Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 43



Abizar hari ini benar-benar membantu Safira untuk mengurus anak-anaknya karena keadaan Anisa yang tengah berduka, ibunya baru saja berpulang. Jadilah Safira meliburkan Anisa selama tiga hari.


"Mama,aku mau makan disuapin sama mama" pintar Raiyan yang masih manja pada Safira.


"Boleh, sini kursinya dekatkan biar Abang gak ke jauhan" jawab Safira yang mengerti anaknya masih manja, meskipun panas badannya sudah berangsur menurun tapi badannya masih lemas.


"Ih, Abang manja" olok Qirani.


"Gak apa-apa, aku kan masih sakit" jawab Raiyan.


Qirani tidak membalas lagi jawaban Raiyan dia lebih memilih untuk diam dan meneruskan makannya dengan wajah cemberut.


Abizar yang melihat itu tersenyum.


"Qiran mau Om Abi suapin juga nggak?" tanya Abizar yang melihat Qirani cemberut.


"Mau om" jawab Qirani dengan girang.


"Gak ada yang mau nyuapin Abang Day ya?" tanya Dayan dengan nada merajuk.


"Abang mau disuapin juga?" tanya Safira.


Dayyan pun menganggukkan kepalanya antusias. Akhirnya Safira pun menyuapi dua orang anaknya seperti dulu.


Saat ini mereka sedang makan siang bersama, sepulang sekolah tadi Dayyan dan Qirani dijemput oleh Abidzar karena Anisa pulang saat ia sedang menjaga kedua anak itu di TK.


"Safira, I'm very happy when I can help you like this, I feel like a family head when I'm in your midst" ucap Abizar tulus.


Safira tersenyum mendengar ungkapan Abizar, ternyata tanpa sadar dia sudah banyak bergantung pada Abizar.


"Terima kasih untuk semuanya Abang" jawab Safira. Mereka pun melanjutkan makan siang bersama dengan obrolan yang di dominasi oleh anak-anak.


***


Di sebuah apartemen yang cukup besar tepatnya di apartemen milik Vivi tengah terjadi keributan, pasalnya Vivi kembali mengamuk dan melukai tangan seorang perawat yang selama ini merawat Vivi.


"Abang, bagaimana ini? Apa tidak sebaiknya kita membawa Vivi ke rumah sakit jiwa saja biar dia lebih bisa dipantau oleh dokter lama dua puluh empat jam di sana" usul Arsela.


"Biar Abang fikirkan lagi. Abang benar-benar khawatir pada janin yang sedang dikandungnya, menurutmu apa bisa jika janin itu dilahirkan saat ini juga?" tanya Arselo.


"Bisa saja, hanya resikonya terlalu besar untuk ibu dan janin itu" jawab Arsela.


Sepulang dari rumah Safira, Arsela langsung bergegas menuju kediaman Vivi karena Arselo mengabari jika Vivi berulah lagi dan melukai perawat.


Saat ini Vivi sudah diberi obat penenang dosis rendah karena sangat beresiko untuk janin yang sedang ia kandung, obat penenang itupun hanya bisa membuat Vivi sedikit lebih tenang.


"Abang, kenapa Abang mau mengakui anak itu? Sedangkan Abang sendiri tahu jika anak itu bukan milik Abang?" tanya Arsela yang sedikit heran karena Arselo ingin menyelamatkan bayi itu.


Sebelum menjawab pertanyaan Arsela, Arselo menarik nafasnya dalam.


"Aku fikir bayi itu tidak bersalah, Sel" jawab Arselo dengan menatap langit-langit ruangan itu.


Arsela yang mendengar itu sedikit terkejut.


"Bang, aku fikir itu bukan keputusan yang bagus karena di sisi lain, ada anak kandung abang yang sangat membutuhkan perhatian mu" ucap Arsela yang tidak terima dengan keputusan kakaknya.


Arselo tidak menjawab kata-kata yang Arsela ucapkan, memang benar jika anak-anaknya lebih membutuhkan perhatiannya, tapi di sisi lain Arselo juga menghawatirkan kesehatan janin yang ada ada dalam kandungan Vivi. Setidaknya dia ingin meminimalisir semua kemungkinan buruk akibat efek samping dari alkohol yang terus-menerus Vivi konsumsi.


"Sel, kali ini tolong bantu aku untuk melahirkan anak Vivi. aku fikir jika Vivi sudah melahirkan, dia bisa menjalani pengobatan mental dengan benar" ucap Arselo.


"Memangnya sekarang usia kandungan Vivi berapa minggu?" tanya Arsela.


Arselo yang tidak mengetahui dengan pasti usia kandungan Vivi pun segera beranjak dari duduknya menuju laci biasa Vivi menyimpan barang-barangnya.


Setelah mendapatkan barang yang ia cari, lantas segera memberikan buku kehamilan milik Vivi.


Arsela menerima buku itu dan membaca hasil pemeriksaannya dengan teliti, Arsela terlihat beberapa kali mengerutkan kening dan menyatukan alisnya, membuat Arselo penasaran.


"Kenapa sel? Apa ada yang gak beres sama kehamilan Vivi?" tanya Arselo yang bingung karena melihat ekspresi Arsela.


"Bang, ini udah gak bisa di biarin lagi, kita harus cepat-cepat mengeluarkan bayi itu" jawab Arsela tiba-tiba.


"Kenapa Sel?" tanya Arselo yang bingung.


"Sudah, nanti ku jelaskan di Rumah sakit. Sekarang kita harus segera pergi, kita sudah tidak punya banyak waktu" ucap Arsela terburu-buru.


Setelah menyiapkan semua keperluan Vivi, Akhirnya Arsela dan Arselo segera menuju rumah sakit bersama Vivi dengan di bantu dua orang perawat rumah sakit jiwa yang Arselo tugaskan untuk menjaga Vivi.


Begitu ia sampai di rumah sakit itu, Arsela segera menghubungi para dokter untuk membatunya menyiapkan ruang operasi karena ini adalah operasi dadakan.


Vivi sendiri sudah mulai merasa tubuhnya lemas tak bertenaga.


"El, apa yang terjadi dengan ku? Kenapa kita ke rumah sakit? Aku gak sakit apa-apa, El" racau Vivi yang tidak di hiraukan Arselo.


Vivi sudah dalam keadaan lemah saat masuki ruang operasinya. Dokter dan perawat yang akan membantunya pun sudah bersiap di depan ruangan itu.


Arselo sudah menghubungi ke dua orang tuanya, tapi mereka tidak bisa datang karena sedang sibuk dengan urusannya, jadilah di sini hanya ada Arselo dan Sofyan. Mereka yang menunggui Vivi di sana.


Raut wajah Arselo tidak sedikit pun menampakan rasa cemas, dia hanya diam dengan tab di tangannya, begitupun dengan Sofyan, mereka sama-sama sibuk dengan pekerjaan.


"Sofyan, bagaimana ke adaan Raiyan sekarang?" tanya Arselo.


Arselo menyuruh Sofyan untuk menugaskan beberapa orang agar berjaga dan memantau di kediaman Safira, hanya saja mereka tidak menampakan diri dan berbaur dengan orang-orang yang berada di sana.


"Keadaan tuan muda Raiyan sudah lebih baik dari sebelumnya, saya juga mendapat kabar jika tuan Abizar yang menjemput tuan muda Dayyan dan nona muda Qirani dari sekolahnya siang tadi" lapor Sofyan.


"Kenapa laki-laki itu masih ada di sana?" tanya Arselo.


"Sepertinya nona Safira dan tuan Abizar memiliki hubungan lebih dari sekedar teman, karena mereka sering kali menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak" jawab Sofyan.


Penuturan barusan membuat Arselo kepanasan, mungkin terlalu dini jika ia menyukai ibu dari anak-anaknya, tapi yang jelas ia merasa iri pada Abizar yang bisa menghabiskan waktu dengan anak-anaknya, Arselo merasa dirinya seperti orang asing yang masuk ke dalam sebuah keluarga utuh.