas pangkuannya.
"Abang kenapa?" tanya Abizar pada Dayyan.
"Abang sangat merindukan Om Abi. Om Abi jangan pergi dan jangan tinggalkan kami seperti kemarin" ucap Dayyan dengan nada yang hampir menangis dan wajahnya ia sembunyikan di dada bidang Abizar.
Abizar merasa bersalah pada Dayyan karena sudah membuat anak itu bersedih. Safira terus memperhatikan interaksi Dayyan dan Abizar, Entah kenapa hatinya begitu sesak saat melihat anaknya yang bersedih karena seseorang.
"Ya Tuhan... Baru kali ini aku melihat anakku sampai bersikap seperti itu pada seseorang, selama ini aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menjadi orang tua tunggal yang bisa mengurus dan menyayangi anak-anak ku sendiri, tapi ternyata tetap saja anak-anak ku masih sangat menginginkan sosok ayah dalam hidup mereka" batin Safira sambil sesekali ia mengusap ujung matanya yang berair.
"Sekali lagi maafkan Om sayang, karena sudah membuat kalian bersedih" ucap Abizar sambil menciumi pucuk kepala Dayyan yang berada di pangkuannya.
"Melihat anak-anak yang seperti ini, Entah kenapa rasanya apa yang aku lihat kemarin tidak berarti apa-apa. Mungkinkah aku sudah salah paham dengan mereka semua?" batin Abizar.
Tanpa disadari oleh Safira dan Abizar, ternyata Dayyan kembali menangis di pangkuan Abizar hingga membuatnya lelah dan kembali tertidur.
"Abang kenapa Dayyan diam saja dari tadi?" tanya Safira yang memperhatikan Dayyan yang sudah menutup matanya dengan nafas yang teratur.
"Sepertinya dia tertidur Fir" jawab Abizar sambil sedikit melihat kearah Dayyan yang ada di dadanya.
"Maafkan aku dan anak-anak yang selalu merepotkan mu" ucap Safira sambil menundukkan kepalanya.
"Sudahlah Fir, jangan pikirkan hal yang bukan-bukan. karena kebahagiaan kalian adalah yang terbaik untuk ku" jawab Abizar sambil tersenyum hangat pada Safira.
"Tunggulah di sini, aku akan menidurkan Dayyan di kamarku terlebih dahulu. Sepertinya dia sangat kelelahan sekali" ucap Abizar sambil bangkit dari duduknya dan melangkah untuk ke kamarnya.
Safira duduk di sofa itu sendirian sambil terus memikirkan kehidupannya, tentang anak-anaknya, tentang ayah biologis anak-anaknya dan tentang seseorang yang tanpa ia sadari sudah masuk sangat jauh dalam kehidupannya dan anak-anak.